
"Apa kau ada waktu" tanya Vero pada seseorang di ujung telpon, ia berdiri di teras sambil celingak-celinguk memastikan tidak ada orang di sekitarnya.
"Tentu saja ada untukmu, Ratu ku. Aku selalu ada untukmu kapanpun itu. Ada apa sayang, katakan lah" jawabnya lagi diujung telepon.
"Ada yang ingin aku bicarakan, dan berhentilah memanggilku sayang. Aku risih mendengarnya" jawab Vero dengan suara pelan.
"Baiklah. Kita ketemu di tempat biasa. Lima belas menit lagi aku kesana" ujar lelaki di ujung telepon dan mematikan panggilan sepihak.
"Memang aneh, tapi aku menyukainya. Dia tidak pernah berubah meski aku yang berubah" gumam Vero memandangi ponselnya dan tersenyum simpul.
"Siapa yang aneh, Bu" tanya Handoko berdiri persis di belakang tubuh istrinya.
Vero terkejut mendengar suara suaminya. Ia pun membalikkan tubuh dan berusaha mengatur degup jantung yang tiba-tiba berpacu cepat.
"Oh ini teman lama, Yah. Kebiasaanya nggak pernah berubah" ujar Vero mencari alasan.
"Teman lama mana. Apa ayah tau" tanya Handoko dengan kening berkerut.
"Ayah tau kok, dulu ibu pernah kenalin dia ke Ayah. Ayah mau ngapain kesini. Tadi katanya mau istirahat" tanya Vero mengalihkan topik pembicaraan.
"Ini buat belanja. Tadi bilang mau pergi belanja sama Azam kan?" Handoko mengangsurkan lembaran uang berwarna merah yang tidak sedikit. Ia tahu bagaimana tingkah putra bungsunya jika diajak pergi belanja. Semuanya ingin dibeli dari permainan hingga makanan meski sampai rumah hanya dibiarkan saja tanpa tersentuh.
"Terimakasih Ayah. Tumben masih ngerti sama anak istri" Vero menerima pemberian Handoko dan memasukkannya kedalam saku gamis yang ia kenakan. Sebelumnya ia sempat mengganti pakaian dan mengenakan sedikit makeup setelah mengajak Handoko pergi tetapi ditolaknya.
__ADS_1
"Kapan sih Ayah lupain anak dan istri Ayah" tanya Handoko beranjak pergi meninggalkan Vero.
"Sampai saat ini, memang Ayah nggak pernah ninggalin kami. Tetapi kalau mengabaikan, sudah pernah Ayah! Dan jika hal itu sampai terjadi lagi, ibu nggak berpikir lagi cari pengganti Ayah buat Azam" ancam Vero mengingatkan dengan telunjuk terangkat dan menatap suaminya lekat. Sehingga Handoko mau tak mau harus menghentikan langkahnya.
"Ibu! Nggak usah ngaco ngomongnya. Pergi sana kalau mau belanja ntar keburu panas. Kasian Azam" Handoko berusaha mengendalikan detak jantung yang memburu.
Mendengar ucapan Handoko, Vero bergegas meninggalkannya dan menemui Azam di kamar bermain. Ia merasa sedikit lega, bisa memberikan sedikit peringatan pada suaminya. Terlihat dari wajah yang selalu melempar senyum meskipun hanya seorang diri. Ia merasa telah hilang akal jika suatu hari nanti dugaannya terbukti. Maka dari itu, sebelum hal ini terjadi, Vero berusaha keras mencegah suaminya melakukan kesalahan.
"Sayang … kita pergi, yuk" ucap Vero pada Azam yang tengah bermain sendiri. Ia mengecup lembut pucuk kepala putra bungsunya dan membelai pelan.
"Emang kita mau pergi kemana, Ibu" tanyanya polos
"Jalan-jalan sayang. Kemarin Azam pengen jalan-jalan kan" jawab Vero menatap manik hitam putranya.
"Ayah nggak bisa. Mau ada pertemuan penting jadi hanya kita berdua, sayang" Vero menjelaskan dengan tangan yang masih ditarik oleh putranya.
"Yah …kalau gitu aku males! Aku nggak mau pergi kalau nggak sama ayah" rajuk Azam menghentakkan tangan Vero kemudian melipat tangannya dengan wajah cemberut.
Melihat hal ini, Vero berusaha membujuk Azam agar mau ikut serta tanpa ayahnya. Yang pada akhirnya Azam pun menyerah, ia bersedia ikut meski memiliki banyak persyaratan.
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, akhirnya Vero tiba di tempat yang dijanjikan. Ia melihat seorang lelaki duduk di sudut ruangan dengan tangan melambai ke arahnya. Dengan sigap, Vero memberi kode untuk menunggunya sebentar. Ia beralih menatap permainan yang ada disana kemudian mengajak azam untuk memilihnya dan meninggalkannya setelah bertemu pilihan yang cocok. Ini adalah tempat langganan Vero untuk membuat Azam senang, meskipun ditinggal duduk sedikit jauh, tapi ia masih bisa mengawasi aktifitas putranya lagi pula di sana ada beberapa orang pemandu mainan, sehingga Vero tidak merasa was-was.
"Maaf aku terlambat" ujar Vero pada seorang lelaki yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Apakah aku pernah protes sebelumnya ketika kamu membuatku menunggu lama? Tidak ratu ku. Bahkan aku siap menunggu mu sampai kapan pun" jawabnya tegas. Lelaki yang memiliki bulu halus di sekitar wajahnya dan sorot mata yang tajam menambah kekaguman tersendiri bagi Vero.
"Maafkan aku, Dimas. Dan berhentilah memanggil dengan sebutan itu. Kamu berhak mendapatkan yang lebih dari aku" ujar vero menunduk.
"Huum … kamu benar. Mau kopi?" tanya Dimas. Ia tahu wanita dihadapannya sedang gugup dengan ucapannya tadi. Tetapi bagi Dimas Vero tetaplah seorang ratu di hatinya meski sampai saat ini ia menjadi milik pria lain. Namun Dimas rela menunggu walau ia juga tidak tau sampai kapan. Vero adalah cinta pertama Dimas dan dia belum bisa menemukan pengganti Vero di hatinya meski usianya sudah menginjak kepala lima.
"Boleh dan seperti biasa, Kopi hitam" jawab Vero menatap Dimas kemudian ia melempar seulas senyum simpul pada lelaki di hadapannya.
"Kesukaanmu masih sama. Apa hatimu juga masih sama, Ratuku" ujar Dimas setelah memesan dua cangkir kopi hitam. Ia mengedipkan sebelah mata kepada Vero sehingga membuat wajah wanita dihadapannya sedikit memerah.
"Kesukaanku masih sama dan hatiku … lupakanlah itu Dimas. Kamu tau ini adalah pertemuan resmi pertama kita setelah kamu pulang dari luar negeri? Jadi kita bahas yang perlu kita bahas, okay. Jangan yang aneh-aneh" ujar Vero kemudian ia memandang Dimas. Hatinya terenyuh ketika dia teringat saat perpisahan dirinya dengan pria yang sangat di cintai. Sehingga Dimas memutuskan pergi keluar negeri dan kembali setelah puluhan tahun lamanya karena sudah tak mampu lagi memendam rasa rindu pada orang yang menguasai hatinya.
"Ya aku tau dan kau sampai hati memintaku untuk mengawasi putra sulung mu meski aku baru saja tiba dari luar negri. Untung aku masih kuat seperti yang dulu, kalau tidak. Entahlah" Dimas memandang ke arah Azam. Senyumnya memgembang tulus.
"Maafkan aku. Aku tidak tau harus kepada siapa meminta tolong. Aku juga udah bilang ke kamu kan bahwa Handoko tidak memberi aku izin mengirim mata-mata untuk Fauzan. Coba dipikir deh, ibu mana yang nggak khawatir tentang keadaan putranya. Apalagi Fauzan dikirim ketengah hutan. Semua ibu pasti tersiksa hatinya, Dimas" Vero menatap Dimas penuh makna yang hanya disambut senyuman.
"Kemarin kamu kasih foto Fauzan ke aku. Apa benar dia baik-baik saja di sana. Terus apa yang dia lakukan sama ranting-ranting pohon itu" tanya Vero lagi. Hatinya masih belum tenang meski dalam foto itu putranya terlihat baik-baik saja.
"Apa kamu sudah tidak percaya aku lagi, Ratuku. Aku bicara jujur, putramu baik-baik saja. Kalau kamu nggak percaya, besok aku kesana lagi untuk memastikan. Kamu mau ikut?" tanya Dimas setelah menyeruput kopi yang baru saja datang.
"Ya aku percaya sih. Tapi hatiku masih saja khawatir,Dim" ujar Vero dengan wajah cemas.
"Tenang aja. Kamu cukup berdoa. Ingat doa ibu itu sangat mustajab. Bahkan melebihi doa para wali" jawab Dimas mencoba menenangkan dengan menggenggam tangan Vero.
__ADS_1