Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Pertengkaran


__ADS_3

Ella yang baru aja turun dari mobil ngeliat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tampak Seorang pria sudah berumur duduk santai di depan teras rumahnya dengan mobil mewah yang terparkir di halaman tak jauh Rega memarkirkan mobilnya.


Rega yang melihat raut wajah Ella itu menggandeng tangannya lembut, "Bersikaplah biasa seolah-olah tak terjadi apa pun. Ada drama yang akan kita saksikan."


Ella menatap Rega, bingung dengan apa yang ia katakan. Apa pun itu mau tak mau Ella harus mempercayainya, Papa sekalipun tak pernah mengajak teman atau rekan bisnisnya kerumah, karena papa sangat menjaga privasi kehidupan keluarganya yang tak di ketahui oleh publik dengan penjagaan yang ketat.


Lalu, siapa pria berperawakan gendut yang kini duduk dengan tenang itu?


Dengan mantap Rega melangkah, menyebabkan Ella yang mau tak mau mengikutinya. Beruntung salep yang Raka berikan bereaksi dengan cepat, memar yang tadi dengan jelas terlihat kini telah memudar dan hanya menyisakan sedikit warna merah disana seperti orang yang sedang flu.


Entah kenapa, tangan Rega erat menggandeng Ella walau tatapan matanya tak pernah berubah, tetap dingin dan menusuk.


"Apa Om mengenalnya?"


"Entar gue ceritain," Katanya tanpa menoleh, tetap melangkah dengan elegan dan menawan.


Ella menghentikan langkahnya mendengar ribut-ribut dari dalam rumah, tampak Devi dengan murkanya mengikuti Sonya yang keluar dengan koper besar di tangannya.


Anak dan Mommy itu berdebat dengan sengit tanpa memperdulikan sekitarnya, Sonia yang hanya diam itu beberapa kali memegang tangan Mommy nya untuk menenangkannya.


"Sonya! berhenti!"


Sonya yang tak memperdulikan peringatan Mommy itu tetap bersikukuh menarik koper besar berwarna Ungu muda dengan serampangan hingga menyebabkannya terseok-seok tak terkendali.


" Sonya, tolong pikirkan lagi."

__ADS_1


Kali ini Sonia berkata dengan pelan dan lembut, ia lebih mampu menguasai emosinya di bandingkan sang Mommy yang sudah merah padam.


"Sonya!" Hardik Devi yang tak mampu lagi menahannya.


Sonya menghentikan langkahnya yang setengah berlari itu tepat di depan pintu utama. Laki-laki yang ternyata tamu Sonya itu berdiri dan menghampirinya, mengulurkan tangannya untuk membantu membawakan kopernya. Sonya menyerahkan kopernya dan dengan cepat berpindah tangan, laki-laki yang entah ada hubungan apa dengan Sonya itu menyunggingkan sebelah bibirnya puas.


"Apa yang kamu lakukan dengan anakku?!"


Menyerang laki-laki yang lebih tepatnya menjadi ayah dari Sonya bila di patok dari umur. Devi mengamuk sejadi-jadinya tanpa memikirkan harga diri yang selama ini ia junjung tinggi, menumpahkan kekesalannya dengan membabi buta, menghajar tanpa ampun.


Sonia yang kewalahan menghadapi Mommy nya itu terpentel hinggak terjerembab ke lantai. Ella menghampiri dan membantunya berdiri, mengelus pundaknya untuk memberi dukungan.


"Lepaskan!" Berusaha memberontak saat Rega mencekal tangannya, mencegah untuk melakukan yang lebih parah lagi dan bisa menimbulkan masalah. "Sonya! dimana harga diri kamu?! Kamu mau jadi simpanan yang lebih cocok jadi Dady kamu itu hah?!"


Katanya tak kalah sengit, merapikan baju laki-laki akibat ulah Mommy nya. "Kalau Mommy gak bisa menuhi semua keingan aku lebih baik Mommy diam, Sonya gak bisa hidup seperti ini terus. Sonya perlu uang dan Om Hendra mampu memberikan segalanya yang Sonya inginkan."


Hendra, nama laki-laki itu tersenyum puas. Mengibaskan tangannya pada jas nya yang lecek karena serangan Devi.


"Sonya, Mama mohon...." Katanya melemah, hatinya sangat sakit melihat anak kesayangannya berubah menjadi wanita yang tak memiliki harga diri, demi uang rela menjadi simpanan laki-laki yang lebih pantas menjadi Dady nya.


"Tidak Mommy, keputusan Sonya telah bulat. Sonya akan meninggalkan rumah ini. Momny boleh tinggal atau ikut dengan Sonya." Tawarnya.


Devi tak percaya dengan apa yang ia dengar, ikut dengam anaknya itu sama dengan menjual diri. Walau pun Devi gila harta, tapi tak sekali pun ia menjadi simpanan atau memilih untuk menjadi wanita tak punya harga diri.


"Om Hendra akan mengenalkan Mommy pada laki-laki yang tentu akan memberikan Mommy segalanya, tidak seperti Johan yang memperlakukan Mommy layaknya pembantu."

__ADS_1


PLAK!


Ella mendaratkan tamparan di wajah Sonya, anak yang tak tahu terimakasih itu bahkan menyuruh orang yang telah melahirkan dan membesarkannya itu menjadi wanita j*lang. "Itu buat Mama lo, terserah seberapa benci lo sama gue atau Papa. Setidaknya hargai Mama lo sendiri."


Sonya menatap Ella dengan penuh kebencian dengan mengusap pipinya yang merah.


"Lo gak usah ikut campur urusan gue!"


"Gue selama ini gak pernah ikut campur urusan lo! Lo harusnya bersyukur punya mama yang sayang sama lo! Lo tau, dari kecil gue gak pernah ngerasain yang namanya kasih sayang mama. Gue selalu iri sama lo yang bisa bermanja-manja, jangan sampek lo nyesel ngomong kayak gitu."


"Iri? Iri sama Mommy gue? Lo tau Mommy gue gak lebih br*ngsek dari gue, buat jebak Papa lo dia masukin obat ke dalam minumannya cuma karena mengincar harta yang papa lo miliki."


PLAK!


Kali ini Sonia yang melayangkan tamparan itu, dadanya turun naik menahan amarah yang memuncak mendengar ucapan saudara tirinya yang menurutnya sangat keterlaluan.


Menghina Mommy di depan orang asing yang bukan keluarganya. "Jaga sikap lo, yang di katakan Ella itu benar. Dari kecil Mommy memanjakan dan menuruti apa yang lo mau, jadi ini balasan lo? Mommy lebih terhormat karena menjadi istri yang sah di bandingkan lo yang jadi j*lang cuma buat duit."


Hendra yang malas mendengar drama keluarga itu menarik tangan Sonya untuk segera pergi dari rumah itu, sekilas ia melihat ke arah laki-laki yang sedang memegangi wanita yang tak lain adalah Mommy Sonya. Ia merasa familiar dengan wajahnya, tapi tak bisa mengingat dimana mereka pernah bertemu. Tatapan matanya yang dingin dan menusuk itu membuatnya terimidasi, memancarkan aura kuat yang mampu membuat lawannya tak berkutik, Hendra ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini karena rasa ngeri yang menjalar di seluruh tubuhnya. "Sayang, lebih baik kita cepat kalau tidak akan ketinggalan pesawat."


Sonya mengangkat wajahnya, mengembalikan percaya dirinya lagi setelah apa yang ia alami. "Kalian berdua, mulai saat ini kita bukan lagi keluarga. Gue malu punya Mommy dan saudara yang tak lebih seperti babu." Sonya melangkahkan kakinya seperti tak terjadi apa-apa tanpa menoleh kearah Mommy yang tengah menangis histeris, ia meninggalkan kehidupan yang membuatnya sangat sengsara dan menyongsong hidup bergelimang harta yang ia inginkan.


"Sonya.... Tolong jangan pergi...."


Devi yang hatinya hancur itu terduduk lemas, menatap kepergian anak kesayangannya dengan penuh derai air mata. Ia tak menyangka Sonya akan setega itu melakukan tindakan yang tak pantas, bahkan tega memutuskan hubungan hanya karena materi.

__ADS_1


__ADS_2