
Seminggu setelah peresmian gerai tak ku dapati juga balasan dari Malik atas pesanku malam itu.
Bulan ini adalah bulan terakhir sebelum libur ajaran baru. Seperti tahun sebelumnya aku selaku yang bertanggung jawab di tingkat TK akan sibuk mempersiapkan pelepasan siswa-siswi . Seperti hari ini aku melatih mereka menari yang ku bagi menjadi beberapa kelompok sebagai persembahan di acara nanti.
Segala perlengkapan wisuda juga sudah ku pesan dan dalam minggu ini juga sudah rampung.
Pelepasan kali ini juga turut mengundang Malik sebagai salah satu donatur di sekolah kami.
___
Selepas anak-anak pulang ku rebahkan badanku di dalam ruangan bersama dengan tiga guru yang lain.
Sambil melepas lelah karena latihan menari ku buka HP ku dari dalam tas. Ku buka semua sosial media yang ku punya.
Melihat notifikasi di ig ku ada permintaan mengikuti dari empat hari yang lalu, jelas sekali gambar siapa yang muncul di profil itu.
Heran aja aku, balas pesanku tak bisa tapi bisa minta konfirmasi pertemananku.
Belum sempat aku menerimanya dering panggilan masuk pun terlihat jelas siapa yang memanggil. Abah.
Tumben sekali Abah telfon biasanya juga Ibu.
Langsung saja ku angkat telfonnya yang memintaku agar lekas pulang.
Perasaanku gak enak pas Abah bilang harus pulang cepat karena gak seperti biasanya.
_____
Setelah sampai rumah langsung ku temui Abah dan Ibu yang berada di dapur yang sedang makan siang. Aku yang juga lapar langsung ikut makan juga dong. hihihi
Selesai makan Abah menunjukan muka yang serius, ini yang buat aku makin gak enak.
"Nak, boleh Abah tanya?" yang langsung ku anggukin
"Ada hubungan apa kamu sama temen kamu yang namanya Hendra itu ? tidak mungkin rasanya dia jauh-jauh datang kesini jika tidak ada maksud tertentu" jelas Abah
Setelah berhari-hari kenapa Abah baru tanya pasal dia ya, ada apa ini.
"Kami hanya sebatas teman Bah tidak lebih. seperti yang uda shofie bilang waktu itu perihal kedatangannya kesini. Abah juga kan tau sendiri anak Abah ini gimana kan"
"Apa kamu gak ada perasaan sedikitpun sama dia nak " tanya Ibu
"Gak ada bu, dia hanya ku anggap teman saja sama seperti yang lain"
Haruskah ku bilang perihal Hendra melamar waktu itu ? sepertinya memang harus biar mereka tak berpikir jauh soal ini.
Ku hembuskan nafasku berat.
Ku ceritakan pula soal lamaran Hendra saat itu, tak ada yang ku tutup-tutupi dari mereka.
__ADS_1
Selesai menceritakan segalanya mereka terdiam saling memandang.
"buka hatimu nak, jangan kau tutup rapat hatimu, kamu juga butuh pendamping hidup teman berbagi dan menyempurnakan separuh agamamu, mau sampai kamu seperti ini, apa kamu tidak ingin menikah dan punya anak seperti orang lain yang bahagia dengan pasangannya" ujar Ibu
Tak kuasa aku menatap wajah mereka. Aku tau rasa cemas mereka aku bisa rasakan itu.
"dek apa kamu gak ingin mencoba untuk sekedar mengenal saja " suara kak zahra tiba-tiba
Aku hampir lupa jika ini akhir pekan dan gak biasanya juga dia pulang siang-siang begini.
"cari suami itu bukan ajang coba-coba kak, yang kenal terus dekat gak cocok terus di tinggal" jawabku
"jadi gimana kamu mau dapat suami kalo kamunya sendiri gak bisa buka hati dan gak mau coba kenal sama yang namanya laki-laki dek, kamu kenapa si, masih trauma ? ayolah berdamai dengan keadaan, jodoh gak datang sendiri tanpa kita cari" balasnya gak mau kalah
"sudah-sudah jangan seperti ini, gak baik nanti jatuhnya selisih, jika kamu masih belum ingin menikah tidak apa-apa nak Abah sama ibu hanya mengingatkan saja takut kalo kamu terlanjur nyaman dengan kesendirian"
Tak sampai hatiku membalas setiap ucapan-ucapan mereka.
Kalo seandainya ku bilang aku takut mengenal cinta ya betul, aku takut kejadian yang sama terulang kembali.
Siapa bilang aku tak ingin menikah, bukankah itu salah satu impian setiap wanita yang berpasangan ? masalahnya aku belum juga punya pasangan. jangankan pasangan calonnya saja belum kelihatan.
Dan tak ku pungkiri hatiku masih menyimpan rasa untuk malik walau hanya sedikit yaa hanya sedikit saja. Gak mudah memang melupakannya meskipun sudah bertahun-tahun.
Aku juga tidak ingin menjadi penyebab retaknya hubungan mereka meskipun sebenarnya hubungan mereka sudah renggang saat ini, tapi bukan berarti aku mengambil kesempatan kan.
"sudah-sudah jangan bahas ini lagi gak denger apa uda adzan dzuhur, yukk kita siap-siap" ajak ibu memecah keheningan
_____
dek udah tidur ? kakk masuk ya
Aku yang memang belum tidur pun duduk kembali menyandarkan kepala.
"dek, kakk mau tanya ini ya, kamu beneran gak suka sama Hendra temen kamu itu ?" enggk kak jawabku langsung.
"padahal dia ganteng lo dek, kata ibu dia juga punya perusahaan sendiri ya ? itu pas dia datang kesini ibu tanyak-tanyak sama dia"
"ganteng juga gak jadi jaminan orang bakal setia kak belum tentu baik akhlaknya juga"
"jadi menurutmu dia itu gak setia gitu atau dia itu suka main perempuan gitu, soalnya kan biasanya kalo bos-bos yang ada di kota-kota besar kan gitu sii ya"
"kalo dia mah setahuku enggak si ya kak, keluarganya juga baik gak memandang orang lain dari status sosial"
"ehh kamu kok tahu bener si seluk beluk dia, kakak jadi gak yakin kalo kamu gak punya perasaan sama dia "keponya bukan main kakak ku ini
"ya kan aku temen kuliahnya kak hampir empat tahun lo aku disana satu komunitas pulak sama dia dan kami juga beberapa kali di boyong sama dia ke Jogja free semua akomodasi dari dia, mama papanya juga welcome aja gak pilih-pilih soal temen anaknya. apalagi dia anak tunggal" ceritaku yang buatnya manggut-manggut saja
"apa jangan-jangan kamu masih suka sama Malik ?" selidiknya
__ADS_1
"apaan sii kak, dah ahh aku ngantuk mau tidur balik gih sana ke kamarmu"
______
Ting...
notif baru masuk di pagi buta ini.
dengan malas ku buka
membelalak mataku membaca isinya
"maksudnya apa coba dia kirim pesan begitu ngajak ketemu segala" dengkus ku kesal
Padahal minggu ini aku berencana mau ke pabrik mini ku untuk ngecek stok persediaan bahan untuk di gerai.
Sengaja hanya ku baca tanpa membalas
Ting.... masuk lagi pesan darinya...
"kalau tidak ada jawaban aku anggap kamu setuju dan aku jemput jam sepuluh"
"aku sibuk hari ini" balasku segera lalu mematikan HP ku
_____
Aku yang memang telah siap berangkat mendadak berhenti sejenak saat sebuah mobil masuk halaman rumah.
Ni anak beneran nekat ya, pengen banget cakar-cakar mukanya itu.
Sebelum dia turun aku segera masuk kembali kerumah tapi naas ibu sudah melihat nya datang.
"Assalamualaikum " ucapnya
Waalaikumussalam jawabku berbarengan dengan ibu
"ehh nak Malik sudah datang, untung saja Shofie belum berangkat. ibu lupa nyampein sama kamu nak kalo hari ini Malik minta izin sama ibu mau ajak kamu keluar, kamu gak papa kan berdua saja soalnya kakakmu siang ini harus balik ke Indekosnya " kaget bukan main rupanya dia langsung minta izin sama ibu
" harusnya ibu tanya dulu dong aku mau atau tidak aku ada keperluan lain apa tidak" kesal ku
"kamu kan sudah bilang kalo hari ini mau cek bahan di pabrik saja kan ? jadi ibu rasa kamu ada waktu senggang" sanggah ibu
" bu tapi tetap saja gak enak pergi berdua, ibu tau kan aku paling tidak bisa"keluhku
Ku lihat Malik diam seperti tidak berdosa, andai dia gak izin sama ibu aku sudah pasti tidak menjawab ucapan ibu.
" Kalian sudah dewasa, kamu pasti bisa kamu harus coba anggap saja ini latihan"
Tanpa membantah lagi ku turuti maunya ibu.
__ADS_1
Entah kemasukan apa ni orang pake bukain pintu segala, kemana sikap dinginnya itu
Sepanjang jalan sepatah katapun tak keluar dari mulut kami, ku pandangi luar jendela saja sangking kesalnya.