
Yang ku tahu dari cerita ibu dimana tempat kerjanya Shofie buatku memikirkan cara gimana supaya aku bisa deket lagi sama dia, aku gak mau kehilangan untuk yang ke dua kalinya. Aku harus jadikan ini sebuah kesempatan. Jadi ku putuskan untuk menjadi donatur, meskipun awalnya aku ragu tapi melihat dia yang mengambil jarak akupun tak ingin tinggal diam.
Sebelum aku mendekatinya lagi aku segera benar-benar ingin menuntaskan masalah ku dengan Yunda. Karena sejujurnya dia hanya tempat persinggahan saja bukan untuk menetap. Keegoisan ku dulu telah merubah takdir kala itu jadi aku ingin memperbaiki semua dari sini.
Dia bukanlah wanita yang mudah luluh, dia wanita yang selalu memaafkan tapi tidak dengan melupakan. Oleh karena itu usahaku ini tidaklah boleh sia-sia.
Aku terlalu menginginkannya, makannya dari pertama kali datang ke sekolah tempatnya bekerja tak ku palingkan pandangan ku darinya. Aku ingin sekali dia tau perasaanku ini masih sama kayak dulu.
Setelah selesai penyerahan dana, ku beranikan diri untuk mengajaknya bicara empat mata, pikirku dia gak mungkin menolak karena masih ada beberapa dewan guru yang berada di situ dan ternyata benar dia mengiyakan.
Sepanjang obrolan aku hanya mengungkapan kesalahanku serta maaf ku saja. Merasa memohon padanya. Semua ku lakukan asal dia memaafkan ku.
Dia memaafkan tapi tidak untuk memperbaiki keadaan seperti dulu. Dia benar-benar menjaga jarak, dia benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan masa lalunya terutama aku.
Aku mulai mengerti jika semua perasaan tak mudah hilang. Sudah seharusnya kita lebih tenang dan bersyukur jalani hidup dengan prosesnya sendiri bukan protes.
Pamitnya yang ku rasa seperti sedang terburu-buru buatku tak bisa lagi menahannya tetap di sini.
Untuk memastikan aku pun memilih untuk mendatangi rumahnya. Dan betapa kagetnya aku dengan pemandangan di depanku.
Dia mengantar kepergian seorang lelaki yang tak aku tahu itu siapa.
Ini kali pertama aku melihat dia menerima tamu laki-laki bahkan dirumahnya.
Kalut sekali pikiranku melihat ini.
Tak sampai di situ saja, bahkan dia hadir juga di peresmian gerai milik shofie lebih dahulu dari pada aku dan dia juga ikut duduk bergabung dengan keluarganya.
Siapa dia sebenarnya, atau memang benar jika ini adalah calon suaminya, tapi kenapa tak ada yang memberi tahunya. Bahkan ibuku belum ada cerita soal ini.
Sepanjang acara ku perhatikan dari ujung kaki sampai kepalanya benar-benar sempurna. Entah kenapa aku cemburu dengan keberadaan dia di sana. Bukankah aku yang lebih pantas ?
ohhh tidak pemandangan yang kemarin terulang lagi, dengan tanpa malu-malu dia mengantarkan lelaki itu sampai mobilnya dan dia tetap memandanginya sampai tak terlihat lagi. Aku bisa gila jika begini terus.
Ibu seperti tahu apa yang aku rasain, dia sengaja mengulur waktu agar pulang lebih lama dan aku bisa ngobrol dengannya untuk meminta penjelasannya.
Tapi yang ada jawaban ketus yang ku dapat, dia seolah menutup rapat masalah lelaki tadi.
__ADS_1
Di rumahnya aku juga benar-benar di cuekin, mungkin sudah memang saatnya aku harus merelakan tapi hatiku menolak.
Pesan yang di kirim shofie malam itu seolah tanda belas kasihnya.
Aku yang mengira ini sebuah sinyal segera saja esok ku temui dia dan langsung ku minta izin ibunya.
Yaa kejadian selama perjalanan hari itupun ku akui salah ku, aku yang tidak bisa mengontrol emosi dan terlalu berlebihan. Rasa bersalah itu semakin menumpuk di dadaku kala tangisnya pecah.
Sudah kesekian kalinya dia kecewa karena kebodohan ku ini.
Aku mundur alon-alon kalo terus begini. Rasa sayangku rupanya menyiksa batinnya.
Semalaman aku memikirkannya apa memang harus aku yang berhenti terlebih dahulu sebelum memulai ? Kemana tekadku kemarin yang menggebu-gebu ingin mendekatinya lagi ?
Benar-benar malam yang panjang, ku seret kakiku ke kamar mandi tuk mendekatkan diri pada robb ku.
Sesaat ku pandangi fotonya kala masih SMP itu yang ku ambil diam-diam, dia begitu polos sederhana dan tetap nomor satu di hatiku, apa iya aku harus menerima semua ini ?
Bismillah saja Allah punya rencana yang jauh lebih indah dari rencana ku.
______
Hari terakhir menemui klien ku disini sengaja ku pinta tak jauh dari hotelku.
Aku yang sampai terlebih dahulu memilih untuk melihat sosial mediaku. kucari satu akun nama yang dulu ku blokir.
Semua akun sosial medianya benar-benar di privasi.
Tak lama datanglah klienku beserta sekretarisnya. Dan kejutan lagi untukku karena klienku ini adalah orang yang ku cemburui, orang yang merebut wanitaku. Ya dialah Malik.
Pertemuan ini benar-benar terasa canggung karena masing-masing dari kami terlihat lebih banyak menatap satu sama lain.
Hingga selesai meeting akhirnya ku tanya langsung perihal kedekatannya dengan shofie.
"Meskipun kami saat ini hanya berteman tapi tidak menutup kemungkinan kami akan menikah suatu hari nanti, mengingat dia yang masih trauma dengan pernikahan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan aku yakin kesabaran ku ini akan membuahkan hasil karena aku pernah sekali melamarnya sebelum dia balik ke kampung halamannya "
Melamar ????
__ADS_1
Apa mungkin perlakuannya kepada Hendra kemarin adalah bentuk dari jawaban dia menerima dan sudah bisa menerima cinta yang baru ??
______
Melihat undangan dari sekolah tempatnya bekerja akupun memilih berdiam diri di rumah saja, percuma jika dia saja tak ingin melihatku sampai ucapan ibu menyadarkan ku.
Ya aku harus benar-benar ikhlas dengan keputusan terakhir shofie. Ibu yang selalu menjadi pendengar ku saat galau gini buatku tak bisa menutupi apa pun darinya perihal percintaanku.
Aku yang sudah mengakhiri hubungan ku dengan Yunda pun merasa lega, meskipun penolakan terus saja dia lontarkan.
Ya setelah ku bujuk akhirnya dia mau melepaskan diri ku dengan ganti rugi berupa uang yang cukup buat dia membulatkan matanya.
Akhirnya aku tau kesetiaannya selama ini adalah hanya untuk materi semata, untuk menunjang penampilannya yang bak sosialita bukan untuk dirinya.
_____
Aku sengaja tidak memberitahu jika ingin ikut dalam parenting itu, aku yang tahu mereka akan mengadakan acara di daerah Tanah Karo pun bergegas menyuruh asistenku untuk mengatur penginapan di sana.
Sebenarnya ini tidak penting untukku hanya saja shofie lah yang menjadi kepentinganku di sana.
Dia dengan hijab hitam yang menjadi warna favorit dia dari dulu terlihat manis sekali apalagi tawa yang menampakkan gigi gingsulnya itu.
Keberadaan ku disini hanya di ketahui oleh Pak Kholiq yang tak lain pamannya sekaligus kepala sekolah ditempatnya bekerja.
Pengawasanku ini benar-benar paling pas karena berada di lantai dua yang langsung menghadap ke hamparan luas yang menjadi tempat kegiatan mereka.
Ku ikuti langkahnya pergi tanpa di sadarinya akupun berdiri di sebelah bangku tak jauh dari tempat duduknya.
Keterkejutannya buatku menahan senyum karena manik matanya yang begitu kaget malu-malu.
Dengan permintaan maafnya aku pun mulai sadar, andai kemarin-kemarin aku tetap sabar tak memaksanya pastilah keadaan akan baik-baik saja seperti hari ini.
Ku jawab apa yang mengganjal di hatinya tanpa ada yang ku sembunyikan karena memang aku ingin memulainya dengan kejujuran.
Tinggal Hubunganku dengan Yunda saja yang tak ku ceritakan karena memang dia gak bertanya dan aku rasa itu tidaklah penting.
Setelah sekian lama akhirnya kami pun memulai pertemanan dengan berjabat tangan.
__ADS_1
Tangan yang sama sekali tak pernah ku sentuh sampai hari ini.