
Hari terasa berat bagi Malik maupun Bima. Pasalnya masalah yang ada membuat mereka harus tinggal beberapa hari lagi di Bandung.
"Bim, kita balik ke hotel aja dulu ini sudah jam dua pagi besok kumpulkan semua ketua tiap divisi jam sepuluh "
"oke"
Malam begitu panjang dengan setumpuk kerjaan yang menggunung tiada siapnya.
"besok siang kakak mau ketemu sama kamu, kakak tunggu di rumah".
Pesan kakaknya yang baru ia baca ketika sampai di hotel.
Ia merebahkan badannya yang kekar itu dan terlelap begitu saja tanpa membersihkan badan terlebih dahulu karena memang ia sudah sangat mengantuk.
Pukul sepuluh sesuai permintaannya kemarin semua ketua divisi sudah berada di ruang rapat. Terlihat bagaimana seorang Malik yang dikenal kejam dan dingin memarahi dan tak segan membentak siapa saja yang melakukan kesalahan.
Bukan Malik namanya jika tak membuat orang di hadapannya bertekuk lutut minta ampun. Bagi Malik kesalahan tidak pernah termaafkan dan siap-siap di depag dan di blacklist namanya dari kantor manapun yang berada di kota tersebut.
Tepat pukul dua belas siang ia sampai di kediaman kakaknya yang menetap di Bandung.
"akhirnya sampai juga" ucap kakaknya saat orang yang di tunggu datang.
"ada apa ?"
__ADS_1
"kamu ini ketus banget sama kakakmu sendiri, kamu berubah tau gak, hemm karena udah siang marahnya aku simpan dulu nanti kita lanjut sekarang kita makan dulu"
Bima, Malik dan kakaknya sedang menikmati makan siang. Namun tiba-tiba Malik melihat apa yang di suguhkan kakaknya membuatnya sakit kepala.
Ya , apalagi kalau bukan asam manis ikan nila makanan yang selalu jadi favoritnya setelah menikah karena di masak penuh cinta yang tulus no modus oleh istri tercintanya Shofie.
"kenapa masakan ini seperti tidak familiar" batinnya bermonolog.
Namun segalanya di tepis karena tidak ingin membuang-buang waktu.
Selesai makan siang kini kakak beradik itu pergi ke halaman belakang sedangkan Bima duduk di ruang TV.
"kamu harus segera sadar Malik, kasian Shofie, bagaimanapun dia tetap istrimu, kamu bersusah payah untuk mendapatkan dia kembali, apa kamu gak ingat perjuangan kamu sampai detik ini ?"
"Kamu lihat ini" ucap kakaknya dan menyerahkan selembar foto kebersamaan mereka terakhir di Sulawesi.
"ini aku dan dia ?" kakak dapat dari mana ?"
"hemm ini foto kebersamaan kamu terakhir sama Shofie di Sulawesi sebelum kecelakaan itu terjadi, waktu itu Shofie yang mengirimkan ke kakak waktu dia ikut denganmu ke hotel yang akan kamu bangun di sana"
"Sepulang kamu dari Sulawesi kamu mengantarkan dia pulang tapi kamu langsung pergi lagi tapi naas kecelakaan menimpamu dan Bima uang buay kamu sekarang lupa sama Istrimu sendiri"
"Yunda itu mantanmu, tepatnya pelarianmu saat dulu masih SMA kamu menunggu jawaban cinta dari Shofie tapi kamu dengan tidak sabar malah menjalin hubungan dengan Yunda"
__ADS_1
"Waktu berjalan kamu dan Shofie tetap berhubungan baik walaupun jarang bertemu. Kakak ingat cerita ibu yang kamu bawa dia ke Brastagi sampai orang tuanya datang kesana atau laki-laki yang bernama Hendra teman kuliahnya dulu yang selalu kamu cemburui gak jelas"
"Malik, come on apa mesti ku jedutkan kepalamu ke tembok biar kamu inget semuanya ?"
"dan kakak yakin kamu gak percaya sama ini" sambil memperlihatkan vidio.
"apa ? jadi dia..
"benar sekali Malik, ini bukan rekayasa kamu ingat sekali bukan setelah Ibu dan Shofie datang ke kantormu, ini kakak di kirimin sama Ayah langsung yang ada di situ karena ada meeting dengan clientnya jadi gak mungkin Ayah mengada-ada ini semua"
Jadi saat Yunda dan pacarnya berada di toko itu Pak Herman tidak sengaja melewati toko itu dan tak sengaja mendengar obrolan mereka. Untung saja Pak Herman ini cepat tanggap merekam kalau tidak, mungkin tidak akan tahu akal busuknya wanita itu.
"tapi kenapa Ayah gak bilang sama aku kak ?"
"karena kamu di butakan oleh cinta busuknya dia yang matre itu, dan kamu juga percaya aja apapun yang dia bilang, kakak kira kamu pinter rupanya masih bo*oh soal beginian. Lagian ya kurang bukti apalagi kalau orang-orang di sekeliling mu sudah mengatakan hal yang sama, cuma wanita jala*g itu aja yang beda karena iri dan dengki dalam hatinya"
"Inget ya Malik sampai kapan pun kami tidak akan merestui kamu menikah lagi, inget buah hati kamu yang kini ada di perutnya Shofie"
"Dia bersusah payah menahan emosinya melihat kamu bermesraan dengan perempuan lain merasa kuat tapi hatinya rapuh, dia gak pergi dan tetap setia di rumah itu meskipun kau gak pernah anggap dia, kalau dapat wanita lain mungkin uda out sejak lama, mana ada perempuan yang sanggup melihat suaminya kayak gitu. jangan sampai kamu menyesal Malik, pergilah sebelum terlambat"
"Kamu tau kan sekarang dia ada di mana ? dia di rumah Ibu jemput dia ketika kamu pulang nanti walaupun ingatanmu belum mengingat dia setidaknya kamu tetap bersama dengannya sebelum dia pergi dari hidupmu membawa anakmu dan jangan salahkan dia kalau suatu saat kamu gak bisa lihat anak kamu sendiri"
Panjang kali lebar percakapan kakak beradik itu sampai Bima ketiduran di sofa sangking lamanya wejangan Malik itu.
__ADS_1