
"Mas, kamu sudah pulang ? aku siapkan makan malam kamu ya, kamu mandi dulu baju udah aku siapkan di atas tempat tidur" ucap Shofie menyambut suaminya pulang.
Seperti itulah setiap hari yang ia lakukan tanpa merasa lelah walaupun tak pernah sedikitpun di pedulikan Malik.
Selesai makan malam Shofie membuka percakapan.
"mas, besok kamu bisa temenin aku cek kandungan gak ? "
"aku gak yakin itu anak ku"
"mas kamu ngomong apa si, ini ya beneran anak kamu, anak kita mas,"
"bisa aja itu anak orang lain"
Hatinya perih sekali mendengar suaminya berkata seperti itu. Sekuat hatinya ia menahan air matanya agar tak jatuh di depan suaminya ini. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapannya.
Tanpa berkata lagi Malik pergi tanpa mengindahkan ucapan Shofie.
"Ya Allah kuatkan aku ya Allah, Abah ujian putrimu berat Bah, semua tidak seperti keinginan Abah, bagaimanapun caranya aku tidak boleh menyerah ini pasti akan berlalu" batinnya.
Pagi-pagi sekali Shofie pergi dan hanya berpesan pada bi sumi saja jika hari ini ia pergi ke gerai.
"Bi, saya keluar dulu ya, belum tau pulang jam berapa kalau Mas Malik sudah turun dan tanyak bilang saja saya ke gerai "
Walaupun kandungannya memasuki bulan ke tiga tapi tidak membuatnya diam di rumah.
Kehamilannya saat ini tak membuat dirinya mual dan mengidam seperti orang hamil pada umumnya.
Setelah siang ia pun di jemput oleh mertuanya dan mereka pun berangkat ke Rumah Sakit untuk cek kandungan.
"perkembangan bayinya bagus, nah ini dia bayinya, masih sekecil ini ya, sudah terbentuk wajahnya mata hidung dan lainnya hanya saja belum berkembang sempurna dan juga jenis kelaminnya belum bisa jelas terlihat ya, nanti USG selanjutnya sudah bisa di lihat jenis kelaminnya" terang dokter saat meletakkan alat di perut Shofie dan menggeser kesana kamari.
Terlihat bagaimana makhluk kecil itu di dalam rahimnya Shofie menangis haru, mengingat penantian yang ia tunggu-tunggu dengan suaminya.
"Kamu harus kuat nak, walaupun papa mu belum percaya jika ini adalah anaknya tapi kamu jangan sedih ya, papa begitu karena papa sakit dan sebentar lagi papa akan sembuh dan kembali bersama kita lagi" batinnya.
Sepulang dari Rumah Sakit mereka pun pergi ke kantor suaminya dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat wanita lain duduk di atas pangkuan suaminya itu. Siapa lagi kalau bukan Yunda, perempuan gatal yang mengambil kesempatan saat keadaan Malik seperti ini.
"Malik, apa-apaan kamu ini, kamu sadar kamu ini dimana, ini kantor gak pantas kamu kayak gini bersama perempuan yang bukan mahram kamu" ucap Ibunya Malik berapi-api menatap tajam ke dua insan itu.
__ADS_1
Shofie yang melihat tak sanggup selain memalingkan wajahnya.
"hei wanita ******, kamu tau kan kalau dia ini udah punya istri, apa gak ada laki-laki lain sampai-sampai suami orang pun kau tak peduli" ucapnya lagi.
Merasa di rendahkan oleh Ibunya Malik Yunda pun menangis bak terhinakan dan merasa paling di sakiti.
"Bu, udah dong, jangan bentak Yunda kasian dia bukan salah dia juga" jawab Malik
"yes" batin Yunda bersorak karena sekarang Malik sudah berada di pihaknya.
"Ibu kecewa nak sama kamu, benar-benar kecewa, jangan sampai kamu menyesal atas sikapmu ini, jangan sampai orang-orang yang setia sama kamu pergi dan kamu baru sadar itu" Ujar Ibunya menahan amarah sambil berlalu keluar.
Shofie yang mendengar ucapan mertuanya itu merasa terhentak. "pergi".
Sepeninggal Shofie dan Ibunya Malik terlihat diam mencerna kalimat terakhir Ibunya itu, kepalanya kembali berdenyut.
"Sayang kamu kenapa ?"
"kepalaku pusing sekali"
"Yaudah kamu istirahat dulu"
__________
"sampai mas Malik sadar Bu"
"enggak nak, kamu gak bisa terus-terusan begini kasian kamu dan bayimu, lebih baik kamu ikut Ibu saja, ibu gak biarin kamu sendirian mengahadapi semua ini"
Karena desakan akhirnya ia pun ikut tinggal bersama mertuanya.
"Nah kamu istirahat ya maafin anak Ibu" ucap Bu Susi saat mengantar menantunya ini ke kamar Malik "Ibu yakin dia pasti akan sadar walaupun kecil kemungkinannya tapi Ibu percaya Allah akan beri jalan untuk kalian dan kamu harus kuat"
"Ia bu, insyaallah Shofie kuat"
"dan bagaimana jika aku gak kuat bu" batinnya lagi
________
Malik yang beberapa hari ini tidak melihat keberadaan Shofie menjadi tanda tanya.
__ADS_1
"Den, makan malamnya sudah siap " ujar bi sumi memberi tahu.
"kemana perempuan itu" tanya Malik
"Non Shofie sudah beberapa hari ini tinggal bersama Ibunya Aden"
Mendengar itu dia bergulat dengan hatinya bertanya-tanya bagaimana hubungannya dengan Shofie selama ini.
"Bi, bagaimana hubungan saya dengan wanita itu "
"Maksud Aden non Shofie ? Setau bibi Aden sama Non Shofie hidup sangat bahagia, kemanapun Aden pergi keluar kota Non Shofie selalu Aden ajak, setiap hari Non selalu masak untuk sarapan dan makan malam" jeda bi Sumi "dan seingat bibi Non Shofie adalah cinta pertamanya Aden, butuh beberapa tahun untuk Aden dan non bisa menikah walaupun pernikahannya hanya ijab Qobul saat di rumah sakit karena permintaan Almarhum Abahnya Non Shofie"
"Jadi aku nikah sama dia di rumah sakit"
"benar den, dan sebelum itu juga aden memang akan melamar Non tapi karena kondisi kesehatan Abahnya saat itu juga Aden menikah dan beberapa jam kemudian Abahnya meninggal dunia "
"lalu wanita yang namanya Yunda itu ?"
Dengan nafas panjang bi sumi pun menjelaskannya. Karena Bi sumi adalah orang yang mengasuh Malik dari kecil dan ikut bersama keluarganya sudah cukup lama yang sudah di anggap seperti keluarga makannya bi Sumi tau bagaimana kisah asmara anak majikannya ini termasuk Yunda mantan pacarnya itu.
Di dalam kamar Malik merenungi kata-kata pembantunya itu.
dert dert
"ya Bim"
"proyek yang di bandung terjadi masalah, besok kita akan berangkat ke sana jam sepuluh"
"baiklah, oiya bim kau sudah cukup lama kan ikut denganku"
"ya, selain asisten mu aku juga sahabat mu apa kau melupakan itu"
"ya aku ingat, aku hanya mau bertanya bagaimana hubungan ku dengan Shofie dan Yunda ?"
Panjang lebar Bima menjelaskannya dan tak jauh beda apa yang bi Sumi ceritakan bahkan secara detail Bima menceritakan kisah mereka saat sekolah dulu.
Selama ini Bima bukan tidak mencoba untuk menyadarkan Malik, hanya saja setiap kali Bima ingin cerita Malik sudah lebih dulu melarangnya karena dia menganggap itu cerita bohong seperti yang di sampaikan Yunda tempo hari.
Pagi-pagi Yunda sudah berada di kediaman Malik sarapan bersama. Selama Shofie tidak ada Yunda lah yang dengan senang hati datang ke rumahnya.
__ADS_1
Sikapnya yang sombong dan tidak ramah membuat pekerja di rumah merasa tidak enak berada di situ, terlebih bi Sumi yang selalu saja jadi sasarannya.
"sebentar lagi aku akan jadi nyonya di sini dan wanita itu tentu ku tendang jauh-jauh"