
Anggun yang masih belum bisa mencerna sepenuhnya apa yang keluar dari mulut Ella dan di dengar sama telinganya itu masih bengong, bingung mau nanggepi apa. Sebelumnya emang udah curiga, walau manggilnya Om tapi tatapan mata Rega selalu lembut saat melihat ke arah Ella dan bicaranya pun beda sama biasanya. Terlalu lembut dan hangat untuk ukuran keponakan ia memperlakukan Ella. Walau udah mempersiapkan hatinya suatu saat mengetahuinya semuanya tetap aja Anggun merasa syok saat mendengarnya langsung dari mulut Ella sendiri kayak gini. Kalau cewek lain pasti bakalan marah dan ngomelin habis-habisan, untuk Ella itu beda. Anggun yang dari pertama ketemu langsung jatuh hati sama sosok Ella bertubuh mungil, manis dan menggemaskan itu rasanya gak tega buat marah apa lagi sampek ngomong kasar. Walau gitu, hati gak bisa bohong, pas Ella narik tangannya dan menggenggam secara refleks Anggun menepis dan menarik tangannya walau gak sesuai keinginannya tapi itulah yang terjadi. Bentuk dari kekecewaan dan protes secara halus darinya saat ini.
"Sejak kapan kalian mulai pacaran?" Katanya dengan suara bergetar.
"Pertama kali ketemu kak Anggun pas belanja di tempat sayur." Jawab Ella jujur, gak ada lagi yang bisa di sembunyikan. "Kami udah mulai jalan bareng." Apa pun yang Anggun tanya bakal Ella jawab dengan sejujur-jujurnya.
"Jadi, Kalian udah berapa lama menikah?"
"Hampir dua tahun kak,"
Deg, Udah kayak berhenti jantung Anggun berdetak saat mendengarnya. Gak pernah bayangin kalo dia bakalan denger Rega udah nikah, denger udah punya gandengan aja bikin syok apa lagi sekarang yang denger udah nikah tambah syok lagi sampek hampir-hampir berasa kayak mimpi. Apa lagi usia pernikahan mereka udah dua tahun, jadi selama ini Ella menyembunyikan dengan sangat rapi darinya, bahkan gak ada sedikit pun tercium gelagat aneh darinya. Bukan cuma dia, bahkan semua orang gak ada yang tau, kemungkinan besar bahka pernikahan mereka itu di rahasiakan dari publik. Soalnya gak ada yang bahas masalah ini sama sekali.
"Maaf Kak..., Ella terima kok kalau kakak mau marah sama Ella. Tapi Ella sama sekali gak berniat buat ngelakuin ini semua," Ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca. "Jujur, awalnya Ella gak suka liat Kak Anggun deket-deket sama Rega. Tapi lama kelamaan Ella kenal kakak, Ella ngerasa nyaman pas sama kakak. Kakak memperlakukan Ella udah kayak adik sendiri dan Ella juga ngerasa udah kayak punya saudara perempuan." Menghela nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. "Makin kesini Ella makin sayang sama kakak, karena selama ini Ella gak pernah tau gimana rasanya punya saudara perempuan. Tapi kakak memberikan perasaan itu sama Ella, Ella merasa sangat beruntung dan berterima kasih banget buat semua ini." Ella berdiri dan menatap Anggun dengan tatapan penuh penyesalan. "Ella benar-benar minta maaf, dan maaf udah ngerepotin kakak." Membungkukkan badan dan berjalan dengan gontai, rasanya badannya lemes banget. Apa lagi di tambah sama kepalanya yang terasa pusing dan berat itu memperlengkap rasa yang Ella rasakan saat ini. Ni badan kok gak tau tempat sama sekali sih? Masak iya sakit pas kayak gini? Sambil terus jalan, pas mau dekat pintu ia oleng dan harus bersandar di dinding untuk menopang berat badannya yang mulai gak seimbang.
Anggun yang masih syok dan belum bisa menerima sepenuhnya itu cuma bisa liatin gelas yang hampir kosong di depannya. Rega adalah cinta pertama dan cinta yang lama untuknya, walau ia pernah menjalin hubungan dengan cowok lain tapi perasaannya buat Rega gak pernah hilang sama sekali. Cinta dan sayang emang beda, kalau Rega adalah cinta maka Ella adalah sayang. Cewek manis bertubuh mungil itu mampu membuat Anggun merasa nyaman dan jadi diri sendiri di depan orang lain untuk pertama kalinya selain keluarga dan asistennya. Perasaan sayang itu sangat kuat sampai Anggun menganggapnya sebagai adiknya sendiri, apa lagi selama ini Ella bersikap sangat manis dengannya. Anggun mengalihkan tatapan matanya pada sosok Ella yang berjalan menjauhinya, saat ia bingung menata hati dan apa yang akan ia lakukan selanjutnya saat itu juga ia melihat Ella yang berjalan dengan sempoyongan dan hampir terjatuh dan menopang badannya dengan bersandar di dinding. Refleks Anggun berlari mendekatinya dan melihat wajah Ella yang pucat dengan keringat bercucuran. "Ya ampun Ella, kenapa kamu?" Anggun membantu dan memapahnya untuk duduk di bangku terdekat dari mereka, mengambilkan air mineral untuknya minum. "Kamu sakit?" Katanya sangat khawatir melihat kondisi Ella yang demikian.
Ella meletakkan kepalanya di meja dengan membuat tangan sebagai pengganti bantal di sana. Kepalanya terasa berat dan pusing, bahkan sekitarnya bergerak dan beterbangan dengan sendirinya yang udah kayak gak ada grafitasi di tempat ini.
"Rega tau gak kalau kamu disini?" Tanya-nya lagi khawatir, hilang perasaan syok dan gak terima tentang pengakuan Ella dan menguap dengan sendirinya.
Ella menggeleng pelan dan sangat pelan bahkan hampir tak terlihat.
Anggun mengambil hp nya dari dalam tas, kalau saat ini ia gak punya no hp Rega setidaknya masih ada asistennya yang udah kayak bayangan Rega saat ini.
"Kak, jangan telpon. Tadi dia marah sama Ella dan ninggalin Ella sendiri di kampus." Ella menahan tangan Anggun yang udah siap buat nelpon, dan ia yakin kalau itu adalah Rega yang bakal ia telpon.
"Tapi Ella, keadaan kamu yang kayak gini gak mungkin kan?" Masih memegang hp dan tak mengurungkan niatnya buat menelpon Yun, "Gue gak perduli dia marah atau apa pun itu. Yang jelas kalau sampai dia gak jemput kamu liat aja entar." Memainkan jarinya buat mencari kontak yang ia maksud. "Yun, bilang sama Rega gue tunggu di kafe sekarang juga. Gue lagi bareng Ella dan kondisinya lagi gak bagus."
Yun yang tengah asik meeting gantiin Rega yang seenaknya aja bilang kalau dua hari ini gak masuk kerja buat nemenin Ella itu bikin jadwal berantakan semuanya. Gimana gak berantakan, jadwal meeting yang kebentur sama meeting dan lainnya yang seharusnya mereka lakukan berdua semua harus Yun ambil alih sendiri yang gak bisa duduk biar bentar aja dan gak bisa pulang buat istirahat karen memeriksa semua laporan. Yun melihat nama Anggun tertera di layar hpnya, tumben-tumbenan tu cewek nelpon. Ia hampir gak pernah mehubunginya, untuk pertama kalinya Anggun menelponnya saat Ella mendapat masalah. Yun yang awalnya mengacuhkan bahkan menolak panggilan itu akhirnya mengangkatnya, tu hp gak mau diem dan bergetar terus di saku celananya. Bikin geli aja..., "Iya Nona Anggun?" Katanya saat tersambung.
__ADS_1
"Yun, bilang sama Rega gue tunggu di kafe sekarang juga. Gue lagi bareng Ella dan kondisinya lagi gak bagus."
Yun menatap layar hpnya gak percaya, kenapa juga Ella bisa sama Anggun? Bukannya seharusnya saat ini bareng Rega?
Lalu kemana perginya Rega saat ini kalo gak bareng Ella?
Pikiran-pikiran itu langsung pecah saat terdengar suara Anggun di seberang sana yang memastikan kalo dia dengar apa yang Anggun bilang.
"Lo denger gue gak sih?!"
"Baik Nona, saya akan menyampaikannya saat ini juga. Tolong Nona jaga Nona Ella sebentar lagi, terimakasih karena Anda telah mengatakan dan memberitahu saya." Memutuskan pembicaraan mereka, "Maaf tuan, saya ada urusan sedikit dan keluar sebentar." Kata Yun pamit, gak mungkin menelpon dan membahas Ella di ruangan ini. Bisa-bisa entar kedok pernikahan mereka bakal ketahuan sama orang lain. Yun menghubungi Rega beberapa kali, tak ada jawaban darinya. Hingga ia harus menelpon ke apartemen dan lagi-lagi tak ada jawaban dari sana. Yun menatap layar hpnya, seperti bertanya di mana dan apa yang Rega lakukan saat ini, ia mencoba beberapa kali namun lagi-lagi tak ada jawaban disana yang akhirnya memilih untuk menghubungi Anggun kembali. "Maaf Nona, apakah anda bisa mengantarkan nona Ella untuk ke apartemen tuan Rega? Saya telah mencoba menghubunginya tapi tak dapat tersambung. Saat ini saya terlalu sibuk dan tidak bisa meninggalkan meeting yang sedang berjalan." Katanya dengan sopan. "Saya akan mengirim dokter Raka ke apartemen secepatnya. Oh ya nona, kode pintu masuk apartemen tuan Rega adalah tanggal lagir tuan sendiri."
"Apa? Dasar cowok br*ngsek gak berguna, kemana sih tu orang jadi sampek ninggalin Ella yang lagi sakit kayak gini sendirian di kampus. Awas aja kalo ketemu bakalan bikin perhitungan sama dia. Dasar beruang kutub, gue sumpahin biar di seruduk sapi di jalan."
Yun membiarkan Anggun memaki dan mengutuk Rega, karena itu pantas. Kalo gak dalam keadaan kepepet mana mungkin sampek minta bantuan segala sama Anggun.
******
"Apa anda Nona Anggun?" Katanya ramah dengan senyum terkembang, "Saya dokter Raka, Yun tadi menelpon saya untuk memeriksa nona Ella." Katanya menjelaskan, melihat raut wajah cewek yang bernama Anggun yang terlihat waspada itu.
Anggun mengangguk mengiyakan, ia tak menemukan handuk di dalam lemari itu. "Gue, gue bantu apa?" Katanya bingung.
"Nona tolong temani nona Ella, selebihnya saya akan menyelesaikannya." Raka menempelkan tangannya pada kening Ella dan merasakan aliran panas, memasang infus dan memastikan suhu tubuh Ella dengan termometer. "Sejak kapan nona Ella seperti ini?"
Anggun menggeleng, "Tadi ketemu di kampus mukanya udah agak pucat, tapi pas di cafe tiba-tiba Ella jatuh dan badannya panas."
********
Rega yang capek hilir mudik di kampus Ella sampek sore itu lagi-lagi gak nemuin Ella di mana pun. Setiap taman dan jalan yang ia lalui di periksa satu-satu tapi tetep aja gak nemuin Ella di mana pun. Perasaan bersalah dan nyesel langsung ada di hatinya, tapi ngapain nyesel kalo udah kayak gini biar pun nyesel gak bakalan bisa balik lagi ke waktu itu. Pikiran-pikiran aneh langsung beterbangan di kepalanya, ia mengambil hp nya untuk menelpon Yun meminta bantuan untuk menemukan Ella karena bentar lagi udah malam. Panggilan tak terjawab berpuluh-puluh kali dari Yun, Saking sibuknya Rega sampek gak nyadar sama hpnya. "Ngapain lo nelpon gue sampek banyak banget?" Katanya saat terdengar suara Yun.
__ADS_1
"Eh, lo kemana aja hah? Gue sampek bosen nelpon lo gak di angkat-angkat."
"Gue ada urusan mendesak, kerahkan semua orang buat cari Ella. Dia ilang."
"Gak usah, istri lo udah ada di apartemen, tadi gue di telpon sama Anggun kalau dia nemuin Ella dalam keadaan sakit. Gue juga udah nyuruh Raka buat ke sana meriksa, kata Raka demam Ella tinggi banget. Lo jadi suami ngapain aja sih gak sampek istri sendiri sakit aja lo gak tau, untung yang nemuin Anggun kalo orang lain gimana? Bakal nongol tu muka lo di mana-mana gara-gara gak becus ngurus istri." Kali ini Yun gak bisa nahan emosinya biar gak ngomel. Lagian emang keterlaluan Rega istri sendiri sampek ngilang, kalo sampek ke sebar ke publik dia juga yang repot ngurus dan nutupinnya yang berimbas pada saham perusahaan.
"Oke, gak usah ngomel gue langsung pulang." Rega yang tau banget sama sifat Yun langsung nutup telponnya, kalo di dengerin bakalan panjang nih gak kelar-kelar.
Rega yang pikirannya udah ngalor ngidul itu langsung tancap gas, udah gak di dengerin omelan, sumpah serapah atau apa pun di jalan raya yang di tujuin buat dia gara-gara salip sana-sini udah kayak pembalap profesional. Sesampainya di parkiran, ia langsung lari sampek ngos-ngosan. Bukannya tadi Ella baik-baik aja, gak ada demam atau apa pun cuma mukanya sedikit pucat. Rega melupakan kalau muka Ella emang pucat dan ngomong kalo gak enak badan.
Anggun yang lagi duduk di sofa langsung mengarahkan tatapan matanya pas Rega masuk sambil buka pintu secara kasar, tu cowok ngos-ngosan dan mukanya udah merah campur keringat.
"Ella mana?" Katanya langsung tanpa basa-basi.
Anggun tang sejak tadi emosinya udah di aduk pas liat Rega langsung bangkit.
"PLAK!!!"
Rega memegangi pipinya yang perih karena tangan Anggun mendarat dengan mulus di pipinya, apa lagi tu cewek berdiri sambil melotot ke arahnya. Yakin banget kalo bakal kena semprot kalo udah kayak gini.
"Dasar cowok br*ngsek!" Katanya dengan penuh emosi.
*********
Hi reader....
Makasih ya buat kalian yang masih setia nunggu Up dan tetap setia sama novel author. Jangan lupa tinggalin jejak kalian lewat like dan Vote-nya kalay kalian suka, bakalan jadi r motivasi dan semangat buat author untuk terus berkarya.
Makasih buat vote dan like nya selama ini, tanpa kalian gak mungkin author bisa sampai sekarang bertahan.
__ADS_1
Makasih buat reader semua....
😘😘😘😘😘😘