Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Menggadaikan Hati


__ADS_3

"Terimakasih untuk semuanya Malik, maaf sudah terlalu merepotkanmu selama ini, mungkin ini yang terakhir aku meminta tolong padamu setelah ini aku janji tidak akan merepotkan mu lagi . Aku akan memulai semuanya lagi dari awal tapi tidak dari tempat asal ku melainkan di kota ini, aku permisi dulu terimakasih selamat tinggal "


"ahhh sial" ucap malik di dalam ruangan kantornya.


Kata-kata itu yang selalu saja di ingatnya sampai sekarang.


Semenjak terakhir bertemu dengan Shofie di Jakarta, Ia tak lagi berhubungan dengannya sama sekali.


Sudah lama iya tak mendengar kabar tentang wanita yang ia cintai itu. Sedikit menyesal telah mengabaikan permintaan Shofie waktu itu untuk menikah.


Malik hanya tidak ingin mereka menikah bukan karena keinginan sendiri. Hanya itu saja yang Ia sesalkan saat itu.


Tapi saat sekarang Malik begitu menyesal dengan sikapnya kala itu.


Jam makan siang pun tiba. Malik segera keluar ruangannya dan keluar kantor pergi ke suatu tempat.


__________


Malik berjalan di lorong memandangi seseorang yang ia kenal tapi masih ragu jadi ia sedikit berjalan lebih mendekat untuk memastikannya.


Samar-samar ia mendengar percakapan orang tersebut.


".....aku siap menikah, apa kamu masih ada keinginan untuk menikahiku ?


....


"aku serius, jika kamu ada waktu datanglah ke rumah Ibuku dalam minggu ini"


Malik yang mendengar itu benar-benar kaget. Shofie dengan berani bertanya ah lebih tepatnya memastikan hal itu pada lelaki yang pernah ia tolak cintanya.


"Apa kamu serius ingin menikah dengannya ?" Pertanyaan Malik seolah mengagetkannya yang tanpa ia sadari Malik memperhatikannya sejak lama.


"Gak baik menguping obrolan orang" ucapnya tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaan. " Kenapa mesti tidak serius? bukankah ada yang bilang alangkah lebih baik menikah dengan orang yang mencintai kita akan jauh lebih baik ! "


"Apa kamu yakin ?"

__ADS_1


"Kenapa tidak, dia memiliki hati yang siap menerima ku "


"Lalu hatimu ? apa siap menerima dia sebagai suamimu ?"


"Jangan khawatir, itu biar menjadi urusanku"


Begitu saja Shofie pergi meninggalkan Malik yang masih berdiri termangu mendengar jawabannya.


Ia tak habis pikir masih ada orang yang sanggup menggadaikan hatinya meskipun kebahagiaannya sendiri terabaikan.


"Darimana saja kamu nak ?" tanya Ibu


"Tadi ada urusan sebentar bu, maaf ya bu ?"


Malik tidak tahu kedatangannya di Rumah Sakit untuk menjemput Ibunya yang menjenguk temannya yang sakit itu ternyata Ibunya Shofie.


Ya Ayahnya Malik pulang terlebih dahulu karena itu Dialah yang akhirnya menjemput Ibunya.


"Dahlia, aku pamit pulang dulu ya, anakku sudah menunggu di luar " ujar buk Susi pada Ibu


"Hemm anak itu akhir-akhir ini agak susah, capek katanya banyak kerjaan, yasudah aku pamit dulu ya, mari pak Rasyid nak Shofie"


_________


Seminggu setelah di rawat akhirnya Ibu di perbolehkan pulang. Kali ini Ibu harus benar-benar diperhatikan.


Abah begitu posesif semenjak kepulangan Ibu dari Rumah Sakit. Kadang sampai mau minum saja Abah mesti yang memegangi gelasnya. Sampai Ibu merasa seperti bayi besar yang semua semuanya mesti di bantu.


"Bah, istrimu ini walaupun sakit tapi masih bisa makan sendiri lo, bahkan masih kuat buat lari ! omel ibu saat sarapan


"Udahlah bu aku sayang sama kamu harusnya seneng kalo di perhatikan kayak gini " jawab Abah yang membuat wajah Ibu merona


"Ihh apaan si pagi-pagi uda bucin kayak anak pacaran aja, inget umur lo inget" ledek ku


"Biarin, dari pada jomblo "

__ADS_1


"ahh Abah apaan si sejak kapan berubah gini, gak kasian apa ngeledekin anaknya pagi-pagi gini"


"Makannya kamu cari suami biar bisa bumin sama suamimu"


"Bucin Bah bucin bukan bumin" kekeh ku


"Sudah-sudah sarapan cepet malah berdebat" Ucap ibu mengakhiri perdebatan antara Ayah dan anak.


Setelah Sarapan kami pun duduk di ruang depan TV.


"Jadi kamu kapan wisudanya nak ?"


"gak nyampek sebulan bu "


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam bentar ya biar Shofie yang bukain "


"Hendra, masuk sini" ajak ku


"Terimakasih"


"Kamu beneran datang kesini ?"


"beneran, ni aku uda di rumah mu kan, betewe Shof kamu sudah yakin dengan keputusan mu itu?" tanya Hendra langsung memastikan


"Semua ku lakukan asal Ibuku bahagia, dia sumber kebahagiaan buat ku entah apa yang aku rasain jika aku gak bisa bahagiain dia"


"ehh ada nak Hendra kan temennya Shofie yang di Yogya ?" tanya ibu tiba-tiba datang ke depan


"nggeh bu, ibu sehat katanya kemarin di rawat ya bu ?"


"iya tapi Alhamdulillah sekarang sudah enakan, biasa sakit udah tua, lagi ada kerjaan apa gimana nak Hendra ?"


"Ehmmm enggak kok bu gak ada kerjaan, memang sengaja main ke sini "

__ADS_1


"wah ada apa ini Shof kayaknya ibu ngerasa ada sesuatu?" selidik Ibu


__ADS_2