Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Sidang Tesis


__ADS_3

Waktu berlalu tanpa terasa kesehatan ibu juga jauh lebih baik akupun dengan tenang menyelesaikan studiku dan sebentar lagi akan sidang tesis.


Semenjak ibu sakit tiada hari tanpa menelfon Ibu, bahkan tak jarang kami video call di grup keluarga.


Sampai sidang tesisku tiba aku gugup, mengingat ini adalah ujian yang ku lalui sendiri tanpa di temani oleh keluarga maupun temanku.


Selesai subuh akupun melakukan panggilan video dengan ibu meminta doanya agar semua berjalan lancar. Tak lupa aku juga meminta doa Abah agar beliau selalu mendoakan ku.


Yang aku sendiri pun tau tanpa aku memintanya orang tua tetap akan selalu mendoakan anak-anaknya tapi bagiku mengucapkannya langsung adalah sungkem terbaik walaupun dalam jarak yang jauh.


Pukul 06.00 aku sudah bersiap menuju kampus karena sidang tesis akan di laksanakan pukul 07.30.


Segala doa aku ucapkan sambil menunggu giliran ku masuk ke dalam ruangan. Tak lupa ku kirim pesan via chat grup keluarga meminta di doakan.


Sampai tibalah giliranku masuk.


Kurang lebih satu jam aku berada di ruang sidang dan keluar dengan keputusan lulus cumlaude.


Bersyukur sudah pasti karena semua yang ku lakukan mendapatkan hasil yang sesuai dengan kerja kerasku.


Selama sidang aku sengaja mematikan notifikasi HP ku dan setelah keluar barulah aku mengecek aplikasi hijau.


Banyak sekali panggilan telepon dari kakak kakakku, langsung saja aku menghubunginya kembali.


"Assalamualaikum kak Laila, maaf ya notif aku matiin...." tiba-tiba saja kak Laila menangis sesenggukan sampai buat aku bertanya-tanya.


"Kak ada apa kok nangis ?"


"Dek, Ibu di larikan ke rumah sakit lagi dan tadi pas di jalan ke rumah sakit ibu nanyakin kamu terus, kamu pulang sekarang ya dek"


"Iya aku pulang sekarang juga"


Demi apapun hatiku hancur sekali mendengar kabar ini. Padahal hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh ibu, bahkan Ibu pernah berucap akan datang ke Jakarta untuk melihatku wisuda sekali lagi tapi sekarang ia kembali harus dilarikan ke rumah sakit lagi.


Selesai menerima kabar itu akupun langsung kembali ke indekost untuk berkemas dan langsung menuju bandara.


Di dalam pesawat tak hentinya air mataku jatuh, bagaimana tidak, semua harapan dia telah ku penuhi. Hanya satu saja keinginannya yang belum bisa aku penuhi.


________


Di Rumah Sakit


"Bu, ibu" ku peluk wanita yang selalu menjadi panutan ku yang terbaring lemah.


"Kamu sampai nak"


"Iya bu Shofie sampai, Shofie pulang, Shofie lulus bu dengan nilai yang memuaskan. Ibu senang kan ?"


"Alhamdulillah Ibu bangga sama kamu nak, kamu pasti lelah kan, kamu makanlah, pasti kamu belum makan kan ?"

__ADS_1


"Shofie belum lapar bu"


"Nak, betul kata Ibumu kamu makan saja dulu biar Abah yang menemani di sini, kakak kakak mu juga sedang makan di kantin Rumah Sakit, pergilah jangan sampai kamu ikut sakit juga"


"Baiklah Bah sebentar lagi Shofie akan makan, tapi Shofie ingin di sini sebentar lagi dengan Ibu"


_________


Di kantin Rumah Sakit akupun bertemu dengan ketiga kakakku. Begitu melihat ku Kak Laila langsung memelukku seolah menguatkan aku.


"Kamu yang kuat, ada kami di sini jangan lemah kasihan Ibu" ucap kak Laila memelukku


"Aku takut kak, Aku takut belum bahagiakan Ibu, Ibu punya keinginan yang belum bisa aku penuhi"


"Duduk dulu tenangkan dirimu"


Kak Nadrah memberikan segelas air hangat lalu ku teguk perlahan. Beban seolah belum berkurang.


Keinginan Ibu yang terakhir adalah melihatku menikah tapi sampai detik ini juga belum ada yang bisa buatku mencari pengganti Malik.


Malik mungkin sudah tidak memiliki perasaan padaku jadi untuk apa lagi aku berharap dengannya.


"apa aku harus meminta Hendra untuk menikah denganku agar keinginan Ibu terpenuhi, tapi aku belum bisa menerima Dia sebagai suamiku meskipun Dia bersedia, jika memang ini satu-satunya cara yang harus aku ambil kenapa harus berlama-lama, aku harus berkorban untuk Ibu" batinku


"Shofie, hey kok malah ngelamun" kak Nadrah membangunkan ku dari lamunan.


"enggak kok" ku tarik nafas panjang " Aku ingin penuhi keinginan Ibu yang terakhir kak"


"Apa itu Shof "


"Menikah" ucapku mantap


"Kamu yakin, dengan siapa ? selidik kak Zahra


"Nanti kalian juga tau, yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan Ibu"


"Dek, jika belum mantap dan yakin saran kakak jangan dulu, kami tau niat kamu untuk ngebahagiain Ibu, tapi kalau nantinya akan buat kamu gak nyaman di hubungan kamu nanti lebih baik jangan dek. Menikah karena kamu yakin, nyaman dan saling mencintai tanpa harus memaksakan" nasihat kak Laila


Entahlah akupun bingung sebenarnya tapi di sisi lain aku merasa waktu ibu gak banyak lagi, aku ingin melihat Ibu bahagia di hari-harinya kedepan.


Jika memang menikah dengan Hendra adalah caranya maka aku harus segera memberi tahunya untuk datang ke sini.


"Yuk kita Balik kasian Abah sendiri di kamar" ajak kak Nadrah


________


Ketiga kakakku kembali pulang begitu juga dengan Abah. Malam ini aku yang menginap di sini.


Banyak sekali yang diceritakan Ibu dari dia mengandung ke empat orang putri, melahirkannya, masa kanak-kanak kami bahkan saat melepaskan ke tiga kakak ku menikah semua itu seolah menariknya kembali ke masa-masa itu.

__ADS_1


"Bu, sudah malam ni, kita tidur yuk" ajakku


"Iya, Ibu senang kamu nemani Ibu di sini"


________


Pagi-pagi sekali Ibu sudah terbangun dan katanya ingin makan bubur ayam. Baiklah untuk itu aku segera pergi keluar untuk mencarinya karena di Rumah Sakit tidak ada.


"Bu, Shofie keluar dulu ya cari buburnya, kalau Ibu ingin sesuatu Ibu tekan tombol ini nanti suster akan datang"


"iya, jangan lama ya"


"siap Ibuku"


_________


Setelah menyuapi Ibu sarapan bubur ayam Kami pun bercerita banyak, Ibu antusias sekali saat ku ceritakan bagaimana proses sidangkan kemarin sampai kabar ibu di larikan ke Rumah Sakit lagi.


"Maafin Ibu ya buat kamu cemas, Ibu juga gak tau kenapa tiba-tiba penyakit Ibu kumat lagi." Ibu meraih tanganku dan menggenggam tanganku.


"gak papa Bu, jangan banyak pikiran dong bu, kan katanya mau liat aku wisuda kan"


"Iya nanti kita semua akan ke Jakarta untuk wisuda kamu nanti"


tok tok tok


"Dahliaaaaa" teriak Bu Susi saat memasuki kamar rawat Ibu di susul dengan suaminya


"Lekas membaik loh ya seneng banget kamu ini nginap di sini" goda Bu Susi


"Seneng enggak suntuk iya sus"


"Bagaimana keadaannya Bu Dahlia ?" tanya pak Herman


"Alhamdulillah seperti ini saja sehat sehat gitu namanya juga sudah tua ya kann"


"Aku tidak melihat Pak Rasyid, Dimana Dia "


"Aku di sini Her" Abah membuka pintu masuk dengan tentengan buah kesukaan Ibu


"wah wah, dari mana saja ini pak Rasyid baru kelihatan ?"


"Baru sampai, kebetulan yang bermalam di sini Shofie saya dan anak-anak yang lain pulang bergantian"


"Jadi Shofie sendirian yang jaga kamu Dahlia ? wah Nak Shofie hebat kamu selalu ada buat Ibumu padahal kamu kan lagi di Jakarta kan, beruntung kamu Dahlia punya anak seperti Dia, gak semua anak siap segera dengan kondisi orang tuanya"


Ku tinggalkan Ke empat orang ini di ruangan sedangkan aku pergi ke luar untuk mencari udara segar.


"apa sekarang saja aku hubungi Hendra ya untuk maksudku ini "

__ADS_1


Segera ku cari kontak Hendra untuk ngomong secara langsung


__ADS_2