
"kalian menikah belum ada seminggu lo masak iya langsung mau balik ?" tanya ibu di sela-sela sarapan
"iya bu maaf ya, kalo kelamaan libur akunya yang kasian liat mas Dimas bolak balik kerjaannya pasti makin banyak, kalo aku sendiri memang sudah izin semingguan" ujar kak Zahra
" Abah ibu maaf ya Dimas terlalu cepat bawa Zahra balik ke Medan, ada beberapa pekerjaan yang deadline yang memang gak bisa di handle ama temen kantor, Abah dan Ibu gak keberatan kan kalo pagi ini kami langsung berangkat ?"
"kok minta maaf, sudah seharusnya memang begitu, Istri mengikuti suami kemanapun pergi, dan ingat ya Zahra kemanapun kamu akan pergi keluar harus izin suamimu karena dosa-dosa istri itu di tanggung oleh suaminya ,namun sebaliknya dosa suami tidak di tanggung istri, setiap langkah mu adalah beban bagi suamimu baik di dunia maupun di akhirat "
"iya Abah "
"dan nak Dimas jika keluar hanya perlu memberitahu jangan sampai istri menunggu dengan cemas tanpa kabar"
"siap bah"
"jadi kalian akan tinggal di mana ?"
"saya sudah membeli rumah Bah sebelum kami menikah karena niat saya memang setelah menikah harus tinggal sendiri"
"Alhamdulillah kalo begitu Abah senang dengarnya "
Lain Abah lain pula Ibu, Abah dengan tegar melepaskan anaknya untuk ikut bersama suaminya tapi tidak dengan ibu.
Terlihat matanya berembun sejak tadi. Dari kak Laila kak Nadrah dan sekarang kak Zahra beliau selalu memikirkan anak-anak perempuannya saat di bawa oleh suaminya.
Ibu manapun pasti berat melepaskan kepergian anaknya. Ibu tak bisa jauh dari anaknya terlalu lama.
Aku jadi gak bisa ngebayangin gimana klo giliran ku tiba.
Ingat betul waktu aku kuliah di Makasar, ibulah yang paling menentang keputusan ku itu, berat sekali masa itu. Cukup alot sampai Abah yang harus membujuk ibu.
Apalagi aku memilih tidak pulang sama sekali saat kuliah, makannya pertiga bulan ibu selalu datang berkunjung.
Selesai mengemas bg Dimas mengambil koper-koper dan meletakkannya dalam mobilnya. Kamipun beranjak teras rumah dan ibu sudah tak bisa lagi menahan sesak dan air matanya.
"bu, Zahra hanya pindah rumah layaknya pindah kost, anggap saja begitu bu biar ibu gak sedih, lagi pula aku dan mas Dimas akan sering datang berkunjung seperti biasa bu, ku mohon jangan menangis"
"bu Dimas janji sama ibu akan menjaga dan menyayangi Zahra seperti ibu dan Abah lakukan selama ini"
__ADS_1
"maafkan ibu yang masih belum bisa melepaskan sepenuhnya nak Dimas, ibu hanya belum terbiasa Insya Allah ibu ikhlas doa ibu selalu menyertai kalian berdua, kalian baik-baiklah di sana jika ada selisih paham segera selesaikan"
" Bu ini putrimu yang ke tiga, masih ada satu putrimu yang belum menikah jadi jangan habiskan air matamu itu sisakan untuk shofie anak bontotmu itu, nanti malah Abah yang nangis kayak ibu gini kalo air matamu ini sudah tidak ada lagi" goda Abah yang membuat suasana mencair
" baiklah kalian hati-hati ya selalu beri kabar ibu sering-seringlah datang ibu selalu merindukan kalian"
" iya bu" kompak banget mereka jawabnya
"hey kamu adik kesayangan ku jaga mereka baik-baik jangan tinggalkan mereka berdua kalo kamu gak mau punya adik lagi" ucap kak Zahra yang langsung buat Abah dan ibu salah tingkah
" siap kak"
" ya sudah kalian berangkat sekarang makin siang nanti makin macet"
Abah benar masih ada aku yang belum menikah, dan sepertinya belum nampak hilal jodohku sampai sekarang.
______
Selepas kepergian mereka akupun berangkat menuju sekolah.
Saat jam istirahat ibu memberitahu jika Hendra dan orang tuanya berada di rumah.
Ku tatap wajah mereka bergantian yang memandangiku dangan seulas senyum.
"shofie, keberadaan nak Hendra dan orang tuanya kesini ada yang mau di sampaikan sama kamu, silahkan pak buk tanyakan langsung sama anaknya" ucap Abah mempersilahkan
"begini nak shofie om dan tante ke sini untuk menemani Hendra, dengan maksud untuk melamar kamu jadi istrinya, karena sudah sejak lama dia punya perasaan sama kamu bahkan dia pernah cerita jika dulu dia pernah melamar kamu tapi kamu masih belum siap dan sekarang kami kesini untuk melamar kembali"
Aku gak bisa ngomong apa-apa masih syok masih gak percaya dia masih berharap aku akan menerimanya, atau jangan-jangan ini maksud Malik waktu itu dan ini juga yang buat dia uring-uringan.
shof,, shofie panggilan Ibu menyadarkan ku
"ahh iya bu, gimana" jawab ku kaget
"jadi gimana jawaban kamu atas permintaan nak Hendra, apa kamu bersedia menerima lamarannya ini ?"
rasanya ada sesuatu di tenggorokan ku sampai susah rasanya buat ngomong.
__ADS_1
"emm saya belum tau om tante, saya belum ada kepikiran untuk menikah saat ini dan saya hanya menganggap Hendra sebagai teman baik saya saja" jawabku kikuk
"kamu mau sampai kapan seperti ini shof kamu tidak memikirkan dirimu ?" kali ini Hendra yang bicara
"justru karena aku memikirkan diriku ndra, aku tidak ingin mengambil keputusan yang tergesa-gesa, aku tidak ingin menikah karena desakan dan bahkan karena usia sekalipun"
"lalu bagaimana dengan orang tua shof ? setidaknya demi mereka"
"ndra maaf ya soal pernikahan aku udah diskusi dengan orang tuaku terlebih dulu" sergahku
"benar nak Hendra, shofie sudah membicarakan ini sebelumnya pada kami, kami tidak ingin dia menikah hanya karena kami tapi menikah atas dasar kemauan dia sendiri" ucap ibu
"ndra maaf ya aku belum bisa nerima lamaran kamu, aku yakin suatu saat nanti akan ada perempuan yang lebih baik dari aku ndra, om tante maafin shofie ya belum bisa penuhin permintaan om dan tante, shofie takut jika menerimanya karena desakan seperti ini akan gak nyaman nantinya shofie gak bisa tan" ucapku memandang mamanya
"gak papa shofie tante ngerti, kamu gak usah gak enakan gitu ya, kamu bener menikah itu harus kemauan kita dengan lelaki pilihan kita yang nyaman di kita, mungkin memang bener suatu saat Hendra akan dapet istri yang lebih baik dari kamu dan kamu juga nanti bakal dapat suami yang lebih baik juga" ujar mamanya
"jodoh rezeki maut semua sudah di atur kita cuma menjemputnya saja dengan cara kita seperti yang di lakukan nak Hendra ini menjemput jodoh juga tidak ada salahnya yang penting sudah berusaha masalah di terima atau tidak urusan nanti sebelum janur kuning melengkung yakan nak Hendra ?" Abah menengahi.
"shof maaf ya jika kedatangan ku buat kamu kaget dan jadi merusak suasana hati mu, aku harap setelah ini hubungan kita tetap seperti dulu, aku gak mau gara-gara ini kita jadi menjaga jarak" ucap Hendra
"gak papa hen, aku paham, kita tetap berteman seperti dulu kok" jawabku
"yasudah kalau memang nak shofie lebih nyaman berteman tidak masalah, jangan lupain tante shofie sesekali main dong ke Jogja ya, kalau begitu kami permisi dulu ya pak bu mudah mudahan di lain waktu dan kesempatan kita bisa bertemu lagi" pamit mamanya seraya bersalaman
_______
Sepulang mereka Abah ibuku pun langsung mengintrogasiku
"kamu gak papa shof ?" tanya ibu
"gak papa bu, memangnya aku terlihat sakit ya"
"ya kamu sehat-sehat aja, maksud ibu perasaan mu"
"ahh ibu kenapa jadi kepo sii, bu sejak kenal sama dia aku gak ada niatan untuk punya perasaan lebih sama dia, dia memang anak yang baik gak neko-neko tapi memang aku yang gak bisa nerima persaannya yang lebih dari sekedar teman"
"nak Ibu sama Abah tak bosan menasehati kamu agar kamu tak menutup hatimu terlalu lama untuk menerima laki-laki nak"
__ADS_1
"iya bu aku ngerti terima kasih untuk semua nasihat yang gak bosan ibu ucapkan, bu suatu saat aku pasti menikah seperti anak ibu yang lain tapi tidak sekarang ya bu"
"iya ibu percaya kamu nak ibu juga yakin kamu bakal bahagia dengan pilihanmu sendiri"