Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Tegang


__ADS_3

"Abi?" Sambil mengerjapkan matanya pertama kali membuka mata dari tidur panjang dan yang ia lihat pertama kali adalah sosok yang ada di sampingnya saat ini dengan wajah lusuh dengan mata sembab siapa lagi kalau bukan suaminya. Selama Ella mengenal Rega, sekalipun laki-laki berwajah kulkas itu gak pernah memperlihatkan emosinya yang kuat seperti ini. Saat ini image Rega yang di kenal banyak orang di luar sana bertolak belakang dengan apa yang sekarang terlihat, bahkan ia tampak sangat rapuh dengan memegangi tangan Ella. Ella merasa bersyukur karena Rega masih manusia normal dengan melihat sisi lain dari emosi bos yang mendapat julukan ice man tersebut.


Rega mengangkat wajahnya, berharap apa yang ia dengar bukan hanya halusinasinya belaka karena keinginan terkuatnya membuat alam bawah sadarnya bereaksi dengan berlebihan. "Sayang?" Melihat senyum yang di paksakan dari bibir pucat istrinya, "Apa yang sakit?" Mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah pucat Ella. Semalam Raka telah mendapatkan donor darah, itu membuat Rega merasa tertolong dan lega. Rega ingin bertemu dengan orang yang mendonorkan darahnya untuk orang yang paling ia cintai tersebut, namun Raka bersikukuh untuk merahasiakan walau pun di barengi dengan ancaman Raka tetap merahasiakan atas permintaan sang pendonor, Rega hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada orang tersebut.


Flash Back


"Ka, mulut lo yang ember itu jangan sampai keceplosan kalo gue yang donorin darah buat Ella." Kata Azhar setelah menimbang-nimbang, ia gak mau menjadi beban dan bisa di golongkan hutang budi buat Ella karena apa yang ia lakukan. Bagaimana pun suatu hari Ella atau pun suaminya itu pasti akan menanyakan perihal ini, Azhar hanya ingin membantu dan gak mau semua ini menjadi alasan untuknya dekat dengan cewek mungil itu yang bakalan bikin hatinya luluh lagi. Perlahan, Azhar ingin menjauhi dan melupakan Ella yag kini telah berstatus istri orang. Pantang untuknya mengganggu dan merebut istri orang, walau hatinya menangis dan meringis.


"Emang kenapa? Bukannya dengan Ella tau lo yang jadi superhero itu elo dia bakal baik dan datang sama lo."


"Enak aja, lo kira gue gak punya moral apa? Bini orang cuy..., bini orang..., Ha ha ha ha...," Katanya dengan tertawa getir, jadi selama ini dia deketin bini orang bahkan memprovokasi suami yang sah secara agama dan hukum. Sumpah malu banget kalo sampek ketemu Ella atau suaminya, mana dengan pedenya lagi ngomong kayak gitu. Pantas aja Rega mukanya langsung berubah kayak hulk, kalau Azhar jadi Rega mungkin cowok br*ngsek kayak dirinya itu udah di bikin babak belur. "Suatu saat gue bakal minta maaf sama mereka berdua, gue gak mau jadi cowok pengecut yang lari dari kesalahan dan tanggung jawab. Lagian gue gak mau ngerusak hubungan baik gue sama Ella."


Raka mengacungkan dua jempol, "Gue salut sama keputusan yang lo buat, dan gue bakal dukung sepenuhnya apa yang jadi rencana lo dan gue doa-in semoga rencana lo berjalan lancar dan hati lo gak goyah. Kali aja lo waktu ketemu Ella hati lo yang udah setegar batu karang berubah selembek kayak bubur ayam." Kata Raka memuji dan menyindir, soalnya orang macam Azhar kadang hari ini ngomong apa besok ngomong apa.


"Ha ha ha ha ha ha ha, Sialan lo!" Katanya sambil tertawa. "Gue cuma mau dia bahagia dengan siapa pun."


#Flash on


"Bi, minum?"


Dengan cekatan Rega mengambil air mineral


yang ada di sampingnya, memasukkan sedotan dalam botol air tersebut biar lebih gampang buat Ella minum dalam keadaan tidur kayak gini. "Apa masih pusing sayang?"


Ela mengangguk lemah, emang masih ada sedikit rasa pusing dan yang jelas terasa itu badannya lemes banget.


"Semalam Papa udah pulang, baru aja Papa keluar buat jengukin Mama di ruang sebelah. Mama juga udah siuman dan adik kecil kita udah bisa minum asi." Kata Rega menceritakan apa yang terjadi saat Ella dalam keadaan gak sadarkan diri, Raka bilang itu akan membangkitkan semangat Ella untuk cepat sembuh. "Tau gak, rasanya Abi udah gak bisa bernafas dengan baik saat istri Abi yang cerewet ini cuma tiduran gak bangun-bangun. Rasanya dada Abi sakit liat wajah sama bibir yang biasanya bersemangat buat ngomelin Abi pucat pasi dan rasanya Abi udah mau mati."


Ella mengangkat tangannya untuk menggenggam tangan Rega, "Terimakasih, terimakasih karena Abi udah khawatir."


"Sayang, kalo bisa milih mungkin lebih baik Abi yang dalam keadaan kayak gitu."


"Iya, terserah Abi mau ngomong apa...," Ella berusaha berdiri, karena tenaganya masih lemah maka apa yang ia lakukan sia-sia.


"Mau kemana? Belum pulih udah mau bangun."


"Ella mau liatin Mama Bi...," Katanya lemah, khawatir banget sama keadaan Mama.


"Iya, nanti kalo udah mendingan. Masih ada dua kantong darah lagi buat di transfusi biar lebih kuat." Jelas Rega, "Biar Abi minta Papa kesini, pasti kangen kan sama Papa?"


Ella mengangguk lemah.


Rega menelpon seseorang yang sepertinya perawat yang jaga di kamar sebelah, satu lantai paling atas di rumah sakit memang hanya di pakai untuk keluarga yang sakit dan gak di buka buat umum. Jangan di tanya lagi, tentu saja semua yang ada di dalam kamar pesakitan itu lebih cenderung kayak kamar hotel bintang lima dengan fasilitas mewah dan yang terbaik. Kalo kayak gitu sih gak bakalan ngebosenin buat yang jaga atau yang di rawat, tapi tetap aja seenak-enaknya fasilitas dan layanan pas sakit lebih enak pas sehat. Gak ada orang yang mau sakit di dunia kecuali orang yang bosen hidup.

__ADS_1


Tok Tok Tok


Rega melangkahkan kakinya yang panjang (Anggap aja lebih panjang di bandingkan ukuran kaki laki-laki bisanya), untuk membukakan pintu. Bukan hanya Papa yang berdiri di muka pintu, ada Sonia dan juga Mama.


"Ella....," Sonia menghambur ke arah Ella dengan berlari dan memeluknya, air matanya lebih dulu mengalir di bandingkan badannya. "Gue takut banget...,hu hu hu hu...," Udah kayak anak kecil nangisnya, gak malu-malu lagi buat nangis kayak gitu di depan orang banyak. Sonia yang kebetulan tau kondisi Ella dari perawat yang lewat di dekatnya secara gak sengaja, bahkan Rega dan semua orang menyembunyikan darinya.


Ella menepuk pelan punggung Sonia yang menangis, air matanya aja udah meresap ke dalam kulitnya yang artinya bajunya saat ini basah kuyup. "Udah gak usah lebay, lo nangisi gue kayak udah mau mati aja."


"Lo enak banget ya ngomong kayak gitu? Gue berasa melayang denger lo yang pingsan habis donorin darah buat Mommy, padahal keadaan lo itu gak lagi bagus. Kenapa lo nekad banget?!" Katanya setengah berteriak menumpahkan kekesalannya. "Kalo sesuatu terjadi sama lo, gue gak bisa memaafkan diri gue sendiri yang sebagai anak kandungnya gak bisa ngelakuin apa pun buat Mommy. Makasih Ella..., bahkan ucapan terimakasih gak bakalan bisa nebus apa yang telah lo lakuin buat nyelamatin Mommy." Menggenggam tangan Ella dan meletakkan di pipinya.


Ella tersenyum melihat tingkah Sonia, "Gue gak nyelametin Mommy lo, tapi gue nyelametin Mama gue. Gue gak mau kehilangan Mama yang kedua kalinya." Ucapnya lirih, tersirat nada sedih saat mengucapkannya karena selama ini ia tumbuh tanpa di dampingi oleh Mama.


"Sayang, Mommy gak bakalin ninggalin kamu." Devi mendekati Ella, mengambil tangannya dari tangan Sonia dan mencium punggung tangan tersebut. "Terimakasih sayang, Mommy sungguh-sungguh..., terimaksih karena sudah jadi anak Mommy dan Mommy janji gak bakal ninggalin kamu apa pun yang terjadi, Mommy akan menjadi seorang yang bisa menggantikan Mama kamu dan memberikan kasih sayang yang sama adilnya untuk anak Mommy lainnya." Katanya dengan mata berkaca-kaca, ia bukan hanya terharu tapi lebih merasa beruntung karena memiliki seorang anak yang memiliki hati yang lebih putih di bandingkan kapas. Anak yang tidak pernah ia lahirkan namun Devi merasakan apa yang telah Ella lakukan melebihi apa yang telah ia berikan.


"Sayang, Papa minta maaf karena dalam masa-masa berat kalian Papa gak ada. Sebagai Papa dan kepala keluarga Papa merasa gagal untuk melindungi kalian." Ujarnya penuh sesal karena di saat seperti itu Johan tak ada di samping orang-orang yang memerlukannya.


"Pa..., Papa udah ngelakuin yang terbaik buat kita semua. Lagi pula Mama udah selamat, anak Papa juga semuanya selamat tanpa ada kekurangan sama sekali." Kata Ella membesarkan hati Papanya.


Diam-diam Rega meninggalkan kamar tempat Ella di rawat, ia memberikan waktu untuk keluarga itu bersama dalam keadaan yang sangat mengharukan. Keluarga yang mendukung satu dengan yang lain, melengkapi kekurangan satu lainnya dengan kelebihan yang lain dan tanpa ragu mengakui kesalahan yang telah mereka lakukan. Bagi Rega, keluarga Ella yang saat ini ia lihat adalah bentuk keluarga yang sesungguhnya walaupun mereka buka keluarga kandung yang sesungguhnya.


"Sayang, karena kamu yang menyelamatkan Mommy dan bayi Mommy maka Mommy minta buat kamu aja ngasih nama buat jagoan kecil kita. Sebagai tanda terimakasih Mommy buat kamu yang udah nyelametin Mommy."


"Mana bisa gitu, Mama sama Papa aja yang ngasih nama kan anak kalian berdua." Elak Ella gak nyaman.


"Iya, tapi nanti dulu Ella cari nama yang cocok buat adik Ella. Karena nama adalah doa."


*******


Akibat mulutnya sendiri yang nantangin Raka buat taruhan bikin Azhar pusing tujuh keliling, soalnya kenyataan gak seindah bayangan. Kalo dulu bayangannya bakal pedekate balik sama Anggun dengan di barengi drama yang bikin tu cewek luluh dan membuka hatinya buat balikan lagi gak taunya.... Malah nihil. Jangankan balikan, di kacangin mulu sama Anggun yang pasang wajah jutek dan ngomongnya lebih pedes ngalahin lombok rawit. Kayak hari ini, Azhar yang gak bakal nyerah gitu aja dan bakal berjuang dengan semangat empat lima yang membara demi mobilnya. Gak rela kalo harus kehilangan mobil kesayangannya yang menguras tabungannya selama dua tahun. Bukan cuma mobil, Azhar gak mau kehilangan muka dan harga diri sebagai playboy kalo sampek kalah taruhan sama Raka yang punya gelar jomblo abadi. Mau di taroh di mana mukanya....


"Lo gak ada kerjaan apa ngikutin gue?" Anggun mengibas-ngibaskan tangannya buat ngusir Azhar yang udah beberapa hari ini ngeselin banget, udah kayak anak ayam yang ngekorin emaknya kemana aja pergi.


"Jangan galak-galak sama calon suami, entar lo malah kangen berat sama gue."


"Wek...," Anggun mengubah ekspresi wajahnya jijik dan mau muntah, rasanya mual banget perutnya denger dokter playboy itu ngomong. "Dan untungnya gue gak pernah kangen sama lo, gue bersyukur atasnya."


"Jangan gitu dong my angel, gue yang cakep dari mana-mana ini patut buat lo kangenin kayak gue kangen sama elo. Gue bener-bener nyesal atas apa yang gue lakuin sama lo dimasa lalu, gue mohon sama lo. Lo mau kan kalo kita balik lagi kayak dulu?" Memasang wajah penuh derai derita dan menyesal.


"Gue gak bakal ketipu sama wajah b*doh lo itu, cukup sekali dan gak bakal ada yang kedua kali lo nipu gue." Kata Anggun tegas, masih teringat jelas gimana ia memergoki Azhar yang tengah bermesraan di dalam mobil bareng cewek lain. Jelas-jelas saat itu status mereka adalaha sepasang kekasih, dan Azhar melakukannya dengan wanita lain. "Gue gak sudi sama cowok playboy kayak lo." Mengambil tasnya buat ninggalin cowok playboy yang sableng itu, rasanya pengen banget nonjok mukanya yang sok ganteng itu.


"Adinda, maafkan atas ke salahan dan ke khilafan kakanda di masa lalu, buka lah hati adinda untuk kakanda seseorang. Kakanda sungguh menyesali semua kesalahan kakanda di masa lalu dan kakanda berjanji akan menjadi imam yang baik untuk adinda seorang dan demi buah hati kita kelak. Kakanda mohon, berikan satu kesempatan lagi buat kakanda untuk menebus kesalahan dan membuat senyum manis di bibir adinda kembali." Kata Azhar dengan penuh dramatis yang langsung mendapat tepuk tangan dari orang-orang yang lagi santai cafe sore itu.


Plok plok plok

__ADS_1


Anggun melotot ke arah Azhar geram, tu cowok malu-maluin aja. Kalo dulu Anggun yang masih bau kencur bakal terpesona dan menelan mentah-mentah apa yang cowok playboy itu katakan, tapi kali ini gak bakalan. Jangam nelan, masuk ke mulut aja enggak apa yang ia katakan. Di bandingkan lebih lama di sini bikin malu, Anggun berdiri dan menarik Azhar keluar dari keramaian buat ngomong secara baik-baik. Kalo gak gini gak bakalan kelar urusannya dan bakal bikin pusing ngikutin kemana aja Anggun pergi. Saat Anggun rasa mereka udah jauh dari keramaian ia melepaskan tangan Azhar, "Mau lo apa?" Katanya ketus, males banget buat bersikap lembut sama cowok yang kayak gitu.


"Gue cuma mau balikan lagi sama lo, tapi kali ini kita gak pacaran lagi. Gue bakal ngelamar lo dan menjadikan lo sebagai istri gue. Karena gue sadar ternyata lupa-in lo itu susahnya minta ampun, lebih susah di bandingin ngelakuin operasi."


"Gue gak mau, lagian gue udah punya calon suami dan kami akan menikah dalam waktu dekat."


"My angel, lo kira gue gak tau apa? Selama ini gue ngawasin lo dan gak ada satu pun cowok yang berkeliaran di samping lo. Jadi gue bisa nyimpulin kalo sebenarnya lo cuma cari alasan aja kan buat nolak gue?" Azhar menggenggam tanga Anggun dan menciumnya lembut, " Kasih gue satu kesempatan lagi buat buktiin kalo gue bener-bener berubah dan serius. Gue janji gak bakal nyakitin lo." Ujarnya dengan menatap. mata Anggun lekat, meyakinkan apa yang ia katakan adalah kebenaran yang patut Anggun yakini dan pegang saat ini.


"Buaya cap kadal kayak lo itu 1000 janji gak bakalan ada yang bisa di percaya." Tepisnya belajar dari pengalaman.


"Oke gini aja, besok kita bertemu di cafe Violet. Gue bakal nunggun lo disana jam empat sore, kalo lo emang mau balik dan ngasih gue kesempatan lo datang kesana. Tapi kalo lo gak mau nerima gue, lo gak usah datang karena itu udah jadi jawaban buat pertanyaan gue." Azhar mengeluarkan kotak berisi sepasang cincin dan memberikannya pada Anggun, "Ini adalah bukti keseriusan gue, cincin pengikat sebagai suami istri. Kalo lo terima gue, lo pakai cincin ini saat lo datang dan kalo lo tolak lo bisa simpen sebagai kenang-kenangan kita." Azhar meletakkan kotak berisi cincin couple itu di tangan Anggun, "besar harapan gue buat lo datang dan nerima gue."


Anggun cuma bisa mengerjapkan matanya, sepasang cincin yang di kasih Azhar sebagai jaminan kalo tu cowok serius kali ini masih ada di tangannya. Gimana mungkin Anggun nerima lamaran Azhar kalo kali ini ia udah punya calon yang lebih dulu melamarnya. Anggun meletakkan kotak cincin itu di dalam tasnya dan saat itu hpnya bergetar.


"Iya? Ni udah mau pulang." Jawab Anggun saat Raka menanyakan keberadaannya, Raka menepati janjinya buat jadi ojek pribadi. Setiap hari ia mengantar dan menjemput Anggun yang bekerja, bahkan hal kecil lainnya Raka lakukan hingga membuat Anggun merasa nyaman dengan keberadaan Raka di sisinya. Laki-laki itu sanget perhatian dan memperlakukannya dengan lembut, hingga detik ini Raka sama sekali belum menyentuhnya. Hanya sebatas pegangan tangan yang mereka lakukan dan itu yang membuat Anggun merasa menjadi wanita yang sangat di hargai melebihi apa pun.


"Maaf sayang, Abang agak telat soalnya ini lagi macet-macetnya." Kata Raka yang terjebak macet, mana udah gerah lagi di tambah macet paket komplit bikin mood jelek.


"Iya gak pa-pa, kita makan malam bareng di rumah aku ya? Mama dan Papa mau ketemu sama calon mantunya." Anggun membereskan make up dan beberapa baju yang ada di dalam mobilnya, walau Anggun bawa mobil sendiri tapi ia gak pernah nolak ajakan Raka untuk antar jemput dan mobil Anggun di bawa sama asistennya. Karena dengan cara ini mereka bisa bertemu dan saling mengenal antara satu dan lainnya.


"Hah? Aduh..., Abang belum siap sayang, mana masih bau. Ini baru pulang dari rumah sakit belum mandi dan ganti baju. Gak pede Abang mau ketemu calon mertua dalam keadaan kucel kayak cucian." Jawab Raka jujur.


"Gak pa-pa, mandi aja di studio. Kalo mengenai baju udah aku siapin buat ganti, yang jelas siapin hatinya buat ketemu calon mertua. Katanya mau ngelamar kalo ketemu sama Papa?"


"Iya deh, demi kamu apa sih yang gak bisa Abang lakuin? Udah dulu ya sayang ni lagi di jalan. Entar gak konsen nyetirnya gara-gara denger suara kamu yang manis kayak gula." Kata Raka menyudahinya, ****** gue..., belum siap masak mau ketemu sama calon mertua?


Raka mengacak rambutnya frustasi, karena masa depannya bakal di pertaruhkan saat di depan ortu Anggun. Salah ngomong bakal gak dapat restu, kalo gak di restui terus gimana nasib cintanya???


Akh....


Belum apa-apa Raka udah kena serangan jantung, derak jangtungnya berasa mau berhenti berdetak dan saat ini keringat dingin udah bercucuran.


********


Hai readers sekalian...


Makasih ya buat kaliam yang masih setia nungguin Up dan masih setia buat baca novel yang author tulis ini.


Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan like, vote dan komennya.


Makasih yang udah luangin waktu buat like dan ngasih komennya dan relain votenya buat author, semua itu bikin author jadi semangat lagi dalam berkarya dan karena kalian semua author jadi seperti ini dan sampai saat ini.


😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2