Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Orang Itu Bukan Aku


__ADS_3

Habis Dzuhur Malik menjemput ku di rumah sesuai janjinya untuk langsung izin pada Abah.


Dalam perjalanan kami pun saling diam dengan pikiran masing-masing.


Hujan turun entah sejak kapan karena aku tertidur sepanjang jalan tadi dan terbangun karena merasa udara yang amat sangat dingin menyentuh tulang.


Mataku terbelalak saat ku arahkan mataku keluar jendela. Pemandangan ini pamiliar sekali.


Malik yang menyadari aku terbangun pun menatapku intens sambil senyum simpul.


"uda bangun" ujar Malik


"kok kita bisa ke sini, ini kan terlalu jauh dari rumah malik aku takut mereka khawatir jika pulang malam"


"memang, ini tujuan ku mengajak mu, dan aku sudah bilang kalau kita akan ke sini dan nanti malam mereka akan nyusul bersama orang tuaku juga"


"apa?????? besok aku harus bekerja, aku harus bilang apa sama pamanku kalau aku tidak masuk ? kan gak mungkin bilang aku lagi jalan-jalan kan ini masih rabu" terasa naik sasak ku.


"aku juga uda izin langsung dengan pamanmu dan beliau mengijinkan"


" tapi gak bisa gitu juga dong, jangan memutuskan sepihak la enak di kamu gak enak di aku tau"


"siapa bilang enak di aku, aku juga besok ada meeting tapi karena ini aku batalin aku kosongin jadwal untuk besok"


"memangnya besok ada acara apa sampai-sampai tuan bos yang terhormat membatalkan meeting haa?"


Dia gak langsung ngejawab


Di sinilah kami di kota sejuknya Sumatra Utara di sebuah villa yang cukup megah si ku bilang karena hanya ada beberapa unit saja dengan look memandang ke gunung ahh semua terasa indah sekali.


"kita istirahat dulu sebelum jalan-jalan" ajaknya sambil berjalan memasuki villa berlantai dua itu.


Villa ini terdiri dari 3 kamar yang terbilang cukup luas, ruang keluarga, kolam renang serta mini bar yang menyatu dengan dapur.


Aku yang memilih masuk kamar pun enggan untuk keluar karena di sini hanya ada kami berdua saja.


Takut sekali dia berbuat yang macam-macam karena yang namanya setan bujuk rayu tiou muslihat nya sungguh kuat dan aku sadar diri dengan imanku yang lemah ini.


Tok tok

__ADS_1


"deg deg an dong siapa lagi kalo bukan malik yang ngetuk pintu


"non ini saya mau mengantarkan pakaian ganti untuk non shofie dari den Malik"


apa ?? baju gantiii,,,,aku hampir lupa jika aku bermalam di sini


Ku buka pintu itu dan bibi itu langsung menyodorkan bag sedang yang berisikan keperluan ku


"terimakasih ya bi, oiya bibi di sini juga kan ?"


"enggak non, bibi tinggal di luar villa cuma ada non sama den Malik saja, kalau begitu bibi permisi dulu ya non.


Sore mulai beranjak dan aku yang merasa lapar pun terpaksa turun ke bawah untuk mencari makanan.


Ku lihat di atas meja sudah ada cake strawberry dengan Fla yang menggugah selera.


Akupun menarik kursi dan hendak memakannya.


"makanlah selagi hangat karena jika sudah dingin tidak enak lagi" ucap malik yang tiba-tiba datang dan duduk di sebrang ku


Aku yang tadinya lapar pun berakhir kikuk karena terus di pandanginya.


"perlu aku suapin"


Begitulah dia sepanjang aku menghabiskan makananku hanya terus senyum memandangiku.


"sebenarnya tujuan kamu apa ngajak aku ke sini sampai buat aku cuti besok ?


"untuk yang ke sekian kalinya tujuanku tetap sama, Maaf"


ku hembuskan nafasku pelan, kalau cuma minta maaf ngapain jauh-jauh sampai sini si pikirku, di rumah juga bisa kan(batinku)


"Malik, perlu berapa kali aku umumin ke kamu kalo aku udah maafin kamu ikhlas lahir batin malahan, jadi stop untuk ngerasa bersalah, malah dengan kamu seperti ini aku yang jadi ngerasa salah tau gak"


"aku mau cerita segalanya sama kamu di sini"


Mulailah iya bercerita ngalor ngidul dari rasa senang kecewa amarah sampai rasa trauma nya juga di ceritakan dan yang paling bikin aku jadi jantungan adalah tangannya yang terpaut dengan tanganku dan ucapan uang bikin aku jadi melting


" aku masih punya perasaan yang sama seperti dulu dan aku dengan sungguh berniat ingin melamarmu untuk jadi istriku, aku tidak ingin kehilanganmu untuk yang ke dua kalinya yang sudah jelas ada di depan mataku, cukup dulu aku menyia-nyiakan kamu tapi tidak untuk selanjutnya"

__ADS_1


Aku termangu mendengarnya, aku gak bisa jawab apa-apa. Apa yang dia rasain hatiku juga ngerasain hal yang sama akhir-akhir ini tapi logikaku menolaknya mentah-mentah


Ada rasa berdebar di dadaku. Dia tahu betul dengan siapa dia harus berdebar.


"Malik, semuanya gak semudah itu" ku tarik kembali tanganku


"aku tau gak mudah mengembalikannya seperti dulu shof, tapi ku mohon beri aku kesempatan sekali saja, aku gak bisa terus seperti ini, semua menyiksa ku shof"


"malik, satu kesalahan yang buat kamu jatuh aku yakin ada bnyak cara buat kamu bangkit lagi"


"semua udah ku lakuin shof tetap saja perginya kamu dulu jadi kesalahan terbesar ku"


"Tuhan memisahkan aku dan kamu karena dia lebih tau mana yang lebih tepat untuk kita, lihatlah kita sekarang, kita sudah dengan jati diri kita, kita gak pernah tau andai dulu kita bersama akankah sama keadaannya seperti sekarang"


"perasaanmu apa masih sama ?"


ku tanya hatiku yang ku dapat hanyalah debaran yang yang semakin cepat


"ya, masih sama, begitupun aku tak akan pernah memaksanya untuk tetap tinggal, tinggal waktu yang akan mengambilnya lagi"


"jangan, biarkan seperti itu, aku akan baik-baik saja jika rasanya masih sama dan aku akan membuatnya tetap berada selamanya disana"


"Maksudnya ??"


"untuk apa menghilangkannya, shof kau tau perasaanku masih sama sepertimu kenapa kita gak bersama aja, aku tak bisa begini shof"


"enggak, kamu bisa, Yunda sudah bertahan selama ini jangan sampai kau hancurkan hatinya sama sepertiku dulu, cukup aku saja jangan ada orang lain lagi"


"shofie sayang, Malik sudah tak bersama dengannya lagi, mereka sudah selesai, ibu lebih senang jika kamu yang jadi mantu ibu karena selain kamu anak temen ibu kamu juga sebenar benarnya cinta Malik anak ibu, jika memang nak shofie yang membuat dia jdi seperti ini apa nak shofie tidak sadar jika nak shofie jugalah obat mujarab bagi Malik" ucap ibu Malik yang tiba-tiba masuk ke dapur yang kami sendiri tak tahu sejak kapan mereka sudah berada di sini.


"tapi dia berhak bahagia dengan orang yang lebih baik bu, dengan orang yang tidak pernah membuatnya sakit, dan orang itu bukan aku"


"enggak shof, aku sakit juga karena kesalahanku bukan karena kamu, berhentilah menyalahkan dirimu, kau tahu kata dokterku aku sudah sembuh dari itu aku berani mengajakmu kesini dan memintamu jadi istriku"


ku lihat dadanya malik naik turun menyatakan perasaannya, tampak jelas berharapnya.


"shofie, Abah merasa kamu harus berfikir jernih terlebih dahulu baru kamu bicarakan ini dengan baik-baik ya istirahatlah kita semua berada di sini memang untuk membahas masalah kalian"


Masalah kami ??? aku aja gak ada hubungan apa-apa dengannya, dia seenaknya saja meninggalkan kekasihnya hanya untuk mendapatkan aku, bagaimana nanti denganku ? batinku

__ADS_1


Logikaku jelas menolaknya mentah-mentah.


Bukan aku tak ingin bersamanya ,jujur saja hati kecilku ingin sangat ingin malah tapi aku juga tidak bisa bersamanya sementara ada hati yang sedang kecewa karena ini.


__ADS_2