Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Kedai


__ADS_3

Ella dan Wily masuk dari satu butik ke butik lainnya, bahkan hampir semua butik mereka masuki cuma buat cari baju yang mau di pakai Ella. Bukannya gak ada ukuran yang pas buat tubuh Ella cuma harga nya itu yang bikin Ella langsung kena penyakit anemia, pusing, berkunang-kunang dan mual. Satu baju bisa buat beli motor seken sama baru, itu cuma satu belum satu pasang ya.... Jiwa hemat Ella memberontak keras untuk menolaknya.


Yap!


Atas nama pemborosan dengan tegas Ella menolaknya.


Uang segitu buat seorang Willy gak ada artinya, karena emang tajir jadi ngeluarin uang segitu gak bakal bikin dia jatuh miskin. Beda sama prinsip Ella yang bakalan sehemat mungkin, uang segitu buanyak banget bahkan bisa borong satu toko baju di pasar loak. Dengan perdebatan yang lumayan lama dan alot akhirnya Willy menuruti apa yang Ella inginkan. Beli baju di lantai dasar alias baju biasa-biasa aja, bukan keluaran brand ternama atau butik terkenal yang limited edition.


Ella mengambil beberapa lembar celana jins dengan warna berbeda, beberapa potong t-shirt untuk ia pakai sehari-hari. Pakaian casual dan santai seperti ini yang cocok dan nyaman, gak kayak yang Willy pilihkan. Gaun cantik nan centil, kalo diliat emang sih cantik tapi kalo tiap hari makai itu gerah plus gak leluasa alias ribet buat Ella yang udah kayak ulat gak bisa diam dan bersikap anggun bak putri keraton.


"Yakin cuma ini?" Tanya Willy yang melihat belanjaan Ella sedikit nan murah meriah (buat kantong horang khaya).


"Iya, entar beli sepatu buat jalan sama sekolah. Ella lupa tadi keluar cuma pakai sandal rumahan." Menggerakkan kakinya, sandal keropi hijau itu menemaninya kemana pun hari ini. Jalan-jalan menghirup udara bebas yang biasanya cuma dalam rumah.


Willy yang dari tadi gak sadar cuma bisa tepok jidad, "Ngapain gak bilang? Kan kita bisa beli sepatu dulu buat kamu?"


"Habisnya Kakak narik Ella kesana kemari cuma buat cari gaun. Emang Ella mau jadi girl band atau idol gitu di suruh pakek yang kayak gituan?"


Willy tertawa kecil mendengarnya, image princes dalam diri Ella yang bikin dia kayak gitu. Habisnya keliatan manis dan cantik banget pakek gaun, lupa kalo ternyata banyak sisi tomboynya ketimbang feminim.


"Ya udah, kita beli sepatu dulu." Membayar semua belanjaan Ella, Willy menolak menerima kembalian dan memberikannya. Tentu aja yang punya toko seneng banget dapat uang kembalian yang lumayan banyak.


"Tapi Ella lapar Kak, Makan dulu ya?" Mengerjapkan matanya dengan cepat dan memasang wajah kayak orang yang gak makan sebulan.


"Iya...." Mengacak lembut rambut Ella, "Mau makan apa?"

__ADS_1


"Terserah. Yang penting itu kenyang dan banyak."


Willy mengambil Hpnya. "Tio, belikan sepatu flat model terbaru ukuran 37 sekalian sepatu sekolah. Bawa ketempat kami setelah membelinya, lokasinya entar gue kirim." Masalah sepatu beres, tinggal mengurus perut Ella.


Kalo lagi laper tu anak gak bakal berhenti merengek sampai di kasih makan, tapi kalo udah kenyang malah gak berhenti ngomong sampai bosen dengernya.


"Gendong?" Katanya manja dengan mengangkat kedua tangannya.


"Kaki Ella lemes kak, belum makan dari tadi pagi. Kalo pingsan gimana?"


Willy geleng-geleng kepala, badannya aja yang gede tapi jiwanya masih bocah kecil yang manjanya gak ketulungan. Willy berjongkok dan menepuk bahunya, menyuruh Ella naik. Tentu aja, gak di suruh aja bakalan naik kok. "Enak?" Katanya saat Ella di belakangnya.


Ella memgangguk dan tersenyum bahagia, Willy selalu memanjakannya dari dulu sampek sekarang. Gak bakalan menolak apa pun yang ia inginkan.


Beberap cewek yang berpapasan melihatnya dengan iri, siapa coba yang gak iri di gendong sama cowok cakep di tempat umum yang semua orang ngeliat.


Langsung deh mereka menghayal bakal ketemu pangeran ganteng, terus ngelakuin hal yang sama kayak gitu. Akibat ulah Ella akhirnya banyak yang ngayal di siang bolong sekaligus menghayal masal.


Willy tau selera Ella yang anti sama makanan cepat saji memilih kedai dengan makanan rumahan yang di jamin higenis.Suasananya juga mendingan, gak banyak orang karena mereka hanya menerima tamu VIP saja untuk kalangan ekonomi ke atas. Yang paling penting kedai ini miliknya sendiri.


"Pasti mahal kan Kak?" Bisiknya.


"Tenang aja, kedai ini milik Kakak kok." Mengedipkan mata, "Makan sesuka kamu, gak perlu bayar."


Beraneka ragam lauk tertata rapi, kedai prasmanan ini memang menyajikan lauk-pauk rumahan. Buat mereka yang gak sempat masak tapi kangen buat makan masakan rumahan atau pengen menjamu kolega bisnis sekaligus berbisnis di tempat ini menyediakan ruangan khusus yang bakal menjaga privasi mereka dengan nuansa alami nan asri.

__ADS_1


"Selamat datang Tuan." Kata seorang pelayan wanita dengan ramah menyambut kedatangannya.


Willy hanya tersenyum menanggapinya, dan tentu aja Ella masih dengan enaknya berada di belakang punggung Willy. Tampak sorot matanya terkejut melihat bosnya datang dengan seorang wanita bahkan Menggendongnya namun urung untuk bertanya.


Willy mendekati meja melihat menu apa yang tersedia. Jangan di tanya tanggapan Ella, matanya melek sempurna dengan liur menetes derasnya. "Lap ilernya, baju Kakak basah." Katanya pelan melihatnya yang gak sabar buat melahap semua yang ada disana.


"Ella gak ngiler tau!"


"Pilih mana yang kamu suka." Katanya tanpa menurunkan Elladari gendongannya.


Pelayan datang, ia siap menerima perintah mengambil makanan yang diinginkan.


"Capcai, cumi bakar, lalapan pakek sambel terasi, tumis kembang kates, ikan asin, perkedel kentang, sate usus, rendang jengkol, pepes ikan mas. Tapi jangan banyak-banyak ya, cukup satu porsi aja, sayang kalo gak habis."


Pelayan wanita itu mengerjapkan mata, badannya kecil tapi makannya banyak.


Kurang lebih gitu yang dipikirin pas liat makanan yang di tunjuk.


"Kakak heran, makan kamu banyak tapi kok badan kamu keci?"


Ella tersenyum malu mendengarnya, "Bisa aja Kakak muji Ella "


Willy hanya memilih beberapa jenis masakan yang tentu aja gak sebanyak yang Ella pesan.


"Willy?"

__ADS_1


Seseorang memanggil namanya membuat Willy dan Ella menoleh bersamaan.


Sosok laki-laki tegap dan gagah sekaligus ganteng berdiri tak jauh di belakang mereka dengan beberapa orang berpakaian formal bersamanya.


__ADS_2