
Kursi di meja makan kali ini penuh, karena sepekan ini kakak ku berlibur membawa keluarga nya balik ke rumah ibu dan tentu juga adikku yang berada di sabang juga pulang.
Kepulangan saudara-saudara ku kali ini untuk memenuhi permintaan adikku yang ingin segera melamar kekasihnya itu.
Dia tentu merasa canggung denganku sebagai Abang dia terlebih dulu menuju jenjang yang lebih serius. Bagiku jodoh sudah ada yang ngatur tentang kapan dia datang itu sudah jadi ketentuan Allah.
Sebagai Abang aku tidaklah masalah mungkin jodohnya datang lebih dulu dari pada aku.
Selesai sarapan aku kembali ke ruang kerjaku, walaupun hari minggu aku tetap mengerjakan tugasku agar gak numpuk nantinya.
"Ini kita semua pada ngumpul lo di luar kok kamunya malah di sini, aku sekali-kali pulang loh, masak iya di cuekin" ucap kakak ku ketika masuk ke ruanganku.
"Iya, sebentar lagi aku keluar" jawabku tanpa melihatnya.
"Kamu sama adiknya temenku itu deket gak si ?"
"Temen kakak yang mana ?"
"Ituloh adiknya Zahra anaknya pak Rasyid"
Ku tutup laptop ku "maksud kakak Shofie ? Aku sama dia mah dari dulu biasa aja si ya gak gimana-gimana"
"Aku tau kali gimana perasaan mu sama dia, kalau enggak mana mungkin kamu tu putusin si Yunda itu atau sampek sekarang belum ada pengganti nya, lagian ya aku lihat-lihat dulu kamu tu sama Yunda juga pasti gak ada perasaan kan"
"Sok tau banget si"
__ADS_1
"Loh aku ini masih ngomong lo kok di tinggal keluar" ocehnya sambil mengejarku keluar.
"Ada apa si kok ribut-ribut ? " tanya Ibu
"Ini ni si Malik orang masih ngomong kok yo di tinggal, Bu dia ini sebenarnya mau nikah apa enggak ? "
"Huss kamu kok ngomongnya kayak gitu sama adekmu , tentulah dia akan menikah, bukan begitu Malik ?"
"Iya tapi enggak untuk sekarang" jawabku
"Nak, cinta yang ada di kejar selagi kaki masih memijak di bumi yang sama. Jangan menanti saja, datangi dia, ambil kembali hatinya dengan cara yang berkah, atau jika memang dia sudah tak menetap lagi di hatimu lepaskan dia dengan ikhlas" ujar Ibu
Ucapan Ibu ini benar-benar nancep banget di hati.
"Gak masalah, toh jodohmu sudah di depan mata" jawabku sambil menatap layar TV " Asalkan pas sama pelangkahannya" sergahku sambil menatapnya sambil menaik turunkan alisku.
"Yah liat Abang sama adek sendiri juga kayak gitu " rengeknya pada Ayah "Sudahlah yang penting kamu nikah" jawab Ayah
"Emang Abang mau minta apa ? perasaan duit dia lebih banyak dari duitku !" keluhnya
"Hei ini bukan masalah siapa yang banyak duit ya" ucapku cepat
"Lah terus jadinya Abang mau minta pelangkahan apa "
"Apa aja sesuai kemampuan dompetmu"
__ADS_1
"Nahh gitu dong " jawabnya sambil cengar-cengir "Jangan lupa kado buatku loh ya bang "
Setelah itu akupun kembali ke ruang kerjaku mengambil sesuatu yang tertinggal.
"Ni kado pernikahan mu, uda ku siapkan beserta isinya tinggal datang aja" ku serahkan sertifikat rumah sebagai kado pernikahan nya. Bagaimanapun dia adalah adikku walaupun dia mampu tetaplah aku ingin memberikan ini sebagai kado pernikahannya.
"wihh gilee ajeee mau juga dong" ucap kakakku
"Abang serius ini buatku ?" ujar Farhan tak percaya.
"Iya bisa baca kan itu atas namamu"
"kakak dulu nikah kok gak di beliin juga si ?"
"Beda dong, dulu kakak nikah aku juga baru tamat sekolah mana punya uang sebanyak itu kali kak"
"iya gak papa becanda kali"
"tapi aku uda beliin kalian vila daerah bandung yang deket sama perkebunan teh jadi kalian yang suka liburan gak perlu bingung lagi" ku serahkan surat kepemilikan padanya.
"aahh makasiiiii adekku"
Begitulah Ayah mengajariku jika satu saudara di beri jangan lupa yang satunya juga di beri.
"Baiklah sekarang bersiaplah siang nanti kita akan ada acara lamaran si Farhan jadi Ibu gak mau sampai ada yang terlupa"
__ADS_1