
Ide gila yang awalnya sempat ia pikirkan dan ia yakini menemui Ella belanja di pasar itu kini menjadi ide berlian yang tak akan pernah Rega lupakan seumur hidup dan tak pernah ia dapatkan dimana pun apa lagi di kehidupan yang ia jalani saat ini.
Cewek cerewet itu memiliki sisi luar biasa yang tak pernah ia temui pada wanita manapun terkecuali mamanya. Walau bar-bar dan ngomongnya juga serampangan, ia memiliki sisi yamg sangat luar biasa mulia. Katanya penyuka uang, hidup sehemat mungkin tapi gak perhitungan dan sangat royal untuk menolong orang lain yang kesusahan. Rega sebenarnya agak bingung dengan kepribadian Ella yang semakin hari mengenalnya membuat kejutan yang luar biasa. Kesan pertama yang ia temui sebagai gadis nakal penggoda Om-om genit lama kelamaan musnah setelah mengetahui kepribadiannya yang lain.
"Om, tolong letakin di atas meja. Entar Ella cuci dulu sama di kupas sebelum masuk kulkas." Mengikat rambutnya tinggi kayak buntut kuda.
Rega hanya membuang nafas kasar, anehnya lagi dia mau aja nurut apa yang Ella katakan.
Baru pertama kali ia mengikuti apa kata orang lain, sebelumnya orang lain yang harus ngikutin kata dia. Dunia udah jungkir balik kalo kayak gini.
"Lo merintah gue enak banget."
"Gak usah pelit sama tenaga, badan Om besar di bandingin badan Ella masak cuma ngangkat kantong belanjaan yang segitu aja gak terima. Noh di luar buruh panggul di pasar badannya lebih kecil di bandingkan Om tapi tenaga nya jauh." Menjentikkan ujung jarinya ke arah Rega.
__ADS_1
Cewek tengil itu ngebandingin dia sama buruh panggul pasar? Emang bener-bener punya nyali gede banget.
"Kenapa badan lo yang lebih kecil dari gue gak jadi buruh panggul aja?"
"Selain pikun Om amnesia ya? Gak liat sekarang Ella jadi buruh masak Om?" Memasang celewek yang di bawanya dari rumah. "Katanya bos tapi gak modal, belanja aja pake duit anak buahnya." Cerocosnya mengambil buah untuk di cuci.
"Salah sendiri belanja di sana, kalo lo belanja di swalayan tu kartu gue bisa bisa beli semua yang ada di sana."
"Gak boleh sombong kayak gitu Om, kalo mau beli semuanya buat apa coba? Emang Om sanggup habisin segitu banyaknya? Mubazir kalo di buang-buang." Kalo udah berdebat sama tu cewek emang gak ada menangnya, ada aja jawaban buat matahin argumen lawannya.
"Ngapain?"
"Jadi pengacara."
__ADS_1
"Ogah, jadi pengacara bebannya banyak. Lagian Ella gak mau nambahin dosa, dosa Ella aja udah banyak kayak gini."
"Dosa?"
"Masak gitu aja Om gak ngerti sih?" Memalingkan wajah menghentikan kegiatannya mencuci sayur.
"Coba Om pikir, pas dapet klien yang nyata-nyata salah karena gengsi jadi kita menangin tuh kasusnya. Apa gak dosa? nutupin kesalahan orang terus balik keadaan nyalahin orang lain?" Jelasnya.
Masuk akal juga apa yang di katakan tu cewek, dari pada tambah puyeng mending mandi buat ngilangin capek seharian di kantor dengan kerjaan yang segunung.
Setelah selesai mencuci semua buah dan sayur, Ella meletakkan di dalam kulkas.
Dulu kulkas yang kering kerontak layaknya gurun sahara, kalo sekarang udah kayak hutan hujan tropis yang enak di liat mata.
__ADS_1
Warna-warni isi kulkas gak kalah sama lampu odong-odong. Gak lupa tadi beli toples buat naruh buah atau lainnya biar gak berantakan dan gampang ngambilnya.