
"Mommy?"
Seolah di aliri oleh es yang dingin seluruh tubuhnya hingga membuat Devi membeku di tempat tanpa bisa bergerak sedikit pun di sana, bahkah lidahnya menjadi kelu seketika tanpa mampu berkata. Tak ada yang bisa ia katakan walaupun dalam pikirannya berkecamuk banyak hal yang sebenarnya ingin ia ungkapkan saat ini namun tubuhnya memberikan reaksi lainnya dengan isi otaknya. Ya, Devi menjadi seperti ini karena ledakan emosi yang begitu dahsyat bersamaan tercipta. Dimana rasa bahagia, haru, senang dan berbagai macam perasaan lainnya tersaji bersamaan sehingga menjadi kesatuan yang membuatnya tak bisa mengungkapkannya secara bersamaan. Matanya yang memerah karena menahan tangis yang tak ingin ia tumpahkan kini telah mencapai batasnya, tak kuasa membendung akhirnya pertahanan yang selama ini ia buat tumpah seketika saat putri yang selama ini ia rindukan ada di dekatnya bahkan sangat dekat hingga deru nafasnya terdengar sangat jelas. Devi menatapnya tak percaya, seakan mimpi yang selama ini ia lihat yang tercipta karena rasa ingin bertemu yang begitu kuat. Kenyataan dan mimpi berjalan beriringan....
"Mommy???" Ulang Sonya karena tak mendapat jawaban dan respon apa pun dari Mommy-nya yang diam mematung memandanginya dengan air mata yang mengalir, "Mom, Sonya tau bahwa banyak kesalahan yang telah Sonya lakukan dan itu tentu saja menyakiti Mommy." Menatap ujung kakinya untuk menguasai diri sebelum melanjutkannya. "Bahkan, hanya sekedar kata maaf tak bisa untuk menebusn apa yang telah Sonya lakukan. Apa pun yang Mommy akan lakukan pada Sonya, Sonya akan menerimanya dengan ikhlas asalkan itu bisa menebus kesalahan yang telah Sonya lakukan pada Mommy." Sonya menutup matanya, menahan air mata yang sejak tadi ingin menerobos dan keluar dari mata cantiknya tersebut. Sekuat tenaga ia mencoba untuk menahannya agar tak ada isak tangis sebelum ia mengatakan semua yang ingin ia katakan selama ini. "Maafkan anak mu yang durhaka ini Mommy..., Maafkan Sonya yang tak tau balas budi, maafkan Sonya yang telah menyakiti dan melakukan banyak kesalahan pada Mommy. Maaf Mommy..., telah membuat malu dan mencoreng nama baik kita semua karena keegoisan yang Sonya lakukan" Bersimpuh di kaki Mommy dan menciuminya dengan berlinang air mata yang tak bisa lagi ia tahan, hal yang telah lama ia inginkan akhirnya kini ia dapat melakukannya. Meski tak mengantongi maaf dari orang yang telah membesarkannya itu, Sonya tak akan merasa kecewa asalkan bisa semua ini telah ia lakukan. Setidaknya mampu mengurangi beban yang ia rasakan selama ini, beban yang menurutnya sangat berat dan menyiksa.
Devi menutup mulutnya dan tertegun dengan apa yang Sonya lakukan, tak pernah menyangka putrinya yang angkuh itu akan mampu melakukan apa yang ia lakukan saat ini. Bersimpuh dan menciumi kakinya, membuang semua harga diri dan gengsi yang dulu ia anggap sebagai sesuatu yang sangat berharga dan bahkan harga mati yang tak bisa di gantikan dengan apa pun dan akan melakukan apa pun demi mempertahankannya. Demi harga diri dan gengsi tersebut Sonya pergi meninggalkan rumah dan keluarga begitu saja dengan seorang pria asing yang tak ia kenal dan menurutnya bisa memberikan sesautu yang tak bisa keluarganya berikan kepadanya. "So-Sonya...," Katanya dengan bergetar hebat, menahan gejolak yang tak bisa lagi ia ungkapkan.
"Maaf Mommy..., karena dulu Sonya meninggal Mommy dan rumah ini. Selama ini Sonya hidup dalam rasa penyesalan karena kesalahan yang telah Sonya lakukan, Sonya melakukan hal yang sangat b*doh hingga menyakiti Mommy dan lainnya." Memeluk kaki Mommy-nya erat, "Sonya telah melakukan kesalahan hingga Tuhan memberikan hukuman kepada Sonya," Menangis tersedu-sedu karena merasakan sesal yang luar biasa, rasa sesal yang keluar begitu saja, rasa sesal yang telah lama ia rasakan dan ia simpan tanpa siapa pun tau dan tak ada tempat untuk membaginya. "Tuhan telah memberikan hukumannya untuk Sonya Mommy, hukuman yang membuat Sonya sadar. Dan sekarang Sonya merasakan itu bukan sebuah hukuman, tapi teguran dari Tuhan karena Tuhan sayang pada Sonya."
Devi terduduk lemas, memandangi wajah putrinya itu dengan mata berkabut karena air mata. Tak ada Sonya yang dulu dalam kilat matanya, Sonya yang angkuh dan congkak dengan harga diri tinggi, Sonya yang dulu penuh kepercayaan diri bahwa dirinya yang terbaik dan tak terkalahkan. Kini di depannya hanya ada sosok seorang anak yang mengakui semua kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan dengan berurai air mata penuh penyesalan dan yang membuat Devi merasa bahagia sekarang Sonya menjadi seseorang yang sangat dewasa. Dengan gemetar Devi mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Sonya, entah kenapa tubuhnya lemas seketika saat berhadapan dengannya. "Sonya?"
Sonya mengangkat wajahnya, mata mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain. Banyak hal yang tersimpan di sana yang tak bisa mulut mereka ungkapkan, Mommy yang sangat ia rindukan itu kini ada di depannya. Tak ada yang berubah, Mommy masih sangat cantik seperti dulu saat ia meninggalkannya. Bahkan kini tubuh Mommy lebih berisi dan terlihat segar. Seulas senyum tampak beriringan dengan air mata yang jatuh, senyum bahagia karena tau bahwa Mommy telah hidup sangat baik selama ini di rumah ini dengan orang-orang baik yang memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus padanya bukan sepertinya yang telah menyakiti hati lembut seorang Ibu.
"Seorang Ibu akan selalu memaafkan anaknya," Menangkup wajah Sonya yang dingin dan penuh air mata. "Apa pun yang terjadi di masa lalu, Mommy tak ingin mengungkitnya. Mommy telah memaafkan semua yang kamu lakukan jauh sebelum kamu meminta maaf." Katanya lembut dengan penuh kasih sayang, "Mommy menyangimu sayang, Mommy menyayangi semua anak-anak Mommy."
"Mommy...," Sonya memeluk dan menangis dalam pelukan orang yang telah membesarkannya tersebut dan menjadi orang yang begitu ia rindukan selama ini, menumpahkan segalanya di sana dengan tangis yang meledak. Menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan emosi yang tak bisa ia bendung lagi karena tertahan selama ini. "Sorry Mom... Sorry...," Katanya penuh sesal dan menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. "Maafkan yang telah Sonya lakukan...,"
__ADS_1
Devi membalas pelukan Sonya yang kini menangis layaknya anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya dalam pelukannya, dengan sendiri tangannya bergerak mengelus lembut rambut putrinya tersebut untuk menenangkannya. Hal yang telah lama tak Devi lakukan, tangis Sonya yang meledak dalam pelukannya itu membuat Devi tau bahwa banyak hal yang telah terjadi pada Sonya tanpa ia ketahui selama mereka berpisah. Hal-hal yang mungkin menyakitkan dan menguras air mata namun membawa perubahan besar yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya, menjadikan pelajaran berharga hingga membentuk pribadi yang luar biasa yang Sonya miliki saat ini. Mungkin pribahasa yang orang tua katakan ada benarnya, pengalaman adalah guru yang berharga.
"Mommy..., Sonya rindu Mommy...,"
"Iya sayang, Mommy juga rindu Sonya." Akunya, tak ada orang tua yang tak merindukan anaknya. Apa lagi seorang Ibu yang melahirkan serta membesarkan dengan tangannya sendir, memberikan kasih sayang sepenuhnya dan melakukan apa pun demi memberikan yang terbaik dan melindungi anak-anak mereka. Rasa syukur yang sangat luar biasa itu Devi rasakan saat ini, dapat memeluk dan membelai rambut satu putrinya yang sempat hilang dari hidupnya. Selama ini ia hanya bisa menangis dalam diam tanpa ada yang tau, seorang Ibu memiliki ruang yang khusus ia siapkan untuk anak-anaknya dan salah satu ruang itu kosong saat Sonya meninggalkannya begitu saja menyisakan rindu yang luar biasa karenanya. Walau Devi memiliki dua orang putri hebat lainnya yang memberikan kasih sayang dan cinta yang begitu besar tak bisa dengan mudah melupakan sosok Sonya begitu saja, ada saat-saat dimana rasa rindu itu datang dengan sangat hebat dan kuat yang membuatnya menangis dalam diam tanpa bisa melakukan apa pun untuk mengusirnya dan membiarkannya hilang begitu saja. Rasa sesal karena tak bisa membuat satu putrinya di sampingnya. Kehadiran Jo memberikan angin segar untuk Devi, mampu membawa sedikit rasa sesal itu hilang karena kehadiran malaikat kecil tersebut. Kesibukan mengurus dan membesarkan Jo mengurangi rasa sesal yang ada dalam hatinya, namun rasa rindu yang ia rasakan tak bisa tergantikan oleh apa pun. Kini, satu putrinya yang pernah lepas dan hilang dari pelukannya itu kembali lagi dalam pelukannya dan Devi berjanji akan melakukan apa pun untuk tetap seperti ini. Memeluk dan mendapatkan semua cinta dari tiga putri serat satu malaikat tampannya, mungkin keinginannya sedikit serakah karena ingin memiliki semuanya namun tak ada seorang Ibu yang ingin berpisah dari anak-anaknya walau hanya sesaat.
Johan tersenyum senang sekaligus haru melihat pemandangan yang sangat indah dan menguras air mata tersebut, bukannya ia tak tau kalau selama ini istrinya tersebut diam-diam menangisi kepergian putrinya walau menutupi dengan senyum bahagia saat bersamanya atau lainnya. Dengan keadatangan Sonya ia harap mengembalikan kebahagian san seny dirumahnya lagi yang sempat hilang dan redup. Langkah kakinya begitu pelan hingga tak menimbulkan suara, dua orang yang saling menangis menumpahkan rasa rindunya itu tak menyadari keberadaannya yang sangat dekat. Tak kuasa menahan perasaannya yang begitu kuat, Johan mengulurkan tangannya untuk memeluk dua orang wanita tersebut. Bukan hanya Devi, namun juga anak tirinya itu menoleh dan terkejut saat melihat kehadirannya.
"Papa?" Devi menghapus air matanya dan menatap suaminya.
"Papa, maafkan Sonya. Sonya...,"
Johan merengkuh Sonya dalam pelukannya sebelum menyelesaikan kata-katanya, apa lun yang ia katakan nanti itu tak lagi penting. Melihat semua yang telah terjadi cukup meyakinkan Johan bahwa Sonya benar-benar telah berubah dan menyesali semuanya. "Sudah, jangan mengungkitnya lagi." Mencium kening Sonya penuh kasih sayang, "Papa sangat bersyukur tak ada yang kurang satu pun darimu saat ini, itu lebih dari cukup." Katanya lagi dengan melepaskan pelukan dan menghapus air mata yang ada di pipi Sonya dengan ujung jarinya. "Papa minta, jangan pergi meninggalkan kami lagi. Disini rumah dan disini adalah keluargamu sayang."
Sonya merasa semakin bersalah saat mendengarnya, dulu ia sangat membenci laki-laki yang telah Mommy-nya pilih itu. Menyalahkan semua yang terjadi pada karennya, dan ternyata semua itu adalah kesalahan besar. Laki-laki yang menjadi Papa tirinya itu sangat menyayanginya, melupakan semua yang terjadi begitu saja dan kini memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Papa???"
Rasa cinta yang ia rasakan kini bertambah menjadi jutaan kali lipat untuk suaminya, laki-laki hebat yang telah ia nikahi dan ia berikan seluruh hati dan hidupnya itu sebuah berkah luar biasa yang Tuhan berikan kepadanya. Rasa terimaksih tak akan bisa mengungkapkannya dan Devi berjanji memberikan seluruh hidupnya untuk Johan, apa yang Johan lakukan tak sebanding dengan apa yang telah ia beri. Johan mengulurkan tangannya, memberikan kasih sayang dan dengan mudahnya memaafkan kesalahan yang telah putrinya lakukan walau telah membuat malu keluarganya. Johan menerima Sonya kembali dengan tangan terbuka tanpa menuntut apa pun menepis semua ke khawatiran yang sempat tumbuh dalam pikirannya. Devi selalu merasa takut bahwa Johan tidak pernah bisa menerima Sonya lagi setelah apa yang putrinya itu lakukan kepada Ella dan keluarganya, mencorenga nama baik keluarga dengan lari bersama laki-laki beristri dan tua. Namun semua itu hilang sekejap, Johan dan Ella menerima Sonya dengan tangan terbuka bersama yang bahkan Sonia saudara kandungnya itu tak dapat melakukannya. Wajar saja Sonia tak bisa memaafkan, karena sejak kecil Sonya selalu menindas dan memperlakukannya seenaknya sendiri dan disini Devi ikut andil dengan mendukung apa pun yang Sonya lakukan tanpa memperdulikan apa yang Sonia rasakan. Seketika rasa bersalah terhadap satu putrinya menjalar dalam hatinya dan bertekad akan menebusnya sebaik mungkin, memperlakukan dan membagi kasih sayangnya dengan adil untuk semua anak-anaknya. Kali ini, Devi akan lebih fokus mengembalikan kepercayaan Sonia padanya dan Sonya karena Devi tak ingin anak-anaknya bermusuhan satu dengan lainnya. Ia ingin hidup bahagia dalam lingkungan keluarga yang saling menyayangi untuk menghabiskan masa tuanya, menjadi orang tua yang beruntung. Membesarkan anak Jo, menyaksikan cucunya dan hidup bersama suami hebatnya yang tiada duanya di dunia ini.
__ADS_1
"Mas, terimakasih...," Katanya tulus dengan memeluk suami dan anaknya tersebut, "Terimakasih untuk semunya..., Terimakasih untuk semuanya...,"
Johan mencium kening Devi dan Sonya bergantian, dua wanita dalam pelukannya itu mangis haru. "Sayang, anakmu adalah anakku juga dan aku harap itu pun berlaku untukmu." Melepaskan pelukannya, "Papa harap setelah ini kita akan seperti ini, kita akan tersu bersama. Kamu bisa kan sayang mengabulkan keinginan orang tua ini?" Kata Johan dengan menatap manik mata Sonya, senyuman langsung terukir di bibirnya saat Sonya mengangguk mengiyakan.
********
Hi mbak-mbak dan mas-mas yang cantik-cantik....
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu dan baca novel author, secara pribadi author sangat berterimakasih buat kalian semua...
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Rasanya seneng banget kalian masih nungguin Up dari author dan itu jadi semangat buat author mainin jari bikin rangkaian kata.
Jangan lupa Like sama Votenya ya biar authornya semangat lagi. Hohohoho... 😏😏😏😏
Di rumah aja, jangan lupa menerapkan gaya hidup bersih di manapun dan kapan pun karena kalo bukan kita sendiri siapa lagi yang bisa membatasi dan memutus rantai
__ADS_1