Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Prov Hendra


__ADS_3

Dari sekian banyaknya perempuan yang aku kenal aku begitu tertarik pada Shofie, wanita sederhana yang aku kenal sejak memulai kuliah di Semarang. Selama waktu berjalan kami yang kala itu sering berkumpul untuk tugas kuliah maupun organisasi kampus pun menumbuhkan benih cinta, hanya aku saja tidak dengan shofie.


Yang ku dengar dari Sila teman satu kostnya dia pernah suka sama orang tapi cintanya bertepuk sebelah tangan dan sejak itu dia seperti menutup rapat hatinya.


Sebisa mungkin kalau dia butuh bantuan aku sigap membantunya, selain karena ingin mendekatinya aku juga tak bisa melihat teman ku berada dalam kesulitan.


Syukur-syukur dengan seperti ini dia sadar dan mau membuka hatinya.


Pernah sekali aku bertemu dengan keluarganya saat mengantarkan tugas ke Indekosnya. Saat itu ku lihat dia bergelayut di lengan ibunya dengan manja.. ahh menggemaskan sekali dia seperti itu.


Yang aku tau selama kuliah disini tak pernah sekalipun dia pulang kampung, keluarganyalah yang selalu datang ke sini.


Pernah saat selesai sidang aku berniat untuk melamarnya karena hari itu kedua orang tuanya berada di sini. Tapi melihat raut bahagianya ku urungkan niatku ini agar tak merusak suasana kala itu.


Setelah beberapa hari, ku kuatkan tekadku untuk menyampaikan maksudku.


Pagi itu aku sudah memberi tahunya kalau aku akan ke Indekosnya.


Ku liat raut wajahnya yang bingung saat kedatangan ku, dia seperti mencari-cari seseorang.


Ya tepat sekali, dia berfikir aku datang kesini bersama yang lain. Dia betul-betul menjaga marwahnya. Sebab itulah aku yakin jika dia yang terbaik untuk jadi istriku.


"sendiri aja hen?"


"iya shof"


"kirain sama anak-anak, ada keperluan apa hen ? oiya maaf ya kita di sini saja aku gak enak kalau masuk" sambil menarik kursi ke teras.


"iya gak papa shof santai aja" padahal hatiku uda ketar ketir


setelah berbasa basi dan tak ada obrolan lagi


Diam


Diam


Diam


"shof" dia melihat ku sekilas lalu memalingkan wajahnya lagi

__ADS_1


"aku mau tanya sesuatu, kamu sudah punya calon suami ?" tanyaku yang membuat dia membulatkan matanya


"kok tiba-tiba nanyak gitu si hen, baru juga beberapa hari kita selesai wisuda, aku belom kepikiran buat nikah dalam waktu dekat. lagi pula aku masih ada yang ku targetkan"


"Shof jadi maksud kedatangan aku kesini mau melamar kamu, kalau memang kamu belum siap nikah gapapa aku siap nunggu"


Dia kaget sekali mendengar ku melamarnya


"kamu gak lagi prank aku kan hen ?"


"aku serius memang muka ku ini tampang becanda ya"


Dia diam saja sembari melihat ke atas seolah mencari jawaban di langit, perlahan ku liat matanya berembun entah memikirkan apa


"Hen, selama ini kamu baik banget dan aku terima kasih untuk itu, tapi untuk permintaan mu ini aku belum siap. Aku belum ada rencana menikah sekalipun aku sudah punya calonnya nanti"


"menikah itu bukan cuma menyatukan dua hati saja tapi menyatukan dua manusia yang punya pikiran yang berbeda. Menikah itu ibadah terpanjang jadi untuk melangkah kesana butuh kesiapan yang matang baik dari kesiapan mental mapan maupun kondisi kita, setelah menikah juga bukan akhir dari tujuan menikah itu sendiri tapi awal masih awal" ujar Shofie yang buatku tertegun


Benar menikah itu ibadah terpanjang bukan hanya menyatukan dua manusia tapi dua keluarga juga.


Sebelum pamit pulang dia mengingatkan aku satu hal


______


Akhirnya kesempatan untuk bertemu Shofie kembali pun ada, kolega ku yang berada di Medan mengajak untuk bertemu di kotanya.


Tak sabar rasanya untuk bertemu karena dua tahun sudah kami kembali ke tempat tinggal kami masing-masing setelah lulus.


Hari itu pun tiba dengan berbekal Share lock yang dikirimkannya subuh tadi aku segera menyelesaikan pekerjaan ini dengan segera.


Mendekati siang aku sudah berada di kampung halamannya, tak susah mencari rumahnya karena memang keluarganya cukup di segani di kampung ini.


Setelah sampai aku di sambut oleh wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya shofie karena memang garis wajahnya sama persis.


Ternyata kedatangan ku sudah lebih dulu di ceritakan pada orangtuanya. Pantas saja mereka terlihat bersiap menyambutku.


Suara deru motor memasuki halaman rumah terdengar menandakan ia telah pulang. Buru-buru aku merapikan penampilanku.


Dia tidak berubah, dia tetap sama seperti pertama kali kami bertemu. Wajahnya semakin terlihat teduh walaupun terlihat lelah.

__ADS_1


Rumah ini begitu hangat, terlihat dari tatanan furniture nya. Keramahan orang tuanya pun tak kalah hangat.


Saat aku hendak pamit melewati ruang tamu kulihat beberapa foto saudara-saudara shofie yang wajahnya mirip-mirip semua sampai aku bingung dia yang mana.


Untungnya aku cepat paham, dengan gigi gingsulnya sudah ku tau itu dia.


Aku yang menerima undangan pembukaan gerai miliknya pun tak menyia-nyiakan waktu.


Aku gak nyangka dari jualan Frozen food dia sampai bisa membuka gerainya sendiri. Aku yakin untuk berada di titik ini tidaklah mudah apalagi dulu yang ku ingat saat masih sama-sama kuliah selain mengajar dia juga berjualan setelah jam kuliah selesai.


Benar-benar wanita tangguh.


______


Ku masuki kendaraan ku ke halaman parkir ku lihat-lihat sudah banyak sekali orang di dalam.


Aku yang tahu dia suka mawar putih pun tak lupa membelinya sebagai ucapan selamat.


Ketika memasuki gerai ku edarkan mataku mencari sosok Shofie yang menjadi bintang hari ini.


Kedatangan ku tak luput dari tatapan heran para tamu, yang sudah pasti menduga jika aku orang yang dekat dengannya. Ya mudah-mudahan saja Aamiin


Saat aku tengah asik menikmati pentol bersama dengan abang iparnya seketika bisik-bisik ku dengar tentang datangnya seorang laki-laki yang bernama Malik.


Mataku menunggu sosok itu masuk ke dalam dan dia pun masuk bersamaan dengan wanita yang ku taksir ibunya.


Wajahnya terlihat dingin entah kalo sikapnya.


Aku yang juga memperhatikan Shofie seketika aneh melihat perubahan raut wajahnya.


Atau jangan-jangan lelaki inilah yang membuatnya menutup hati sampai sekarang.


Karena takut terlambat akhirnya aku pamit pada Shofie dan keluarganya untuk lekas menuju bandara.


Dengan diantaranya aku menuju mobil oleh shofie membuat laki-laki yang bernama Malik itu tak putus memandangi ku, tatapannya yang tajam seolah mengisyaratkan kecemburuan.


Aku berjanji dalam hati, sebelum janur kuning melengkung tak ada salahnya untuk mencoba meskipun jarak yang membentang.


Semua sudah Allah persiapkan tinggal kita yang berusaha, entah dia jodohku atau bukan itu masalah belakang yang penting usaha dulu.

__ADS_1


__ADS_2