
Pagi ini seperti biasa Ia tetap menyiapkan keperluan suaminya namun dengan hati yang masih ragu ia pun lebih memilih suaminya di meja makan daripada dikamar.
Saat pulang kerja ia juga tetap melakukan hal yang biasa ia lakukan saat Malik pulang. Ia memilih cepat tidur dan bangun lebih awal. Menghindari hatinya yang masih panas.
Shofie bimbang, pernikahan yang baru saja menginjak dua bulan tapi cobaan sudah tak sabar untuk mampir.
Malik yang merasa sikap istrinya seolah menghindar seminggu merasa terganggu.
"Shofie sudah tidur ya ?"
Ia yang tidur memunggungi suaminya pun membalikkan badannya. " kamu kenapa ? aku perhatikan kamu hindari aku terus belakangan in"
Ia menghembuskan napas panjang." kamu gak mau jelasin sesuatu sama aku ?"
"jelasin apa, aku gak ada sesuatu yang harus ku jelaskan"
Shofie mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Malik yang berpelukan dengan seorang perempuan.
Belum lagi suaminya melihat foto itu HP nya berdering. Melihat siapa yang nelfon ia pun beranjak dari tempat tidur menjauh untuk mengangkat telfonnya.
"siapa si yang nelfon malam-malam begini, apa jangan-jangan cewe yang ada di foto itu ?" ia mendengus dan memilih tidur.
Melihat istrinya yang sudah tidur ke alam mimpi pun membuatnya lupa akan sesuatu yang akan di tunjukan pada dirinya itu.
Pagi ini seperti biasa ia mengerjakan tugasnya layaknya ibu rumah tangga. Malik yang merasa semakin di jauhi pun mencoba untuk mengingat kesalahan apa yang udah ia lakukan.
"apa karena aku tidak jadi menjemputnya waktu itu ? tapi aku kan sudah bilang kalo aku meeting mendadak"
Merasa frustasi ia pun menuruni anak tangga dan melihat istrinya bergelut dengan peralatan dapur dengan senyum yang mengembang. Beda sekali jika sudah berada di dekatnya, ia akan diam seribu bahasa layaknya orang yang sedang sakit gigi.
Pintu kamar terbuka, melihat istrinya masuk membersihkan tempat tidurnya ia segera memeluknya dari belakang.
"hemm sepertinya kamu menghindar terus dari aku, kalo aku ada salah aku minta maaf ya "
__ADS_1
"apa pantes perselingkuhan di maafkan" batin Shofie.
"Jam terus berjalan, cepatlah sarapan" jawabnya cepat meninggalkan Malik sendiri.
Malik gak tau lagi harus bersikap bagaimana. Mendengar jawaban istrinya seperti itu benar-benar menyiksa dirinya.
___________
"Bi Shofie kemana ?" tanyanya pada Bi sumi ketika tak menemukan keberadaan istrinya saat pulang dari kantor.
"tadi non Shofie keluar den gak bilang mau kemana, perginya juga naik motor gak mau di anter sama kang Adi"
"pergi kemana dia, kok gak ada bilang" gumamnya.
Karena takut berkali-kali telfonnya gak di angkat Ia pun mencoba menanyakan pada mertuanya tapi hasilnya tetap istrinya tidak ada di sana begitu juga dengan Ibunya.
Merasa lelah dia pun pergi ke gerai milik Istrinya itu dan tak mendapati apa yang ia cari.
Ia menepikan mobilnya di tepi jalan, ia merasa sikap Shofie kali ini sama seperti saat mereka saling memendam perasaan.
Waktu sudah beranjak malam Ia terus menyusuri tempat-tempat yang mungkin istrinya ada di sana.
Setelah mendapatkan telfon dari bi sumi yang mengatakan kalau Shofie sudah pulang ia pun bergegas membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Sampai di rumah ia langsung menuju kamarnya.
"kamu dari mana aja aku nyariin kamu kemana-mana" ucapnya cemas tapi yang di ajak bicara seolah tak menggubris pertanyaan suaminya itu.
"aku lelah, aku istirahat dulu pakaian mu sudah aku siapkan makanan mu juga sudah aku hangatkan maaf gak bisa nemenin kamu"
Merasa di abaikan Malik pun memilih membersihkan diri dan ikut tidur.
"ya Allah apa kesalahan ku sampai istriku berubah seperti ini" batinnya dalam hati.
__ADS_1
Tidak tahan dan tidak nyaman dengan sikap Shofie ia pun tidur dengan gelisah. Ia duduk dan menyandarkan kepalanya di dashboard ranjang.
Dia berjalan menuju nakas mengambil benda pipih kepunyaan Shofie.
Tangannya dengan lincah mengecek riwayat perjalanan istrinya hari ini.
"pemakaman, jadi dia tadi ke pemakaman Abah" gumamnya
Tangannya bergulir mengecek pesan masuk." astaga jangan-jangan karena ini sikapnya berubah?"
Ia segera memeluk istrinya seperti biasa. " sayang bangunlah, jangan buat aku tersiksa dengan sikapmu ini, aku tidak tahan kamu diamkan seperti ini terus"
Shofie membuka matanya dan duduk menghadap suaminya.
"kamu seperti ini pasti karena ini kan ?, aku jelasin jadi waktu itu emang aku meeting gak sengaja ketemu sama dia gak tau kenapa tiba-tiba dia jatuh dan megang badan aku jadi aku refleks pegang lengan dia udah gitu aja, gak ada janjian sama sekali untuk ketemuan sama dia suer gak bohong kalo kamu gak percaya biar aku telfon Bima sekarang biar kamu percaya karena dia juga ada di situ"
Malik segera menekan kontak Bima sekretarisnya itu dan mengeraskan suaranya. Setelah mendengarkan penjelasan dari Bima akhirnya Shofie percaya dan memeluk suaminya yang seminggu ini ia cuekin.
Ia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang ia rindukan belakangan ini. " maafin aku Malik, abisnya aku kesal sama kamu liat kamu begitu dekat dengan mantanmu itu"
"maafin aku juga yang gak peka sama kamu, aku harap kedepannya kalo ada masalah kita harus selesaikan dengan kepala dingin, di bicarakan baik-baik bukan diam-diaman seperti ini itu sama aja kamu nyiksa aku"
"dan kamu juga jangan mudah percaya dengan siapapun yang mencoba ganggu hubungan kita"
"iya aku janji "
"sayang" bisik Malik dengan suaranya yang menggoda.
"panggilan barukah untuk ku "
"iya dong, kayaknya kita harus buat resepsi biar orang-orang tau kalau kita sudah menikah"
"aku ikut kamu aja"
__ADS_1
Di rasa sudah baikan Malik pun langsung meminta imbalan atas sikapnya ini mau tak mau ia pun memberikannya sebab ia pun sudah sangat rindu dengan sentuhan suaminya ini.