Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Serangan jantung


__ADS_3

Suasana terlihat tegang di luar ruangan IGD. Pak Rasyid menunggu dengan gusar tatkala istrinya tiba-tiba merasakan sesak dan nyeri di bagian dadanya ketika bangun tidur.


Anak dan menantunya juga satu persatu mulai berdatangan kecuali Shofie yang memang belum bisa di hubungi dari sejak tadi pagi.


Dokter keluar dari ruang IGD.


"Bagaimana keadaan istri saya dok" tanya Abah khawatir, bagaimana tidak selama hidup dengan Ibu ini kali pertama Ibu sakit sampai di bawa ke rumah sakit.


"Alhamdulillah kondisinya sudah mulai stabil, hanya menunggu pasien sadar saja"


"Ibu kami kenapa bisa sampai begitu dok, karena selama ini ibu gak pernah ada keluhan sakit"


"Nanti saya jelaskan, mari pak bisa ikut ke ruangan saya" ajak dokter yang memeriksa ibu


"apa kami sudah bisa melihatnya dok ?"


"bisa, tapi pasien di pindahkan ke ruang inap terlebih dahulu"


_________


"Jadi gimana dok kondisi istri saya ?" tanya Abah setelah berada di ruang dokter yang di temani oleh kak Laila


"Istri bapak mengalami penyakit jantung walaupun bisa di bilang ringan tapi tetap saja harus benar-benar di jaga kondisinya, jangan sampai beliau banyak pikiran apalagi menyimpan perasaannya sendiri itu akan memicu penyakitnya kambuh. Alangkah lebih baik beliau selalu di temani agar tidak terjadi hal hal yang tidak kita inginkan" jelas dokter


"Jadi kami harus berbuat apa lagi dokter?" tanya abah lagi


"bapak hanya perlu tetap bersama istri bapak, seperti yang saya bilang di awal ini penyakit jantung ringan saja, nanti akan saya beri resep obat ya biar lekas pulih"


"terimakasih dok, kalau begitu kami permisi dulu "


_______


Di ruangan berbeda ibu sudah siuman.


"nak, ibu kok bisa di sini"


"ibu tadi pagi sakit, kata abah dada ibu nyeri sampai ibu gak sadarkan diri makannya Abah langsung bawa ibu ke rumah sakit" jawab kak Zahra


"lalu sekarang Abah di mana ?"


"Abah lagi bertemu dengan dokter bu di temani kak Laila" " sekarang ibu makan dulu ya"


Ibu pun hanya mengangguk saja dan menerima suapan bubur dari kak Nadrah tanpa penolakan karena memang sejak pagi ibu belum ada memakan apapun.


" Maaf ya jika ibu merepotkan kalian semua sampai-sampai kalian semua datang ke sini dan tidak bekerja, ibu tau pasti kalian sedang sibuk"


"ibu jangan bilang begitu, sudah menjadi tugas kami untuk selalu ada saat ibu butuh kami apalagi saat seperti ini, kami akan meninggalkan semua rutinitas kami asal ibu baik-baik saja" ucap bg Dimas menenangkan


"anak-anak kalian lagi ada di mana ?


"di rumah ibu, sebentar lagi mereka sampai di antar supir karena memang tadi pagi abah ngabarin nya masih pagi dan mereka masih tertidur jadi kami segera menuju ke sini" ucap suami kak Laila dan di anggukan sama suami kak Nadrah

__ADS_1


"maafkan ibu yang selalu bikin kalian khawatir dan repot seperti ini"


"sudah bu jangan bilang begitu terus, ibu semangat ya biar bisa cepet balik ke rumah" timpal kak Zahra


Ibu yang merasa ada yang kurang jadi mengedarkan matanya ke segala sisi ruangan dan Abah baru saja kembali.


"bah, apa shofie tau ibu sakit ?"


"belum bu, abah coba telfon belum bisa di hubungi" jawab abah yang tahu betul bahwa istrinya ini sedang merindukan anak bungsunya.


"dek, Ibu masuk rumah sakit pagi tadi, kalo sudah membaca pesan kakak kamu segera telfon Abah ya, Ibu menanyakan mu" chat kak Laila pada shofie


________


HP shofie memang tidak di aktifkan dari malam dan baru menjelang siang ini dia hidupkan kembali.


Dia begitu heran mendapati banyak sekali panggilan telfon dari Abah dan kakak-kakaknya itu sampai tibalah dia menerima pesan dari kak Laila.


"Ibu" gumamnya lirih tak terasa air matanya mengalir begitu deras


Tak lama ia pun mengirim pesan pada dosen pembimbing nya untuk izin pulang ke kampung.


Langsung saja dia bergegas pesan tiket dari HP nya dan segera mengemasi barang-barang penting untuk pulang.


Tak sampai dua jam kini shofie sudah berada di Bandara Kualanamu dan segera saja ia pergi ke Rumah Sakit yang di beri tahu kakaknya.


Dengan tergopoh-gopoh ia memasuki pelataran rumah sakit lalu menuju meja resepsionis menayangkan kamar rawat ibunya.


Samar-samar ia mendengar perkataan ibunya.


"Ibu baik-baik saja, ibu senang anak-anak ibu saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Ibu ingin kalian semua tetap memperhatikan Shofie, bagaimanapun dewasanya dia, dia tetap adik kalian yang butuh kasih sayang kalian, ibu berharap kalian menjaganya seperti bagaimana Abah dan Ibu menjaga kalian" ucap Ibu berkaca-kaca


"Kami pasti selalu menjaganya bu, kami tau tugas kami sebagai seorang kak, Ibu tenang saja sekarang yang terpenting adalah kesehatan ibu" kak Laila menjawab dengan nada bergetar


"assalamualaikum bu" ku peluk wanita yang sudah tampak keriput itu yang matanya sayu yang berbaring di atas brankar dengan lemahnya.


Ku salami Ibu dengan takzim lalu ke peluk lagi ia dan ku hapus air matanya yang lolos ketika melihat kedatanganku.


"ibu kenapa bisa seperti ini, ibu mikirin apa ?" tanyaku yang masih dalam pelukannya


"namanya juga sudah tua nak, biasalah. Maafkan Ibu ya gara gara ibu kamu harus pulang"


"gapapa bu"


"Ibu seneng sekali lihat kalian semua di sini, Ibu pengen cepet-cepet pulang"


"Ia ibu besok sudah bisa pulang, tadi kata dokter Ibu harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran" ujar kak Laila


_______


Sore hari sanak saudara sudah beranjak pulang setelah menjenguk Ibu, begitu juga dengan kakak kakakku yang ku pinta untuk pulang beristirahat dan hanya Aku dan Abah saja yang menemani Ibu di sini.

__ADS_1


Menjelang Magrib suara ketukan pintu terdengar, terbukalah pintunya dan terlihat masuk seorang ibu diikuti suaminya.


Ya itu adalah teman ibu alias Ibunya Malik.


"Maaf ya Dahlia aku baru bisa jenguk, tadi aku harus mengantar anakku ke bandara, kamu gimana sudah baikan kan ?" ujar bu Susi saat duduk di sebelah ranjang Ibu


"Alhamdulillah sudah lebih baik, iya gapapa kok kamu datang aja aku sudah senang sus, repot-repot begini bawain makanan"


"gapapa yang penting kamu seneng cepet sembuh ya Dahlia" buk Susi ini termasuk teman dekat Ibu dari jaman sekolah bahkan sampai sekarang hubungan mereka tetep baik " eh ada nak Shofie, kamu gimana kabarnya ?"


"Alhamdulillah bu Shofie sehat Ibu gimana sehatkan"


"Sehat nak Alhamdulillah"


"Kalau begitu Shofie izin permisi dulu ya mau sholat Magrib nanti biar bisa bergantian"


________


Di Musholla Rumah sakit, Shofie selesai dengan kewajibannya, ia hendak balik lagi ke ruangan namun langkahnya terhenti saat dia melihat Malik yang berada di taman sebelah Musholla duduk sendirian.


Mengingat kejadian waktu di kampus saat itu, akhirnya dia memutuskan untuk menemui Malik saat itu.


Iya khawatir dengan traumanya yang saat itu sudah di nyatakan sembuh tapi dengan kepergiannya yang tanpa permisi itu takut penyakitnya datang lagi.


"Duduk sendirian aja"


"Shofie"


Matanya tampak terkejut saat tau aku sudah duduk berdampingan tak jauh darinya.


"Iya, gimana kabar kamu kayaknya anteng anteng aja"


"Kalau menurutmu begitu ya sudah, aku permisi dulu ya masih ada urusan"


Seketika tatapannya berubah seperti dulu, yang cuek, yang dingin dan arogan.


"Baiklah Malik semua aku pasrahkan apapun nanti keputusan Allah aku terima dengan lapang dada, sejatinya aku sudah tak kaut menahannya apalagi melihat Ibuku seperti sekarang, aku ingin segera mewujudkan keinginannya yang terakhir, MENIKAH " gumam ku dalam hati


_________


Kini Aku sudah berada di ruangan bersama Abah dan orang tua Malik, setelah berbincang lama akhirnya mereka pamit pulang.


"Ya sudah kalo begitu kami pamit pulang ya Dahlia, Pak Rasyid nak Shofie kamu lekas sembuh loh ya Dahlia"


"Iya terima kasih ya, kalian pulang berdua saja atau gimana ?" tanya Ibuku


"Sebenarnya kami di antar sama Malik tadi, cuma dia nunggu di luar aja katanya dan dia titip salam sama kamu Dahlia"


"Ya sudah kalian hati-hati ya"


"Apa segitunya Malik marah sampai tak mau masuk, dia lebih memilih menunggu di mobil" gumam ku dalam hati

__ADS_1


__ADS_2