
Untuk menghindari sikap Malik yang dingin mertuanya mengajak ia untuk tinggal bersamanya sementara sampai kondisi tubuhnya stabil namun Shofie menolak karena bagaimanapun ia tetaplah seorang istri yang harus memenuhi kebutuhan suaminya meskipun sampai sekarang dia selalu merasa tidak di pedulikan dan merasa asing di rumahnya sendiri.
"non, jangan melamun ih, entar manisnya hilang lo" hibur bi Sumi.
"enggak ngelamun bi, bibi masak apa hari ini ?"
"sop iga non, mohon maaf ni ya non kalau bibi lancang, apa non Shofie gak punya foto-foto bersama Aden, karena bibi pernah lihat tu non di drama-drama Korea yang biasa bibi lihat kalo orang yang lupa ingatan terus di tunjukin foto-foto bisa inget gitu non, atau kepala yang lupa ingatan itu di benturin non"
"ihh bibi kasian dong kalau di benturin gitu bisa benjol kepalanya "
"hehe itukan yang biasa bibi tonton non, kali aja berguna "
"bibi mah ada-ada saja, ya sudah bi, aku istirahat dulu ya, bi kalau nanti sudah jam empat tolong bangunin saya ya"
"baik non"
Di dalam kamar Shofie memikirkan saran bi suminya, namun iya tak begitu berharap karena foto pernikahan mereka yang terpajang di atas nakas saja tak di perhatikannya.
"semoga Allah memberikan jalan untuk masalah ini, aku pasrahkan semuanya padamu ya robb"
Di lain tempat Yunda semakin gencar merebut perhatian Malik, iya senantiasa meracuni pikiran Malik dengan kalimat-kalimat yang buat Malik percaya.
__ADS_1
Di tambah lagi resepsi pernikahan yang belum juga terlaksana menjadikan cerita Yunda untuk mengarang cerita bohong.
"Sayang, aku mau kamu nikahin aku secepatnya" ujar Yunda sambil bergelayut manja di lengan Malik.
"sabar sedikit, aku hanya perlu meyakinkan orang tuaku"
"kalau menunggu restu mereka bakal lama yang, gimana kalau kita nikah siri aja dulu, kan mau gak mau mereka pasti akan setuju"
Ya, Yunda memang sangat menginginkan menjadi nyonya Malik, pasalnya ia tak perlu lagi capek-capek bekerja untuk dapat uang. Cukup jadi istri Malik dia sudah bisa membeli apapun yang ia mau. Apalagi kalau dia hamil nanti pasti Malik bakal beneran berpaling dari istrinya itu.
"oke kasi aku waktu, lagian wanita itu lagi hamil"
Yunda yang mendengar bahwa Shofie hamil langsung merubah mimik wajahnya karena posisinya bisa saja terancam.
"yang yang, kamu yakin itu anak kamu, lagian ya sebelum kalian itu nikah aku denger-denger dia itu suka gonta-ganti pasangan, iya kalo anak kamu, kalo anak orang lain gimana " Yunda suka sekali memang meracuni otak Malik.
"nanti aku akan cari tau, kamu tenang aja"
"pokoknya aku gak mau ya kamu deket-deket sama dia dimanapun termasuk kalian tidur satu ranjang"
"kamu tenang aja, di rumah dia seperti tinggal sendiri bahkan dia juga tidur di kamar yang lain"
__ADS_1
"bagus kalo gitu"
"aku harus lanjut kerja ya"
"tapi aku mau belanja yang, aku bete ih"
"kamu belanja sendiri ya" ujar Malik sambil menyerahkan kartu miliknya.
Dengan senang hati sekali Yunda menerimanya. Dia merasa puas untuk saat ini bisa melakukan hal-hal yang mestinya dari dulu iya lakukan namun tak pernah iya lakukan mengingat Malik masih menaruh hati pada Shofie.
Di sebuah toko barang-barang branded Yunda dengan girang memilih tas yang menjadi incarannya seorang diri.
"hai sayang maaf ya aku terlambat" ucap seorang lelaki yang baru saja tiba.
"gak papa sayang aku juga baru sampai kok"
"gimana kamu udah berhasil bujuk dia buat segera nikahin kamu ?"
"sudah dong, aku minta nikah siri aja dulu, abisnya ribet orang tuanya yang, kamu sabar sedikit ya yang, setelah aku nikah sama dia aku akan kuras hartanya siap itu tinggal aku tinggalin deh dia" ucap Yunda seperti tiada dosa.
"bagus, pacarku memang keren, ini ngomong-ngomong kamu belanja beneran di kasi kartu sama dia ?"
__ADS_1
"iya beneran yang, kamu kalo mau sekalian pilih aja mumpung gratis"
Sangking asiknya mereka ngobrol tanpa mereka sadari sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dan menguping pembicaraan mereka.