Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Buka Kartu


__ADS_3

Makan malam pun selesai dan kami berkumpul di ruang keluarga untuk melanjutkan yang terjeda tadi.


"diam-diam aja ni kita pak Rasyid ? gak ada yang bisa di kunyah ya " Ayahnya Malik kini bergurau memecahkan keheningan yang da sambut tawa renyah mereka kecuali Malik yang memang belum kembali selesai makan tadi karena pergi ke kamarnya.


"ahhh bapak-bapak ini habis makan juga sudah lapar lagi bagaimana gak makin buncit"jawaban istri pak Herman yang mengundang tawa


"ya habisnya diam-diam aja, sedangkan orang yang berkepentingan saja tak nampak batang hidungnya" ujar pak Rasyid kembali "Buk panggil lo anakmu itu apa dia gak kasian sama kita-kita yang sudah tua ini kedinginan hanya nungguin dia saja" titahnya pada istrinya


Sebelum menjawabnya muncullah orang yang sedari tadi di maksud dengan tampang tak bersalah dan dingin kayak cuaca malam ini


"kau ini Malik gak menghargai sekali ada kami di sini, bisa-bisanya buat kami menunggumu"gerutu ayahnya


"ada yang aku kerjakan tadi" jawabnya enteng


Apa kayak gini dia ngomong sama Ayahnya, gak sopan banget si gerutuku


"jadi bagaimana nak shofie mengenai perasaannya sama Malik?" tanya ibunya Malik


"sebelumnya maaf bu, seperti yang saya katakan tadi sore, saya mungkin masih ada perasaan sama Malik walau hanya sedikit tapi bukan berarti saya bisa menerimanya. Ada hati yang harus di jaga bu"


"maksudnya menjaga hati apa kamu sudah punya pilihan hati begitu ?


"maaf bu kalau soal ini saya tidak bisa jawab"


Ku tatap wajah para ibu-ibu ini yang kecewa dengan jawabanku sedangkan para Ayah hanya manggut-manggut saja, dan dengan jelas Malik mengeraskan rahangnya sebagai tanda kecewanya.


"apa kamu menerima lamaran Hendra shof ?" tanya Abah yang buatku kaget


sementara Orang tuanya Malik hanya mengernyitkan dahi dan saling pandang tak tahu.


"apa sudah ada yang melamar shofie sebelumnya pak Rasyid ?"


"Sudah pak Herman, laki-laki itu kawan kuliahnya sewaktu di Makasar namun shofie tidak menerimanya dengan alasan belum ingin menikah dan hanya menganggapnya sebagai teman saja tidak lebih"


kenapa Abah mesti cerita si aku kan malu ya Allah

__ADS_1


"shofie sekarang ibu tanya sama kamu, kalaupun kamu hanya punya sedikit perasaan untuk Malik apa kamu bersedia untuk menerimanya sebagai suami kamu ?" tegas Ibunya yang sontak saja buatku kaget


Bagaimana bisa ibunya yang meminta bukan anaknya langsung.


Ahhh aku lupa dia sudah beberapa kali menanyakan itu


"saya butuh waktu bu"jawabku menunduk


"sampai kapan nak shofie ? Malik sudah menunggumu terlalu lama, dia selalu menjaga hatinya, walaupun sebelumnya ada wanita lain tapi dia sedikitpun tidak pernah menaruh hati padanya"


"beri saya waktu bu nanti ketika sudah ada jawaban akan saya sampaikan pada ibu saya"


Hebatnya hati dia tak pernah patah sekali, tapi berkali-kali pun dia akan tetap sama, ku kira setelahnya perasaannya berbeda tapi ternyata tetap sama.


Apa salah jika aku harus memikirkan semua ini kembali ? aku juga harus memastikan hatiku sepenuhnya sebelum menerimanya.


Entah kenapa sepanjang malam ini susah sekali untuk memejamkan mata, udara yang amat sangat dingin ini benar-benar jadi teman begadang malam ini,


Ku langkahkan kakiku keluar dari kamar untuk membuat teh hangat dan ku dapati Ayah Malik berbeda di dapur duduk sendiri.


"ah nak shofie mengagetkan saja, ini om tidak bisa tidur jadi buat teh kamu mau ?


"boleh om, terimakasih"


"semenjak kamu pergi ke Makassar dan memilih untuk tidak pulang ke sini dari itu Malik sudah mulai berubah" om Herman memulai ceritanya.


"Entah sudah berapa kali dia memohon bantuan sama om dan istri om untuk menanyakan keberadaanmu dimana saat itu tapi orang tua kamu tidak bisa memberi tahu karena semua ini memang kemauanmu jadi kami tak bisa berbuat apa-apa, dia selalu bilang menyesal kenapa dia harus secepat itu mencari hati lain dan dia selalu saja berandai-andai om jadi tidak tega melihatnya"


sesaat dia meneguk tehnya sampai kandas


"kadang dia bermimpi bertemu denganmu sampai dia begitu takut bahkan dia lebih banyak diam seperlunya saja kalo ngomong untuk itu dia meminta kuliah di luar sambil menenangkan pikiran dan hatinya, selama dia kuliah bareng sama wanita yang bernama Yunda itu sama sekali tak merubahnya seperti dulu bahkan dia semakin dingin, emosinya suka meledak-ledak tak terkendali kadang-kadang mengingat mu saja dia sampai ketakutan untuk itulah kami membawanya ke psikiater saat dia kuliah tapi dia tak mengindahkannya makannya baru dua tahun ini saja dia coba datang sendiri ke psikiater kenalan dari teman kalian itu dan Alhamdulillah sedikit demi sedikit rasa trauma itu mulai hilang, apalagi dia makin bersemangat sejak bertemu nak shofie lagi dan dokter juga bilang banyak kemajuannya makannya om ama istri om akan melakukan apa saja untuk itu" ujarnya bahagia


"om maafkan shofie ya sudah buat dia jadi kayak gini"


"kok kamu minta maaf gak perlu la memang dasar anaknya aja sok yakin ama pilihan yang lain gak taunya di tinggal gitu aja uda goyah"

__ADS_1


Alhamdulillah satu sisi aku senang jika orang tuanya tak menyalahkan ku tapi di sisi lain hatiku tetap menyalahkan diriku sendiri


"wahh sepertinya ada yang lagi ngomongin aku" suara malik datang tangannya langsung menarik kursi di hadapanku


"kau ini mengagetkan saja" ujar ayahnya


"apa Ayah dan calon mantu Ayah ini sedang menggibahin anak Ayah sendiri ? pantes aja aku susah tidur"


Di sentilnya telinga Malik sampai dia mengaduh sakit " calon mantu calon mantu apa dia uda nerima lamaranmu ? pede sekali anak ini, gak ada yang mau sama anak yang sukanya buat Ayahnya jantungan"


"Ayah jangan bikin aku malu di depan shofie dong bisa turun reputasi ku sebagai CEO"


"haaaaaa biar dia tau siapa Malik kalo di rumah gini gak sesuai sama tampangnya kalo di luaran"


Ternyata memang seperti Tom Jerry kelakuan Ayah Anak ini, bisa aja bikin aku ketawa cekikikan melihatnya


"memangnya kalo di rumah dia gimana om ?"


"seperti ini la dia, apalagi kalo adiknya sudah pulang ke sini bisa-bisa rumah kayak kapal pecah si buat mereka, tampang dingin dan arogannya ini memang bawaan dia aja coba uda di rumah uda kayak anak ayam keilangan induknya clingak clinguk bahkan ni ya nak shofie semenjak ketemu kamu selalu aja curhat tentang pertemuan kalian kayak anak ABG saja sampek sakit telinga Ibunya dengerin ceritanya "


"Ayah ini bagaimana si kok malah buka kartu saja"


"biarin aja sudahlah Ayah mau balik ke kamar dulu dan kau Malik jangan berbuat macam-macam sama shofie "


Setelah ayahnya pergi tinggal aku dan Malik saja yang berada di sini dengan perasaan canggung.


"jangan dengerin ucapannya "


"hemm aku balik dulu"


langkah ku terhenti saat tanganku di tarik oleh Malik


"aku harap kamu beri aku kesempatan sekali lagi "


aku terus berjalan tanpa melihatnya

__ADS_1


__ADS_2