Cinta (Tak) Berpemilik

Cinta (Tak) Berpemilik
Bersedia Menjadi Istrimu


__ADS_3

"Nak, hari ini tidak lupa kan acara di rumah Ibunya Malik ?" Ingatkan Ibu saat selesai sarapan.


"Iya Bu Shofie ingat kok"


"Kalian ikut juga kan ? tanya Ibu pada kak Zahra.


"Sepertinya kami tidak bisa ikut bu, aku sedikit tidak enak badan. Lagian entar kasian juga Ayyub kalau harus di ajak berlama-lama di sana"


"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat saja mungkin lelah karena begadang terus. Ayyub nanti kalau bisa sama Kamu saja nak Dimas, jaga-jaga saja agar Ayyub tidak ikutan sakit"


"iya Bu"


Sebenarnya untuk pergi ke sana itu hatiku banyak sekali pertimbangannya. Satu sisi aku pasti akan bertemu Malik, bukan apa-apa hanya saja rasa saat terakhir ketemu itu masih teringat. Bukan kepada marah atau benci, mungkin lebih menarik diri saja.


Sudah tak berharap banyak. Semua sudah ku pasrahkan saat kali terakhir pertemuan itu.


Saat tiba di kediaman Malik tamu undangan begitu ramai. Dari pakaian yang dikenakan seperti sudah di atur. Ahh aku baru sadar kalau ibu juga bagian dari salah satu dari mereka. Terlihat dari warna baju yang Ibu kenakan "abu-abu" yang menandakan kalau Ibu teman SMA Bu Susi walau kenyataan mereka sampai satu kampus.


Tamu yang hadir lebih kepada rekan dan kolega dari keluarga ini, terlihat sekali dari para tamu yang hadir.


Kakaknya Malik ini pandai sekali merangkai kata. Entah itu benar atau tidak biarlah nanti ku temui sendiri kebenarannya.


"Coba deh datengin dia, pasti dia gugup, kakak jamin. Bukan apa-apa ni ya, kadian kakak ni lihat dia yang belum benar-benar lupain kamu"


"Kakak ini bicara apa si, biasa aja kak, yasudah aku temui dia dulu ya"


Dan entah kenapa ringan sekali kaki ku melangkah menuju ke arah Malik.


"Hai apa kabar ?" sapaku pada malik


"Baik" singkat gak ada basa basinya.


Karena gak ada pembicaraan di antara kami malik pun beranjak pergi tapi sesuatu terjadi sampailah nampan yang di bawa oleh pelayan terjatuh dan airnya tepat mengenai bajuku.


Aku yang panik hanya bisa membersihkan dengan tisu yang ada di atas meja tapi malik tiba-tiba saja menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya.


Bahkan kepergian kami sedikit menarik perhatian para tamu, bukan karena bajuku yang basah tapi karena Malik yang memegang tanganku.


"Malik lepasin" pintaku ke Malik yang terus memegang tanganku.


"Maaf Shof, tunggulah di sini jangan kemana-mana" titahnya kemudian pergi entah kemana.


Dia kembali dengan membawa pakaian ganti yang tak ku tau dia dapat dari mana. Dia memintaku untuk berganti di kamarnya yang ada di atas.

__ADS_1


Di dalam kamarnya terlihat sekali detail nya, semua barang-barang tersusun rapi. Mataku menyapu sisi ruangan ini dan mataku tertuju pada nakes yang berada dekat tempat tidurnya.


Kakiku berjalan begitu penasaran hingga mataku terbelalak menatap foto yang berada di situ. Ya itu fotoku yang tertidur pulas saat kami berada di Brastagi waktu itu. "Berani sekali dia memotret ku begini, awas saja "gumamku


Tiba-tiba ada yang berdesir di tubuh ini. Buat apa dia memajang fotoku di kamarnya. Apa dia tidak malu jika di lihat keluarganya.


Setelah selesai aku pun keluar dan melihatnya tetap setia menunggu di luar.


Dia memintaku untuk meletakkan kembali pakaian yang tadi ku kenakan agar di tinggal saja.


Setelah kembali ke tempat acara aku pun pamit pulang pada Malik serta orang tuanya tak lupa ucapan selamat kepada Farhan adiknya Malik.


Entah kenapa Malik terus mengekori ku sampai dimana mobil kami berada. Tak lain dan tak bukan ternyata dia ingin mengajakku keluar besok malam.


Agak ragu sebenarnya untuk menerima ajakannya tapi setelah waktu itu, aku bertekad untuk tidak melupakan orangnya dalam hidupku melainkan memadamkan harapanku.


___________


Selepas Maghrib Malik benar-benar datang ke rumah. Suara deru mobil malik terdengar saat aku tengah menonton TV.


Setelah masuk ia pun ngobrol di temani Abah dan Ibu. Sedangkan aku bersiap di dalam kamar.


Kami pun pamit dan Malik meminta izin pada orang tuaku. Entah mengapa Ibu sedari tadi senyum-senyum gitu menatapku. Atau mungkin ada yang salah dengan penampilanku. Tapi rasanya tidak semua biasa saja pikirku.


Setelah sampai kamipun menuju tempat yang sudah di reservasi terlebih dahulu dan tentunya Malik lebih memilih VIP agar lebih privat.


Sambil menunggu pesanan datang kami pun bercerita tentang kesibukan kami belakangan ini sampai pada pernyataan malik yang masih ku cerna.


"Ku kira hatiku sekeras batu ternyata hanya segumpal es yang bisa cair kapan saja. Shofie kecewamu sering ku buat untuk itu dengan berat aku ingin meminta maaf untuk yang kesekian kalinya dan untuk yang kesekian kalinya juga aku ingin menjalin hubungan yang serius sama kamu "


"Aku ingin kamu menemani ku sampai nanti, aku ingin kau jadi Ibu dari anak-anak ku nanti"


"Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal untukmu, tapi yang pasti aku selalu berusaha bagaimana bisa bahagiakan kamu"


"Cukup kemarin-kemarin aku kehilangan kamu tapi selanjutnya aku tidak ingin lagi"


"Shofie aku ingin memintamu jadi istri ku, jadi wanita dari lelaki yang lemah akan masalah hati, aku ingin menjadikanmu wanita terakhir yang ku sayangi setelah Ibuku "


Percakapan kami terhenti saat pelayan datang membawa pesanan kami.


"Emm Malik kita makan dulu ya" pintaku pada Malik yang sebenarnya aku bingung mau jawab apa.


Tak ada suara yang terdengar selain sendok dan piring yang beradu.

__ADS_1


Selesai makan kami saling diam dengan pikiran masing-masing.


"Shof, jadi bagaimana ?"


"Aa Akuu... bisakah beri aku waktu untuk memikirkannya ?"


"Dulu juga begitu tapi akhirnya aku kehilanganmu beberapa tahun" ujarnya menatapku sendu.


"Malik, kau tahu kamu pernah ada di sini, setelah waktu yang cukup lama pun kau tetap ada. Aku hanya ingin memastikan dengan benar bahwa kau tetap berada di sini, aku janji tidak akan kemana-mana"


"Baiklah, aku tunggu jawaban kamu, jika nantinya kau menerima ku aku akan segera datang menemui orang tuamu, tapi jika kau tidak menerima ku aku harap hubungan kita tetap seperti ini"


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah selesai kami pun langsung pulang. Dalam perjalanan gak banyak yang kami bicarakan. Yang ada di pikiran ku saat ini hanyalah jawaban apa yang harus ku bilang pada malik.


Hatiku masih berdebar saat dekat dengannya. Perasaanku masih marah saat dia menolak ajakanku. Logikaku kali ini sepertinya setuju dengan hatiku.


Setelah waktu yang lama kami dengan cerita kami masing-masing mungkin memang saatnya aku menerima Malik.


"Shof sudah sampai" Ucapan malik membuyarkan lamunanku.


"Shof, are you oke ?"


"I'am ok, emm Malik, aku bersedia menjadi istrimu" ucapku yang buat malik seperti tidak percaya.


"Kau sungguh dengan ucapan mu barusan ?"


"Apa harus ku katakan sekali lagi biar kau percaya ?" " Ya aku menerima mu jadi suamiku Malik" ucapku sekali lagi yang berhasil membuat dia refleks memeluk ku.


"Terimakasih Shof aku akan secepatnya menghalalkan kamu"


"Iya terimakasih untuk semua waktu kamu tapi ini kita belom halal lo bisa di lepasin dulu gak ?"


"Astaga maaf Shof aku teramat senang"


"Baiklah aku turun dulu, jaga kesehatan mu aku tunggu kabar selanjutnya " ucapku lalu keluar dari mobilnya.


Setelah mobil Malik menghilang akupun segera masuk ke rumah dan membersihkan diri lalu istirahat.


Untuk hari ini rasanya beda sekali, seperti ada beban yang terlepas, rasa sesak yang ada seperti keluar plong gitu aja.


"Jika dia jodohku tolong dekatkan kami dan lancarkan urusan kami ya Allah " gumamku.

__ADS_1


__ADS_2