Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Ibadah Terpanjang


__ADS_3

Setelah kepulangan Hendra Ibu terlihat lebih banyak diam, Aku dan Abah menjadi serba salah. Pasalnya keputusan ku untuk menikah tanpa memberitahu kan Ibu terlebih dahulu membuatnya merasa tak di butuhkan lagi.


"Bah, bagaimana ini ? bukannya Shofie enggak mau ngasi tau Ibu, Abah tau sendiri kan Ibu jangan sampai banyak pikiran, maksud Shofie nanti setelah Hendra pulang dari sini baru ngasi tau Ibu" aduh ku pada Abah


"Nak, Maksud kamu baik, hanya saja dalam masalah seperti ini seharusnya kamu beritahukan kepada orang tua terlebih dahulu sebelum dia datang, setidaknya tidak kaget melihat maksud kedatangannya ke sini apalagi dia datang dari jauh, segala sesuatu itu harus di pikirkan matang-matang nak, menikah itu sakral untuk itu perlu kemantapan hati yang bulat karena ini ibadah terpanjang sekali seumur hidup"


Aku terdiam mencerna ucapan Abah, benar juga harusnya aku membicarakan ini terlebih dahulu pada mereka. Menikah adalah ibadah terpanjang dalam hidup gak mungkin gak di pikirkan matang-matang.


" Bah, Shofie temui Ibu dulu ya"


_________


"Bu"


Ku dekati iya yang duduk di teras samping, aku tau perasaanmu bu, maafkan anakmu ini yang masih saja membuat kesalahan untuk segera bisa membahagiakan mu.


"Ibu gak dingin duduk di luar seperti ini, masuk yuk bu" ajak ku pada ibu yang masih menatap lurus ke depan.


"Menikah itu bukan asal mau nikah langsung jadi nak, semua berproses, ada tahapannya, butuh mental yang kuat, karena menikah bukan hanya menyatukan dua manusia saja, ada dua keluarga juga yang mesti di dekatkan, Ibu senang akhirnya kamu akan menikah, tapi bukan berarti kamu menikah dengan begitu cepat lantas ibu setuju saja"


"maksudnya Ibu enggak setuju kalau Shofie menikah dengan Hendra ?"


"Ibu tau kamu nak, bukan sehari ataupun sebulan ibu hidup dengan kamu, lebih dari itu Ibu tau segalanya tentang anak-anak Ibu, perasaan seorang Ibu gak bisa di bohongi nak, apa yang di rasakan anaknya Ibu juga bisa ngerasain"


"maafin Shofie Bu"


Ku peluk Ibu dengan hangat, sesekali iya menggenggam tanganku.


"gak papa, ibu ngerti kamu hanya ingin buat ibu senang, tapi satu hal yang ibu sesalkan, kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah dengan nak Hendra ? bukankah kamu pernah bilang kalau kamu tidak punya perasaan sama sekali dengannya ?"

__ADS_1


Ya Allah Gusti sebegitu kuat perasaan seorang Ibu sampai aku tak bisa menjawab pertanyaan ini.


"kamu tau kan menikah itu sekaki seumur hidup, untuk itu Ibu minta sama kamu menikahlah dengan orang yang kamu cintai bagaimanapun nanti kamu juga yang jalani biduk rumah tangga ini, Ibu gak mau kamu menikah hanya karna mikirin Ibu tapi kamu abai sama diri kamu sendiri, Ibu juga gak mau egois nak demi kebahagiaan Ibu kamu mengorbankan perasaan kamu sendiri"


"Bu...." isak ku pada wanita ini tak sanggup rasanya


"kalau memang perasaan mu dengan Malik sudah berubah dan sebaliknya ya sudah gak papa bukan berarti kamu harus menikah dengan orang yang tidak kamu sukai, Ibu gak mau kamu terpaksa melakukannya nak, Ibu mau kamu menikah atas kehendak hatimu bukan kehendak orang lain, sekarang ibu tanyak sama kamu, apa kamu serius benar-benar ingin menikah dengan nak Hendra ?"


Keluh rasanya lidahku mau menjawabnya atau mungkin aku sendiri gak tau mau jawab apa karena apa yang di katakan semua oleh Ibu itu benar.


Aku hanya menggeleng sambil tersedu-sedu. Gak sanggup menjawabnya lagi. Kata-kata Ibu semua benar.


Jika memang aku dan Malik tak berjodoh bukan berarti aku memaksakan diriku untuk menerima orang lain.


"Maafin Shofie bu"


"Sudahlah, yang terpenting sekarang kamu sudah mengerti, maafkan ibu juga yang selalu menumpukan semua ke kamu, Ibu tau kamu anak yang gak akan ngecewain Ibu. Apapun keputusan kamu Ibu terima yang penting jangan pernah sekalipun memaksakan sesuatu yang tidak kamu kehendaki karena itu sama saja kamu dzolim sama diri kamu sendiri"


Aku meyakinkan diriku sendiri untuk bisa keluar dari zona ini. Aku harus segera mengatakan isi hatiku yang sebenarnya pada Hendra. Aku tak ingin dia mengorbankan perasaannya untukku yang sama sekali tak punya perasaan padanya.


________


Sudah sejak kedatangan Hendra ke rumah Ibu aku belum ada membalas pesannya, padahal saat itu aku ingin segera memberi tahunya tapi aku masih memikirkan bagaimana cara memberitahunya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas tapi mataku enggan sekali untuk terpejam.


Ku buka media sosial ku, ku lihat Hendra sedang online. Dengan mantap ku rangkai kata-kata yang sekiranya pantas untuk mewakili diriku ini tapi lagi-lagi aku menghapusnya. Rasanya gak sopan jika hanya dengan tulisan. Setelah aku pikir-pikir sebaiknya aku datang menemuinya langsung ke Yogya.


Dua hari selanjutnya aku datang sendiri menemui Hendra di Yogya, tentu saja Abah dan Ibu mengizinkan ku pergi karena aku harus segera menyelesaikan semua ini.

__ADS_1


Setelah bertemu dengannya nampak jelas raut wajah kecewanya. Aku tau itu akan terjadi dan pasti akan jauh lebih kecewa jika nanti sudah melangkah lebih jauh lagi.


"Maafkan aku Hen, aku gak bermaksud memanfaatkan perasaanmu, kamu berhak marah sama aku, aku terima itu tapi jujur hatiku sampai detik ini belum bisa nerima kamu, kamu orang baik Hen kamu pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku"


"Terimakasih udah datang jauh-jauh ke sini untuk jujur, tapi kamu bener jujur aku kecewa Shof, kamu tau sndiri bagaimana aku menunggu kamu, bagaimana selama ini aku begitu mengharapkan kamu dan setelah kamu meminta untuk aku datang ke rumahmu bukan lagi senang tapi bahagia akhirnya apa yang aku harapkan terjadi, tapi bagaimanapun tetap saja rencana Allah jauh lebih indah dan tertata baik dari rencana kita. Aku gak apa-apa aku ngerti posisi kamu"


"sekali lagi aku minta maaf Hen sudah sekali lagi buat kamu kecewa"


"it's ok"


Setelah sehari berada di Yogya aku putuskan untuk ke Jakarta terlebih dahulu sebelum pulang ke Medan untuk mengurus apa-apa saja yang di perlukan untuk menuju wisuda.


Pulang dari kampus aku berniat untuk jalan-jalan di mall terdekat untuk cuci mata. Siapa sangka aku ketemu seseorang yang tidak begitu akrab tapi terkesan akrab.


"Zahra"


Karena ada yang menyebut nama yang sama seperti nama kakakku akupun menoleh mencari sumber suara. Benar saja, tapi dia mengenaliku bukan sebagai Shofie melainkan Zahra kakakku.


Orang tersebut pun mendekatiku untuk memastikan.


"maaf kak saya bukan kak Zahra, saya Shofie adiknya" ucapku yang buat orang tersebut menepuk jidatnya sendiri.


"ya ampun aku lupa kalau kalian itu mukanya mirip-mirip semua, jadi kamu Shofie adiknya, lama ya kita gak ketemu"


Ya, itu adalah temannya kakakku ah lebih tepatnya kakaknya Malik. Aku baru ingat dia tinggal di Bandung dan keluarga suaminya orang Jakarta. Sedikit yang ku tau tentang kakaknya dulu saat masih dekat dengan Malik.


"kok jadi bengong , kamu ngapain di sini ?"


"lagi jalan-jalan aja kak"

__ADS_1


"sendiri ?"


dan hanya ku anggukan kepala saja sebagai jawaban


__ADS_2