
"Aku ingin memberitahu mu kalau Ibuku baru saja sembuh dari sakitnya, tapi begitupun aku tetap mengkhawatirkan dia. Dia selalu saja memikirkan aku di sini. Dia merasa khawatir dengan keadaan ku yang belum menikah sedangkan dia sekarang sakit-sakitan. Aku bingung Malik saat ini aku sedang menyelesaikan studi ku yang beberapa bulan lagi akan selesai, tapi melihat keinginan Ibu yang begitu kuat aku jadi tidak fokus"
"Lalu hubungannya dengan ku apa ? apa kamu ingin memintaku untuk menikahimu begitu ?"
Pertanyaan ini terdengar seperti tak ada perasaannya sama sekali, bukankah dia menaruh perasaannya padaku, ah aku hampir lupa, aku baru ingat tentang status terakhir dia. Mungkin memang sudah berubah, dia gak salah akulah yang merubahnya aku yang terlalu mempermainkan waktunya.
"Menurut mu bagaimana ?"
"Bukankah keinginan menikah mu itu masih di tunda sementara ? lalu setelah kejadian ini kenapa baru kepikiran, kemarin kemarin kemana ? sudah jelas jelas ada pintu yang terbuka kamu masih saja menunggu di pintu yang tertutup. Tak kamu pikirkan perasaan orangnya gimana bertahun tahun lamanya selalu di acuhkan hanya karena satu kesalahan"
Malik meletakkan sendok lalu meminum air putih yang sudah tersedia dan meneguknya sampai habis.
"Jika dengan menikah saat ini bisa buatmu merasa lebih baik carilah seseorang yang bersedia menerima nya dengan lapang dada, teman kuliahmu misalnya"
Deg banget. Apa coba maksudnya, dia benar-benar tidak ingin bersama denganku dia begitu kecewa lalu harus ku letakkan dimana perasaan ku ini ?
Teman kuliah, Hendra maksudnya ??? yang benar saja aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai, bagaimana bisa dia berfikir seperti itu.
__ADS_1
"Lebih baik menikah dengan orang yang mencintai kita dari pada menikah dengan orang yang kita cintai itu jauh lebih baik "
"Maksudnya ?"
"aku rasa kamu sudah mengerti apa yang ku katakan tadi , baiklah aku bersiap dulu sebentar lagi aku akan mengantarmu "
"tidakkah lebih baik menikah dengan orang yang sama-sama mencintai " gumam ku dalam hati
________
"kenapa tidak langsung ke Indekos ?"
"aku ada urusan, sebaiknya kamu menepi nanti kamu terlambat "
Dia pun menepikan mobilnya.
"Terimakasih untuk semuanya Malik, maaf sudah terlalu merepotkanmu selama ini, mungkin ini yang terakhir aku meminta tolong padamu setelah ini aku janji tidak akan merepotkan mu lagi " ucapku sebelum turun dari mobilnya.
__ADS_1
"besok aku akan pulang ke Medan, apa kamu tidak ingin pulang juga ?"
"buat apa, aku baru saja kembali ke sini, aku akan memulai semuanya lagi dari awal tapi tidak dari tempat asal ku melainkan di kota ini, aku permisi dulu terimakasih selamat tinggal "
Ya Allah sakit rasanya mendengarkan ucapan ku sendiri. Beginikah rasanya di acuhkan dengan orang yang kita cintai.
Mungkin ini yang selalu dia rasakan saat dia mengutarakan perasaannya tapi di tolak.
Entah berapa lama aku duduk di sini mengingatkan diriku dengan ucapan ku sendiri.
________
Malik melajukan mobilnya begitu saja saat aku turun. Biarlah kita memeriksa kembali diri kita sendiri pikirku.
Seberapa kuat pun aku jika dia sudah tak memiliki perasaan buatku aku tetaplah mencintai sendiri bukan seperti dulu lagi.
Akhirnya aku percaya dengan kata-kata "Suatu saat wanita akan di beratkan dengan dua pilihan, pertama : menunggu laki-laki yang di cintainya melamarnya atau kedua : menerima lamaran laki-laki yang mencintaimu"
__ADS_1