Cinta Gila

Cinta Gila
10. Keadaaan Rumah Handoko


__ADS_3

B … bukan seperti itu maksud saya Tante. Ya sudah saya sholat dulu mumpung belum batal" Fauzan terpaksa terkekeh walau tak lucu untuk mencairkan suasana.


"Aku berniat baik malah salah sangka. Huuuh dasar orang perempuan berburuk sangka terus" batin Fauzan dalam hati seraya berjalan menuju tempat ia tidur untuk melakukan sholat. Setelah selesai sholat Dia tidak langsung beranjak seperti biasanya. Namun kali ini ia merasa sangat rindu pada pemilik kehidupan, dibasahinya bibir dengan berzikir. Pikirannya melayang pada sebab ia diasingkan tanpa aba-aba airmata nya kembali metes, hatinya memanas ingin membalas perbuatan sahabatnya itu. Seketika ia teringat pada Tuhannya dan mengucap istighfar sebanyak-banyaknya. Ia ridho dengan keputusan takdir kemudian Fauzan berdoa sebelum ia beranjak.


"Kakak sudah bangun?" tanya Rizal mengucek matanya sedangkan tangan dan kakinya penuh benjolan karena gigitan nyamuk.


"Sudah Dek. Rizal yang pinter ya, jangan susahin ibu Rizal, harus nurut!" ucap Fauzan diikuti kekehan kecil. Setelah selesai memberesi hamparan kardus bekas ia tidur, Fauzan berjalan keluar gubuk menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya. Bau tanah basah masih menguar menusuk hidung sedangkan kabut tipis menyelimuti permukaan tanah yang basah. Matahari sebentar lagi muncul, Fauzan menarik nafas perlahan dan mengeluarkannya dari hidung. Ia melakukan peregangan sederhana untuk otot-ototnya, hal ini sudah menjadi kebiasaan sejak kecil sehingga Fauzan bisa memiliki tubuh atletis.


"Tante!" Fauzan melihat ibu Rizal dan memanggilnya seranya berjalan mendekat dengan ransel yang sudah ia sandang.


Ibu Rizal menatap sinis mungkin rasa kesal tadi pagi belum juga hilang sehingga ia tidak menghentikan aktivitasnya meski Fauzan sudah di sampingnya persis. Tumpukan karung yang sudah bersih beliau cuci, terlipat rapi di atas bebatuan sungai. Air sungai yang sedikit keruh dan tinggi akibat hujan kemarin.


"Apa Tante sudah sehat, kok pagi-pagi sudah berendam di air Tan?" Fauzan bertanya sekedar untuk basa-basi tetapi jawabannya membuat Fauzan mengelus dada. Hanya deheman yah itu jawaban yang ibu Rizal berikan tanpa menoleh.


"Sebenarnya saya mau minta maaf soal kejadian tadi padi Tan. Tolong maafin Fauzan atas kelancangan saya Tan" ucap Fauzan memohon.


"Iya! Makanya jadi anak jangan sok keminter ntar keblinger!" jawabnya ketus dengan tangan sibuk mengucek karung.


"Iya Tan, Fauzan juga pamit mau ngelanjutin perjalanan dan …" Fauzan belum saja menyelesaikan ucapannya tetapi sudah dipotong.


"Ya sudah sana kalau mau pergi. Saya juga mau pergi sama Rizal" 


"Tante mau pergi kemana" tanya Fauzan penasaran.


"Ngerongsok lah biar dapat duit buat makan!" jawabnya ketus dengan mata melirik sana merilik sini.


"Oh iya-iya Fauzan lupa kalau Tante bekerja sebagai tukang rongsok" kata Fauzan melawak disertai kekehan berharap ibu Rizal tidak cuek lagi.

__ADS_1


"O .. kamu mengejek saya ya!" Ibu Rizal memasang tanduk dengan tangan terangkat memegang karung kotor.


"Tidak Tante. Saya tidak berani mengejek Tante. Fauzan cuma mau bilang ini untuk Tante dan Rizal" Fauzan menyerahkan bungkusan hitam.


"Masyaallah alhamdulillah Nak kamu baik banget" ucap ibu Rizal dengan mata berbinar setelah membuka bungkusan yang berisi emas sedangkan Fauzan hanya tersenyum ikut bahagia.


"Kamu dapat emas sebanyak ini dari mana" tanya ibu Rizal kepo.


"Itu pemberian ibu saya Tan, tapi sepertinya Tante dan Rizal lebih membutuhkan daripada saya"


"'Masyaallah hati kamu baik banget"


"Hati saya biasa-biasa aja Tan"


"Ibu" teriak Rizal dari kejauhan berlari. Bocah kecil itu memeluk ibunya erat, tetapi pelukannya perlahan merenggang setelah melihat ibunya menggenggam kantong hitam. Diraihnya dan kemudian dibuka.


"Iya Nak. Di kasih sama kakak yang baik hati. Ayo berterima kasih!"


"Terimakasih Kakak baik hati. Kakak mau pergi" tanya Rizal murung.


"Iya Dek. Jaga ibu ya baik-baik!" Ujar Fauzan seraya mengusap pucuk kepala.


"Iya Kak. Jangan lupa Kakak mampir ya kalau lewat sini" Rizal dan Fauzan saling memeluk, tanpa terasa telah mengalir buliran bening dari kedua insan yang saling menyayangi tanpa syarat.


"Kakak berangkat ya. Ini sudah jam tujuh, ntar kakak kemalaman dijalan kalau berangkatnya siang" Fauzan menunjuk arloji yang setia melingkari pergelangan tangannya.


"Hati-hati Kak" ucap Rizal berteriak.

__ADS_1


"Iya hati-hati di jalan Nak. Ingat jalanan pasti licin karena habis hujan dan jangan sungkan mampir kalau lewat sini" ucap ibu Rizal dengan senyum mengembang.


"Terimakasih Bu" Fauzan beranjak pergi meninggalkan anak dan ibu yang masih memandang kepergiannya.


***


Handoko sudah mulai terbiasa tanpa Fauzan di rumah sedangkan Vero azkya dan putra bungsunya Khoirul Azam musrofa masih merasa sangat kehilangan. Beberapa kali Azam menanyakan keberadaan sang kakak tetapi Vero maupun Handoko selalu mencari alasan yang lain sehingga membuat Azam melupakan sejenak hingga suatu saat rasa rindu kepada sang kakak kian membuncah, amukan serta tangisan tak mampu Vero hentikan. Handoko yang merasa terusik dengan tangisan putra bungsunya kini mendekat dengan tayapan tajam. Bukannya diam melainkan semakin menjadi Azam menangis.


"Diam" bentak Handoko pada Azam. Bocah yang baru berusia tiga tahun itu menjerit histeris mendengar bentakan dari sang ayah. Sebelumnya Handoko tidak pernah sekeras itu pada putra-putranya. Namun kali ini dia sudah bosan dan jenuh dengan pertanyaan Fauzan setiap hari dari putra bungsunya. Vero semakin terisak, hatinya sakit bak disayat pisau berkarat lalu di kucuri asam diatasnya. Dia berjalan mendekat dan meraih Azam kedalam pelukannya, belum lagi kesedihan atas perginya Fauzan sembuh kini hatinya patah oleh sikap suami pada putra bungsunya.


"Cup … cup … sayang minum susu ya nak. Dedek Azam kan sudah pintar" Vero berusaha merayu Azam.


"Nggak! Dedek nggak mau susu! Dedek mau kakak Izan. Mau main sama kakak Izan" rengek Azam disusul dengan tangisnya yang pecah kembali.


"Ya sudah kalau nggak mau susu, kita cari bersama kakak Izannya sayang tapi dedek harus diam dulu, nggak boleh nangis lagi" pinta Vero pada Azam.


"He'em. Dedek mau diam. Dedek mau kak Izan" Azam berusaha menahan tangis hingga yang terdengar hanya isakannya saja. Namun bocah kecil itu sudah terlalu lama menangis sehingga isakan kembali terjadi, tangis yang sangat pilu. Vero meraih kain gendong di dalam lemari dan bergegas menggendong Azam yang terduduk di atas tempat tidur. Gegas ia pergi keluar rumah untuk menghibur Azam, berjalan kesana-kemari di depan teras. Namun Azam sudah mengerti kalau ibunya hanya mondar-mandir saja tanpa berpindah tempat, pecahlah kembali tangisnya.


"Sttt … sayangnya ibu nggak boleh nangis terus. Yok kita càri lagi kakak izan nya" Vero berusaha menenangkan Azam seraya menepuk-nepuk pantatnya. Dia berjalan mèlangkah keluar rumah dan mengelilinginya. Tidak butuh waktu lama Azam pun tertidur. Melihat hal itu Vero melangkah memasuki rumah hendak membaringkan Azam. 


"Maafkan ibu, sayang. Kakakmu pasti kembali" Vero berbisik di telinga Azam setelah menidurkan di atas ranjangnya. Diusapnya perlahan pucuk rambut dan ditatap wajah lugu bocah kecil ini. Sesekali terdengar sisa isakan tangisnya membuat Vero semakin terenyuh.


"Yah … kira-kira Fauzan sudah sampai apa belum ya Yah" tanya Vero pada suaminya.


"Kalau dia langsung kehutan tanpa mampir dulu pasti dia sudah tiba" jawab Handoko pendek. Pandangannya fokus pada layar laptopnya.


"Apa boleh ibu mengeceknya Yah. Sungguh ibu sangat khawatir dengan keadaannya"

__ADS_1


"Vero!" Handoko menatap dengan tatapan tajam.


__ADS_2