Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Ternyata Kita Bersama


__ADS_3

Kabar kepergian Abah seperti petir yang menggelegar. Ibu menangis sejadi-jadinya dan terjatuh pingsan. Ibu Malik dan saudariku membawa ibu untuk mendapatkan perawatan segera. Sedangkan Ayah mertua ku dan saudara ipar ku mengurus kepulangan Abah.


Aku sendiri masih duduk di bangku Rumah Sakit menenangkan diriku yang tak bisa melihat perubahan dalam diri Abah. Sebegitu tidak perhatian kah aku padanya sampai detik nafasnya saja dia masih memikirkan ku sedangkan aku.


"Shof, kamu harus ikhlas, ini sudah jalannya" ujar Malik mendekati ku.


"apa aku terlalu egois sampai Abah sakit saja aku gak tau"


"kamu gak egois, Abah yang memang pandai menyembunyikan semua ini dari kalian itu karena Dia gak mau kalian cemas"


"Ayah sebenarnya sudah tau kalau Abah sakit, dan Ia tahu saat Abah menemui Ayah langsung sebelum dia jatuh sakit, Abah menceritakan segalanya dan saat itu juga Abah juga berpesan agar kelak dia meninggal Ayahku dapat menyampaikan maksudnya untuk menikahkan kita berdua"


"Beliau juga tak sanggup untuk memberi tahu Ibu karena khawatir dengan penyakit jantungnya "


"Jadi kamu sudah tahu tentang ini semua kenapa gak kasih tau aku ?"


"Aku juga baru tau tadi sebelum ke sini, sekarang lebih baik kita bersiap untuk pulang karena mobil yang membawa Abah telah siap, Ibu dan saudarimu juga sudah pulang lebih dahulu setelah dokter mengijinkan Ibu pulang "


Sampai di rumah jiran tetangga sudah berdatangan. Aku yang baru sampai enggan turun dari mobil miliknya Malik.


Ku tatapi bendera merah yang ada di dekat rumah. Aku gak nyangka secepat ini Abah pergi. Aku teringat kala masih kuliah di Jakarta, Abah selalu saja ku repotkan untuk menghandle geraiku. Aku ingat saat dia mengomeli dan menggoda Ibu saat pulang dari Rumah Sakit. Aku ingat Dia selalu mengantarku kemanapun aku pergi, menjemputku tanpa melihat waktu bahkan setia menungguku saat aku belum sampai di rumah.


"Shofie kita turun yuk"


Aku semakin menangis terisak dalam pelukan Malik. "Rasanya belum bisa menerima semua ini. Baru beberapa jam yang lalu dia menikahkan ku tapi selanjutnya kenapa seperti ini" gumamku lirih


"kau tahu Abah pergi dengan tenang tanpa beban karena Dia telah menyelesaikan tugas terakhirnya dan Dia yakin aku dapat menjagamu layaknya Abah menjagamu juga, mari kita turun. kamu kuat aku yakin itu"


Kami pun turun dan masuk ke dalam rumah. Aku langsung menuju di mana Ibu berada.


"Bu,,, maafkan Shofie"


"kenapa minta maaf, semua ini sudah takdir Allah nak, Abah memang sudah waktunya kembali kita harus ikhlas. Ibu yakin Abah bahagia pergi menghadap Allah karena dia sudah melakukan tugasnya yang terakhir "


"kamu jangan pernah sekalipun menyalakan diri kamu sendiri Abah pasti akan sedih melihatnya, mari kita tunjukan di hadapan Abah untuk terakhir kalinya bahwa kita baik-baik saja "


Ibu benar, ku seka air mataku lalu aku pergi ke kamarku membersihkan diri untuk bersiap mengantarkan Abah ke tempat terakhirnya.


Malam pertama tanpa sosok Abah begitu terasa. Sesekali masih ku dengar isak tangis di sisi ruangan ini.


Malik yang kini sah menjadi suamiku pun turut menyiapkan tahlilan sampai malam ke tiga. Selama itu pula Aku membiarkan Malik mengurus dirinya sendiri.


"Nak, pergilah istirahat, ajak suamimu tidur di kamar. Kasian dia kalau tidur di shofa lagi. Dia mungkin segan untuk masuk kamarmu "


Ya selama tiga malam ini Malik tidur di luar. Aku yang masih kehilangan sosok lelaki yang selama ini bersamaku sampai lupa akan status ku sekarang.


"Malik malam ini tidur di kamar saja" pintaku padanya yang masih duduk membuka ponselnya.

__ADS_1


Tanpa bicara dia pun ikut menuju ke kamarku.


"Masuklah"


Dia duduk di pinggir ranjang, sedangkan aku mengeluarkan pakaiannya yang masih tersimpan di koper untuk ku pindahkan ke lemari.


Setelah selesai aku pun membersihkan diri dan berbaring di ranjang bersebelahan dengannya.


Gak ada kata-kata yang keluar sampai ku lihat Malik memejamkan matanya, sedangkan aku tidur dengan gelisah.


"apa kamu gak nyaman aku tidur di sini ?"


Ahh ternyata dia belum benar-benar tertidur.


"kalau kamu gak nyaman aku pindah ke bawah tidak papa" Dia duduk dan hendak turun.


"jangan, maafkan aku yang mengabaikan mu beberapa hari ini, sungguh aku belum bisa"


"gak papa aku ngerti, sekarang kita tidur ya"


Kami pun kembali berbaring dan dengan sengaja malik melingkarkan tangannya di perutku. Aku yang terkejut dengan perlakuannya pun tak bisa berbuat apa-apa mengingat dia adalah suamiku.


"Aku gak akan meminta hak ku sebelum kamu benar-benar siap, tidurlah besok aku sudah mulai bekerja"


"kamu gak marah ?"


"terimakasih sudah mengerti, maaf jika aku selalu saja buat mu menunggu dati dulu bahkan sudah jadi istri mu pun kamu tetap harus menunggu hakmu"


"kamu gak salah jadi stop meminta maaf"


"Malik, apa kau bahagia ?"


"tentu saja aku bahagia, bertahun-tahun aku menantimu, kau tahu, Aku mngkin bisa menahan diriku untuk tidak menghubungi mu dalam waktu yang lama tapi aku gak bisa menahan diri untuk gak rindu sama kamu"


"oo yaa, lalu kenapa tidak bekerja lebih keras lagi untuk mendekati ku ?"


"pertanyaan apa itu, apa kamu gak bisa ngerasain saat kita pernah beberapa kali bersama ?"


"selama itu apa kamu gak kangen aku ?"


"Kalau kamu tanyak aku kangen gak sama kamu uda pasti aku kangen pake banget. Mana mungkin aku gak kangen sama orang yang ada di hati aku"


"aku pikir aku terlambat untuk mendapatkan mu lagi"


"dan nyatanya kita bersama kan, apapun yang terjadi aku akan berusaha untuk bahagiakan kamu"


Pukul Empat pagi akupun terbangun, baru kali ini aku tidur terasa nyaman sekali setelah kemarin-kemarin tidurku kurang waktu.

__ADS_1


Aku terkejut saat ku dapati wajah yang amat ku kenal ada di depan mataku. Ahh aku lupa kalau aku telah menikah.


Dengan sangat hati-hati aku menggeser tangannya dari badanku.


"Kamu sudah bangun" ucapnya dengan suara khas bangun tidur. Dia bangun tidur saja tampan apalagi kalau sudah mandi, ahh apa sii aku ini


"jangan memuji dalam hati"


"mana ada aku memuji mu, sudah mau subuh bersiaplah, aku mandi dulu"


"Shof, bisakah jika kita berdua saja kamu buka hijab mu ? aku ini suami mu "


Aku mengangguk sebagai jawaban lalu pergi ke kamar mandi.


Setelah selesai Malik yang mandi, akupun dengan cekatan menyiapkan pakaian sholat untuk Malik.


Semalaman saat Malik sudah tidur aku berdamai dengan keadaan ku, menerima keadaan saat ini. Aku berjanji untuk mulai membiasakan diri dengan hadirnya Malik.


Saat selesai Sholat ku cium tangannya dengan takzim dan Malik menarikku seraya mengecup kening ku.


"aku harap kamu akan terbiasa dengan ini"


"Iya, oiya kamu mau sarapan pakai apa ?"


"apa yang kamu masak aku akan menghabiskannya asal itu tangan mu sendiri uang membuatnya"


"Tentu, Malik, hari ini kakak akan pulang semua ke rumah mereka karena gak mungkin suami mereka berlama-lama di sini anak-anak juga harus sekolah, aku kepikiran Ibu pasti kesepian di rumah, aku juga harus bekerja hari ini, aku bingung Malik"


" Bisakah kamu cuti dulu seminggu ini, nanti kita akan bicarakan masalah ini"


"Baiklah nanti aku izin dulu"


Selesai membuat sarapan di dapur akupun bergegas menyiapkan di meja.


Setelah selesai semua orang berkumpul bersama untuk sarapan.


Selesai sarapan aku sibuk membantu kakak ku packing untuk kembali ke rumah mereka.


Rumah kembali sepi tinggal Ibu Malik dan aku saja di sini.


"kamu tidak bekerja nak Malik ?"


" bekerja bu, nanti jam 10 langsung ke bandara bu karena ada meeting di Jakarta"


"Kamu tidak lelah jika harus pulang pergi ?"


"tidak bu, hanya beberapa jam saja di sana lalu kembali lagi ke sini"

__ADS_1


"Ya sudah mana yang baik menurut mu saja, jika di rasa lelah jangan di paksakan pulang ke sini, ibu ke kamar dulu"


__ADS_2