Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Akad Nikah


__ADS_3

Hubungan ku dan Malik sejak itu berjalan baik, sedikit demi sedikit saling kabar selalu terkirim melalui pesan singkat.


Aku masih menunda untuk memberi tahukan hubungan baikku dengan Malik pada keluarga ku. Pasalnya Malik masih belum memberi tahu kapan iya akan menemui orang tuaku. Di tambah lagi akhir-akhir ini Abah yang tiba-tiba jatuh sakit buat ku panik dan semakin mengulur waktu untuk kabar itu sampai kepada mereka.


Malik yang tau kondisi Abah juga menunda untuk membicarakan hal serius padanya. Karena menurutnya lepas kepulangan Abah dari Rumah Sakit baru Dia akan menyampaikan maksudnya.


Sudah mau sepekan Abah mendiami Rumah Sakit dan tentunya Ibu dengan setianya menemaninya.


Aku yang takut Ibu juga sakit karena lelah menemani Abah juga gak bisa membiarkannya sendirian.


Setiap pagi aku kembali pulang ke rumah karena harus bekerja dan menjelang malam aku akan tiba di Rumah Sakit, begitulah kegiatan ku seminggu ini.


Aku yang baru saja tiba di Kamar rawat tak sengaja mendengar perkataan dokter bahwa sebenarnya penyakit Abah sudah tidak bisa di sembuhkan. Sakitnya bisa kapan saja menyerang dan merenggut nyawanya. Ya Abah terkena Kanker Otak stadium akhir.


Dokter yang keluar dari kamar rawat pun ku brondong dengan berbagai pertanyaan.


Abah sudah setahun ini baru memeriksakan sakitnya dan itu tidak diketahui oleh kami terlebih pada Ibu. Semua dia rasa sendiri dan tidak ingin siapapun tahu tentang sakitnya.


Sejak pertama kali pemeriksaan Dokter sudah menyarankan untuk melakukan kemoterapi tapi Abah menolak dan memilih meminum obat-obatan.


Hebat banget Abah setahun sudah dia menyembunyikan ini dan kami satu orangpun tidak ada yang tahu. Dimana dia menyembunyikan obat-obatan tersebut.


Pagi ini ku bulatkan tekad ku untuk mencari di mana Abah menyimpan obat-obatan tersebut. Ku masuki kamar Ibu dan mencari di setiap tempat tapi tak kudapati apapun di situ. Sampai akhirnya dahagaku membawaku ke dapur untuk meneguk air dingin yang berada di dalam kulkas.


Entah kenapa tanganku berayun ke atas kulkas meraih tempat yang berukuran kecil yang berada di belakang vas bunga.


"Astaga inikah obatnya, kenapa aku tidak menyadari ini berada di sini, baiklah akan aku simpan dulu ini nanti akan ku tanyakan pada dokter yang menangani Abah" aku bermonolog sendiri.


Setelah selesai bersiap aku memutuskan untuk ke sekolah seperti biasa. Setelah sampai di ruang guru ponsel ku berdering, nama Ibu berada di layar. Langsung saja ku geser untuk menjawabnya.


"Nak, kamu sudah di sekolah ?"


"Sudah bu, baru saja sampai, apa ada sesuatu yang ingin ibu minta untuk aku bawa nanti ?"

__ADS_1


"tidak nak, ibu hanya takut sendirian di sini, tadi tiba-tiba Abah merasakan sakit lagi dan ini dia baru saja tertidur karena baru meminum obatnya"


"Perasaan ibu enggak enak nak, Ibu takut sekali, Ibu takut kehilangan Abah, Ibu gak sanggup jika dia harus pergi lebih dulu nak"


Isak tangis ibu yang sama seperti yang ku rasakan saat mendengarnya.


"Abah kuat bu, Dia pasti sembuh, Ibu harus mikir yang baik-baik jangan pernah berfikir yang bukan-bukan"


"nak, tadi sebelum Abah tidur dia bilang kalau dia ingin sekali secepatnya menikahkan kamu langsung, itu permintaan Abah yang buat Ibu merasa Abah akan pergi nak"


"Bu, tenanglah semua akan baik-baik saja, sebentar lagi kakak akan tiba di sana bu untuk menemani Ibu, aku akan pulang cepat hari ini dan langsung ke rumah sakit"


"iya, kamu hati-hati di jalan nanti, ibu akan tunggu nak"


Selama mengajar pikiranku ke Abah terus. Mudah mudahan Abah panjang umur sampai dia bisa melihat ku menikah dengan laki-laki yang selama ini aku cintai dan tepatnya kami saling mencintai.


Abah adalah lelaki yang selalu saja menyembunyikan lelahnya. Dia akan selalu menunjukkan wajah yang mendamaikan dan menenangkan.


Di rumah sakit sudah datang kakak ku dan suami mereka. Dan Abah sudah bangun dari tidurnya saat mereka tiba.


Aku yang dapat panggilan untuk segera ke rumah sakit pun dengan cepat ku lajukan mobilku kesana.


Setelah sampai aku melihat kakak ku berada di luar dan saat aku sampai aku di suruh mereka untuk masuk.


Dalam hati aku sudah berfikir yang macam-macam kenapa mereka di luar dan aku di suruh masuk seperti memang sudah di tunggu kedatangan ku.


Setelah di dalam aku melihat malik dan orang tuanya yang berada di sisi ranjang Abah.


"Shofie"


"Iya Bah, ini Shofie di sini" dengan susah sekali untuk menahan air mata ini agar tak jatuh di hadapannya.


"Abah ingin tanya sesuatu hal sama kamu dan Abah harap kamu jujur" ujarnya menatapku sendu dan ku anggukan sebagai jawaban.

__ADS_1


"Apa kamu sudah memiliki orang yang siap menjadi suamimu?"


Ku pandangi Ibu lalu beralih ke malik yang juga sedang menatap ku menunggu jawaban.


"Sudah bah"


"Lelaki yang aku cintai dari dulu sampai sekarang bah dan Abah juga pasti tau siapa orangnya"


"Alhamdulillah Abah senang jika kamu masih bertahan dengan orang yang sama" "lalu apakah kamu masih mencintai anak Abah ini nak Malik ?"


"Ya, Aku masih mencintainya, dan memang akhir-akhir ini kami menjalin hubungan kembali dan aku serta keluarga ku memang hendak ingin melamar Shofie namun tak urung terlaksana karen pekerjaan ku"


"Kalau begitu menikahlah kalian sekarang"


Aku dan Malik saling menatap mencari jawaban. Karena keadaan ini takut jika menolak untuk permintaan Abah yang Ibu rasa adalah permintaan terakhirnya maka kami setuju untuk melakukan Ijab Qobul saat itu juga.


Segala berkas di persiapkan secepatnya dan jadilah kami menikah saat itu di Rumah Sakit di saksikan oleh orang tua kami kakak ku dan Dokter yang menangani Abah.


Setelah kata sah dari saksi maka sah sudah kini aku jadi istri Malik. Ada yang hilang di dadaku tapi bukan perasaan ku melainkan ketakutan ku. Takut perasaan ku tak terbalaskan lagi takut perasaan kami saling menyakiti satu sama lain lagi.


Abah yang secara langsung menikahkanku tak henti mengulas senyumnya begitu juga dengan Ibu.


Walaupun acara ini diadakan mendadak tapi tetap Hidmat.


Malik yang mengulurkan tangannya pun ku cium dengan takzim. Ku salami orang tua Malik yang tak lain adalah mertuaku.


"Alhamdulillah akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya dengan cerita kalian yang rumit akhirnya di persatukan hari ini, Ibu harap kalian saling mengerti dan melengkapi" ujar Ibunya Malik.


"Ibu lega akhirnya impian Ibu dan Abah yang terakhir bisa terwujud, semoga kamu bahagia menikah dengan orang yang sama-sama mencintai, jadilah istri yang baik nak" ujar Ibuku saat memeluk.


Beberapa jam setelah akad nikah kesehatan Abah semakin menurun yang membuat kami semua sangat panik apalagi Ibu.


Dokter yang berada di dalam pun dengan teliti memeriksa kondisi kesehatan Abah. Kami yang menunggu di luar dengan gelisah menanti Dokter pun semakin menjadi ketika Dokter menyatakan bahwa Abah telah meninggal.

__ADS_1


__ADS_2