
Panjang lebar Jihan menjelaskan kenapa Malik bisa berakhir di ruangan itu.
Dulu, tepatnya setahun sebelum aku kembali dari semarang Jihan ketemu sama Malik, dari cerita Jihan malik menceritakan semua yang dia rasakan termasuk perasaan bersalah dan trauma terhadap sosok ku tentunya semua yang dia jalani seperti tidak dengan hatinya, dia yang bersikap dingin malah makin dingin dan terlihat arogan, selalu hati-hati dan bicara seperlunya saja dengan orang lain, termasuk kekasihnya Yunda. Tapi juga tak bisa di pungkiri sampai sekarang Malik tetap memiliki perasaan yang sama meskipun ada hati yang lain menantinya.
Maka dari itu Jihan menyarankan untuk ke psikiater saja untuk masalah seperti ini karena dia bukan ahlinya.
Rasa trauma bertemu dengan ku langsung mulai kembali datang saat pertama kali di supermarket itu tapi dia mencoba dengan sekuat tenaga melawannya sesuai anjuran dokternya.
Hatiku terasa di remas mengingat sedikit banyaknya ada andil ku dalam hal ini.
Jihan yang asyik menikmati makanan seketika menghentikan aktivitasnya.
"dia sudah banyak kemajuannya, loe inget kan shof tiap kali kalian bertemu dia pasti selalu saja menatap mu seperti mau menelan mu bulat-bulat, itu semua dilakukannya karena memang dorongan dari dirinya sendiri, dan setiap kali abis ketemu loe pasti dia langsung ke rumah sakit"
"tapi tadi kita gak ada ketemuan Jie, bahkan ni ya sudah lama pake banget dia gak chat aku lagi, kalau enggak salah terakhir ketemu sewaktu pernikahan Kak Zahra"
" yaudah si mungkin memang jadwal dia untuk terapis kali yang penting sekarang loe uda tau kondisi dia, jadi jangan pernah ucapan mu itu sampai kek pisau nyayat-nyayat, ngerti kan"
"iya aku ngerti, memangnya aku kalo ngomong suka bikin sakit ya ?"
"enggak si emang cuma kadang-kadang aja, tau gak dari jadwal kontrol dua minggu sekali menjadi sebulan sekali bahkan ni ku dengar dari temenku dia sudah pertiga bulan sekali. dan itu semua berkat kalian yang kadang-kadang ketemu atau memang Malik sendiri yang nge set untuk ketemu barang sebentar"
_________
Sedari tadi ku habiskan waktuku untuk mencari tau tentang riwayat sakitnya, kalo menurut Jihan si tidak parah hanya saja perlu untuk tetap mengontrol kondisinya saja.
Aku yang buat dia jadi begitu, andai dulu aku tak pergi jauh setidaknya tetap berada di sini mungkin rasa bersalah yang bersarang di dirinya tidaklah melebar sampai begini.
Malik laki-laki yang pernah ada di hatiku dulu semenjak kepergian ku beberapa tahun membuatnya merasa cemas dan trauma. Untuk itulah dia selalu rutin datang terapi untuk menghilangkan rasa cemas traumanya. Melalui hipnoterapi sedikit demi sedikit dia mampu menerima keadaan dan mengendalikan emosinya ketika bertemu dengan orang di masa lalunya.
Tak pelak karena kembalinya aku juga sedikit membantu proses penyembuhan yang dia jalani.
Mungkin ini juga yang menyebabkan orang tua Malik mengetahui segala yang terjadi antara Aku dan Malik dulu.
__ADS_1
Setelah ku pikir-pikir apa dia gak berlebihan ya sampek ke psikiater segala toh hanya gara-gara satu manusia saja.
"assalamualaikum" salam dari luar rumah
"pagi-pagi begini sudah bertamu saja, buka dulu gih shof " ucap Ibu
Ku buka pintu yang sedari tadi di ketuk
"waalaikumussa...lamm Malik ?? ngapain sepagi ini bertamu ? Kamu lagi kurang kerjaan apa gimana ?" tanyaku cepat yang langsung saja aku teringat ucapan Jihan kemarin sore
"boleh aku masuk ?"
"mau ngapain ? sarapan ?"
"kalau di izinkan "
"aku lagi gak salah denger kan ? emangnya Ibumu lagi gak masak sarapan ?"
"oke yasuuu,,,,,
belum lagi aku menyelesaikan ucapanku dia berlalu masuk nyelonong gitu aja ke arah tempat kami sarapan
"ehh nak Malik mari sarapan" ajak Abah yang biasa saja
"kok Abah sama Ibu biasa aja sia ada orang pagi-pagi datang kesini mau sarapan?"
"kemarin sore Abah bertemu Malik,. dia nolongin Abah sewaktu Abah jatuh dari motor makannya Abah undang dia untuk makan sama kita"
"masak iya Abahnya kena musibah kamu gak tau si" sindir Malik dan tak ku gubris.
"Abah jatuh dari motor ?? apa ada yang sakit kok shofie gak tau Abah jatuh dan Ibu kok gak ada cerita ?"
"kamu kan pulangnya malam dan langsung tidur jadi mana bisa Ibu kasi tau Abah juga udah langsung di kusuk jadi uda mendingan " ucap ibu seraya mengambilkan nasi goreng untuk Malik yang duduk berhadapan denganku.
__ADS_1
"maafin shofie, shofie gak tau"
"sudahlah habiskan sarapan mu nanti terlambat ke sekolah" "oiya karena motor kamu masih di bengkel, nak Malik bisa Abah minta tolong antarkan nak shofie ke sekolah ?" sontak aku liat Abah
"nanti biar shofie minta jemput temen aja bah gak usah ngerepotin orang" elakku
""gak di repoti kok sekalian aku berangkat kerja kebetulan hari ini nyetir sendiri pak Daus gak masuk" aku yang gak bisa jawab lagi pun menyetujui takut menyakiti hati abah karena sudah di tolongnya semalam.
________
"makasih ya udah nolongin abah kemarin" ucapku ketika berada dalam mobilnya
"sama-sama" "siang ini sibuk gak ? "
mau ku jawab sibuk tapi akunya gak sibuk kalo ku jawab enggak emangnya dia mau apa
"emm enggak si kayaknya"
"kok kayaknya, itu tandanya sibuk, kalo memang gak bisa jawab aja sibuk"
setelah ku pertimbangkan gak ada salahnya juga, anggap aja ini proses meredam emosi diri dan menghalau trauma yang masih ada, tapi apa pantas orang kayak aku gini kalau keluar bareng dia,
Bismillah
"aku gak sibuk, kenapa "
"aku mau ajak kamu jalan nanti biar aku izin sama Abah langsung aja"
"iya"
Sebenarnya banyak sekali yang ingin ku tanyak, mau kemana ? ngapain ? pulang jam berapa ? boleh ajak teman gak ? karena ini memang pertama kali aku jalan ama laki-laki.
________
__ADS_1