Cinta Gila

Cinta Gila
CG# 42


__ADS_3

Terdengar suara keributan di kediaman Sapto Hudoyo, lebih tepatnya di kamar sang anak, Laras.


"Pokoknya Laras tidak akan pernah menikah, kecuali dengan Mahesa. Titik!" Laras menolak untuk menikah dengan Marcelo.


"Jangan gila kamu, Laras! Mahesa sudah mati, mana mungkin bisa menikahi kamu," murka Sapto Hudoyo.


Orang tua mana pun pasti akan marah jika sang anak membantah. Apalagi anak itu telah melakukan kesalahan yang mengakibatkan nama baik keluarga tercoreng. Seperti halnya Sapto, dia hanya ingin yang terbaik untuk sang anak. Namun, sepertinya sang anak tidak pernah memikirkan perasaan orang tuanya.


"Kalau begitu, Laras ikut mati Mahesa saja. Biar kalian tidak menanggung malu karena ulahku," jawab Laras sekenanya.


Ratnasari syok mendengar ucapan sang anak yang memilih mati daripada menikah dengan adik tunangannya. Badannya terhuyung, sehingga dia harus mencari pegangan agar tidak tumbang. Untung saja, sang suami berada di dekatnya.


Dada ibu satu anak itu tiba-tiba terasa sesak. Napasnya pun mulai tersendat karena jantungnya bekerja tiga kali lipat lebih kencang. Tak lama kemudian, wanita itu tidak sadarkan diri di pangkuan sang suami.


"Mama!" teriak sang anak perempuan spontanitas begitu melihat sang ibu yang berjalan terhuyung ke arah sang ayah.

__ADS_1


Sapto menatap nyalang pada sang anak sambil memeluk sang istri. Emosinya semakin naik sampai ubun-ubun.


"Puas kamu, Laras?"


"Kalau kamu mau mati menyusul Mahesa, kenapa tidak sedari dulu saja? Saat belum ketahuan, jika kamu tengah mengandung anak Mahesa. Kenapa sekarang kamu baru mau mati? Kamu pikir dengan mati masalah kamu selesai?" Rasanya Sapto ingin menenggelamkan sang anak ke rawa-rawa terdekat'


Laras bersimpuh di dekat orang tuanya, air matanya mengalir deras. Raut wajah anak tunggal Sapto itu terlihat sangat menyesal. Apalagi sang ibu memiliki riwayat lemah jantung dan darah tinggi, sehingga kesehatannya mudah sekali drop jika mendengar kata-kata atau kabar yang di luar keinginannya.


"Tidak usah menangis, mama kamu seperti juga karena kamu!" bentak Sapto seraya mengangkat wanita yang selama ini menemani hidupnya.


Sebelumnya anak pasangan Sapto dan Ratna itu sudah memanggil sopir, sehingga mereka bisa langsung berangkat ke rumah sakit.


"Cepat, Di!" perintah Sapto pada sang sopir yang bernama Pardi.


Pardi pun menambah kecepatan mobil. Kebetulan malam sudah mulai larut, sehingga mobil yang dikendarai Pardi tidak harus menunggu antrian karena macet. Alur lalu lintas sangat lancar kerena sudah mulai sepi.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mobil berhenti tepat di depan lobi sayap kanan di mana ruang UGD berada. Kedatangan mereka sudah disambut oleh tenaga medis yang berjaga. Sebelumnya, sewaktu dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Sapto sudah menghubungi pihak rumah sakit di mana istrinya sering melakukan pemeriksaan.


Ratna segera dibawa ke ruang UGD dan ditangani oleh dokter jaga juga dokter yang biasa menanganinya. Sapto dan Laras menunggu di depa ruangan dengan raut wajah gelisah. Sapto berjalan mondar-mandir sambil sesekali meraup wajahnya pelan.


***


"Pi, seharusnya kamu bisa membujuk Celo agar mau menjalani pernikahannya dengan Laras, seperti suami istri pada umumnya. Bukan tidur terpisah. Kalau betulan kek gini dan kedengaran jeng Ratna, mau ditaruh di mana mukaku nanti?"


"Dijalani aja belum, sudah panik duluan. Kalau pernikahan itu gagal dilaksanakan, bagaimana? Pasti kamu langsung kejang-kejang!" cibir Damian seraya bangun lalu berdiri dan berjalan meninggalkan sang istri sendiri di kamar.


"Pi! Papi!" panggil Rosita dengan kesal.


"Huh, diajak ngobrol malah kabur! Dasar suami gak peka," gerutu Rosita sambil merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimut.


Tak jauh berbeda dengan sang istri, Damian pun menggerutu menghadapi sikap sang istri yang tidak pernah berubah. Namun begitu, dia tetap mencintai wanita yang telah memberinya tiga orang anak. Selain itu, banyak sekali jasa istrinya itu pada dia di masa lalu.

__ADS_1


"Orang mau tidur malah diajak ngobrol. hah, lebih baik aku tidur di sini saja," gumam Damian seraya merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang kerjanya.


__ADS_2