
Shofie membuka matanya perlahan lahan, matanya mengelilingi segala sisi ruangan. Dia dapati Malik sedang duduk di atas sofa yang berada di kamar itu.
"Malik"
"Shofie, kamu sudah sadar"
"Aku dimana ?"
"Tenanglah sekarang ini kamu berada di apartemen ku, tadi sewaktu di restoran kamu pingsan jadi aku memutuskan membawamu ke sini, tadi Dokter juga sudah memeriksa mu katanya kamu hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran jadi butuh istirahat yang cukup"
"terimakasih"
"Kalau butuh apa-apa beritahu aku ya, aku di ruang sebelah" hanya ku anggukan saja sebab rasa canggung kini bersama ku karena di sini sepertinya hanya ada kami berdua.
Krik krik ahh perutku sudah demo padahal aku merasa pingsan sebentar, ku ambil HP ku yang berada di dalam tas dan betapa kagetnya aku ternyata ini sudah jam delapan malam. Ternyata lama sekali aku sadar dari pingsan ku ini
Ku langkahkan kakiku ke luar kamar mencari dapur sekiranya di sana aku bisa menemukan makanan untuk mengganjal perutku yang sudah keroncongan.
Apartemen milik Malik bisa di katakan luas banget kayak rumah, bagaimana tidak, kamar yang ku tempati tadi aja sudah luas malah bisa di bilang tiga kali lipat dari kamarku belum lagi ruang TV dan dapurnya dan ruang dimana sekarang dia berada saat ini.
Di dapur hanya ada roti selai dan susu saja tapi sudah cukup untuk mengisi perutku ini.
Prangg... tiba-tiba saja air panas yang aku tuang jatuh begitu saja dan tepat mengenai kaki ku.
Aww Hemmm panas sekali rasanya bisa bisanya aku seceroboh ini.
Malik yang mungkin kaget dengan suara berisik yang mengganggu oun keluar dari ruangannya dan menuju ke dapur karena memang pintunya yang berhadapan langsung dengan dapur.
Dia yang mendapati ku kesakitan pun dengan sigap menggendong ku ala ala bridal style.
Jangan tanyak bagaimana degup jantungku.
Aku yang di gendong mendadak oun refleks mengalungkan tanganku di lehernya.
Dia membawaku ke sofa yang berada di depan TV.
"kenapa gak hati-hati si" dengusnya "kan aku udah bilang kalau butuh apa-apa bilang aku"
Aku yang melihatnya khawatir pun cuma bisa liatin wajahnya yang panik seraya pergi mengambil kotak obat.
Dengan sigap dia mengambil kaki ku dan meletakkannya di atas pahanya.
Aku yang menyadari itu pun langsung menarik kaki ku kembali ke bawah.
"maaf Shof tapi emang bisa ngobati sendiri ?"
Aku cuma bisa geleng-geleng saja karena memang kaki yang terkena air panas cukup lebar.
"Ya sudah sini, aku gak akan macam-macam percaya sama aku, kalo aku mau sudah ku lakukan sejak kamu pingsan tadi"
Glek denger kata-katanya tadi. Mau tidak mau aku pun menurutinya.
"Malik"
"Hemmm"
"Terimakasih"
"Lain kali jangan ngerepotin gini"
"iya, sekali lagi terimakasih ya"
__ADS_1
"Memangnya tadi kamu mau ngapain ?"
Aku hampir saja lupa dengan lapar yang melanda.
Krik krik bunyi perut memang gak bisa kompromi.
"kamu lapar "
"Iya"
"Tunggu di sini"
Dia kembali dengan segelas susu hangat dan roti panggang selai.
"Makanlah setelah itu tidur kembali"
"Tapi aku harus pulang Malik, aku gak mungkin bermalam di sini"
"Jangan egois, pikirkan sakit mu itu, memangnya bisa berjalan sendiri ?"
Benar juga, tidak aku pungkiri rasa nyeri begitu terasa tapi kalau aku tidak pulang bagaimana aku tidur nanti. Sementara di sini hanya ada satu kamar.
"Aku bisa pulang naik taksi"
"Keras kepala sekali"
Dia berjalan menuju kamarnya dan kembali dengan membawa selimut.
"Aku nanti tidur di sini, cepatlah makan setelah itu akan ku bantu kembali ke kamar"
Baiklah jika aku harus melewati malam ini tidur satu atap dengannya tidak masalah, hanya semalam karena kondisi juga tidak memungkinkan.
Ya, Malik mungkin berada tak jauh dariku hingga dia melihatku berjalan dan membiarkanku pergi sendiri dia hanya memperhatikan saja sampai aku hendak terjatuh.
Tangannya yang cepat menahan tubuhku.
"Cukup Shof, berapa kali aku bilang jangan egois"
Tanpa nunggu jawabanku dia lagi-lagi menggendong ku ala-ala bridal style.
"Buka pintunya"
Ku raih handle pintu dan masuklah aku ke kamarnya lagi. Dia merebahkan badanku perlahan lalu membantu menaikkan kakiku ke atas ranjang
"Berat sekali, lain kali jangan menyusahkan"
Sejak aku bangun Malik tidak ada ramahnya sama sekali. Ketus saja ucapan yang jeluar dari mulutnya itu.
"beri salep sebelum tidur di luka yang terkena air panas tadi biar lekas kering" Dia memberikan salep dengan wajahnya yang datar.
"Jika perlu sesuatu tengah malam telpon saja, nanti ku bantu" Dia berlalu pergi setelah mengatakan itu dan menutup pintunya rapat-rapat.
Tidak berapa lama Dia kembali lagi ke kamar.
tok tok
"Gantilah bajumu karena tidak mungkin kamu tidur dengan baju yang setengah basah itu sampai besok" Dia menyerahkan bag yang berisikan baju panjang dan perlengkapan.
"Perlu bantuan ke kamar mandi ?" tanyanya yang buatku merasa khawatir
"Tidak perlu nanti aku ganti di sini saja,yang penting kamu jangan pernah masuk, aku tak ingin terus merepotkanmu, cukup hari ini saja"
__ADS_1
"Baiklah"
_________
Aku terbangun pukul empat pagi karena alarm setiap hari memang aku stel seperti itu.
Pelan-pelan ku langkahkan kakiku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum sholat Subuh.
Setelah kewajiban ku selesai ku langkahkan kakiku ke luar lalu ku lihat Malik tidak berada di sofa depan TV berarti sejak malam tadi Malik tidak tidur di situ, tapi dimana dia ?
Dengan terpaksa ku buka pintu ruangan yang diabmaksud malam tadi.
Ceklek
"Malik, apa kamu tidak tidur semalaman ? kenapa berada di sini sampai pagi ?"
Dia mematikan laptopnya lalu menghampiriku yang berdiri di ambang pintu.
"Kau sudah lebih baik" ku anggukan kepala ku saja " baguslah aku ke kamarku sebentar"
_______
Sambil menunggunya keluar akuoun pergi ke dapur melihat lihat persedian bahan makanan yang ada di kulkas
Karena hanya ada bumbu seadanya aku bergegas memasak nasi goreng dan telur untuk sarapan kami pagi ini.
Sekian lama aku memasak selama itu juga dia belum keluar dari kamar.
Akupun mengetuk pintu itu karena tidak mendapat jawaban aku beranikan diri membukanya.
Masya Allah dia tertidur di atas sajadah. Mungkin karena ngantuk begadang sampai pagi langsung saja dia terlelap setelah selesai sholat.
"apa dia selalu seperti ini kalau menyelesaikan pekerjaannya sampai pagi ?" gumamku dalam hati
Antara mau bangunin apa tidak jadi bimbang. Kalau di bangunin kasian karena dia baru saja tertidur tapi kalau gak di bangunin nanti dia pasti terlambat bekerja.
Semoga saja keputuuku membangunkannya tepat.
"Malik Malik bangunlah sudah siang"
"Malik Malik"
"Hemmmm"
"Malik bangunlah, jika kamu gak bangun sekarang aku akan pulang terlebih dahulu tanpa harus menunggumu bangun"
"baiklah, aku akan mengantarmu"
Dia berjalan ke kamar mandi dan akupun kembali lagi ke dapur.
Setelah dua puluh menit dia pun berada di dapur.
"Makanlah aku lihat tidak ada bahan makanan apapun yang ada di sini jadi cuma ini yang bisa aku masak"
"Namanya juga singgel apalagi aku sering keluar kota bahkan di sini saja belum tentu sebulan sekali jadi wajar saja kalo gak ada apa-apa"
Induk Perusahaan Malik sebenarnya ada di Medan dan di Jakarta ini dia buka cabang baru dua tahun saja. Itu si yang aku dengar dari pembicaraan Ayahnya Malik saat menjenguk Ibu saat di rswat di rumah sakit.
"Shof kemarin katanya ada yang mau di bicarakan tapi kamu keburu pingsan duluan, memangnya mau ngomong apa"
Kalau ini benar-benar uda gak ke inget lagi dah ahh
__ADS_1