
Salah satu rutinitas Abah ahh lebih tepatnya sibuk tahunan menjelang Idul Adha adalah mengurus surat jalan atau mengantar hewan-hewan Qurban pesanan orang yang jauh-jauh hari sudah melalui kesepakatan bersama.
Sejak Abah pensiun dari perkebunan beliau memilih beternak untuk mengisi waktu luangnya. Yah karena para anak cucu tidak tinggal bersamanya.
Sedangkan Ibu memilih bertani yang sudah sejak kecil membantu almarhumah nenek mengingat ibuku adalah anak pertama dari sebelas bersaudara.
Sedangkan almarhum kakekku dulunya seorang santri dari ponpes terkenal di Tapanuli dan membaktikan diri di kampung ini untuk mendirikan sekolah hingga sekarang yang di lanjutkan oleh pamanku.
Kami putri-putrinya sebenarnya sudah tak mengizinkan mereka untuk melakukan kegiatan mereka itu hanya saja mereka tidak bisa meninggalkannya dengan alasan badannya akan terasa sakit jika gak ke sawah ataupun sekedar angon lembu.
Untuk itulah kami mempekerjakan beberapa orang untuk membantu mengurus ternak dan mengurus sawah.
Kesibukan sehari sebelum hari raya Idhul Adha pun terasa saat para ibu-ibu memadati pasar besar tradisional ini.
Aku yang jadi salah satu di antara mereka pun tak luput dari berdesakan.
Walau bagaimanapun ibu tetap selalu ingin belanja keperluan dapurnya di pasar, alasannya jelas lebih segar.
Dan siapa sangka ibunya Malik juga berada di pasar sepagi ini bersama dengan asisten dapurnya.
Aku jadi inget yang ibu bilang saat ku tanyakan kenapa ibu menceritakan tentangku pada ibunya Malik dan ibu juga bilang walaupun kehidupan temannya itu dikatakan lebih dari cukup atau bahkan kaya dia tetap apa adanya tak malu untuk berbelanja sendiri bahkan turun tangan soal dapur.
Sebelum subuh kesibukan sudah terasa, beberapa kendaraan pengangkut sapi dan kambing keluar masuk pekarangan rumah.
Hanya Kak Nadrah saja yang tak ikut kumpul bersama kami pagi ini karena suaminya menjadi penanggung jawab qurban di kompleknya.
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Takbir menggema dari segala penjuru.
"dek kamu sehat ? kok pucat banget mukanya ?" tanya kak Zahra setelah sampai di Masjid
"sehat kak, capek aja gak bisa tidur tadi malam"
Ya semalaman aku gak bisa tidur entah memikirkan apa. Sekarang baru terasa ngantuknya.
Selesai makan lontong soto aku pun memilih merebahkan badanku untuk memejamkan mata walau sebentar karena sebentar lagi kami akan ziarah ke makam kakek nenekku baik dari Abah maupun Ibu.
Minggu berganti bulan tak terasa hari pernikahan kak Zahra tinggal menghitung hari.
Kesibukan mulai terlihat di rumah ini, sanak saudara yang tinggal di kota lain juga telah sampai.
_______
"Saya terima nikahnya Fatimah Az Zahra binti Rasyid Elhaq dengan mas kawin satu set perhiasan di bayar tunai" ucap bg Dimas tegas saat ijab qobul
__ADS_1
Sah sah sah
Alhamdulillah
Telah selesai tugas abah nak, ikutilah langkah kemanapun suamimu pergi, carilah ridho Allah di suamimu, saling melengkapi dan menyayangilah kalian.
Untuk nak Dimas jaga dia sebaik-baik Abah menjaganya, sayangi dia bagaimana Abah menyayanginya, jangan buat iya bersedih, jadilah teman dan suami untuknya, nasehati dia ketika lalai jangan pernah sekalipun tangan lembut mu ini menyentuhnya dengan kasar, suatu saat jika kamu merasa sudah tidak merasa cocok lagi dengannya tolong kembalikan dia pada Abah baik-baik, akan Abah jaga dia kembali seperti dulu.
itulah ungkapan cinta seorang Ayah kepada anak dan menantunya kini sebagai tanda penyerahan tanggung jawab.
Tak kuasa ku tahan air mataku mendengarnya apalagi menyangkut Abah, aku selalu saja lemah jika tentang dia.
Para tamu sudah mulai berdatangan dan kami pun sibuk menyapa kerabat yang datang.
Entah sejak kapan lelaki itu memandangiku buat gerakku sedikit ragu apalagi pandangannya seperti ingin menerkam.
Padahal hubungan ku dan dia aku rasa sudah membaik saat parenting waktu itu.
Beberapa waktu dia memang tak menghubungi ku , kudengar dia berada di luar kota untuk waktu lama karena pekerjaan yang mengharuskannya.
Tapi hari ini lihatlah dia sudah berada di sini mungkin sejak tadi. Ayah Ibunya juga ku lihat sejak akad sudah di sini.
Aku yang memang mengundang teman-teman sekolah maupun teman kuliahku dulu kaget ketika ku dapati tamu jauh yang ku pikir gak mungkin datang jauh-jauh ke sini apalagi dia datang bersama orang tuanya.
Siapa lagi kalo bukan Hendra,
bukan apa-apa si ya, tapi kok rasanya agak aneh aja gitu kan.
Melihat pemandangan ini tentulah jadi perhatian mata khalayak ramai.
Merasa di perhatikan banyak mata aku pun pergi meninggalkan Hendra dan orang tuanya.
Sesi foto keluarga selesai namun saat ku kembali turun kini mataku menangkap dua lelaki yang ku kenal saling bicara satu sama lain.
Heran aja waktu pertama kali mereka ketemu mereka diam seolah tak kenal tapi lain halnya sekarang.
Ada apa ini, apa ada hal yang gak aku tau soal mereka ?
______
"itu gimana ceritanya kok Hendra bisa kenal ama Malik shof ? tanya jihan yang sudah tau tentang Hendra.
"mungkin mereka kenalan di sini"
" kayak aneh si menurutku "
baru saja kembali setelah sholat Dzuhur, sekarang di atas pelaminan keluarga Malik hendak berfoto dan mengajak ku agar berdiri bersisian dengan Malik.
aku yang gak enak untuk nolak karena di tunggu akhirnya ku naik juga ke sana.
__ADS_1
Ada yang berdebar di sini, sama seperti dulu saat aku mengharapkannya.
"kenal sama Hendra ?" tanyaku setelah turun
" hemmm dia orang yang pernah melamar mu dulu itu yang kamu tolak dan masih berharap bisa mendapatkan mu sampai sekarang yang rela jauh-jauh datang dari Jogja bersama keluarganya itu aku kenal"
kek kena jarum dong ini dengernya. Dari mana dia tau dan mereka kenalan dimana ? kan gak mungkin dong baru kanal di sini terus udah cerita panjang lebar aja masalah pribadi pulak.
"gak usah bingung aku tau dari mana, kamu itu sudah di terima baik oleh keluarganya meski sekalipun belum pernah datang ke rumahnya sebagai calon mantunya"
apa ????
" dia kaya, usahanya juga lagi bagus-bagusnya, anak tunggal uda pasti kekayaannya jatuh ke tangannya"
"maksud kata-kata mu yang ini apa ? kamu pikir aku wanita matre yang ngincer hartanya untuk memperkaya diriku ? sudahlah ngomong sama manusia yang di hinggapi rasa iri dan dengki tentulah gak ada gunanya"
" maaf shof bukan maksudku kayak begitu"
" gak kayak gitu dimananya ? dari tadi kamu ngomong sadar gak si "
"aku setengah sadar apalagi dia ngebelain jauh-jauh datang ke sini cuma untuk hadir di pernikahan kakakmu sama orang tuanya pula "
"terus masalahnya sama kamu apa ? kamu gak berhak ya kayak gitu, aku yang undang dia ke sini"
di menatapku tajam sebelum akhirnya pergi keluar acara meninggalkan tempat ini.
Hendra yang sejak tadi melihat ketegangan kami pun akhirnya datang.
"kamu lagi ada masalah sama dia ?"
"enggak kok, cuma salah paham aja"
"apa dia orang yang lagi deket ama kamu ?"
"bukan, dia temen sekolahku dulu, oiya hen kamu emangnya kenal sama dia ?"
"baru kemarin aja kok, pantes aja aku pernah liat dia di pembukaan geraimu dan dia klienku kami ketemu saat dia keluar kota, kami rekan bisnis sekarang, kami terlibat satu projek bareng"
Gak mau berlama-lama akupun undur diri dan menghampiri ibuku yang tengah duduk bersama Abah.
"Nak shofi, Tante pulang pamit sekarang ya, uda siang sekali"
"pulang ke jogja ?"
"enggak, kami nginap di hotel dekat sini karena memang ada urusan lain juga sampai kami datang ke sini"
"oo gitu, makasih ya tante udah jauh-jauh datang ke sini "
"sama-sama sayang, ibunya shofi saya pulang ya mudah mudahan sehat terus ya bahagia terus uda dapat mantu baru semoga nanti bertambah lagi satu mantu terakhirnya"
__ADS_1
Cuma bisa senyum aja mengikuti kepergian mereka. Ibu yang menatapku sambil memicingkan matanya pun seperti menggoda bahkan kakak ku yang lain juga demikian