Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Luluh....


__ADS_3

"Nek, Nenek tau gak kalau Ella tu fans banget sama Nenek. Nenek udah kayak wonder women buat Ella, jadi liat Nenek yang tiduran kayak gini bikin Ella sedih. Padahal Ella pengen banget jalan sama Nenek, kita bisa pergi ke perkebunan buat metik buah atau kalau enggak kita ke kolam ikan sambil


manggang. Tapi yang jelas bukan Nenek sama Ella yang manggang tapi biarin Om Rega yang ngelakuinnya." Meletakkan tangan Nenek yang dari tadi di pegang ke samping tubuhnya dan menutupinya dengan selimut. "Seandainya bisa kita tu ketemunya dari dulu pasti Ella seneng banget, soalnya Ella udah gak punya Nenek lagi. Ella cuma punya Papa dan Kakek yang super sibuk, mereka itu sibuknya udah kayak ngurus satu alam semesta. Ella mau cuci muka dulu ya Nek, biar muka Ella gak jerawatan habis kena debu." Pamitnya yang ngerasa mukanya udah kayak penggorengan saking licinnya, kalo di peres bisa buat dadar telor kali.


Ella yang baru aja balik dari kamar mandi buat cuci muka itu melihat Nenek yang secara perlahan mulai membuka kelopak matanya dan menggerakkan tangannya secara perlahan, langsung aja Ella jalan cepat buat ngasih tau Rega yang katanya tadi di luar.


"Om, Nenek siuman." Katanya dengan kepalanya doang yang nongol, badannya yang setengah ada di dalam.


Mendengarnya, Rega dan Pak Wendi segera berdiri untuk melihat sendiri.


"Nenek?" Rega yang seneng banget Nenek akhirnya sadar dan duduk di samping Ella dengen mencium tangan Nenek.


Nenek hanya tersenyum melihat cucu dan calon cucu menantunya itu bersama. Tangan tua nya yang gemetar meraih tangan Ella, menatapnya dengan sorot mata sayu.


"Nenek minta maaf karena sudah salah paham. Nenek harap bisa memaafkannya."


"Enggak kok Nek, Ella gak pernah sekalipun marah sama Nenek. Malah Ella yang harusnya minta maaf sama Nenek kalo kelakuan dan kata-kata Ella kurang layak selama ini."


"Enggak sayang, Nenek suka apa adanya kamu..., Wendi...."


Pak Wendi mengambil kotak yang sudah sejak tadi ia persiapkan, memberikan pada Tuannya tersebut dan kembali duduk di sofa untuk menunggu perintah selanjutnya setelah tugasnya selesai.


Nenek membuka kotak tersebut, satu set perhiasan yang berkilau dan tentu saja terbuat dari batu mulia yang entah berapa nilainya itu membuat Ella merasa kagum karena begitu cantik kilauannya.


"Ini adalah harta turun temurun dari keluarga Nenek yang gak seberapa nilai materinya tapi sangat bersejarah untuk Nenek, dulu Nenek menerimanya saat Kakek Rega meminang Nenek untuk menjadi istrinya. Begitu juga dengan Bunda Rega yang tak lain menantu Nenek, Nenek memberikannya sebagai mas kawin pernikahan mereka. Saat menantu Nenek meninggal Nenek menyimpannya hingga saatnya tepat untuk di berikan pada pemiliknya yang baru." Meletakkan kotak itu di tangan Ella.

__ADS_1


"Maksud Nenek???" Ella masih gak ngeh sama omongan Nenek sambil nerima tu kotak yang diliatin doang.


"Sayang, kamu wanita yang tepat untuk mendampingi cucu Nenek yang kaku dan keras kepala ini, Nenek yakin karena kebaikan dan kepolosanmu Rega dapat berubah menjadi seperti saat ini. Nenek merasakan perubahan yang besar dalam diri Rega, dulu Nenek sempat khawatir saat akan meninggalkanya."


"Nenek ngomong apaan, gak ada yang bakal ditinggal sama ninggalin." Rega yang udah ngerasa takut, udah dalam keadaan kayak gini ngomongnya malah yang enggak-enggak. Bikin perasaan jadi berkabut.


Nenek meraih tangan Ella dan Rega, menyatukan tangan mereka berdua dan menggenggamnya. "Umur Nenek gak lama lagi. Tolong dampingi dan bahagiakan Rega, jadilah istri yang luar biasa untuknya. Nenek yakin cucu Nenek yang satu ini bakalan nurut dan berubah karena kamu sayang...."


"Tapi Nek...," Ella merasa ragu, masak iya sih endingnya kayak gini? Bukannya di lamar yang rantis malah di rumah sakit, tapi emang Rega udah ngelamar dia entah berapa kali sampek gak bisa ngitung jumlahnya.


"Cincin yang Rega berikan itu adalah cincin yang dulu pernah Nenek dan menantu Nenek pakai, sekarang kamu yang meneruskan tradisi ini. Nenek mohon, terima ini sebagai mas kawin pernikahan kalian. Karena umur Nenek yang gak lama lagi, jadi Nenek minta penuhi keinginan terakhir dari orang tua ini..." Menggenggam dan menatap mata Ella penuh harap dengan mata sendunya yang tak menginginkan penolakan.


Ella terkesima mendengarnya, susah mau ngomong apaan dalam posisi maju salah mundur pun salah apa lagi kalo diam di tempat gak ngapa-ngapain kayak gini malah tambah salah.


"Nek, Ella masih belum tamat sekolah dan masih mau ngejar cita-citanya," Kali ini Rega yang ngomong, liat muka Ella yang kebingungan gak bisa jawab. Padahal dalam hati senengnya minta ampun di belain kayak gitu sama Nenek. Kalo gak ada Ella di sampingnya udah jingkrak-jingkrak seneng bisa-bisa Pak Wendi di ajak dansa. Berhubung yg bersangkutan ada disampingnya pura-pura ajalah Rega sok ngebelain Ella, padahal dalam hati emang itu yang dia harap sambil berdoa semoga kali ini berjalan mulus tanpa ada batu sandungan perasaan.


Skak mat!


Udah gak ada lagi kata buat alasan dan ngeles, semuanya udah di borong sama Nenek yang semuanya gak bisa di sanggah dan di bantah lagi.


Ella cuma mematung, pandangannya nanar melihat kotak perhiasan yang ada di tangannya saat ini yang bingung mau di apain.


Rega menyadari perubahan raut wajah Ella, walau ia sangat senang tapi tak tega melihatnya seperti ini. Tak ingin membuat Nenek kecewa, ia menggenggam dan membimbing Ella untuk keluar membicarakannya.


"La?"

__ADS_1


"Huh...," Menghembuskan nafas panjang seolah terlepas dari beban yang sangat berat. Perlahan menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit dan terduduk lemas. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya pandangan matanya yang kosong lurus ke depan.Tubuh mungil itu kini hanya diam, hening tanpa ada yang dilakukan.


"Sorry..., Gue gak tau kalau Nenek bakal ngelakuin hal ini." Merengkuh Ella dalam pelukannya, tak ada balasan dan hanya diam. "Gue pengen banget nikah sama lo secepatnya, tapi gak secara terpaksa kayak gini. Gue mau lo ngelakuinnya saat lo siap tanpa ada perasaan ragu, gue bakal nunggu sampai saat itu." Menenggelamkan kepalanya di leher Ella dan menutup matanya. "Gue gak mau lo menjalani hidup karena ada paksaan dari orang lain yang bakal jadi beban, gue gak mau di kemudian hari ada penyesalan." Rega tau saat ini Ella dalam keadaan perang batin yang dahsyat. "Jangan dengeri omongan Nenek, kita lakukan apa yang ingin kita lakukan. Gue gak mau lo sampek merasa tertekan karenya."


Rega menangkup wajah Ella dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu menghadap dan melihat kearahnya. "Gue sayang dan cinta, tapi gue gak mau ada paksaan untuk kita hidup bersama. Gue bakal tunggu sampai kapan pun untuk lo siap lahir batin menjalaninya."


Ella mengangguk pelan, apa yang ia dengar dari mulut Rega serasa bagai air hujan yang menyiram tanah tandus. Keyakinannya untuk menyerahkan dan membuka hatinya kepada laki-laki di depannya ini sudah tepat, ia sosok yang luar biasa untuknya. Sikapnya yang hangat dan penuh kasih sayang mampu membuat hati Ella terasa nyaman di dekatnya. Bahkan Rega tak pernah menuntut apa pun darinya, tak pernah merubah apa pun yang ada dalam dirinya dan menyukai semua yang ada pada dirinya apa adanya. Ella sadar sikapnya yang masih kekanakan itu mampu Rega imbangi dengan sikap dewasa hingga tak ada perbedaan yang berarti di antara mereka berdua. Apa lagi yang harus ia cari dengan sosok di luar sana saat ia di hadapkan dengan makhluk Tuhan yang sudah sempurna untuknya, mampu menjadi kekasih, kakak, sahabat, ibu, ayah, musuh untuknya yang semuanya ada dalam diri Rega.


Ella melingkarkan tangannya di dada Rega yang tertunduk dan menyandarkan kepalanya di lehernya, membalas pelukannya dengan lembut. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini, yang jelas itu terasa asing memenuhi hatinya yang selama ini tak pernah ia rasakan. Yang jelas, ia merasa nyaman dan aman di pelukan laki-laki tersebut.


Rega yang mendapat balasan dari Ella merasa sangat terkejut, ini pertama kalinya dalam sejarah perjuangan cintanya Ella membalasnya. Saat mata mereka bertemu, Rega melihat bulir bening di ujung mata wanita yang sangat ia cintai tersebut, Rega menghapus dengan ujung jarinya dan tersenyum lembut memberikan keyakinan bahwa tak akan ada yang berubah dari hati dan perasaannya saat ini. "Terimakasih karena udah mau bersabar menghadapi gue selama ini." Mendekap hingga Ella benar-benar berada dalam pelukannya sepenuhnya, kepala wanita itu menempel di dadanya.


********


Hi mbak-mbak dan mas-mas yang cantik-cantik....


Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu dan baca novel author, secara pribadi author sangat berterimakasih buat kalian semua...


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗


Rasanya seneng banget kalian masih nungguin Up dari author dan itu jadi semangat buat author mainin jari bikin rangkaian kata.


Jangan lupa Like sama Votenya yach....


🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Yang mau crazy up, ayo vote yang banyak. Kalo banyak author bakalan kasih crazy Up buat kalian semua sebagai penghargaan dan tanda terimakasih author buat kalian semua. Jangan lupa budidayakan hidup bersih buat mutus rantai wabah yang ada saat ini, semoga kita semua dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan di berikan kesadaran dan kesabaran dalam menghadapi cobaan saat ini.


__ADS_2