
Belum sempat kelar acara bengong, Ella, Willy dan Raka yang masih dalam keadaan syok berat liat kelakuan Rega. Doi balik lagi gak lama pamit, ngerasa urusannya belum kelar. "Bro, gue pinjem dulu adik lo." Menarik tangan Ella tanpa minta persetujuan yang punya tangan terlebih dahulu, "Entar gue balikin ke rumah."
"Lo mau ngapain?" Willy sempat mengulurkan tangannya buat cegah, tapi lebih gesit Rega.
"Tenang aja, kalian bakal jadi ipar cepat atau lambat." Kata Raka tersenyum penuh arti.
"Lanjutin ngobrolnya sambil makan." Raka menekan bahu Willy menyuruhnya untuk duduk.
"Adik gue?"
"Tenang aja, gak bakalan di apa-apain sama Rega. Gue jamin..."
Willy geleng-geleng kepala, dari dulu sampek sekarang masih ngomongnya sembarangan. Yang kayak gini kok bisa-bisanya jadi dokter.
**********************
Rega menggenggam tangan Ella dari dalam kedai sampai luar dengan langkah kaki tergesa-gesa, kakinya yang panjang bikin langkahnya lebih cepat di bandingkan Ella yang harus berlari kecil buat nyeimbanginya.
"Om...."
Gak ada tanggapan Ella menaikkan suaranya.
"Om Rega !!!"
Rega berhenti yang bikin Ella otomatis menabraknya dari belakang. Ella mengusap hidungnya yang nyut nyutan kepentok sama tubuh Rega.
"Sakit tau!" Memasang wajah marah sambil mengelus hidungnya yang memerah.
__ADS_1
"Gue kaget lo teriak gitu."
"Habisnya Ella di tarik Sama Om. Tangan Ella sampek merah ni..." Menunjukkan tangannya yang memerah akibat genggaman tangan Rega yang kuat. "Kalo sampek tulang jari Ella patah Om harus tanggung jawab."
"Iya... Gue bakal tanggung jawab tenang aja. Tanggung jawab apa yang lo mau?" Menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan Ella karena tinggi badan mereka yang terpaut jauh.Rega menatap mata Ella lekat, baru berapa hari aja gak ketemu rasanya gak asik. Gak ada yang ngomelin, adu argumen, bantah apa pun yang Rega bilang pokoknya pada intinya dunia Rega gak asik banget selama Ella gak ada di deketnya.
"Jadi anak buah Ella mau Om?"
"Gue yang seganteng gini jadi anak buah lo?" Tersenyum menyeramkan, tapi di mata Ella biasa aja itu. "Emang lo mampu bayar?"
"Terus?"
"Kalo jadi pengasuh lo, gue mau."
"Emang Ella anak kecil apa jadi masih perlu pengasuh? Apa gak kebalik Om? Bukannya Ella yang bersihin apartemen Om? Masak buat Om." Sambil ngitung pakek jarinya.
"Cuma gitu doang?"
"Gue kasih lo gajih yang gak bakalan bisa lo dapetin di mana pun kalo lo mau nerima pekerjaan baru."
"Gak terimakasih. Sekarang Ella mau fokus buat ujian, Ella mau jadi dokter yang keren kayak dokter Raka."
"Keren dari mananya? Mukanya biasa aja gitu lo bilang keren. Kayak gue ni baru keren...." Katanya narsis
Ella mencibir mendengarnya, kumat narsisnya. "Dari kata dokternya lah..."
Rega lagi-lagi mendekatkan wajahnya kearah Ella yang kalo marah bikin gemes, memandangnya dengan pandangan lembut dan tersenyum manis. "Kerja lo gampang banget, gak nguras tenaga sama keringat apa lagi waktu lo." Menyapu setiap centi wajah Ella, kayak gak ada puas-puasnya buat mandang. Bikin hatinya damai banget pas ngeliatnya. "Lagian kerjaan lo bakal di mulai pas lo udah tamat sekolah, gue bakal kasih lo berapa pun gajih yang lo minta."
__ADS_1
Ella memundurkan wajahnya, agak gimana sedekat ini. Yang jelas risih sama gak enak.
Ella memperhatikan kulit wajah Rega mulus tanpa noda atau jerawat, kulit cowok selicin ini. "Om pakai perawatan apaan jadi kulitnya mulus bisa buat plorotan lalat?"
Sepersekian detik wajah Rega berubah dari yang cerah kayak orang lingkung tapi balik lagi ke asal dengan wajah berseri bak mentari pagi, lagi serius-seriusnya malah ngelawak gak jelas.
"Kerja apaan sih?" Jaman sekarang kerja gampang dapat gajih gede itu mustahil banget. "Om nyuruh Ella jual obat-obatan terlarang atau sejenisnya?"
"Emang gue kurang kerjaan apa yang kayak gitu? Duit gue udah banyak kayak gunung masih ngerjain hal kotor."
"Habisnya ngomong gak jelas, mana ada kerja gak keluar tenaga sama keringat?"
"Ada?"
"Apa?"
"Jadi nyonya Rega." Katanya enteng sambil senyum semanis madu tanpa pemanis buatan. "Tapi sayangnya gue boong." Melotot ke arah Ella dan tersenyum mengejek.
Ella yang sadar di kerjain nendang aset berharga milik Rega pakek lututnya yang bikin empunya meringis kesakitan sambil gigit bibir.
"Tega banget ya lo, ini aset gue. Mana masih belum di coba lagi."
"Biarin!" Pasang wajah marah bin galak, "Sekalian aja gak berfungsi!"
Ngeri...
Belum emak-emak udah segarang gitu kalo marah, gimana kalo udah emak-emak?
__ADS_1
"Sadis banget lo!" Rega meringkuk menahan sakit, asetnya untung gak pecah telur. Kalo sampek pecah telur gak bisa nerusin garis keturunan.
"Makanya kalo ngomong jangan asal, itu masih belum tenaga penuh kalo gak bakalan jadi telor ceplok beneran!" Meninggalkan Rega yang menahan sakit sambil ngatur nafas kayak orang mau lahiran.