
Duar … suara petir menggelegar sontak Fauzan dan Rizal berteriak bersamaan meskipun sudah dewasa namun Fauzan sangat takut dengan petir. Sedangkan ibu Rizal hanya duduk di pembaringan dengan mulut berkomat-kamit melantunkan zikir.
"Nak ayo sama-sama kita melantunkan zikir sehingga Allah melindungi kita" ajak Ibu Rizal berusaha menahan bobotnya dengan menyangga tubuhnya dengan kedua tangan.
Meskipun hari belum berganti malam tetapi keadaan di sekitar sangatlah gelap dikarenakan mendung pekat menyelimuti langit. Didalam gubuk tidak ada lampu baik minyak maupun listrik, lilin juga tidak ada tetapi Rizal masih memiliki sesuatu di dalam karung.
"Bu, aku mau keluar sebentar" pamit Rizal pada ibunya yang hanya menggunakan celana pendek dan terdapat sedikit robekan di pesaknya.
"Kamu mau ngapain? Di luar hujan nak" sergah ibu Rizal.
"Mumpung belum deras, Bu. Cuma sebentar" Rizal meyakinkan dan berlari keluar rumah tanpa menunggu persetujuan dari ibunya. Fauzan hanya berdiri terpaku melihat tingkah Rizal. Tidak menunggu waktu lama, Rizal telah kembali dengan menenteng karung yang dibawa tadi siang. Rambutnya sedikit basah karena memang hujan tidak begitu deras hanya saja disertai angin kencang mengakibatkan suara berisik dari daun dan ranting kering. Sedangkan gubuk ini sedikit meliuk terkena terpaan angin.
Rizal membongkar isi karung dengan membalikkan ke atas di bantu Fauzan karena Rizal sedikit kesulitan.
"Mengapa kamu bongkar Nak, biarkan saja. Besok juga kamu bawa kembali kan?" protes ibu Rizal.
"Tidak Bu, aku masih mencari sesuatu. Tadi aku menemukannya"
"Emang kamu nemu apa Zal" Kali ini Fauzan bersuara karena bingung dengan tingkah bocah kecil itu.
"Aku namuin getah meranti tadi kak, tapi di mana ya?" Rizal membolak-balik barang rongsoknya.
"O … getah meranti, yang bisa hidup kayak lilin kan Dek" Fauzan memastikan.
"Iya Kak" Tangan Rizal masih saja fokus membolak-balik rongsoknya.
"Ini dia yang aku cari akhirnya ketemu juga" Rizal berteriak girang seraya mengangkat sebongkah besar getah meranti yang ia cari.
"Kamu dapat di mana Nak, meranti sebesar itu" tanya sang ibu.
__ADS_1
"Tadi aku dapat di tumpukan sampah,Bu. Sebenarnya mau rizal jual besok, tapi malam ini kita nggak punya minyak untuk lampu kita" Rizal yang sebelumnya ceria kini tampak sangat murung mengingat minyaknya telah tandas sehingga meranti yang tadinya ingin dijual kali ini harus digunakan untuk lampu. Apalagi malam ini ada Fauzan sebagai tamunya.
"Semoga Allah gantikan dengan yang lain" ibu Rizal memberi semangat.
Sementara itu Rizal bersama Fauzan memecah meranti menjadi bagian yang kecil-kecil. Diambillah sepotong meranti oleh Rizal dan dihidupkan menggunakan korek api joss. Meskipun tidak terang benderang tetapi cukup menyinari ruangan yang gelap dikarenakan mendung. Dengan cekatan Rizal menghidupkan beberapa potong kayu bakar dan diambilnya kuali yang masih menggantung dan diletakkan begitu saja, melihat hal itu Fauzan pun bertanya.
"Kuali ini untuk apa Dek"
"Kita rebus udang tadi pake kuali itu kak"
Fauzan mengangguk tanda mengerti. Diraihnya kuali dan dipindahkannya udang yang tadinya di ember ke dalam kuali lalu dengan perlahan Fauzan membersihkan kotoran yang ada di kepala udang tersebut.
Ibu Rizal yang menyaksikan keakraban antara tamu dan anaknya menjadi terharu. Tanpa terasa meneteslah buliran bening yang sedari tadi ia bendung. Ia menerawang jauh ke belakang tentang hubungannya dengan sang suami. Raut wajahnya seketika berubah penuh misteri. Andai hal itu tidak terjadi, kehidupannya pasti tidak seburuk ini.
"Udah selesai belum Kak"
"Bentar lagi Dek, tinggal sedikit"
Fauzan dan Rizal akhirnya membersihkan udang bersama. Cukup banyak yang mereka dapat tadi di sungai, tetapi Fauzan belum pernah mengurus bahan mentah seperti ini sehingga dia sedikit lamban. Rizal yang sudah terbiasa tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan.
"Ini diapain lagi Dek" Fauzan bertanya pada Rizal karena dia sama sekali tidak tahu soal masak-memasak.
"Di taruh di atas tungku itu Kak. Ini jangan lupa dikasih garam, tp cuma ada garam aja Kak. Kami tidak punya bumbu lain" Rizal menunjuk tungku yang terbuat dari tiga buah batu sedang yang berasal dari sungai.
"Nggak apa-apa Dek walaupun cuma pake garam saja yang penting tidur tidak dengan perut kosong" Fauzan berusaha menghibur Rizal yang terlihat kecewa.
Hujan belum juga reda sedangkan hari sudah memasuki magrib, meskipun udang telah masak tapi mereka belum juga menyantapnya. Biasanya jika ada makanan untuk makan malam, Rizal dan ibunya akan menyantap setelah usai sholat isya' karena makanan yang mereka miliki tidaklah banyak hanya sekedar untuk bertahan hidup.
"Kita sholat berjamaah yuk Kak"ajak Rizal pada Fauzan yang masih menatap hujan lewat celah dinding.
__ADS_1
"Ayo!"
Mereka berdua beranjak mengambil air wudhu dari kucuran air hujan sedangkan ibu Rizal telah beranjak sedari tadi. Dihamparkannya lembaran-lembaran kardus dan mulailah sholat dengan Fauzan menjadi imam sedangkan Rizal dan ibunya menjadi makmum.
"Allahu Akbar" Fauzan memulai shalatnya dengan menyaringkan suara walaupun suara itu terdengar samar-samar karena dihalangi deru hujan dan angin. Setelah mengucapkan salam lalu mereka akhiri dengan zikir dan doa. Angin yang masuk melalui celah-celah membuat bulu ari berdiri merinding bukan karena takut melainkan dingin mulai menggoda. Rizal dan Fauzan mengelilingi api damar atau meranti untuk tubuh sedangkan ibu Rizal masih duduk di tempat ia sholat dengan pakaian sholatnya. Bibirnya dibasahi oleh lantunan zikir meski mata terpejam namun hati masih terjaga.
"Kak menjadi orang kaya itu enak ya Kak" tanya Rizal membuyarkan lamunan.
"Nggak juga Dek. Bukankah kaya dan miskin itu ujian?" Fauzan balik bertanya pada Rizal.
"Apa orang kaya juga ada ujiannya Kak" Rizal menghentikan aktivitasnya untuk menghangatkan diri.
"Ya ada dong Dek. Kita dianggap bertakwa karena adanya ujian, kita dianggap bersabar karena adanya ujian, kita dianggap sholih atau sholihan karena mampu melewati ujian" Fauzan menjelaskan pada Rizal yang terlihat serius ingin tahu.
"Masyaallah Kakak hebat! Apa kakak orang kaya?" tanya Rizal membuat Fauzan tersedak padahal Fauzan tidak sedang makan, entah apa yang membuat ia tersedak.
"Kakak bukan orang hebat Dek, kakak juga bukan orang kaya. Kekayaan, kepintaran, jabatan itu termasuk ujian hidup" Fauzan kembali menjelaskan meskipun di lubuk hatinya ada nyeri tanpa luka.
"Apa Kakak sekolah? Kata ibu, sekolah hanya untuk orang yang punya duit Kak"
"Iya kakak sekolah, yang nyekolahin kakak ya orang tua kakak,tetapi bukan cuma orang kaya saja yang bisa sekolah. Orang yang nggak punya duit pun bisa sekolah yang penting kita pinter"
"Caranya gimana Kak. Rizal pengen banget sekolah"
"Ya caranya kita belajar yang rajin"
"Kakak bisa ajarin aku nggak"
"Bis …" ucapan Fauzan terhenti
__ADS_1
"Nak nggak boleh kayak gitu sama tamu" bentak ibu Rizal dengan tatapan nyalang.