
"Yakin lo gak mau tuker sama cincin yang bertahtakan emas berlian dan bertaburkan permata jamrud khatulistiwa?"
Ella mencibirkan bibirnya denger Rega ngomongnya yang udah lebay banget itu, istilah apaan coba itu pakek acara khatulistiwa segala?
"Sekalian pakek batu magma yang terpendam di dasar bumi yang ketujuh atau batu meteorid yang membelah samudra antartika?"
"Malah gue maunya pakek batu kerikil yang ada di pinggir jalan biar hemat, kan lo suka yang hemat-hemat." Rega mengulurkan tangan mengambil potongan buah melon yang baru aja Ella ambil dari dalam kulkas, sekaranh kulkas Rega udah penuh sama buah-buahan, gak kering ngelontang yang cuma di isi air dingin doang.
"Itu bukan hemat tapi pelit alias gak modal."
"Gue belajar dari elo."
"Tapi serius deh Om, dapat cincin secantik ini dari mana?"
"Cincin warisan, dari nenek moyang gue yang gue sendiri entah generasi keberapa yang mewarisi tu cincin."
"Barang langka nih Om?"
"Iya, sama langkanya kayak elo yang bahkan hampir punah."
"Ngatain Ella hampir punah lah Om sendiri?"
"Gue baru mau berkembang biak...," Katanya terkekeh, seneng aja jahilin Ella sampek mukanya merah karena marah, apa lagi kalo ngomel-ngomel gak jelas tambah imut banget jadinya.
"Sekalian aja Om membelah diri kayak amoeba, kan keren tuh Om.... Bisa sebanyak yang Om mau."
"Kalo gue bisa kayak gitu, gue gak perlu lo buat cetak Rega junior. Udah lah, gue mau mandi dulu. Rasanya gerah, habis ini baru kita jalan buat nemuin Nenek yang udah berisik nanyain elo." Meninggalkan Ella yang masih asik memamah biak buahnya.
Ella memandangi cincin yang ada di jari manisnya, cincin yang sederhana tapi cantik banget. Pas sama keinginan Ella yang gak suka saa yang berlebihan, Rega tau banget apa yang ia suka. Kalo bener tu cincin turun temurun itu artinya barang berharga dari keluarga Rega yang harus ia jaga. Seneng banget pas denger mau ketemu nenek, sosok idola Ella yang keren banget....
"Cepet banget Om mandinya?" Kata Ella yang liat Rega udah keluar kamar, Rambutnya yang setengah basah bikin tampilan tu cowok tambah keren apa lagi udah dari sononya keten duluan.
"Gue kan mandi, gak dekem kayak lo."
"Ella kan tadi ketiduran, bukannya sengaja."
Rega menghampiri Ella, mencium pipinya lembut dan lambat biar tu cewek bisa merasakan betapa besar Rega menyayanginya. "Kalau lama juga gak pa-pa, kan gue bisa bangunin elo." Melepaskan ciumannya dan menggoda Ella yang langsung merah mukanya bikin Rega gemes banget.
"Om tu ya seenaknya aja!"
"Tapi lo suka kan? Lagian nungguin lo ngelakuin sama gue sama aja nunggu bulan jadi dua." Menjauh dan mengambil jaket. "Cepetan, nungguin lo makan gak ada habis-habisnya." Katanya mengambil tas dan jaket Ella. Dengan telaten ia memakaikannya sambil liatin muka Ella yang malu karena badan mereka deket banget.
"E-Ella bisa pakek sendiri Om."
"Gue yang mau, bahkan apa pun itu yang berhubungan sama lo gue bakal dengan senang hati ngelakuinnya."
*********
Balik lagi kerumah ini, rumah yang menurut Ella nyaman. Ella ngeliat Nenek yang udah nungguin di depan teras di temani kucing kesayangannya yang bermanja-manja, tangan tuanya yang keriput mengelusnya dengan sayang bikin tu meong tambah betah di pangkuannya.
__ADS_1
"Nenek..." Ella menghambur ke arah Nenek sambil naruh helmnya sembarangan yang bikin Rega kelabakan. Mengambil tangan renta itu buat salim, kebiasaan Ella salim sama orang yang lebih tua kalo ketemu.
"Nenek tungguin dari pagi, gak taunya baru nongol."
"Maaf Nek, tadi mampir dulu ke apartemen Om Rega buat sarapan." Ella memberikan bungkusan yang berisi toples makanan.
"Ini kamu yang masak?"
"Iya, kalo gak enak jangan protes."
Nenek memberikan bungkusan itu pada pelayanan yang kebetulan lewat, "Bawa kesini sekalian sama lainnya buat makan siang."
Pelayan itu menunduk hormat dan masuk ke dalam melakukan perintah tuannya.
"Gimana sekolah kamu sayang?"
"Tinggal nunggu kelulusan aja kok Nek." Duduk di samping nenek, "Ella juga nunggu ujian buat masul Universitas."
Mata tua itu gak sengaja melihat jari tangan Ella, tersenyum bahagia saat mengetahuinya. Cincin yang pernah ia pakai dulu saat almarhum suaminya melamar dan memintanya sebagai pendamping hidup, itu berarti Rega melakukan hal yang sama terhadap Ella saat ini.
"Cucu nenek bilang apa?"
"Maksud Nenek?"
Nenek memberikan kode lewat matanya ke arah jari tangan Ella.
Ella yang sadar apa yang dimaksud cuma tersenyum, bingung mau ngomong apaan...
"Cucu nenek yang ganteng ini udah ngelamar cewek berisik yang ada di samping nenek buat jadi cucu menantu nenek." Sahut Rega yang baru nongol, memeluk neneknya dan mencium keningnya. Nenek satu-satunya yang Rega miliki saat ini, nenek yang gak ngerasa tua dan selalu punya jiwa muda.
"Gue gak setuju!"
Nenek, Ella dan Rega mengalihkan pandagan mata mereka serentak ke arah datangnya suara, tampak Agnes turun dari mobil dengan melangkah bak model papan atas. Mungkin terbiasa hidup di luar negeri membuatnya berpakaian agak terbuka yang memperlihatkan lekukan dan bagian-bagian tubuhnya yang seksi.
Rega yang melihat kedatangan Agnes itu membuang muka, yakin banget kalo tu anak datang bakal bikin perkara apa lagi diliat dari gelagatnya udah pasti punya rencana tersendiri buat misahin dia sama Ella. Rega gak bakal tinggal diam, apa lagi buat dapetin Ella sampai ketahap saat ini tu susah banget, lebih susah di bandingin ngembangin bisnisnya.
"Nenek.... Agnes kangen banget sama Nenek..." Katanya manja sambil meluk nenenkl dan menggeser kasar Ella yang duduk disamping nenek sampai hampir jatuh karenanya.
"Nenek juga kangen, kamu udah gede ya? Gak nyangka jadi cantik." Membelai rambut Agnes yang lagi bermanja-manja di pangkuan nenek.
Agnes menoleh ke arah Ella, seolah-olah menyatakan kalau posisinya di mata nenek lebih dibandingkan dengannya yang orang luar yang masuk dalam keluarga mereka.
Ella yang sebenernya sebel banget sama tindakan Agnes cuma bisa ngalah, gak ada gunanya adu kekuatan saat ini yang penting tu adu otak. Gak usah banyak mikir yang ribet buat ngelawan Agnes, Ella duduk di samping yang Rega lagi asik main Hpnya dan mengambilnya secara paksa biar tu cowok sadar kalo Ella ada di sampingnya.
Rega menarik pinggang Ella bikin tu cewek mau gak mau duduk di pangkuan Rega. Merangkulnya dari belakang dan menggenggam tangan Ella dengan mesra, biar bikin Egnes tau kalau apa pun yang di lakukannya gak bakal mempengaruhi hubunganya sama tu cewek. Selama ini andil Agnes sangat besar buat bikin cewek-cewek yang dijodohkan melarikan diri, tapi Ella berbeda dan Rega bakal ngelakuin apa pun untuk membuatnya tetap bersama hingga menua bersama.
"Om, malu..." Bisik Ella yang ngerasa canggung.
"Diem aja, lagian malu sama siapa?" Mencium rambut Ella.
__ADS_1
Mata Agnes melotot melihat apa yang Rega lakukan didepan matanya, memperlakukan cewek sialan itu sedemikian romantis bikin darahnya mendidih sampek ke ujung kepala.
"Nek, liat apa yang Rega lakukan!"
Nenek yang tau bagaimana perasaan Agnes terhadao Rega cuma bisa menghela nafas panjang, mau gimana lagi Rega udah jatuhin pilihannya sendiri.
"Cewek j*lang kayak dia gak pantas buat masuk ke keluarga kita, nenek tau gak kalo dia udah gak perawan lagi. Ngakunya hamil anak Rega tapi aku yakin banget kalo itu anak haram sama cowok lain, pengen jebak Rega makanya kayak gitu."
Kalo bukan di tahan Rega, udah di jambak tu cewek yang kalo ngomong gak punya tata krama. Pakek acara fitnah segala lagi!
"Maksud kamu?"
"Iya nek, dia cewek gak bener... Nenek mau ngorbanin masa depan Rega sama cewek kayak dia?"
Nenek yang gak tau apa-apa itu sedikit terpengaruh dengan apa yang Agnes bilang, "Benar yang Agnes bilang? Keluarga kita mementingkan etika Rega! Jangan karena Ella cantik kamu jadi buta dan menutup segalanya demi bersama."
"Agnes bohong nek," Ella merasa terpojokan dengan ucapan Agnes. "Ella gak pernah ngelakuin hal yang kayak gitu apa lagi sampek hamil."
"Mana ada maling ngaku, siapa juga yang gak mau jadi istrinya Rega... Keluarga kita keluarga terhormat, punya kekuasaan dan tentu aja kedudukan yang menjanjikan jadi siapa pun bakal deketin Rega dan melakukan apa pun untuk mendapatkan."
Rega mengeratkan tangannya buat nahan Ella yang udah kayak cacing kepanasan.
"Diem aja, dengerin mau ngomong apa. Yang jelas gue gak bakal terpengaruh sama omongannya. Gue tau kalo itu semua bohong. "Bisiknya menenangkan Ella.
Nenek yang merasa tertipu dengan sikap dan tingkah laku polos Ella itu merasa sangat gusar, bagaimana pun Agnes gak mungkin asal ngomong. Ia di besarkan dalam ruang lingkup keluarga yang terpandang dan terhormat hingga sangat menjaga tata krama dan sopan santun. "Rega?!"
"Nenek percaya sama omongan Agnes yang ngawur itu? Emang nenek kira aku bakal cari istri yang sembarangan? Yang asal nemu di pinggir jalan?" Padahal emang awalnya ketemu di pinggir jalan. "Rega udah kenal sama Ella hampir satu tahun, dan itu waktu yang cukup buat mengetahui kepribadiannya sampai Rega memutuskan untuk menjadikannya istri." Katanya tenang tanpa terpengaruh.
"Itu kan kamu aja Ga yang ketipu sama rubah betina kayak dia." Agnes masih bersikukuh untuk menjatuhkan Ella di hadapan Nenek, selama ini Rega gak bisa menolak apa yang Nenek katakandan itu akan menjadi kelemahannya satu-satunya.
"Gue mau ketipu dimananya?"
"Semuanya."
"Emang lo tau apa tentang Ella?"
"Cewek j*lang gak tau diri yang deketin lo demi status sosial." Agnes sangat yakin sama yang dia omongin, liat aja dari penampilannya yang sangat sederhana udah ketahuan dari sana gimana status sosialnya. Agnes geram banget ngeliat Rega belain tu cewek sedemikian rupa.
"Rega, Nenek udah tua gak mau kalian berantem."
"Nek, yang bawa perkara kesini tu Agnes. Semua yang dia bilang itu gak ada yang bener satu pun. Dan asal lo tau," Melihat ke arah Agnes dengan tatapn mata menusuk, "Ella gak pernah deketin gue, yang selama ini deketin dia itu gue. Bahkan selama ini gue ngajakin dia nikah tapi gak pernah mau, kalo emang dia seperti yang kayak lo bilang ngapain dia terus nolak gue?"
"Kali aja dia sok..."
"Sok apa? Elonya aja yang sok. Gak usah cari ribut sama gue, lo kira gue gak tau apa yang lo lakuin selama ini?" Kata Rega dengan nada mengancam. "Apa perlu gue bilang sama Nenek yang sebenarnya terjadi? atau lo mau cerita sendiri sama Nenek tentang kelakuan lo?"
Agnes memucat mendengarnya.
"Gue diam bukan berarti gue gak tau kelakuan lo di belakang gue. Kalo sampai kali ini lo ngelakuin hal yang sama, gue gak bakalan tinggal diam," Menggenggam tangan Ella.
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Nenek jadi bingung..."
"Kalau Nenek mau tau, Nenek tanya aja Agnes yang aku yakin dia tau segalanya dengan benar, mana yang salah dan benar." Menarik tangan Ella meninggalkan dua orang wanita dengan ekspresi yang berbeda.