Cinta Gila

Cinta Gila
28. Ariana mulai membaik


__ADS_3

"Kami dengar masalah yang menimpa pak kades itu bohong. Apa itu benar Bu?"  tanya tante Ersi dan di anggukkan oleh beberapa ibu-ibu yang bersamanya. 


"Iya benar. Semua itu hanya salah faham dan yang bersangkutan sudah meminta maaf pada pak Kades. Bagai mana tante Ersi dan juga ibu-ibu bisa tau masah ini, padahal kami belum kasih tau, loh" tanya bu Sekdes.


"Ah bu Sekdes kayak nggak tau kita-kita aja. Kita selalu lebih cepat mendapatkan berita dari ibu-ibu yang lainnya, ya kan bu-ibu" ucap tante Ersi 


"Iya betul" jawab ibu-ibu yang lain bersamaan.


"Ya sudah, sekarang bubar,Bu. Malu tuh kalau didengar sama ibu camat" ucap bu sekdes dengan tangan menunjuk ke arah aula yang berjarak hanya beberapa meter saja.


"Ada bu Camat juga di aula. Biarin beliau tau" ucap salah satu ibu dari mereka.


"Iya. Lagi pula Pak Rt harus diberi tindakan. Seenaknya saja main fitnah. Apa lagi malam itu hampir saja saling adu jotos. Untung bu bidan datang dan memberi solusi yang tepat. Malu sih pasti tapi biar kapok dan menjadi pelajaran bagi yang lain, pak Rt harus di tindak" sahut ibu yang lain.


"Benar sekali itu, Bu" jawab tante Ersi.


"Saya sudah minta maaf tadi di hadapan perangkat desa lainnya, bu-ibu. Kalau tidak percaya tanya saja sama pak kades atau bu sekdes yang masih disini" Pak Rt memberanikan diri untuk menjawab ocehan ibu-ibu yang berada di hadapannya.


"Hey … pak Rt! minta maaf itu wajib karena memang bapak bersalah. Tapi selain minta maaf bapak juga harus di tindak sehingga memberikan pelajaran bagi yang lain" ujar tanye Ersi lantang dengan tangan di pinggang.


"Bu … pak Kades saja tidak lagi mempermasalahkan ini. Kenapa ibu-ibu ingin saya di tindak. Masalah ini sudah selesai" cetus pak Rt tanpa merasa bersalah.


"Pak kades melakukan ini karena beliau orangnya legowo. Tapi kami tidak akan terima ini begitu saja" sergah tante Ersi.


"Gini saja Bu, masalah ini kita bahas kalau pak Kades ada di tempat. Saat ini beliau sedang keluar" jawab bu Sekdes menengahi.


"Baiklah. Kami akan datang nanti sore kerumah pak Kades" Tante Ersi meninggalkan kantor bersama ibu-ibu lainnya.

__ADS_1


***


Di tempat lain, Handoko sedang dalam perjalanan. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, terbayang sudah senyum manis milik gadis yang baru berusia tujuh belas tahun itu sehingga sudah tidak sabar lagi ia untuk segera sampai.


Ditengah perjalanan, Handoko menghentikan mobilnya tepat di depan toko buah. Ia berniat membeli oleh-oleh untuk gadis yang akan ia temui. Setelah memilih beberapa buah dan membayarnya, Handoko kembali melajukan kemudinya. Bahkan disepanjang perjalanan senyumnya terus saja memgembang.


"Setelah ini masalah akan selesai, Ariana bisa hidup seperti biasanya. Dan aku bisa menceritakan ini semua ke istriku. Pasti dia tidak akan marah" ujar Handoko bermonolog sendiri. Beberapa kali ia memandang sekeranjang buah yang telah dia pilih dan akan diberikan pada Ariana.


"Semoga saja Ariana suka dengan buahnya" Handoko membayangkan seorang gadis cantik bangun dari brankar rumah sakit dan menerima oleh-olehnya dengan senyum yang mengembang. Tanpa disadari Handoko juga tersenyum sendiri, memang selama ini dia sangat menginginkan seorang anak perempuan tapi apa boleh buat, takdir tidak memberikan seorang putri dari rahim istrinya dan sekarang Vero menolak untuk hamil lagi. Maka dari itu Handoko menganggap Ariana sebagai anaknya terlebih usianya tidak jauh dari Fauzan, putra sulungnya.


Mobil berhenti di parkiran rumah sakit, Handoko keluar dan menenteng keranjang berisi buah. Ia berlari kecil agar segera sampai di lantai dua, tempat Ariana dirawat. Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan gadis malang itu setelah ibu Hamidah mengirim pesan singkat tadi pagi.


"Assalamualaikum" ucap Handoko setelah mengetuk pintu pelan.


"Waalaikumsalam. Nak Handoko, ayo masuk. Apa kabar keluargamu, nak Han?" Bu hamidah menyambut Handoko dan mempersilahkan duduk di kursi yang tersedia, setelah keduanya masuk kemudian menutup pintu kembali.


"Alhamdulillah semuanya sehat, Bu. Ini saya bawa buah, semoga Ariana suka" Handoko meletakan keranjang berisi buah diatas meja dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi dekat brankar.


"Bagaimana kabarmu Ariana?" tanya Handoko dengan melempar senyum. Pandangannya mencari manik hitam yang terbaring di hadapannya. Namun sia-sia, Ariana tidak mau menatap Handoko sedari tadi sehingga membuatnya sedikit kecewa.


"Seperti yang Bapak lihat, aku sudah mulai membaik" jawab Ariana ketus. Ia terus saja memalingkan wajahnya.


"Saya minta maaf karena tidak bisa hadir saat kamu dioperasi" ucap Handoko menatap ke segala arah, hatinya menyesal karena situasi ini.


"Bapak datang atau pun tidak, hasilnya tetap sama. Aku sudah tidak memiliki rahim lagi  lantas untuk apa aku hidup" Ariana sedikit berteriak menahan tangis yang sedari tadi tertahan.


"Saya minta maaf atas kejadian waktu itu, dan sebe …" ucapan Handoko terputus oleh tindakan Ariana.

__ADS_1


"Pergi! Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat orang yang telah menghancurkan hidupku!" teriak Ariana sengit dengan melempar bantal ke wajah Handoko namun ditangkap dengan baik olehnya.


"Sabar sayang. Ibu sudah bilang tadi kan. Coba kendalikan emosimu" Bu hamidah memeluk tubuh langsing putrinya. Ia ingin menenangkan hati Ariana yang masih terluka meski sudah berulang kali bu Hamidah menghibur dan juga memberi pengertian tapi ternyata lukanya belum juga  terobati.


"Sudah kucoba untuk sabar, Ibu dan menerima garis takdir yang telah dia berikan, tapi hatiku sangat sesak melihat bapak ini" keluh Ariana dalam dekapan ibunya. Suara tangisnya perlahan pecah tidak dapat terbendung lagi.


Handoko yang mendengar penuturan gadis berumur tujuh belas tahun ini sangat sedih, ia menyadari kesalahan yang tidak sengaja ia lakukan tapi bisa membuat hidup seseorang hancur. Dilangkahkan kaki menuju pintu tanpa sepatah katapun, dan mengusap air mata yang sempat menetes tanpa sepengetahuan ibu dan anak itu.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan hidup Ariana" pikir Handoko. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi yang ada di depan pintu kamar pasien. Merutuki nasib yang menimpanya dan menyesali semua perbuatannya meski sudah terlambat.


"Saya mau bicara sesuatu yang penting" Bu Hamidah berdiri di samping Handoko setelah menutup pintu pelan.


"Silahkan" jawab Handoko singkat


"Saya ingin Bapak menjamin hidup putriku. Setelah apa yang terjadi, Ariana pasti sangat sulit melanjutkan hidupnya. Terlebih dengan jodohnya. Siapa yang mau dengan gadis tanpa rahim. Jika pun ada pasti orang itu memiliki kekurangan yang seimbang dengan putriku. Malang sekali nasibmu, nak" ucap bu Hamidah menumpahkan segala resah didada.


***


Handoko frustasi dengan ucapan bu Hamidah tadi di rumah sakit. Bahkan berulang kali ia memukul setir mobil untuk meluapkan segala kekesalannya.


"Bagaimana cara untuk memberitahukan Vero. Dia pasti tidak akan setuju apa yang diinginkan bu Hamidah. Oh Allah … beri aku jalan keluar untuk masalah yang ku hadapi ini" gumam Handoko dengan meraup wajahnya kasar. 


Azan magrib terdengar berkumandang melalui radio. Handoko segera mencari masjid terdekat untuk melaksanakan ibadah dan mengadu semua masalah yang dihadapi. Setelah setengah jam, ia pun menemukan masjid di pinggir jalan dan segera turun untuk melakukan sholat meski tidak bisa ikut berjamaah karena sudah tertinggal. Setelah selesai ia kembali melanjutkan perjalanan dan sesekali mengunyah martabak telur yang sempat ia beli kepada penjual keliling. 


"Dua jam lagi sampai. Semoga Vero belum tidur" Handoko melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Dan tanpa sengaja ekor matanya melirik benda pipih yang tergeletak di kursi sebelahnya. Kemudian ia menyadari bahwa belum menyentuh ponsel mulai dirinya pergi ke rumah sakit.


"Astagfirullah … ada apa Vero memanggilku sampai sebanyak ini, dan ini terakhir lima belas menit yang lalu" gumam Handoko heran saat melihat istrinya memanggil sampai dua puluh lima kali. Tanpa menunggu lagi, ia menekan nomor istrinya.

__ADS_1


"Ayah sekarang dimana cepat pulang!" teriak Vero di ujung telpon. Padahal Handoko belum sempat mengucap sepatah kata pun. Namun istrinya sudah berteriak dan mematikan panggilan sepihak setelah mengatakan kalimat yang singkat. 


Rasa gundah dan juga bersalah menyelimuti batin Handoko. Ia tidak tahu lagi kemarahan apa yang akan dihadapi saat bertemu dengan istrinya nanti. Bahkan berbagai pertanyaan melayang-layang di dalam pikirannya. Apa gerangan yang membuat istrinya sampai semarah itu


__ADS_2