
Devi memutar matanya malas saat mendengar obrolan yang gak mutu plus bikin telinga sama hati panas. Gimana enggak, hampir 80% cewek single dengan berbagai status di pesta ini menginginkan sosok Johan yang jadi bintang utama malam ini. Jangankan janda, yang belum pernah nikah aja ngincer. Dari sudut ke sudut gak ada yang mereka omongi selain ketampanan dan kesuksesan duda keren itu. Mereka pengen banget ngisi kekosongan kursi sebagai nyonya Johan. Makanya malam ini buat narik perhatian duda tajir itu mereka berlomba-lomba berpenampilan secantik mungkin, ada yang over saking bingungnya pakai kostum sama make up apaan. Kalo gak cepat bertindak bakal kesalip sama saingannya yang banyak banget beraksi. Mana gak ada nyiapin strategi apa-apa buat malam ini jadi bingung sendiri bakalan mau apa. Tiba-Tiba terlintas ide cemerlang, dengan ide ini gak bakalan gagal buat dapetin lelaki pujaan hatinya itu.
Rega memberikan kunci dan tip pada seorang pelayan yang menghampirinya untuk memarkirkan mobil. Untung belum terlambat, karena jarak apartemen dan hotel tak seberapa jauh. Tergopoh-gopoh sekertaris Yun menghampirinya, sekertaris sigap itu sudah datang lebih dulu.
"Tuan, lelaki yang berdiri di tengah itu yang bernama Bapak Johan." Menunjuk orang yang tengah berbincang-bincang santai.
Rega menaikkan alisnya sebelah, kayak pernah liat orang yang sekertarisnya maksudkan itu. Entah dimana dan kapan waktunya ia lupa. Mencoba mengingatnya sambil berjalan untuk memberikan selamat.
"Tuan?"
__ADS_1
Johan berbalik saat asistennya berbisik dan memegang tangannya. Senyum tersungging di bibirnya saat seseorang datang dan mengulurkan tangannya.
"Selamat atas keberhasilannya Sir Johan?" Rega mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Terimakasih atas kedatangannya, maaf pestanya sangat sederhana." Katanya merendahkan diri dan menerima uluran tangan tamunya tersebut.
"Anda terlalu merendahkan diri, kalau yang anda katakan ini sederhana bagaimana lagi pesta yang mewah menurut anda." Rega kini yakin bahwa laki-laki di depannya ini seperti yang sekertarisnya katakan bahwa ia memiliki kepribadian yang hangat dan ramah.
Johan dan Mahendra adalah sahabat baik yang persahabatan mereka terbentuk karena tidak sengaja, umur mereka berjarak cukup jauh. Johan menganggapnya seperti kakanya sendiri dan sering meminta pendapat padanya. Mereka berdua sama-sama merintis usaha dan mengembangkan perusahaan keluarga mereka masing-masing dalam bidang yang berbeda dan saling mendukung. Sejak kematian istrinya ia memilih meninggalkan tempat ini dan pergi karena kesedihan yang terlalu dalam kehilangan orang yang begitu berarti.
"Ayah masih betah untuk mengurus perusahaan di Australia."
__ADS_1
"Benar, beliau adalah orang yang luar biasa. Kinerjanya sangat mengagumkan. Aku begitu kehilangan saat beliau memutuskan untuk pergi." Raut wajahnya berubah sedih karena kehilangan sahabat terbaiknya.
"Anda terlalu berlebihan, mampirlah ke rumah saat anda berkunjung."
"Baiklah, katakan aku akan berkunjung secepat mungkin. silahkan menikmati jamuan ala kadarnya dari kami, jangan sungkan-sungkan." Katanya lagi dengan menepuk pundak Rega pelan.
Rega tersenyum dan mengangguk tipis.
"Kau persis sekali seperti Ayahmu saat muda."
Rega masih memutar otak mencoba mengingat dimana dia bertemu sebelumnya.
__ADS_1
Tiba-tiba sekelebat ingatan mampir ke dalam memorinya. Ia berpaling dan memperhatikan punggung sahabat ayahnya itu, bagaimana mungkin bisa ini suatu kebetulan. Benar, sugar dady Ella adalah Johan yang kini berdiri tak jauh darinya, cewek tengil itu pantas menolak ajakannya karena ia wanita simpanan dari pengusaha kaya tersebut yang gak mau kebongkar identitas aslinya.