Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Ibumu Ibuku atau Ibu Kita


__ADS_3

Matahari begitu cerah menghangati kulit yang cukup kedinginan malam tadi, aroma masakan menguar begitu saja di seluruh bagian villa ini.


Tak salah memang kalo Abah suka makanan Ibu karena memang top banget soal perut.


Aku yang sedari subuh berada di dapur menemani ibu-ibu masak hanya duduk saja mendengarkan kisah kasih di sekolah saat mereka muda, bagaimana mereka memulai membangun cintanya dan poin terpenting bagi mereka adalah saling mengerti dan percaya dulu cinta lambat laun akan hadir karena Allah maha membolak balikan hati.


Setelah menyiapkan sarapan akupun memanggil para lelaki untuk sarapan bersama.


Sepagi ini ibu sudah memasak ayam bakar karena keinginan ibunya Malik sebab katanya dulu masakan ayam bakar buatan ibu tiada duanya bahkan katanya saat hamil Malik ibunya selalu ingin makan masakan ibu.


"bisakah kita berada di sini untuk beberapa hari lagi"ucap ibu malik tiba-tiba


"untuk apa ?"


"biar aku terus bisa makan masakan temanku ini"


"ahh bisa aja masih masakanmu juga bikin aku ketagihan Sus dan masakan shofie juga enak lo kalian belum pernah coba kan ?"


"kamu bisa masak nak shofie?"


"bisa dong, anakku dari dulu selain tukang makan dia juga tukang masak di rumah, bahkan kalau anak-anakku pada ngumpul dia sendirilah yang masak"


"wahh idaman banget kamu ini ya, pantas saja Malik gak nyerah-nyerah ngejar kamu"


Bikin panas pipi saja ni ibunya Malik


"makannya Bu kalo mau makan masakan kayak gini terus bujukin dong calon mantunya biar segera di lamar, bila perlu di nikahin sekarang "


"uhukk uhukk " kurang asem ni Malik bikin tersedak aja mana lagi makan sambel kecap lagi batinku


"pelan-pelan toh shof" ucap ibuku sambil memberiku minum


"Dahlia selesai ini kita pergi petik stroberi ya kebetulan kebunku sudah siap petik" ujar ibunya


"wahhh boleh tu sus, shof nanti kamu bisa kan beresin ini sendiri ?"


"iya gak papa bersenang-senanglah ibuku"


"kalau begitu pak Rasyid gak ada salahnya juga kalo kita pergi ke tempat pemerahan susu di sini, kebetulan itu punya rekanku "


"sepertinya banyak sekali yang kebetulan di sini ya" jawab Abah yang di sambung tawa "baiklah ayo kita lekas siapkan makan kita ini"


Tunggu dulu jadi kalau mereka pergi berarti tinggal kami berdua dong di sini, wah gak bisa ini aku harus ikut, aku gak mau terjebak di sini.


"bu, shofie ikut ya tunggu shofie selesai beresin ini ?" pintaku harap


"nunggu kamu nanti lama shof, biar nanti kamu di antar Malik saja ya dia juga gak ngapa-ngapain" di jawab bu malik dan aku cuma bisa senyum aja


Dia terus aja liatin aku yang lagi beresin dapur, risih bener di liatin macam kerja sama majikan


"santai aja jangan buru-buru waktunya masih panjang, apa perlu aku minta izin pamanmu untuk cuti sehari lagi ?"


"gak usah aneh-aneh ya udah cukup hari ini saja"


"orang itu ya kalo cuti pasti beberapa hari dan pasti senang kalo di izinkan"


"itu mah orang lain bukan aku"


"shofie shofie gimana nanti kalo kita nikah apa cutinya cuma sehari aja atau pas hari minggunya "


"gak usah halu"


"lama-lama bukan dia yang stres aku kayaknya yang dibuat stress sama dia" lirihku

__ADS_1


"uda siap ni, sekarang antar aku bersama ibu"


"ibu siapa ? ibumu apa ibuku atau ibu kita berdua ?"


astagaa mulai lagi


"kamu ini kenapa si Malik, tadi sewaktu sarapan kurang minum apa gimana"


"bukan hanya kurang minum shof, aku juga kurang perhatian dari kamu"


Kenapa dia jadi pandai gombal sii.


oke sepertinya tidak bisa di lanjutkan, lebih baik aku jalan sendiri saja mencari mereka.


"lo shofie tunggu emangnya tau kebunnya dimana" panggilnya yang tak ku hiraukan


Sepanjang jalan aku mencari ibu tapi tak ku jumpai juga begitu juga Abah, ini bisa di bilang kebun stroberi semua mana bisa tau kalo kayak gini.


Sudah hampir 2 jam aku tak kunjung bertemu mereka buat aku jadi takut, mana sekarang aku masuk ke kebun sayuran yang aku sendiri gak tau di mana lagi ahhh


"permisi bu, mau tanya kalo mau ke arah villa malsof dari mana ya jalannya?" tanyaku pada ibu-ibu yang ku taksir seusia ibuku yang sedang memetik kol


"wah dek kamu ini jauh sekali sudah jalannya, kalau mau ke luar jalan utama ada sekitar satu kilo lagi itupun jalannya belok-belok dan banyak simpang" jawabnya yang buatku jadi semakin takut enggk bisa pulang. sementara ini sudah mau pukul dua belas siang.


"bu saya bisa minta tolong gak ibu bisa antar saya ke sana, soalnya saya takut bu, saya takut orang tua saya cari-cari saya ?"


"adek mau tunggu gak saya masih panen kol gak bisa di tinggal sekitar dua jam lagi baru siap"


Setelah ku pikir-pikir gak masalah juga dari pada aku semakin jauh nyasarnya lebih baik aku tunggu saja ibu ini


"baiklah bu akan saya tunggu, kalau begitu saya boleh ikut panen gak bu ?"


"boleh dek mari sini"


Di sinilah aku sekarang yang aku sendiri pun gak tau dimana, harusnya aku tadi menunggu ibu saja di villa jika tak ingin di antar Malik


Yang aku khawatirkan mereka pasti sibuk mencari ku apalagi ibu yang mudah sekali kepikiran. Aku cuma bisa meratapi kebodohan ku ini.


Setelah selesai panen kol ibu ini pun langsung mengajak ku untuk pergi dari situ, untuk bisa ke jalan utama kami harus jalan sekitar satu kiloan lalu di lanjutkan dengan naik angkot yang jarang sekali lewat.


Sepuluh menit kami menunggu akhirnya angkotnya datang juga.


"kamu kenapa bisa nyasar sampai sana tadi dek "? tanya ibu itu


"tadinya saya mau nyusul ibu saya dan temannya yang lagi panen stroberi tapi karena lupa tanya jalannya ya saya masuk aja ke kebun karena saya pikir kebunnya yang dekat dengan villa ehh gak taunya malah kemana-mana jadinya.


"namanya juga di gunung dek, semua tanamannya sama, kamu anaknya pak Herman ya ?"


"bukan bu, saya anak dari temannya mereka kebetulan kami datang kemarin"


" oo kirain anaknya"


"ibu kenal sama pak Herman ?"


" siapa si yang tidak kenal dengan keluarga mereka, mereka punya banyak usaha di sini dan kebun brokoli sebelah saya tadi itu ya punya mereka, villa itu kan semua unitnya punya dia "


Ya Allah sampai gak percaya aku ni, semua villa itu punya keluarga Malik, gak heran juga si kalo perusahaannya dimana-mana juga, tapi hidup keluarganya biasa saja beda sama si Malik itu yang luar biasa sombongnya.


"pinggir"ujar ibu ini setelah sampai " ibu gak turun ya sampai di sini aja"


"terima kasih banyak untuk bantuannya bu"


" iya dek, tuh lihat keluarga mu, mereka sudah menunggumu"

__ADS_1


Ku lihat mereka semua berada di luar villa yang aku yakini pasti bingung mencariku.


Setelah angkotnya pergi terlihatlah aku oleh mereka dan tak butuh waktu lama Malik la yang lebih dulu menghampiri ku.


"kamu dari mana aja aku nyariin kamu kemana-mana tau gak, aku takut kalo kamu pergi lagi dan gak balik-balik lagi"


Ya Allah sebegitu takutnya dia kehilangan ku sampai tak terasa dia memelukku dengan erat.


"hee kau ini peluk-peluk anak orang di depan orang tuanya pulak dasar gak tau malu" celetuk ayahnya memisahkan kami


"oooh maaf tadi aku refleks"


ku lihat dia sangat salah tingkah


" Kamu dari mana saja nak, Ibu khawatir pas Malik sampai ke kebun tapi gak bersama kamu katanya kamu sudah pergi duluan tanpa menunggunya" ujar ibuku panik


"Dahlia sudahlah kita bicarakan ini di dalam saja, kasian dia, lihat nampak lelah sekali" ucap Ibunya Malik.


Di dalam villa setelah aku tenang.


"coba ceritakan sama kami kamu kenapa pergi terlebih dahulu, kenapa tidak menunggu nak Malik, kan ibunya sudah mengatakan jika nanti akan diantarnya ?" ujar ibu


Ya sudah ku ceritakan saja apa yang dibicarakannya karena memang risih dengan ucapan-ucapannya itu sampai naik sasakku di buatnya.


"sudah berapa kali Ayah bilang jangan kau buat dia tidak nyaman haa lihat sekarang dia jadi seperti ini " marah pak Herman sambil memukul lengan Malik


" pantesan aja ibu ngerasa kok gak mungkin nak shofie pergi gitu aja kalo ada sebabnya, kamu ternyata biangnya, lama-lama ibu coret kamu dari kartu keluarga kita"sambung ibunya


Aku jadi kasihan melihatnya, dia hanya memandangku tanpa ekspresi, aku jadi kepikiran traumanya karena ucapan_ucapan orang tuanya pasti menyinggung perasaannya.


"shofie gak papa kok, memang ini semua salah shofie yang langsung main pergi gitu aja, sudah ya jangan di bahas lagi yang penting kan sekarang shofie sudah di sini"


"apa kita tunda saja kepulangan kita pak Rasyid sampai keadaannya pulih " ujar pak Herman


"gak usah pak, kita lanjutkan saja kepulangan kita hari ini, saya gak enak kalo harus cuti lagi" jawabku cepat


"kamu yakin nak ?" tanya ibuku


"yakin bu"


Baiklah sekarang kita berkemas ya


_______


Kembali lagi aku berdua di mobil bersama Malik, karena orang tua kami di mobil yang lain.


"aku minta maaf" ucapnya


Aku yang gak mungkin menyalahkannya mengingat traumanya yang begitu takut kehilanganku sampai refleks memeluk saja sudah bisa merasakan jika dia merasa bersalah


"gak papa kok, santai aja, sudah ya kita jangan bahas ini lagi yang penting aku gak kenapa-kenapa kan"


Dia sama sekali tak melihatku, aku jadi beneran khawatir.


Setelah hampir Empat jam di perjalanan aku oun sampai di rumah, dan ku lihat orang tuanya malik sampai terlebih dahulu.


"shof tunggu, terimakasih untuk waktunya terima kasih untuk maaf kamu"


"iya sama-sama "


"dan aku gak akan menyerah sampai di sini sebelum kamu terima lamaranku"


Aku hanya tersenyum "sudahlah mari masuk orang tuamu ada di dalam" ajak ku

__ADS_1


"sepertinya aku langsung pulang saja titip salam sama mereka, maaf aku gak bisa turun"


"baiklah"


__ADS_2