Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Tumbang


__ADS_3

Rumah sakit yang Ella masuki bukan rumah sakit biasa, dari perlakuan petugas menunjukkan bahwa rumah sakit ini memiliki tingkat pengamanan yang patut di acungi jempol. Gak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya, harus ada ijin khusus dari dokter jaga yang bersangkutan dan pemeriksaan pada setiap tamu dengan jam besuk dan jumlah terbatas kunjungan. Semua ini bentuk dari layanan rumah sakit demi menjaga kenyamanan dan privasi pasien saat penyembuhan dari gangguan luar.


"Emang sakit apaan sih Om Rega? Terakhir ketemu seger buger gitu?"


Yun melangkah dengan santai di koridor rumah sakit yang sepi, karena mengoptimalkan istirahat berkualitas pihak rumah sakit hanya mengijinkan satu tamu untuk setiap harinya selain pendamping. "Nanti anda bisa bertanya langsung." Langkahnya berhenti tepat di depan pintu no 239, meraih gagang pintu dan membukanya.


Ella mengikuti langkah sekertaris itu untuk masuk, matanya langsung tertuju pada ranjang pesakitan. Sosok yang ia kenal terkujur di sana dengan bantuan alat pernafasan. Sungguh pemandangan yang ironi, sosok yang penuh percaya diri dengan keinginan tak terbantahkam itu kini terbaring tak berdaya dengan infus dan alat bantu pernafasan.


Yun berjalan mendekati bosnya, menundukkan kepala agar sejajar dengan wajahnya. "Tuan, Nona Ella sudah datang." Katanya dengan menunggunya membuka mata. Yun berdiri dan meninggalkan mereka berdua di kamar, ada yang harus mereka bicarakan dan mungkin kehadirannya akan mengganggu jadi Yun memilih untuk memberikan privasi pada bosnya dan menunggu di luar kalau terjadi sesuatu.


Rega mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk menyuruh Ella mendekat ke arahnya.


Ella tersenyum masam, berjalan mendekat hingga menuju kursi di samping ranjang pasien. Ranjang itu yang terlalu kecil atau tubuh Rega yang terlalu tinggi hingga terlihat kontras dengannya disana. "Hai Om." Katanya kaku.


Rega membalasnya dengan tersenyum tipis, dengan gerakan lambat menutup matanya seolah-olah menahan sakit di dalamnya.


"Ada apa cari Ella?"


"Itu...."


Ella menunggu, mengamati wajah dan seluruh tubuh Rega. Banyak kejanggalan yang ia lihat, cuma Ella gak mau bahas ini sekarang karena bisa-bisa ngerusak suasana. Di omongin entar aja kalau udah tau apa yang sebenarnya terjadi, bersabar lebih banyak gak ada salahnya.


"Dokter bilang, umur gue gak lama lagi."


"Omongan manusia tu gak bisa di pegang om. Jodoh dan mati itu Tuhan yang ngatur, jadi Om gak usah pesimis kayak gitu." Bantah Ella.


"Gue tau, tapi kan setidaknya itu bisa di jadiin patokan buat gue siap-siap."


"Gak di bilang gitu kita harus siap setiap saat Om, karena gak tau kapan ajal datang." Hari ini kata-kata bijak meluncur dengan lancar kayak habis ketelen kamus orang bijak.


Rega yang greget coba nahan diri, ni anak orang sakit aja masih di bantah. "Gue mau lo temenin gue disisa umur yang gak banyak lagi."


"Maksud Om?"


"Mau gak nikah sama gue?"


Ella keselek udara, soalnya dalam posisi gak makan apa-apa saat ini. Gimana bisa coba di lamar dalam keadaan kayak gini, jauh dari kata romantis malah meringis.


"Tunggu dulu, nikah? Maksudnya beneran?"


Rega mengangguk lemah membenarkan, ia melihat keterkejutan Ella dari perubahan wajahnya.


"Gimana ceritanya? Masak iya kita nikah kayak gini? Hak lucu Om. Lagian ya kalau nikah sama om terus Om mati beneran kan Ella jadi janda muda dong? Ogah banget."


"Lo bisa warisin semua peninggalan gue."

__ADS_1


"Papa Ella udah kaya Om, Ella gak perlu harta dari Om. Itu namanya nyogok, kasih imbalan buat apa yang orang lakuin."


"Bukannya hidup itu tentang memberi dan di beri?"


"Gak, pokoknya Ella gak mau. Silahkan Om cari cewek yang silau harta, Ella cuma mau nikah sama orang yang gak penyakitan. Bisa nemenin Ella sampai tua. Ella gak mau jadi janda, apa lagi janda muda." Katanya ketus.


Kali ini kepala Rega benar-benar pusing, ternyata susah juga ngadepin cewek satu ini.


"Ngabulin permintaan orang sakit yang udah mau mati masak lo gak mau?"


"Itu namanya jerumusin diri, kecuali Om gak sakit mungkin Ella bakal pertimbangin lamaran om yang konyol banget."


Rega yang dapat sinyal baik itu langsung duduk menatap Ella gak percaya.


"Maksud lo?"


"Kan tadi Ella udah bilang Ella mau nikah sama orang yang bisa nemenin Ella sampek tua. Kalo Om sakit udah skarat tinggal nunggu ajal Ella gak mau biar harta Om sejibun." Katanya tegas.


Rega melepas alat bantu pernafasan di hidungnya dan infus di tangannya, kini berdiri di hadapan Ella seolah tak pernah terjadi apa pun.


Ella tersenyum licik, pernyataan jebakan yang ia lontarkan akhirnya membuahkan hasil.


Rega menampakkan taringnya yang tadi ia sembunyikan.


"Cuma orang b*go yang bisa di kibulin. Awalnya Ella nyangka Om sakit beneran, tapi pas kesini lebih deket Ella tau Om cuma pura-ura."


Rega mengernyitkan alisnya, duduk di pinggiran ranjang menatap Ella lekat.


Vewek tengil itu walau tanpa make up terlihat sangat manis.


"Mana ada orang sakit muka sama bibirnya seger, biasanya pucat."


Aduh!


Rega lupa point itu, seharusnya tadi nyuruh orang buat make up dia kayak mayat hidup biar drama yang ia mainkan 100% akurat.


"Infus yang di pake mati, kalo orang yang emang di infus ya bakalan jalan. Ini gak netes sama sekali, lucu kan? Kalo emang di tusuk tu jarum bakal kesedot darah om beda kalo cuma di tempelin doang gak apa-apa."


Ella ngebongkar habis apa yang dilihatnya.


Bener, tadi cuma nyuruh perawat memasangnya tanpa harus melakukan prosedur yang Sebenarnya soalnya Rega takut sama jarum suntik.


"Susah ya ngakalin lo."


" Buaya Om kadalin, ya gak bisa lah...."

__ADS_1


Rega tersenyum, gak salah pilih karena Ella memiliki tingkat kecerdasan dan ketelitian yang luar biasa bahkan di saat kritis sekalipun.


"Tadi, masih bisa di pertimbangin buat jadi Nyonya Rega?" Katanya dengan pandangan lekat penuh harap.


Ella membalasnya hingga mata mereka bertemu. "Untuk saat ini Ella gak ada niat buat nikah, Ella masih mau ngejar cita-cita Ella. Lagian umur Ella masih muda." Katanya tegas tak terbantahkan.


"Lo yakin cuma karena alasan ngejar cita-cita nolak gue? Gak ada yang lain?"


"Yang lain apaan?"


"Misalnya lo udah punya calon atau lo suka sama orang lain?" Ingat apa yang Willy omongin suatu hari sampek bikin drama kayak gini buat dapetin Ella.


Ella memiringkan kepalanya, mencoba Mencerna apa yang tu orang omongin. "Iya yakin. Lagian calon dari mana pacaran aja gak pernah, deket ma cowok aja enggak kecuali Vino sama Om itu pun kalo kalian bisa di hitung dalam kategori cowok."


Rega menghembuskan nafas lega, lega..., banget. Udah kayak ngeluarin duri dalam daging, beban yang ia rasakan beberapa hari yang nyiksa banget akhirnya itu udah berlalu.


Ia merebahkan badannya dan menutup matanya, rasanya sangat nyaman dan lega.


Ella berdiri melihat kondisi Rega yang tiba-tiba tumbang di depannya. "Om gak apa-apa?"


Rega menarik Tangan Ella hingga terjatuh ke dadanya yang bidang, ia menghadiahkan kecupan kecil di bibir Ella dan memeluknya. Perbedaan tenaga wanita dan laki-laki membuat Ella yang berusaha melepaskan pelukan itu gak ada artinya, bahkan Rega memeluknya semakin erat hingga mau tak mau Ella menerima pelukan itu.


"Diam dulu, gue mau kayak gini sebentar." Katanya lembut.


Ella pasrah, lagian beberapa hari ini ia belajar mati-matian untuk ujian. Menyita waktu istirahat yang berkualitas dengan pola makan yang gak teratur. Rasanya nyaman sekali di peluk kayak gini, ia memilih untuk memejamkan mata karena rasa kantuk dan serangan tiba-tiba yang membuat kepalanya pusing. Rasa sakit udah kayak di pukul pake palu membuatnya untuk berdamai dengan keadaan dalam pelukan Rega.


Rega yang ngerasa tubuh Ella menindihnya semakin berat membuatnya curiga. "Ella?" Katanya pelan, gak ada sautan dari sang empu Rega berusaha duduk tanpa melepaskan pelukannya.


Tangan Ella jatuh lunglai dengan mata tertutup. "Lo mau balas ngerjain gue ya?" Dengan mengguncang tubuh Ella menyadarkannya, merasa tak ada jawaban Rega memindahkan dan membaringkan keatas ranjang.


"Yun!" Teriaknya panik.


Tak berapa lama sekertaris setia itu yang menunggu di luar membuka pintu dan mendapati bosnya dengan wajah panik.


"Panggil dokter segera!"


Tanpa bertanya ia segera melakukannya, sekilas sebelum keluar Yun melihat tubuh Ella berbaring.


Rega memandangi wajah Ella yang pucat, bahkan bibirnya yang berwarna pink alami itu kini memutih. Lingkaran di area matanya terlihat jelas, saat Ella datang ia tak begitu memperhatikan karena terlalu fokus dengan apa yang ia lakukan.


**************


Jangan lupa like sama votenya buat author tambah semangat lag


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2