
"Kamu gak papa kan kalau aku tinggal ?"
"hemmm" aku pun berlalu ke kamar.
"kok hemm apa kamu gak mau aku tinggal ?"
Malik sengaja menggoda sebab dia baru kali ini gemas melihat istrinya yang di rasa tak ingin di tinggal.
"kamu tetap harus berangkat kan, pekerjaan mu pasti sudah menumpuk karena beberapa hari tidak masuk"
"Jadi kalau menurutmu pekerjaanku tidak banyak, apakah kita akan berduaan di sini ?"
"jangan menggodaku Malik, kamu yakin pulang lagi ke sini gak mau menginap saja ? nanti kamu lelah gimana, aku gak papa lo kalo kamu tinggal, lagian kan ada Ibu "
"Aku rasa lelah ku akan cepat hilang kalau ketika pulang di sambut dengan Istriku"
Entah kapan dia berdiri di belakangku sampai aku tak tau dia di belakang ku.
"aww kamu ngapain si bikin terkejut tau gak ?" ujarku yang terkejut saat mundur ternyata bertabrakan dengan badannya.
"Kamu sibuk ngapain si ? mari ikut aku"
Malik menuntunku duduk di sisi ranjang, Ia mengambil sesuatu dari dalam nakes. Dia membukanya yang ternyata isinya adalah cincin lalu menyematkannya di jariku.
"Malik, kamu sungguh"
"Waktu Ijab Qobul di Rumah Sakit aku gak kasih kamu apa-apa kan, nah ini memang sengaja aku siapin sewaktu kita mulai berhubungan kembali dan ini sebagai hadiah buat kamu atas pernikahan kita"
"terimakasih ya"
"Hanya makasi saja"
"Lalu kamu mau apa"
Malik seraya merentangkan kedua tangannya, aku yang paham pun langsung memeluknya.
"Jadilah bahu ternyaman buatku bersandar"
Karena merasa sudah lama aku pun merelai pelukan dan Malik tiba-tiba saja menarik tengkuk ku dan mendaratkan bibirnya di bibirku sekejap lalu beranjak berganti pakaian kantornya.
Aku merasa jadi istri yang berdosa membiarkannya harus tetap menunggu. Ketika dia bersiap dengan pakaiannya dia pun menghampiri ku yang duduk di kursi rias.
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya, aku usahain pulang cepat hari ini"
Ku salami lelaki yang bergelar suami ini. Ku benarkan posisi dasinya yang sedikit miring. Dengan sedikit berjinjit ku kecup bibirnya yang tipis itu.
Malik yang merasa mendapat sinyal pun memperdalam tautan bibirnya. Seolah tak membiarkan aku bernafas dulu sampai akupun terengah-engah.
"apa kamu ingin ?" tanya malik menaik turunkan alisnya.
"Kamu harus bekerja, aku akan menunggumu kembali"
Malik memeluknya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya "Aku bisa saja membatalkan meeting hari ini jika kau mau" bisiknya di telinga Shofie.
"hey apa kamu tak sabar menunggu malam tiba ini masih pagi "jawabku tersipu malu.
Naluriah seorang wanita dewasa pasti ingin merasakan sentuhan yang lebih dari ini. Tapi aku masih bisa menahannya. Tapi Malik ? mudah mudahan dia juga sama.
"Baiklah, mari ku antar ke depan"
________
Ku memasuki kamar ibu, ku lihat dia duduk di dekat jendela sambil menatap foto Abah.
"Bu, pasti kangen ya sama Abah ?" ibu hanya mengulas senyum "Shofie juga kangen banget sama Abah, Ibu benar Abah pasti bahagia melihat anaknya semua kini sudah memiliki lelaki yang dapat menjaga anak-anaknya. Kami pun bahagia walaupun sudah tak bersamanya tapi ada Ibu yang selalu bisa buat kami ingat tentangnya"
"Sudah Bu baru saja"
"Nak, apa Malik memperlakukan mu dengan baik ?"
"sangat baik bu"
"Ibu harap kamu bahagia dengan nak Malik, ini ambillah " ibu menyerahkan gelangnya yang berada di dalam lemari "ini pemberian Abah dulu setahun pernikahan kami, karena saat itu hidup kami begitu pas-pasan jadi untuk membeli ini butuh satu tahun lamanya Abah menabung untuk hadiah pernikahan kami, kamu simpan ini, anggap ini hadiah pernikahan mu dari Abah" ucap ibu sambil berkaca-kaca.
"tapi inikan kenang-kenangan dari Abah untuk Ibu"
"Ibu ikhlas nak, Ibu hanya ingin kamu merasa adil atas pernikahan mu ini, dulu saat kakak mu menikah mereka juga dapat hal yang sama dari kami, tapi saat ini Abah sudah tak ada lagi, jadi Ibu rasa inilah kenang-kenangan berharga kami untuk hadiah pernikahan putri kecil kami"
Aku menerimanya dengan tatapan nanar. Mataku mengingat kembali saat dulu Abah membelikan aku gelang saat duduk di bangku tiga SD. Beliau sepulang kerja dengan mengayuh sepedanya mengajak ku ke kota untuk memberiku hadiah ini atas juara kelas yang ku dapat.
Ia merogoh kantongnya yang berisi uang gajinya yang di masukkan ke dalam kantong plastik. Dengan bangganya dia memilihkan gelang yang paling aku sukai yang ada bandul Hello Kitty. Setelah dirasa pas dengan senyumnya yang mengembang dia memakainya di pergelangan tanganku. Dia pernah bilang "setelah sekian lama bekerja baru kamu anak Abah yang bisa Abah belikan seperti ini".
Sepulang dari toko kami mampir di warung bakso langganan Abah dan Ibu. Abah adalah sosok penghapal kesukaan anak-anaknya. Tanpa di beritahu Dia sudah tau apa yang aku sukai.
__ADS_1
Ahhh indah sekali masa kecilku.
"kok kamu malah nangis ?"
"ini tangisan bahagia bu namanya, terimakasih untuk semuanya ya bu"
_________
Menjelang Magrib Malik mengirimkan pesan singkat yang mengatakan dia sudah berada di Bandara Kualanamu yang artinya dia akan tiba di rumah tidak sampai dua jam lagi.
Aku bergegas ke dapur menyiapkan makanan dan setelahnya membersihkan diri.
Tepat pukul enam sore Malik tiba. Akupun menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Ibu kemana ?"
"Tadi kak Zahra datang ke sini dan Ibu ingin menginap bersamanya"
"menurutku mertuaku itu sangat pengertian sekali"
Aku mengernyitkan keningku tanda tak mengerti.
"Pakaian mu sudah aku letakkan di atas tempat tidur, aku akan menyiapkan makan malam kita"
Cup
Malik tiba-tiba mengecup bibirku yang membuatku terperanjat.
"masih kaget ya"
"Sudah mandilah dulu"
Dia berlalu ke kamar mandi sedangkan aku ke dapur menyiapkan makanan.
"Masak apa malam ini ?"
Tanya Malik saat duduk di meja makan.
"Asam manis ikan nila sama tumis kangkung"
"apakah kamu yang masak ?"
__ADS_1
"tentulah istrimu ini yang masak, jadi siapa lagi "
Selesai makan aku segera membereskan piring kotor sedangkan Malik kembali ke kamarnya.