Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Prov Malik


__ADS_3

Tidak biasanya Ayah telfon pagi-pagi begini, padahal tadi baru ketemu di rumah.


Setelah menerima telfon dari Ayah aku pun langsung memutar arah jalan dari kantor menuju Rumah sakit tempat dimana Abahnya Shofie di rawat. Setelah sampai aku pun menuju ke ruangan di mana Ayah juga berada di sana.


"Yah, ada apa sepertinya darurat sekali ?"


Ayah Malik menceritakan apa tujuan dia datang ke sini dan menyampaikan pesan Abah Shofie saat mereka bertemu beberapa waktu lalu.


"Apa kau bersedia ?"


"Bersedia Yah, tapi aku dan Shofie sepakat untuk menyampaikan ini setelah beliau keluar dari Rumah Sakit"


"Yang terpenting kamu bersedia, masalah Shofie Ayah rasa dia juga bersedia mengingat kondisi Pak Rasyid yang semakin melemah, Dia juga lagi menuju ke sini, sebaiknya kita tunggu di dalam"


Setelah setengah jam Shofie pun tiba di sini. Dengan permintaan Abahnya Shofie juga siap menikah saat itu juga. Aku merasakan kekhawatiran sangat dalam diri Shofie.


Setelah semua siap akupun berjabat tangan dengan Pak Rasyid karena beliau sendiri yang akan menikahkan kami. Terasa bergetar saat kami berjabatan tangan.


Alhamdulillah dengan sekali tarikan nafas sah sudah kini aku dan Shofie menjadi suami istri dalam waktu yang singkat.


"tolong jaga anak Abah dengan baik, sayangi dia seperti Abah menyayangi dia selama ini Abah yakin kamu lelaki yang memang Allah takdirkan untuk Shofie" ucap Abah lirih saat ku peluk.


Wajah kebahagiaan gak bisa di tutupi oleh kedua keluarga. Tapi itu tidak berlangsung lama. Pasalnya kondisi Pak Rasyid melemah dan kritis yang membuat kami jadi cemas.


Kabar yang di sampaikan dokter pun membuat Ibu mertuaku jatuh pingsan. Semua yang berada di situ masih tidak menayangkan jika secepat ini dia pergi.


Setelah semua selesai kami oun menuju kediaman Almarhum.


Tak sanggup rasanya melihat wanita yang baru saja menjadi istriku ini menangis tanpa henti. Sakitnya di tinggal oleh lelaki yang menjadi bahunya bersandar selama ini.


Akupun memutuskan untuk tidak pergi ke kantor sampai beberapa hari, dan selama itu pula aku mengurus diri sendiri. Shofie juga belum bicara beberapa hari ini, sampai pada malam ke tiga barulah Ia mengajakku tidur di kamarnya, karena memang selama ini aku tidur di sofa ruang tamu yang membuat badanku pegal-pegal.

__ADS_1


Shofie yang gelisah dalam tidurnya pun selalu mengganti posisi tidurnya ke kanan dan kiri, ku pikir dia belum terbiasa ada teman tidurnya.


Aku hendak pindah tidur namun di larang dan kamipun kembali tidur. Aku sengaja memeluknya dari belakang biar dia mulai terbiasa, nampak sekali dia terkejut saat di peluk begini.


"Aku gak akan meminta hak ku sebelum kamu benar-benar siap, tidurlah besok aku sudah mulai bekerja"


"kamu gak marah ?"


" enggak, aku mengerti kalau kamu masih merasa kehilangan dan aku siap menunggu"


"terimakasih sudah mengerti, maaf jika aku selalu saja buat mu menunggu dati dulu bahkan sudah jadi istri mu pun kamu tetap harus menunggu hakmu"


"kamu gak salah jadi stop meminta maaf"


"Malik, apa kau bahagia ?"


"tentu saja aku bahagia, bertahun-tahun aku menantimu, kau tahu, Aku mngkin bisa menahan diriku untuk tidak menghubungi mu dalam waktu yang lama tapi aku gak bisa menahan diri untuk gak rindu sama kamu"


"pertanyaan apa itu, apa kamu gak bisa ngerasain saat kita pernah beberapa kali bersama ?"


"selama itu apa kamu gak kangen aku ?"


"Kalau kamu tanyak aku kangen gak sama kamu uda pasti aku kangen pake banget. Mana mungkin aku gak kangen sama orang yang ada di hati aku"


"aku pikir aku terlambat untuk mendapatkan mu lagi"


"dan nyatanya kita bersama kan, apapun yang terjadi aku akan berusaha untuk bahagiakan kamu".


Pagi pun datang kami sholat Subuh bersama tak lupa ku kecup keningnya agar dia terbiasa. Aku ingin memulai dengan hal-hal yang kecil agar Shofie merasa tak terburu-buru untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang Istri.


Hari ini aku izin padanya untuk meeting ke Jakarta, siapa sangka respon yang dia berikan cukup buatku terkejut. Dia seperti tak ingin ku tinggal. Shofie yang sibuk menyiapkan keperluanku pun ku ajak untuk duduk di sisi ranjang. Ku berikan Ia sebuah cincin yang ku persiapkan untuk melamarnya saat nanti Abahnya pulang dari Rumah Sakit tapi rencana Allah tak pernah kami duga.

__ADS_1


Shofie yang memelukku pun sedikit terkejut saat ku kecup bibirnya sekejap. Selesai bersiap Shofie pun menyalami tanganku seraya mengecup bibirku.


Shofie yang sedikit membuka mulutnya pun membuat Malik mengambil kesempatan untuk memperdalam ciumannya, tak lupa ia mengabsen setiap giginya.


Aku merasa Shofie ingin merasakan lebih pun tak luput dari godaanku saat kami menyudahi aksi ini.


Wajahnya yang memerah pun buatku tak sabar untuk cepat pulang.


________


"Apakah pekerjaan mu masih banyak bahkan sampai di rumah pun kamu tetap harus bekerja ?"


"tidak, hanya mengecek email masuk saja"


"Baiklah aku tidur dulu ya, kalau sudah selesai pekerjaan mu cepatlah tidur"


Aku langsung saja menutup laptop ku kala Shofie tidur membelakangi ku.


Kupeluk ia seperti malam kemarin namun Ia sudah tak terkejut seperti yang sudah-sudah saat ku peluk.


Karena iseng ku masukan tanganku ke dalam piyama tidurnya seketika ia membalikkan badannya menghadap ku.


"Kau ingin sekarang ?"


"aku tidak akan memaksa mu"


Shofie dengan cepat ******* bibirku kesempatan ini tak ku sia-siakan begitu saja. Ku balas setiap lumatannya semakin dalam.


"beri aku sedikit waktu lagi, aku janji akan secepatnya memberikan hak mu"


"iya tak apa aku akan menunggu"

__ADS_1


Kening mereka bersatu dan ia tidur dalam dekapan hangat Malik malam ini.


__ADS_2