Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Kecelakaan


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu tanpa terasa bahagia kini selalu membersamai kehidupan Shofie dan Malik. Kisah cinta yang sedikit memakan waktu membuat mereka tak menyerah akan keyakinan mereka untuk tetap sabar menunggu mendapatkan kembali cinta mereka.


Memasuki bulan ke tujuh pernikahan, Shofie selalu merasa was-was kepada dirinya sendiri sebab sampai saat ini belum ada tanda-tanda ia akan hamil.


Sebagai suami, Malik selalu menyabarkan hati istrinya ini agar selalu bersabar untuk kedatangan buah hati, sebab segala cara sudah mereka lakukan dari mulai pemeriksaan ke dokter yang hasilnya baik-baik saja dan meminum ramuan yang di sarankan orang tua juga sudah mereka lakukan namun nasib memang belum berpihak pada sepasang suami istri ini.


Tak ingin ikut larut dalam suasana istrinya, Malik kerap kali membawa Shofie ikut dalam perjalanan bisnisnya ke luar kota berharap istrinya melupakan masalah momongan.


Seperti saat ini mereka sedang berada di Sulawesi. Tepatnya kota yang beberapa tahun silam terjadi tsunami.


"yang, aku di sini aja ya gak ikut nemenin kamu, selesai meeting kita langsung balik pulang kan ?"


"iya, yasudah kamu istirahat ya, nanti kalo siap meeting aku jemput kamu"


Setelah suaminya pergi ia pun berkemas memasukkan pakaian mereka ke dalam koper.


Sesuai rencana awal, setelah meeting mereka pun langsung menuju bandara. Bima selaku sekretaris Malik pun selalu setia dimana pun bosnya itu berada.


Dalam perjalanan menuju rumah mereka, Bima mendapat telfon bahwasanya Client yang ada di Singapura meminta memajukan meeting hari ini juga yang membuat Malik merasa sangat lelah karena perjalanan hari ini, namun bukan malik namanya jika tidak bisa menyanggupinya.

__ADS_1


"Yang, selesai aku antar kamu pulang aku langsung pergi ya, pertemuan besok di majuin hari ini dan itu satu jam lagi, kamu gak papa kan aku tinggal dulu ?"


Karena sudah terbiasa dengan jadwal sang suami ia pun tak bisa untuk tidak terima.


"nanti aku ke rumah Ibu ya mas, aku kangen Ibu"


"iya, tapi di anter sama kang Adi ya, aku gak ngizinin kamu pergi naik motor walaupun itu hanya di kampung"


"iya sayang"


Setelah Shofie turun mobil mewah Malik kembali menuju tempat yang sudah di janjikan oleh clientnya.


Kejadian itu cepat di tangani polisi dan beberapa kendaraan yang menjadi korban juga cepat di bawa ke rumah sakit.


Shofie yang sedang bersiap menuju ke kediaman Ibunya mendapat kabar suaminya kecelakaan shok dan tubuhnya lemas seketika. Bi sumi yang mengetahui majikannya ambruk di depan pintu turut membantu dan memberi tahukan kabar itu ke keluarga yang lain.


Shofie dengan kondisinya yang masih lemah memaksakan diri pergi ke rumah sakit di mana suaminya berada. Sampai disana mertuanya dan juga Ibunya juga sudah berada di sana.


Dengan deraian air mata yang tak henti ia berhambur memeluk Ibunya. Tangisnya luruh memikirkan nasib suaminya kini yang belum diketahui.

__ADS_1


Setelah tiga puluh menit ruang IGD terbuka, Dokter yang keluar pun memberitahu kan bahawa pengendara mobil yang selamat hanya satu orang dan yang satunya lagi masih kritis.


Semua orang yang mendengar kabar itu berdoa dalam hati semoga siapapun yang dalam kondisi kritis kondisinya lekas membaik.


"Yah, sebaiknya kamu cek ke dalam bagaimana keadaan Malik dan juga Bima" titah bu Susi pada suaminya.


Setelah di pastikan ternyata yang masih dalam kondisi kritis ialah Malik.


Keluarga Bima yang sudah tiba turut berkumpul bersama keluarga bosnya ini saling menguatkan satu sama lain.


Bima yang sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan turut merasa bersalah. Ia merasa lalai dalam berkendara dan menjaga keselamatan bosnya itu.


Malik yang saat ini masih berjuang dengan segala alat bantu medis membuat keluarga merasa cemas. Pasalnya sudah hampir empat jam ia belum sadarkan diri.


"Kamu yang kuat nak, Ibu yakin suamimu kuat pasti dia bisa lalui ini semua" bu Susi menyabarkan menantunya yang masih terisak.


"Yah, apa gak sebaiknya kita bawa Malik le luar negeri saja" ujar bu Susi pada suaminya.


"Sabar bu, kita liat perkembangan Malik dulu, jika kata dokter memungkinkan untuk di bawa kita segera urus semuanya"

__ADS_1


"mas, kamu bangun mas, jangan seperti ini, kamu janji akan pulang cepat kan mas" batin Shofie melihat tubuh suaminya dari balik kaca.


__ADS_2