
"Hebatnya hati dia tak pernah patah sekali, tapi berkali-kali pun dia akan tetap sama, perasaannya saja yang beda"
Begitulah quote yang ku baca di postingan media sosial milik Malik.
Aku tahu kalimat itu mewakili dirinya saat ini tapi yang buat aku gelisah kalimat penutupnya, apa benar perasaannya berubah ?
Matahari begitu cerah hari ini, aku yang sedang mengemasi pakaian ibu selama di rawat pun telah siap untuk pulang.
Jelas terlihat raut wajah yang kemarin sayu sekarang segar di pandang. Abah yang telah selesai mengurus administrasi pun kini sudah berada di kamar. Abah kini berjalan menggandeng Ibu.
Aku yang melihat itu jadi merasa ah indah sekali mereka semakin tua saja tetap mesra apalagi waktu muda dulu.
Abah segera membukakan pintu di kursi belakang dan iya juga turut serta di sampingnya, pertanda akulah yang jadi supir untuk Raja dan Ratu ini.
Cukup lama kami sampai di kampung mengingat Ibu yang masih belum pulih jadi aku mengendarai dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di rumah kakak ku menyambut Ibu dengan suka cita.
Di sinilah kami Di ruang keluarga menikmati makan siang dengan cara lesehan. Abah terlihat sekali memanjakan Ibu seolah Ibu bayu besarnya.
"eyang, kok makannya di suapin kayak adek aja makannya di suapin" celetuk Abay cucu lelaki Abah
"eyang kan masih sakit jadi kakek harus suapin eyang biar eyang cepet sembuh biar bisa main sama Abay lagi"
Ibu sejak punya cucu ingin di panggil eyang sementara Abah inginnya tetap di panggil kakek.
Setelah selesai kami pun berkumpul di teras belakang menikmati angin sepoi-sepoi dan tentu saja menemani para cucu yang sedang bermain.
Ya, area belakang rumah memang di sulap menjadi tempat bermain anak-anak sekaligus kolam renang mini yang sengaja di buat untuk memuaskan waktu bermain mereka.
"Shof, bagaimana kuliahnya, tidak ada kendala kan ?" ujar Abah membuka percakapan
"Alhamdulillah Bah semua lancar, kemungkinan bulan depan Shofie akan mulai tesis, doakan ya Bah biar semuanya lancar"
"aamiin kami selalu mendoakan kamu nak"
__ADS_1
"Shof bagaimana hubungan mu dengan nak Malik?" kini ibu yang memulai pembicaraan serius
"sejauh ini si biasa aja bu seperti kemarin-kemarin " elak ku yang tak ingin ibu tahu bahwa Malik kini mulai dengan mode dinginnya.
"Ibu pengen kamu segera menikah Shof sebelum Ibu pergi"
Permintaan Ibu ini sontak buat kami yang mendengar melongo.
Ada yang sakit di sini, entah mengapa Ibu sejak berada di rumah sakit seperti ingin segera apa apa yang belum aku wujudkan harus segera terlaksana.
"Bu, kok ngomongnya gitu, Ibu gak akan kemana mana, Ibu akan tetap di sini bersama kami semua, kita akan pergi semua ke Jakarta untuk melihat anak kesayangan Ibu ini Wisuda sekali lagi dan Ibu juga nanti yang akan menemaninya untuk duduk di pelaminan bersanding dengan lelaki yang dia cintai, Ibu harus yakin Bu, gak lama lagi semua pasti segera terlaksana" Abah selalu saja mewakili diriku yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Bu, Ibu sayang kan sama Shofi?" Ibu hanya mengangguk "Kalau begitu Ibu janji untuk tetap berada di sisi Shofie ya sampai keinginan Ibu bisa Shofie wujudkan, Ibu jangan bicara yang bukan-bukan lagi. Kita semua sayang sama Ibu, dan Kami semua masih membutuhkan Ibu berada di dekat Kami"
Ku peluk wanita yang paling aku sayang ini dengan segenap hatiku. Sesak sekali ku rasa dadaku ini. Sebegitu inginnya Ibu menginginkan ku segera menikah.
________
Seminggu berlalu, saatnya aku pulang ke Jakarta.
"Terimakasih bu, Insyaallah Aamiin"
"Kamu hati-hati ya"
"Mang bawa mobilnya pelan-pelan saja ya yang penting selamat"
"enggeh nya"
__________
Selama menuju bandara aku selalu saja memikirkan kata-kata Ibu, apa sebaiknya aku segera menikah saja biar Ibu tenang, biar Ibu gak sakit lagi.
Ibu sakit pasti gara-gara memikirkan keadaanku yang belum juga menikah.
Ku raih HP ku, ku ketik sebuah pesan untuk ku kirim ke seseorang tak lama ku matikan HP ku karena sebentar lagi pesawat akan segera lepas landas menuju Jakarta.
__ADS_1
Setelah tiga hari pesanku baru mendapat jawaban, selama itu juga hatiku bertanya tanya apa benar perasaannya memang telah berubah.
Ya untuk memastikan itu aku harus segera menemuinya untuk memperjelas semua ini.
_______
Di sinilah aku berada di sebuah restoran di bilangan Jakarta barat tempat yang memang sudah di pesan oleh Malik.
"Are you oke Shofie ? tanya malik setelah sampai dan duduk di hadapanku.
" Ya aku baik-baik saja"
"Kita makan saja dulu baru bicara ya"
Selesai makan kami pun hanya diam dengan pikiran masing-masing. Bingung mau ngomong dari mana karena memang selama ini aku yang selalu saja menghindar bahkan mentah-mentah menolak lamarannya tapi apa sekarang? aku bermaksud untuk memintanya menjadi suamiku dalam waktu dekat.
Kepalaku serasa berputar putar, Malik yang ada di depanku ku seperti ada dua.
"Katanya ada yang ingin di bicarakan ?"
"Iya tapi mendadak kepalaku pusing sekali sepertinya aku ingin ke toilet sebentar"
Masih tiga langkah kini badanku terasa melayang dan mataku langsung saja terpejam.
MOHON DUKUNGANNYA
KASIH KOMEN SEMANGAT YA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE
KOMEN
DAN TAMBAHKAN KE FAVORIT YAAA
__ADS_1
TERIMAKASIH