Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Berteman


__ADS_3

Karena kegiatan parenting ini diadakan di tempat terbuka maka kami berangkat ke sana dengan satu unit bus yang dapat menampung sekitar tiga puluhan guru.


Sampai tempat acara kami mendengarkan materi sejenak sebelum di lanjutkan dengan kegiatan lainnya.


Belajar parenting ini sangatlah perlu bagi guru bahkan orang tua juga, intinya parenting ini untuk segala usia.


Ku lihat semua yang ikut serta dalam kegiatan ini merasa tiada beban tuntutan. Parenting yang memang jadi acara wajib di sekolah kami pun menjadi salah satu daya tarik bagi orang tua murid dikarenakan orang tua juga di ikut sertakan sesuai jadwalnya masing-masing mengingat peran mereka sangatlah penting oleh karena itu hubungan antara guru dan orang tua harus terjalin dengan baik agar tercapainya target pada anak.


Selesai kegiatan semua guru sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang makan, jalan-jalan, ngobrol, foto-foto atau sekedar menikmati pepohonan pinus yang menjulang ke langit, seperti yang ku lakukan saat ini.


Tempat Parenting ini diadakan di daerah Tanah Karo yang memiliki pemandangan yang indah serta udaranya yang sejuk.


Aku yang asyik memandang gunung Sibayak tanpa tahu sudah ada orang di sampingku.


"Malik, sejak kapan di sini" tanyaku yang kaget, karena selama kegiatan tadi aku gak melihatnya


"sejak kamu mulai mengikuti permainan tadi"


"Malik, aku minta maaf ya soal waktu itu, sepertinya aku keterlaluan dan gak seharusnya aku ngomong kayak gitu" lirihku


"kan kamu sendiri yang bilang kita harus hidup berdamai dengan keadaan lupain masa lalu hargai orang-orang yang berada di sisimu sebelum kita menyesal ketika dia sudah tidak ada lagi"


kok kayaknya kata-katanya ini mencubit hatiku ini ya, kayak pas banget gitu sama keadaan ku setelah dia gak ganggu aku lagi.


"gimana seneng sama kegiatan nya ?" pertanyaannya jelas banget untuk mengalihkan obrolan


"seneng la masak enggak, Malik makasi ya sudah bersedia jadi donatur di sekolah tempatku bekerja"

__ADS_1


"sama-sama"


"tapi kalo boleh tau kenapa pilihanmu jatuh ke sekolah itu ? sementara kalo ku lihat banyak sekolah lain yang sebenarnya lebih membutuhkan" tanyaku hati-hati


"jadi menurutmu aku salah gitu menjatuhkan pilihan di sekolahmu itu ? "


"ya enggk salah juga si, kan aneh aja, aku tu kayak ngerasa aneh aja gitu seperti ada tujuan lain"


"jujur saja awalnya memang ada, sejak ibuku cerita kamu bekerja di situ aku seperti punya kesempatan untuk dekatin kamu lagi dengan cara jadi donatur, tapi setelah kejadian demi kejadian yang lewat aku sadar itu cara yang salah, tapi tetap niatku tulus memberikan dana itu, toh aku dulu juga kernah bersekolah di situ kan, kalo sekolah itu lebih maju dan berkembang siapa si yang gak bangga apalagi itu sekolah di kampung tapi mampu menyaingi sekolah-sekolah besar yang ada di kota"


"aku dulu pernah mikir ya shof kenapa si setiap tamat dari satu sekolah terus sekolah itu pasti jauh lebih bagus baik dari bangunannya maupun cara belajarnya ! makannya aku bertekad untuk memajukan sekolah yang pernah jadi tempat aku belajar dulu untuk memfasilitasi agar tak ada murid yang pemikirannya sama sepertiku dulu"


"iya ya, kalo di ingat-ingat juga dulu gak ada acara studi tour, parenting orang tua atau lainnya"


"shof, tujuanku datang kesini selain memenuhi undangan aku juga ingin menemui mu"


"untuk permintaan maaf yang kesekian kalinya, aku gak bisa tenang sejak kejadian itu, aku ingin memperbaiki semuanya"


"iya gak papa kok, aku juga ngerti kamu begitu kenapa, sudah ya jangan kita ingat-ingat lagi aku jadinya masih merasa bersalah"


"baiklah, jadi apa sekarang kita uda gak berantem lagi, apa sekarang kita masih bisa berteman lagi ?" tanyanya sambil mengulurkan tangan


"iya kita berteman, kita buang semua kisah menyakitkan itu" sambil ku jabat tangannya.


Tanpa sadar beberapa pasang mata memantau kami dari jauh, siapa lagi kalo bukan guru-guru yang kepo hahaha


_____

__ADS_1


Ting.. ku raih HP ku yang berada di atas nakes


"enak banget ya pasti seru tu, jadi inget waktu kita outbound zaman kuliah dulu"


Pesan balasan dari story WhatsApp ku dari Hendra


"iya ya dulu tiap semester kita pasti gitu kalo enggak kota camping" balasku


Dertt ... belum sempat lagi aku meletakkan kembali HP ku pesan masuk pun ku terima tapi kali ini bukan Hendra melainkan Malik yang sampai detik ini juga tak ku simpan nomornya.


"Assalamualaikum.. shof aku ganggu gak ?"


"enggak kok, kenapa ?"


lama tak kunjung mendapat balasan aku pun tertidur


"maaf ya lama balasnya, aku cuma mau tanya ujung minggu ini ada waktu gak ? aku mau ajak kamu ketemuan, tapi kalau kamu ada urusan lain gak papa kok"


sebelum berangkat kerja ku balas pesannya, ada hal lain yang tak ku pahami, selain sikapnya yang berubah setelah acara parenting itu di tambah lagi ucapan ibunya dan adiknya waktu itu dan yang terpenting hubungan dia dengan Yunda.


Aku takut jika aku menolak akan membuatnya merasa aku masih menaruh marah padanya tapi kalo aku terima untuk ketemuan itu berarti aku jadi wanita perusak hubungan orang ehh padahal cuma ketemuan yakannn.


belum sempat lagi aku membalasnya dia sudah mengirim pesan lagi


"aku tau banyak yang kamu pertimbangkan, aku paham, jadi tak usah memaksakan untuk bertemu ya, lain waktu jika kamu sudah siap "


"terima kasih ya sudah mengerti keadaanku"

__ADS_1


__ADS_2