
Ella mencoba mengatur nafasnya perlahan dan menguasai serta menaklulkan rasa sakitnya itu duduk dengan menyelonjorkan kakinya di lantai, makin di diemin ternyata makin ngelunjak. "Maaf dokter Rena, saya dapat meyakinkan bahwa anak yang ada dalam rahim saya adalah bukan anak haram seperti apa yang anda pikirkan dan orang lain pikirkan." Menatap tajam orang yang ada di depannya itu, memandang rendah dan menjijikkan seperti sampah yang tak layak.
"kamu yang tidak memiliki ikatan pernikahan dan sekarang dalam keadaan hamil lalu apa namanya kalau bukan anak haram?" Masih bersikukuh dengan pendapatnya.
"Dokter Rena yang terhormat, anda adalah seorang wanita dan saya juga wanita. Setidaknya anda tau kalau bagi seorang wanita kehormatan yang ia pegang dan di pertahankan adalah kesucian dan itu pun yang saya lakukan. Saya telah menikah secara sah melalui hukum dan agama, jadi wajar bila saat ini saya hamil. Anda yang belum menikah bagaimana mungkin bisa tau dan mengerti?" Menatap dengan tatapan mata mengejek. "Apa karena sikap buruk anda makanya anda sampai saat ini masih melajang dan gak laku?"
"Kamu...," Katanya menahan amarah, "Kamu wanita j***ng yang naik ke tempar tidur laki-laki untuk menaikkan status sosial kamu." Anak bau kencur kayak gitu aja udah berani ngomong macam-macam.
"Maaf dok, saya memang naik ke tempat tidur laki-laki tapi bukan untuk menaikkan status sosial saya melainkan untuk mendapatkan kehangatan dan kenikmatan yang anda tak bisa pahami. Tarik ucapan anda tentang anak yang saya kandung adalah anak haram. Kalau tidak saya bisa pastikan besok anda di pecat dengan tidak terhormat." Berdiri dengan berpegang pada tembok. "Selama ini saya telah diam melihat tingkah anda yang berlebihan, dan mulai saat ini saya tidak akan tinggal diam." Kata Ella merasa yakin. "Lebih baik naik ke atas tempat tidur laki-laki untuk merayunya di bandingkan anda yang belum pernah merasakan betapa hangat dan nyamannya tempat tidur tersebut." Ella sengaja mengejek dan bikin panas perawan tua tersebut, salah sendiri ngajak main api duluan kalo gak sampek gosong gak bakalan berhenti buat memprovokasi tu perawan tua.
"Ha ha ha ha ha...," Rena merasa geli mendengar ancaman tersebut, "Dokter ingusan kayak kamu bisa apa? Saya wakil direktur di rumah sakit dengan mudah saya bisa menghancurkan karier yang baru kamu bangun." Membalas tatapan mata Ella, bagaimana mungkin ia bisa kalah dengan dokter ingusan di depannya itu. Banyak hal yang telah ia lalui demi mencapai jabatan yang saat ini ia pegang, hanya karena ancaman anak kecil ia tak akan takut dan menyerah. "Saya akan perlihatkan padamu tentang arti kekuasaan." Katanya dengan emosi yang meledak-ledak, udah berasa api di siram sama bensin yang bikin emosinya gak terkontrol.
"Dokter Rena, jabatan anda saat ini tak bisa mengalahkan apa yang saya miliki. Bukan perkara yang sulit bagi saya untuk mengeluarkan anda dari rumah sakit ini." Ella merasa yakin dengan apa yang ia lakukan, selama ini ia sudah sering mendengar tindakan semena-mena dokter wanita itu kepada junior dan bawahannya dan tak ada yang berani memberikan teguran atas apa yang ia lakukan karena posisinya. "Jangan meremehkan dan memandang rendah orang lain."
"Dokter muda kayak kamu emang punya apa? Kamu punya apa?" Tersenyum meremahkan. "Kuasa apa yang kamu miliki?"
"Saya punya kuasa di atas anda." Jawab Ella lantang, "Cabut kata-kata anda dan minta maaf ke pada orang-orang yang pernah anda bully. Kalau tidak saya bisa pastikan anda akan berakhir dengan menyedihkan." Ella memberikan peringatan terakhir kepada dokter Rena dengan penuh percaya diri.
"Silahkan, lakukan apa yang bisa kamu lakukan." Rena tersenyum meremehkan, bagaimana mungkin dokter ingusan macam Ella bisa menyingkirkannya dengan mudah. "Karena saya akan melakukan apa yang akan saya lakukan." Katanya menantang.
Ella mengambil hp-nya yang sejak tadi ia taruh di dalam tas. Berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Rega, Ella mengabaikan panggilan tersebut dan mencari no lainnya. "Halo, apakah anda bisa datang ke lantai tiga di depan poli bedah? Baik saya akan menunggu anda." Ella mematikan panggilan telponnya, "Dokter Rena, saya memberikan satu kesempatan kepada anda untuk mengakui kesalahan yang telah anda lakukan dan memperbaikinya."
"Saya tidak melakukan kesalahan apa pun dan tidak perlu memperbaikinya." Jawabnya yakin.
Raka yang mendapatkan telpon dari Ella segera berlari dan menuju tempat yang Ella maksud, bukannya tadi Rega kalang kabut cari istrinya tersebut? Kenapa jam segini Ella masih ada di rumah sakit? Banyak pertanyaan yang ada di kepala Raka dan ia menepis semua itu karena yang terpenting saat ini menemukan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Ella dalam keadaan baik-baik saja. Kalau tidak bakal babak belur di tangan Rega. Benar, Raka melihat Ella yang berdiri dengan menyandarkan badannya pada dinding bercat putih tersebut. Bukan hanya Ella, tapi ada dokter Rena yang berdiri tak jauh darinya. Raka merasakan aura menegangkan di antara mereka berdua saat ini yang entah apa penyebabnya. "Ada apa ini?"
Ella menoleh dan melihat Raka yang datang dengan nafas memburu, rupanya tadi Raka berlari ke sini.
"Dokter Raka?" Rena terkejut melihat kedatangan direktur rumah sakit tersebut, "Apa yang anda lakukan disini?" Tanya-nya heran.
"Maaf dokter Rena, saya yang memanggil. dokter Raka untuk datang ke sini." Kata Ella menjawab.
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Raka bingung di antara dua orang wanita yang siap terkam tersebut. "Ella, kok lo belum pulang? Ini udah malam, tadi Rega nelpon gue nanyain lo dimana. Cepetan pulang gak baik buat ibu hamil kena angin malam." Kata Raka yang ngomong kayak biasanya, lupa ada orang lain di antara mereka saat ini.
Rena mengerutkan alisnya mendengar dan melihat apa yang Raka lakukan. Bahkan mereka bicara dengan sangat santai, seperti seorang teman bukan seperti seorang atasan dengan bawahannya.
"Iya, gue bakalan pulang setelah urusan gue selesai." Kata Ella melirik satu makhluk wanita lain yang ada di ruangan tersebut. "Dokter Raka, kami sebagai dokter muda apakah pantas di perlakukan tidak adil? Misalnya dengan membersihkan satu lantai penuh rumah sakit atau membelikan makan siang untuk senior kami dan berbagai macam jenis perintah yang sama sekali gak ada sangkut pautnya sama dunia kesehatan."
"Maksud lo?" Raka menjadi semakin bingung dengan semua yang terjadi saat ini.
"Anda bisa menanyakan langsung pada dokter Rena, karena beliau lebih tau dari siapa pun."
__ADS_1
Rena yang gak nyangka bakal mendapat perlawanan seperti ini merasa terkejut, bagaimana bisa direktur rumah sakit sekelas dokter Raka bisa datang secepat mungkin saat menerima telpon dari dokter koas? "Apa maksud kamu?" Tanya-nya balik menyembunyikan rasa keterkejutannya.
"Ada apa ini sebenarnya?" Raka jadi makin bingung, melihat situasi seperti ini kayaknya bukan hal yang sepele karena Raka tau siapa Ella yang sebenarnya.
"Entah ada dendam apa dokter Rena kepada saya hingga beliau memberikan hukuman untuk membersihkan lantai tiga secara keseluruhan, apakah itu pantas dokter Raka?" Tanya Ella tajam.
"Dokter Rena, apa itu benar?" Berpaling dan melihat dengan tatapan mata terkejut, bagaimana mungkin Ella menjadi bulan-bulanan bawahannya.
"Itu...Itu tidak benar, saya memberikan hukuman yang semestinya. Apakah anda tahu bahwa dokter Ella menjadi besar kepala dan seenaknya sendiri dengan melalaikan tugasnya di rumah sakit, seenaknya untuk tidak masuk tanpa alasan yang jelas dan keluar masuk rumah sakit seperti rumahnya sendiri bahkan sekarang dia mengaku bahwa sedang hamil. Apakah ini lelucon? Bagaimana bisa wanita berstatus lajang dengan gamblangnya mengatakan bahwa sedang hamil. Mau di taruh di mana harga diri kita sebagai dokter?" Kata Rena mengungkapkan semua unek-unek yang ada di hatinya. "Selama ini saya menutup mata dan telinga saat para perawat dan bidan menggosipkan dokter Ella, mereka mengatakan bahwa dokter Ella memiliki hubungan khusus dengan suami orang. Saya tak pernah menghiraukan hingga yang bersangkutan mengatakan bahwa saat ini sedang hamil yang artinya anak di dalam rahimnya itu adalah anak haram." Katanya dengan menyudutkan posisi Ella dan mendapatkan dukungan dari dokter Raka karena Rena yakin bahwa semua alasannya itu dapat di terima oleh akal sehat.
Raka memijit kepalanya yang pusing, udah kerjaan numpuk, ngadepin istri yang lagi hamil ni malah nambah masalah baru yang ngelibatin istri tuan besar. Bakal runyam urusannya kalo udah kayak gini.
"Apa?!"
Semua orang mengalihkan pandangan mata mereka ke arah datangnya suara, bukan hanya Rena tapi Raka dan Ella terkejut dengan kedatangan pemilik rumah sakit tersebut.
Mampu gue..., beruang kutub udah nongol. Batin Raka yang kalo bisa milih buat ngilang bakal ngilang sekarang juga.
"Apa yang anda katakan itu benar dokter Rena?" Tanya Rega mencoba meyakinkan apa yang ia dengar, rasanya luar biasa marah saat serentetan kesalahab yang sama sekali gak pernah istrinya lakukan ia dengar dengan telinganya. Bukan orang biasa yang mengatakannya, tetapi orang dengan kedudukan cukup penting yang jelas-jelas memiliki kepintaran yang gak di ragukan lagi yang mengatakannya. Rega menahan amarahnya hingga menekan serendah mungkin demi mendapatkan jawaban yang memuaskan dan bisa memberikan keputusan yang tak ia sesali.
"Benar tuan Rega, kalau anda tidak percaya dengan apa yang saya katakan anda bisa mencari tau dari perawat dan dokter serta staf rumah sakit lainnya tentang kebenaran kabar tersebut." Rena merasa mendapatkan angin segar saat kedatangan pemilik rumah sakit ini menanyakannya, merasa yakin bahwa dapat menyingkirkan dokter ingusan tersebut dengan sangat mudah.
"Apa anda pernah melihat laki-laki beristri tersebut?"
"Baiklah, dokter Ella apa ada pembelaan dari anda?"
"Iya, saya tidak pernah merayu suami orang lain kecuali suami saya sendiri. Mengenai gosip yang beredar itu bukan masalah bagi saya, cukup suami, keluarga dan orang terdekat mengetahui kebenarannya itu lebih dari cukup untuk saya."
Rega melihat wajah Ella yang pucat dengan keringat mengakir deras, "Ada apa denganmu?"
"Saya memberikan hukuman untuknya tuan, karena baru memiliki gelar dokter muda dia sudah seenaknya sendiri di rumah sakit dan membuatnya besar kepala. Saya memerintahkan untuk membersihkan seluruh lantai tiga agar kelak tak ada satu pun yang berani berpikir dan bertindak seperti yang dokter Ella lakukan. Itu akan menjadi pelajaran untuk yang lain." Jawab Rena lancar dengan penuh percaya diri karena ia merasa mendapatkan dukungan penuh dari orang yang tepat.
"Sendiri?"
Raka meringis ngilu mendengarnya, ternyata bukan cuma punya nyawa sembilan tapi udah kayak punya nyawa seratus tu orang. Kali ini tu cewek menggali kuburannya sendiri dengan pasti, cuma gak nyadar aja lagi. Keberanian itu emang perlu, tapi kalo beraninya gak kenal tempat bakal bikin nyawa melayang dengan percuma. Raka udah bisa nebak hasil akhir yang bakal Rena terima, apa lagi dengan keberaniannya itu udah telak gak bisa lagi lari dari malaikat maut di depannya yang lagi pakek topeng.
"Raka, selidiki siapa saja perawat, bidan dan lainnya yang telah menyebarkan gosip tersebut. Periksa semua cctv dan apa pun itu untuk menemukan mereka, pastikan pecat semua orang yang terlibat dalam hal ini. Saya tidak membayar mereka untuk bergosip melainkan untuk bekerja. Rumah sakit kita tidak memerlukan orang-orang seperti itu."
Raka mengangguk, ia tau dengan pasti bahwa ini yang akan terjadi.
"Dan untuk anda dokter Rena, saya sangat berterimaksih."
__ADS_1
Rena tersenyum dengan sumringah, mengangkat kepalanya dengan kepercayaan diri yang tinggi mendapatkan pujian dari pemilik rumah sakit yang telah lama ia idolakan. Bahkan Rena bermimpi suatu hari nanti akan menjadi pendamping yang sepadan, untuk itu ia bekerja keras demi mendapatkan karier yang cemerlang dan cocok menjadi pendamping pujaan hatinya tersebut.
"Saya akan memberikan balasan tentang apa yang telah anda lakukan." Tersenyum manis, bahkan semanis madu namun memiliki makna lainnya. "Raka, siapkan surat pemecatan dokter Rena dari rumah sakit. Pastikan dia tidak mendapat pekerjaan di manapun di kota ini."
Rena yang udah ngerasa melayang ke langit ke tujuh itu langsung merasa jatuh ke lapisan bumi terdalam. "Maksud anda?" Masih belum bisa menerima sepenuhnya. Bukannya tadi tuan Rega menyukai apa yang gue lakuin? Tadi kan dia bilang terimakasih, kenapa jadi seperti ini? "Maaf, anda tidak sedang bercanda kan? Lelucon anda membuat saya takut tuan."
"Tidak, sama sekali saya tidak bercanda. Anda telah mengakui kesalahan yang telah anda lakukan, selama ini saya berdiam diri bukan berarti saya tidak tau apa yang telah anda lakukan di belakang saya. Saya menempatkan seseorang untuk mengawasi orang yang sangat berharga untuk saya." Kata Rega menjelaskan, biar gak terlalu kaget nantinya.
"Maaf tuan, saya tidak mengerti apa yang anda katakan karena saya merasa tidak melakukan kesalahan apa pun." Katanya membela diri.
"Raka, jelaskan." Perintah Rega.
Raka yang dari tadi diem aja itu akhirnya buka suara, "Dokter Rena, seperti yang lainnya ketahui bahwa status dokter Ella adalah lajang namun sebenarnya dokter Ella telah menikah. Mengenai gosip yang beredar semua itu adalah gosip murahan tanpa bukti yang akurat, saya bisa memastikan semua itu."
"Lalu apa hubungannya dengan semua ini?" Tanya-nya bingung.
"Hubungannya adalah saya istri dari pemilik rumah sakit ini, saya istri Rega Adiyaksa Mahendra yang sah secara hukum dan agama dan anak ini tentu saja anak dari suami saya dokter." Kata Ella mantap. "Jadi, saya akan memperlihatkan bagaimana hebatnya sebuah kekuasaan kepada anda." Sengaja membalas kata-kata yabg tadi di ucapkan.
Rega mendekati Ella dan mengusap keringat yang keluar dengan tangannya, "Kamu gak pa-pa sayang?" Tanya-nya khawatir.
Ella mengangguk pelan, padahal dari tadi udah nahan biar gak pingsan. Soalnya gak keren kalo sampek pingsan dan kelihatan lemah di hadapan orang sombong macam dokter Rena. "Ella capek bi...," Menggelayut manja di tangan Rega dengan senyum manis melihat ke arah dokter Rena yang tengah syok. "Abi tau, kasian dokter Rena yang usia nya kelewat mateng gak tau gimana enak dan nyamannya ranjang laki-laki." Katanya nyindir, sekalian aja tuh di puas-puasin bales biar tau rasa.
Rega menggendong istrinya tersebut dengan wajah khawatir, keliatan banget kalo mukanya pucat di bandingkan biasanya. "Ka, lo urus sisanya dan pastikan semua beres dalam dua hari. Gue gak mau ada kejadian kayak gini lagi di sini, gue bayar mereka bukan untuk bergosip tapi untuk kerja." Kata Raka menggendong dan membawa Ella pergi.
Raka menatap dokter Rena dengan tatapan mata kasihan, "Maaf dokter Rena, anda sudah mendengarnya sendiri. Saya hanya melaksanakan apa yang harus saya lakukan. Memiliki sikap berani itu memang baik, tapi ada kalanya keberanian yang anda miliki bukan pada tempatnya dan menjadi bomerang untuk anda sendiri. Anak haram yang anda katakan adalah anak dari pemilik rumah sakit ini." Kata Raka sebelum berlalu dan meninggalkannya seorang diri untuk mengoreksi kesalahan fatal yang telah ia lakukan.
Rena terduduk lemas mendengarnya, ternyata apa yang telah ia lakukan hari ini membuatnya kehilangan segalanya. Di keluarkan dari rumah sakit terbesar di kota ini sama saja dengan menandatangani kontrak pengangguran, apa lagi tadi tuan besar udah ngomong bakal memblack list namanya dati kota ini. Bukan hanya dadanya yang sesak, tapi matanya juga sesak dan seisi ruangan menjadi pengap. Apa yang dokter Raka katakan memang benar, walau pun ia menyesali semuanya itu tak ada artinya karena semua udah terlanjur terjadi dan tersisa meratapi nasibnya yang jelek.
*****
Hi readers...
Yang di betah-betahin di rumah sambil ngabisin sisa kue lebaran kemarin.. ☺☺☺
Kalo bisa jangan keluar rumah dulu ya soalnya masih dalam keadaan belum stabil di luar sana, mending kita di rumah dan ngelakuin hal-hal. yang bersifat positif dan mengusir rasa jenuh yang kita rasa-in, banyak kok yang bisa lakuin di rumah asalkan kita bisa memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
Jangan lupa "like" dan "Vote" nya serta "komentarnya" buat kalian yang suka sama novel yang author tulis. Terimakasih atas dukungan dan partisipasi dari kalian semua yang selama ini udah setia dan jadi penyemangat tersendiri buat author.
Terimakasih banyak...
😘😘😘😘😘😘
__ADS_1
Jangan lupa buat hidup sehat, cuci tangan sesering mungkin, hindari keramaian, pertemuan yang gak penting dan cuma keluar rumah kalo penting banget. Sayangi keluarga dan orang terdekat anda dan jaga mereka dengan tetap di rumah...
Ciptain suasana hangat dan menyenangkan biar anak-anak betah di rumah.