
Sebulan sudah kini Malik dan Shofie hidup berumah tangga. Semenjak menikah dengan Malik Shofie memutuskan untuk tidak mengajar lagi. Hari-harinya hanya disibukkan sebagai istri yang mengurus suaminya dan juga gerai yang kini telah memiliki cabang baru lagi.
Selama ini mereka tinggal di rumah ibunya Shofie. Malik sudah berencana untuk pindah ke rumah yang sudah ia beli untuk mereka tinggali nantinya.
Tentu saja mereka sudah bicarakan ini terlebih dahulu mengingat mertuanya yang enggan untuk ikut tinggal bersama Shofie.
mertuanya itu lebih memilih tinggal di rumah yang penuh kenangan itu. Dan untuk itulah Shofie juga membicarakan ini pada saudarinya mencari jalan keluar.
Setelah mendiskusikan semuanya kak Zahra lah yang akan tinggal dengan Ibu, tentu juga atas persetujuan suaminya.
Hari ini semua berkumpul di rumah Bu Dahlia, sebagai anak dan menantu mereka saling memberi pengertian satu sama lain. Hal itu pula yang Ibunya rasakan saat ini. Ia sudah tau maksud mereka kali ini apa. Kak Laila sebagai anak tertua pun memulai inti pembicaraan.
"Bu, begini, maksud kami berkumpul di sini untuk membicarakan sesuatu sama ibu "
"Ibu sudah tau nak, kalian ingin membicarakan tentang siapa yang akan tinggal menemani Ibu kan ? Ibu mengerti saat ini kalian sudah punya tanggung jawab masing-masing, ibu gak papa. Itu sudah kewajiban kalian sebagai seorang istri yang memang harus manut apa kata suami" ucapan ibu tak terduga.
"Tapi bu, Ibu juga harus ada yang menemani di sini, Ibu tau kami semua malah berebut ingin membawa Ibu tinggal bersama salah satu dari kami tapi kami sadar Ibu pasti akan menolak dan untuk itulah kami sepakat Zahra yang akan tinggal di sini bersama Ibu.
"Nak, sejak ibu melahirkan kalian Ibu sudah menyiapkan hati Ibu, membesarkan diri Ibu sendiri jika anak Ibu seorang wanita yang kelak akan menikah dan akan pergi dengan suaminya, itu hal yang lumrah nak, Ibu tau kalian sangat sayang dan mengkhawatirkan kondisi Ibu tapi perlu kalian tau ibu gak papa"
"Nak Dimas, apa kamu tidak keberatan jika harus tinggal di sini ? Bukankah kerjaanmu tidak bisa di tinggal, jika harus di tempuh setiap hari itu pasti akan melelahkanmu dan ibu tidak mau itu"
Bagaimana pun tidak egois, Ia tetap memikirkan keadaan yang ada di depan mata.
"Bu, aku sudah membicarakan hal ini sebelumnya pada atasanku dan meminta pindah ke daerah yang tidak jauh dari sini, Ibu jangan khawatir semuanya sudah kami pikirkan matang-matang sebelum kami membicarakan ini pada Ibu" Jawab Bang Dimas tegas memberi pengertian.
"Tapi bukan berarti Ibu gak bisa datang ke rumah kalian lagi kan ?" Pertanyaan Ibu kali ini memantik diriku bergerak mendekatinya.
"Asal Ibu tau pintu kami terbuka lebar untuk kedatangan Ibu, Ibu boleh datang kapan saja bahkan jika Ibu mau Ibu bisa menginap bergiliran di rumah kami dan itu tentu sangat kami nantikan"
"Baiklah jika memang begitu keputusan kalian, yang penting di antara kalian anak menantu Ibu tidak ada yang di beratkan apalagi di rugikan atas keputusan ini" senyum Ibu merekah seraya menatap kami bergiliran.
Hari ini aku bersiap pindah ke rumah yang sudah di beli Malik.
"Apa sudah siap semua" tanya Ibu yang sibuk membantu memasuki barang ke dalam mobil.
"sudah bu, Ibu baik-baik ya, aku akan rindukan Ibu selalu" Ku kecup pipinya dan ku peluk erat tubuhnya kini yang akan ku tinggalkan.
Saat sampai mataku di suguhkan rumah megah yang kini akan ku tinggali. Sesampainya Malik mengajakku turun. Memberi tahu jika sang mertua sudah ada di dalam.
"Assalamualaikum Bu Ayah"
__ADS_1
"Akhirnya kalian sampai juga, gimana perjalanannya"
"Sedikit capek Bu" jawab Malik langsung duduk bersandar pada bahu Ibunya.
"Kau ini tetap saja begini, sudah punya istri tetap saja tidak berubah"
Karena sudah siang kami pun makan bersama yang sudah di siapkan di atas meja oleh bik Sumi yang kini jadi asisten rumah tangga di rumah ini.
Setelah selesai makan dan berbincang sebentar mertuanya kini pamit untuk segera pulang kembali.
Setelah mengantar Ibu sampai depan Malik tiba-tiba saja menggendong ku menuju kamar yang berada di lantai dua.
"Kamu ini apa-apaan si malu di liat bibi tadi" protes ku.
"Aku sudah tak sabar ingin merebahkan mu di sini" bisiknya di telinga saat merebahkan badanku di ranjang.
"Masih siang lo ini"
"Memangnya kenapa ? Apa harus nunggu malam, aku ini suamimu yang kapan saja bisa meminta jika aku ingin"
Pernyataan dari suaminya ini menyadarkan wanita yang kini berada di bawah Kungkungannya. Dan sampai saat ini Ia belum memberikan apa yang selama ini di nantikan suaminya ini.
Merasa tidak nyaman Ia pun sedikit memberontak mencoba mendorong dada bidang lelaki itu tapi apa daya tenaga Malik jauh lebih kuat.
"hemm sudah di rumah sendiri pun tetap saja ada yang ganggu, awas kamu ya" gerutu malik beranjak dari tubuh Shofie.
Kesempatan ini tidak di sia-siakannya. Ia berlari menuju kamar mandi dan segera mengunci pintunya.
"Hampir saja, untung dia terima telfon tadi coba kalau enggak bisa di habisin aku ni" gumamku.
Setelah merasa cukup aman Ia mengintip melihat kondisi di sekitar, takut-takut jika Malik masih berada di kamar dan segera menyerangnya.
"pelan tapi pasti aku akan memberikan itu padamu, aku tidak ingin membuatmu menunggu terlalu lama lagi" ucapku dalam hati.
Ia melangkahkan kakinya keluar menuruni anak tangga setelah beristirahat cukup lama di kamarnya.
Ia melirik jam pukul delapan malam tapi belum melihat keberadaan Malik dan bi Sumi memberi tahu jika suaminya berada di ruang kerjanya.
Dia masuk setelah mengetuk pintu melihat suaminya sibuk menduakannya dengan laptop. Dengan sedikit memberanikan diri Ia berdiri di samping suaminya dan memijat pundaknya.
Melihat tidak ada respon Shofie berpikir apakah suaminya ini kecewa atas sikapnya yang tadi.
__ADS_1
Dengan memastikan pintu tertutup rapat Ia duduk di pangkuan suaminya yang membuat Malik menghentikan aktivitasnya.
Dengan melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya ia melum*at bibir tipis itu. Melihat sikap istrinya yang sedikit berbeda tangan malik mengambil kesempatan untuk menyibakkan hijab yang di kenakan istri cantiknya itu.
Ia memperdalam ciumannya, kali ini Malik membawanya ke sofa yang berada di dekat mejanya. Tangannya membuka resleting baju yang ada di bagian dada istrinya lalu memasukkan tangannya.
Seketika tubuh Shofie terperanjat dengan sentuhan yang di berikan Malik.
Menyadari keinginan istrinya ini dan tak di pungkiri jika juniornya juga sudah bangun, Malik kembali mengambil hijab sang istri dan memakaikannya membuat Shofie merasa bingung.
"kita lanjut di kamar" bisiknya langsung menarik tangan Shofie.
Setelah sampai tak lupa ia mengunci pintu dan langsung menyerang Shofie. Seperti bak mendapat durian runtuh ia melucuti pakaian istrinya yang pasrah tanpa penolakan lagi.
Tubuh mereka yang tak berjarak membuat napas mereka memburu. Shofie yang sudah siap pun dengan lembut memejamkan matanya. Hanya dengan sentuhan di tengkuk Malik sesuatu sudah ingin mendapatkan yang lebih dari ini.
Ini adalah waktu yang di tunggu oleh Malik, kini hasratnya sudah tak dapat di bendung lagi.
"Apa kamu siap ?" Dan Shofie mengangguk sebagai jawaban
"Ini yang pertama jadi agak sedikit sakit tapi aku akan melakukannya dengan pelan-pelan"
Mendengar itu Shofie sedikit mengerutkan keningnya mencerna maksud ucapan suaminya ini.
Menikmati setiap sentuhan yang di berikan Malik membuat Shofie lebih dari ini.
Malik yang merasakan suatu juga sudah tak bisa menahannya lagi, Ia menanggalkan pakaiannya dan menyusuri setiap jengkal tubuh istrinya ini.
Di dalam kamar yang ber AC ini tak membuat kedua insan merasa dingin, justru sebaliknya.
Setelah selesai bergulat sampai lelah Malik merebahkan tubuhnya di sebelah wanita yang kini telah memberikannya sesuatu yang ia tunggu selama ini. Ia mengecup pucuk kepala istrinya dan memeluknya.
"apa sakit sekali ?"
"sedikit"
"maafkan aku ya, lain kali aku akan lebih pelan-pelan lagi" ucapnya yang membuat pipi Shofie merona seperti kepiting rebus.
"maafkan aku yang baru sekarang memberikannya untukmu, aku janji akan belajar lebih untuk bisa membuat kamu nyaman berada di sisiku"
"aku bisa sabar kok, asal imbalannya juga setara" goda Malik yang mendapat tatapan tajam dari istrinya ini.
__ADS_1
Kini keduanya sama-sama terpejam tanpa busana di bawah selimut yang menutupi seluruh badan mereka.
Shofie kini merasa lega karena telah melakukan kewajibannya sebagai istri yang sesungguhnya.