Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Kabar Duka


__ADS_3

Belum lagi sampai di tempat dia memberhentikan mobilnya


"Kamu pikir aku supir kamu, Kenapa dari tadi diam aja ?"


aku tetap diam


"kamu mau aku gimana supaya mau ngomong sama aku, kamu bilang sudah maafin aku kan tapi kenapa diam aja" cecarnya


"Malik, kamu sadar gak sih yang kamu buat ini salah ?"


Salah


iyalah


"aku rasa aku sudah jelas kan bilang sama kamu tapi kamu gak bales pesanku jadi mau gak mau aku langsung minta izin sama ibumu, bukannya laki-laki yang baik itu langsung minta izin ke orang tuanya langsung ?" serunya gak mau kalah


"kamu gak paham, kamu belum bisa melihat keadaan orang yang kamu ajak, kamu gak ngerti, kamu masih saja dengan egomu" ratapku


"shof, maafin aku aku gak bermaksud seperti ini" sesalnya


Tangis yang ku tahan sedari tadi pun pecah


"kamu tahu aku bersusah payah menjauh dari masa lalu mencari kehidupan yang baru dengan harap bisa lupain kamu, sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan menikah sampai hatiku benar-benar bersih dari namamu, tapi apa nyatanya, Allah masih menyisakan namamu di sini, Allah masih mempertemukan kita di waktu-waktu tertentu, aku capek aku ingin hidup seperti orang lain tanpa harus di bayang-bayangin masa lalu, selalu ketakutan, selalu merasa sendiri aku capek"


Dia terdiam melihatku sesenggukan seperti ini, ada rasa bersalah dari raut wajahnya.


"Kalo boleh aku meminta aku lebih baik gak balik lagi ke sini, ketempat dimana semuanya terasa menyakitkan tempat dimana mimpiku harus ku kubur dalam-dalam, tempat dimana bahagia yang harus ku perjuangan hancur tapi lebih dari itu aku gak ingin terus jadi beban orang tuaku karena keegoisan ku ini"


"shof, maaf . Kamu bener aku masih dengan egoku, aku masih belum bisa melihat keadaan mu sepenuhnya, aku minta maaf"


"andai kata maaf saja bisa nyembuhin sakit hati ini sudah pasti aku menikah dari dulu"

__ADS_1


Sekian lama kami diam dengan pikiran masing-masing, Malik segera melajukan mobilnya menuju pantai, entah mau apa dia mengajakku kesini.


Ku langkahkan kakiku di sepanjang pinggir pantai sampai lelahku datang dan terduduk di pasir putih.


"setelah ini aku gak akan buat kamu nangis kecewa lagi, setelah ini aku gak akan ganggu kamu lagi, aku pastikan ini terakhir kalinya kita bicara" ucap malik di tengah deburan ombak.


Setelah keadaan kami lebih baik, Malik mengantar ku ke tujuan awal, setelah itu ia langsung mangantar ku pulang.


______


Ibu yang melihat kepulangan ku seketika mukanya berubah saat melihat mataku yang sembab. Matanya menatapku seolah meminta kejelasan tapi aku yang sesekali masih menahan sesak tak sanggup bercerita saat itu juga. Aku memilih langsung masuk ke kamarku tinggallah Ibu dan Malik yang masih berada di teras.


Aku yang sepulang dari tadi masih mengurung diri di kamar membuat Ayah dan ibu mendatangi ku di kamar.


Ku ceritakan segalanya tentang apa yang aku rasain selama beberapa tahun ini termasuk kejadian tadi.


Mereka hanya mendengarkan ku sesekali ibu mengelus-elus pundak ku untuk menguatkan.


"apa yang terlihat salah belum tentu sepenuhnya salah, adakalanya kesalahan itu terjadi karena beberapa alasan, pesan abah jangan pernah menyimpulkan sesuatu dari satu pihak saja, lihat dulu bagaimana keadaannya" pesan Abah


"gak papa bu ibuk gak usah minta maaf, mungkin memang akunya yang masih belum bisa mengikhlaskan dan belum terbiasa dengan keadaan"


"Abah gak akan mendesak mu untuk segera menikah kalo kamu memang belum siap, tapi Abah harap kamu tidak menutup dirimu, abah gak ingin kamu merasa sendiri nak"


"iya bah, shofie ngerti abah sama ibu begini karena sayangnya kalian, aku janji mulai sekarang aku akan coba untuk berdamai sama keadaan"


"yasudah kamu kalo uda mendingan kamu sholat dulu biar tenang abis itu langsung tidur ya" ucap ibuku sambil jalan keluar.


______


Malik benar-benar menepati ucapannya, dia tak lagi mengirim pesan dan bahkan kami tak pernah ketemu lagi setelah hari itu dan saat pelepasan siswa-siswi ku.

__ADS_1


Hari-hari yang ku lalui semakin membaik, aku juga hampir setiap hari berada di gerai selama libur sekolah ini.


Kami sekeluarga berencana berlibur ke kampung halaman Ibuku yang berada di Tapanuli Selatan dua hari mendatang.


Setidaknya dengan ini aku bisa mengembalikan semangat yang sudah mau habis, aku harus mengisinya sebelum masuk sekolah.


Sejak ku ungkapkan isi hatiku ke Malik saat itu hatiku terasa lebih plong tapi juga kecewa entah sama siapa. Kecewa dengannya atau malah diriku sendiri.


Keberadaan kami di kampung ibu pun begitu menyita perhatian karena memang sudah hampir lima tahun setelah nenek kakekku meninggal kami belum pulang kesini.


Kami menginap di rumah adik dari almarhum kakekku, dengan suasana yang masih benar-benar kampung malahan jauh lebih asri dari kampung ku seperti tidak tergerus arus zaman, masyarakat nya tetap dengan adat istiadat sama seperti dulu ketika saat aku masih SMP kesini.


Belum ada seminggu kami berada disini kabar duka kami terima bahwa adik dari Abahku meninggal dunia, langsung saja saat lepas magrib kabar itu kami terima kami pun bersiap kembali pulang.


Abah adalah anak pertama dari sembilan bersaudara, kepada saudara dia berikan porsi yang sama kasih sayangnya meskipun mereka sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki cucu sama sepertinya.


_____


Menjelang siang kami pun sampai sebelum almarhum di sholati. Dia yang tak pernah kulihat menangis kali ini lolos juga meskipun hanya sebentar, ya selama almarhum sakit Abah turut andil merawatnya bahkan beberapa kali saat ngedrop beliau di rawat di rumah kami, masalah kemana anak istrinya biarlah menjadi cerita kami.


Suasana semakin sedih saat keranda yang membawa almarhum selangkah demi selangkah pergi meninggalkan rumah. Suara isak tangis pun semakin kencang terdengar dari keluarga.


Kemalangan ini buat kami semua berkumpul disini, sanak saudara yang jarang bertemu di pertemukan disini, semua juga saling melepas rindu.


Itulah kenapa setelah orang tua sudah tiada banyak diantara anak-anaknya yang tak lagi dekat seperti dulu ketika masih hidup orang tua.


Itu juga yang jadi alasan mengapa Abah dan ibuku selalu berpesan kelak ketika mereka tiada kami harus saling kunjung mengunjungi tak melulu yang muda yang datang, yang tua juga berkunjung lebih dulu yang terpenting kita saling merangkul dan memberi kabar.


Setelah bermalam sampai malam ketiga kami pun berpamitan untuk pulang kerumah.


Akhirnya kak Nadrah dan kak Laila menghabiskan sisa liburannya di rumah Abah, sementara kak Zahra pulang ke Indekosnya.

__ADS_1


__ADS_2