
"Permintaan macam apa itu? Mana mungkin mereka tinggal terpisah, sama saja menambah aib bukan menutup aib," protes Rosita kesal.
Damian pun berpikiran sama dengan sang istri. Jika nanti setelah menikah Laras dan Celo tinggal terpisah pasti akan menjadi sorotan media. Apalagi perusahaan Sapto Hudoyo dan miliknya termasuk perusahaan besar dan terkenal di kawasan Asia—Pasifik, sekali saja berbuat aneh pasti akan menjadi sorotan.
"Tindakan itu malah akan mengundang banyak tanya. Akhirnya, terungkap jika Laras hamil anak Mahesa. Dan ... boom! Nama baik keluarga kita hancur seketika." Damian berujar dengan raut wajah dingin dan tak terbaca.
Mitha membuang napasnya lemah. Sepertinya memang dia harus ikhlas dimadu, merelakan sang suami menikahi tunangan sang kakak yang telah tiada. Mungkin sudah menjadi suratan takdirnya, hidup selalu dalam kesedihan.
"Bisa saja kami tinggal terpisah, Pi. Aku dan Mitha tinggal di paviliun seperti dulu, sedangkan Laras tinggal di sini menempati kamar Kak Mahesa. Aku rasa dia akan bahagia tinggal di kamar itu karena banyak kenangan Kak Mahesa di sana." Marcelo tiba-tiba membuka suara.
"Lagian bukankah wanita yang hamil di luar nikah tidak boleh disentuh suaminya? Jadi, sesuai permintaan Mitha. Celo hanya sekedar menikahi Laras saja, hubungan kami hanya sebatas di atas kertas," lanjut Celo.
__ADS_1
Rosita yang mendengar ucapan sang anak pun menjadi kesal. Sepertinya Celo benar-benar tidak tertarik dengan Laras.
Wanita yang melahirkan Marcelo itu tiba-tiba terdiam. Dia tampak sedang berpikir memeras otak, jika dilihat dari wajahnya yang tampak serius. Setelah itu, wajahnya berubah cerah dan menyunggingkan senyum penuh kelicikan.
"Apa yang Mami pikirkan saat ini? Jangan coba-coba berpikir untuk memisahkan kami lagi! Jika itu terjadi, maka selamanya Mami tidak akan pernah melihat Celo." Marcelo bertanya lalu mengancam sang ibu jika bertindak licik padanya, apalagi pada sang istri.
"Kak ...." Mitha memanggil sang suami seraya menggelengkan kepala, tidak suka melihat suaminya meninggikan suara pada sang ibu.
Perdebatan antara orang tua, anak dan menantu itu berjalan cukup alot. Mereka merasa pendapatnya yang paling benar sehingga ayah dan anak itu menunda keberangkatan mereka ke kantor. Sang menantu di rumah itu sendiri memilih meninggalkan ruang makan itu, alih-alih tinggal dan menyuarakan pendapat.
Mitha mengurung diri di kamar. Tidur dengan posisi miring sambil memeluk guling. Wajahnya dia benamkan ke bantal agar suara tangisannya tidak terdengar orang lain
__ADS_1
Jika ada yang mendengar suara tangisan Mitha pasti hatinya seperti tersayat sembilu. Suara tangisan itu sesekali menghilang, tetapi sebentar kemudian terdengar lagi. Siapa pun tidak akan tega melihat keadaan istri Marcelo itu.
Marcelo masuk ke kamar setelah mengatakan pada orang tuanya, jika dia akan menikahi Laras sesuai permintaan sang istri. Tinggal terpisah dan tidak ada sentuhan fisik sampai batas waktu yang telah ditentukan.
Dengan rencana liciknya, Rosita terpaksa menyetujui sang anak daripada menanggung malu. Sementara Damian sendiri tidak tahu apa yang menjadi rencana sang istri kali ini. Laki-laki berdarah Inggris itu ikut saja dengan kemauan Marcelo daripada harus kehilangan anak lagi.
"Sayang, k-kamu menangis?" tanya Marcelo sembari mendekati sang istri.
Anak kedua Weasley itu langsung merebahkan badan dan memeluk sang istri. Berulang kali mencium kepala sang istri dari belakang.
"Maaf, bukan maksud aku menyakiti kamu. Tetapi, keadaanlah yang memaksa harus seperti ini. Aku akan melakukan itu sesuai dengan persyaratan kamu. Jangan nangis lagi!"
__ADS_1