Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Baby Ayyub


__ADS_3

Hari yang di tunggu pun tiba, dimana seorang bayi baru saja keluar dari rahim seorang ibu yang amat sangat baik bagiku.


Parasnya begitu membuat siapa saja yang melihatnya merasa gemas. Bayi yang berjenis kelamin laki-laki ini di beri nama Sholahuddin Al Ayyubi berharap namanya akan membawa keberkahan dalam hidupnya.


Rumah menjadi riuh kembali dengan hadirnya anak kak Zahra yang membuat seisi rumah penuh dengan tangisannya kala haus, pipis dan kepanasan.


Kegiatan ku mulai kembali seperti dulu saat aku pertama kali kembali ke sini. Aku mulai aktif mengajar lagi dan sibuk mengurus gerai ku. Apalagi dalam waktu dekat aku berencana ingin membuka satu cabang lagi.


Saat acara Aqiqah baby Ayyub tidak hanya satu atau dua orang saja yang bertanya padaku tentang kehidupan pribadi ku.


Yang ku rasakan saat ini sama seperti yang ku lihat sosial media ku yang ditanya kapan nikah ? sudah ada calonnya belum ? kok gak pernah lihat calon suaminya ? kawannya sudah mau nambah momongan kok belum nikah-nikah ? mau cari yang bagaimana ? pilih-pilih ya ?


Gak mudah memang hidup ini, kita yang jalani orang yang ngomentarin, kudu kuat mental aja si ya menurutku.

__ADS_1


Aku yang menginjak umur Dua Puluh Lima tahun rasanya kalau di sini tu berasa perawan tua.


Saudara yang hadir silih berganti melihat baby Ayyub Alhamdulillah selama acara dia anteng baik budi gak rewel.


_________


Jam Empat Aku terbangun karena mendengar tangisan baby Ayyub yang mungkin haus. Karena tak bisa terpejam lagi akupun memilih untuk melaksanakan sholat Tahajud.


Selesai Sholat seperti biasa ku habiskan dengan mengaji. Sampai satu titik gak terasa air mataku lolos begitu saja. Entahlah aku bingung dengan rasaku sendiri kenapa tiba-tiba saja melow begini.


"Nak kau tau, dalam hidup gak semua cerita mulus jalannya, ada kalanya kita harus memilih antara membalikkan halaman, menutup buku atau malah menulis buku yang lain" ucap ibu setelah selesai berucap


Entah sejak kapan Ibu berada di kamarku. Mungkin ia mendengar apa yang ku ucapkan barusan.

__ADS_1


"bu, menurut Ibu apa yang harus Shofie pilih ?"


"tetaplah di jalannya nak dengan lembaran baru, masalah jodoh sudah Allah yang menentukan, Ibu tau kamu sudah berusaha tapi memang Allah belum memberi jalan kesana"


"terimakasih bu sudah mengerti hatiku" ku peluk ia yang duduk di atas ranjang ku.


"bagaimana Ibu gak mengerti Ibu juga pernah muda kayak kamu pernah merasa dilema juga" ucap Ibu malu-malu.


"oo ya, apa Ibu dulu juga pernah ada di posisi Shofie seperti sekarang ?"


"sama persis, Ibu dan Abah beda tingkatan saja, karena Ibu tertutup Abah jadi sedikit usaha mencari celah untuk mendekati Ibu, apalagi dulu saingan Abah berat, ada yang anak Polisi Dokter dan Pejabat, meskipun begitu walaupun pada saat itu Abah hanya pekerja biasa Ibu malah lebih tertarik. ah sudahlah kenapa jadi cerita masa lalu Ibu si"


"iis gak papa tau bu lagian Ibu gak pernah cerita soal masa muda Abah sama Ibu lo"

__ADS_1


"Sudah mau Subuh siap-siap selesai itu kita beres-beres dapur masak buat mereka"


"siap ratuku"


__ADS_2