
Sebuah mobil memasuki halaman, setelah memarkirkan kendaraannya Handoko keluar dari mobilnya dan terkejut dengan apa yang dilihat.
"Apa yang mereka lakukan disini?" gumam Handoko penuh tanya setelah menyaksikan ramai orang di dalam rumah. Ia tidak lagi menunggu lama karena rasa penasaran, dilangkahkan kaki dengan cepat untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Assalamualaikum" ucap Handoko di ambang pintu yang terbuka. Ditatapnya ibu-ibu yang hadir kemudian mengalihkan pandangan ke jam dinding yang menempel di tembok "apa ada acara kumpulan ibu-ibu? Baru jam sembilan aku sapa mereka kemudian istirahat di kamar" batin Handoko yang diikuti langkah untuk menyapa para ibu-ibu yang hadir
"Ibu-ibu sudah lama datang ya" tanya Handoko berbasa-basi dan melemparkan senyum ke arah mereka
"Oh pak Kades cukup lama. Habis magrib tadi. Bapak habis tugas dari mana?" tanya seseibu di antara mereka
"Iya pak Kades kami sudah lama menunggu Bapak, loh. tapi kata ibu Vero pak kades sedang tugas di luar" ujar ibu yang lain
"Kami turut prihatin atas berita bohong yang menimpa keluarga Bapak. Bapak yang sabar ya" sambung ibu yang lainnya lagi.
"Ibu-ibu tenanglah. Beri saya kesempatan untuk menjawab" kekeh Handoko. "memang saya ada tugas di luar setelah kedatangan bu bidan Linda tadi pagi ke kantor. Dan saya ucapkan terima kasih atas simpati ibu-ibu sekalian. Tapi ada apa menunggu saya sampai dua jam an lebih. Apa sangat penting. Semoga ibu-ibu sekalian tidak pada bosan" Handoko dengan sabar menjawab mereka dan memperhatikan satu per satu, hingga tatapannya jatuh pada istrinya, Vero yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara tetapi dapat dipahami oleh Handoko bahwa istrinya sedang marah, terlihat jelas dari sorot matanya.
"Iya pak Kades, kami datang kesini karena ada yang sangat penting terkait kabar bohong itu"
"Tapi biarkan pak Kades kita ini membersihkan diri. Beliau nampak sangat lesu" sambung ibu yang lain diiringi cekikikan dari mereka
" iya. Silahkan pak, untuk menyegarkan diri dahulu. Kami akan menunggu. Ya kan ibu-ibu" ujar tante Ersi yang sedari tadi selalu bersuara.
"Bu Vero nampaknya pak kades butuh jamu tuh untuk nanti malam" seloroh Rita yang selalu tampil modis
"Iya Bu nampaknya beberapa hari belakangan ini beliau tidak sumringah, ya kan ibu-ibu. Ada yang merhatiin nggak sih" sahut bu Meli yang memiliki kelebihan berat badan ketimbang yang lain.
"Huum …" jawab yang lain bersamaan
"Ibu-ibu ini lucu ya. Sudah pasti saya jamuin setiap malam" jawab Vero dengan sedikit menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Jangan tersinggung loh, Bu. Kami hanya bercanda" Bu Ersi tersenyum kecut setelah mendengar jawaban dari Vero.
"Mari … silahkan di cicipi jamuannya. Insyaallah aman kok, Bu. Saya juga tidak mencampurkan bahan berbahaya. Jangan khawatir" Vero menyeruput teh yang sudah tersaji, melihat mereka yang tidak menyentuh makanan dan minuman sama sekali. Vero berniat meyakinkan ibu-ibu yang ada.
"Oh iya, Bu. Kebetulan ni baru saja terasa haus" jawab bu Rita meski sedikit ragu. Tetapi beliau tetap saja meminumnya dan mengambil beberapa cemilan. Dan diikuti oleh ibu-ibu yang lain.
"Silahkan … silahkan Bu. Masak makanan segini banyak cuma jadi tontonan saja" seloroh Vero dengan melirik pintu kamar yang masih tertutup, ternyata belum ada tanda-tanda Handoko akan keluar. "Tunggu sebentar bu-ibu. Saya masuk dulu. Silahkan jangan sungkan-sungkan untuk mencicipi sajiannya" Vero berdiri dan melangkah meninggalkan tamunya menuju kamar hendak memeriksa Handoko. Karena ia merasa tak nyaman, ibu-ibu sudah menunggu lama sejak habis magrib tadi.
"Akan saya bicarakan hal ini dengan istri saya" ujar handoko pada seseorang di ponsel dengan menatap jauh gelapnya malam. Ia tidak menyadari bahwa Vero telah mengamatinya di ambang pintu kamar.
" …"
"Bu Hamidah tolonglah mengerti dan tidak usah khawatir. Saya akan mencoba meyakinkan istri saya" jawab Handoko lagi. Percakapan mereka akhirnya terputus dan Handoko memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Kemudian diusap wajahnya dan membuang nafas dengan kasar.
"Telpon dari siapa, Ayah" Vero melangkah mendekat sehingga mereka hanya berjarak satu meter saja.
"Vero! Kapan kau di sini" tanya Handoko gugup setelah menyadari kehadiran istrinya.
"Nanti kita bahas ini. Masih ada tamu kan. Kita temui mereka dulu" Handoko mengalihkan pembicaraan setelah mendengar suara tawa ibu-ibu dari ruang tamu.
"Ayah baru sadar kalau sedang ditunggu orang. Cepatlah keluar dan temui mereka" Vero sedikit berteriak karena geram tapi ia tidak langsung mengikuti suaminya. Bahkan Vero malah merebahkan tubuhnya di pembaringan. Berusaha mengatur emosi yang sedari tadi ia pendam.
Selang sepuluh menit, Vero menyusul Handoko di ruang tamu bersama ibu-ibu yang lain karena suara riuh berhasil membuatnya penasaran.
"Pokoknya Pak kades harus tegas. Kalau tidak, akan banyak warga yang mengikuti jejak pak Rt" sungut tante Ersi geram sedangkan Handoko hanya tersenyum mendengar celotehan ibu-ibu.
"Tante Ersi benar Yah. Jangan mudah terkecoh oleh hal-hal kecil" sahut Vero tiba-tiba yang sudah berdiri di belakang Handoko kemudian ia beralih duduk di samping suaminya. Ia berusaha melempar senyum ramah pada ibu-obu yang hadir meski hatinya masih dongkol
"Iya bu Kades. Memang niat kami untuk menurunkan pak Dodi sebagai Rt. Beliau sudah beberapa kali melakukan hal-hal yang tak masuk akal. Ingat tidak Bu, dulu beliau menuduh suami saya mencuri di rumahnya dan setelah itu mengumpulkan warga untuk menggerebek dek safitri yang baru kedatangan abangnya merantau dari luar kota dan sekarang, beliau memfitnah pak kades dengan dalih meracuni makanan yang disajikan untuknya dan para tamu lainnya. Padahal apa? Dia salah makan Bu. Apa orang seperti itu pantas dijadikan Rt di masyarakat" ujar bu Rita semangat dengan tangan yang tidak bisa ikut diam.
__ADS_1
"Iya betul. Orang seperti itu tidak bisa dijadikan contoh! Maka kami perwakilan dari ibu-ibu Rt satu Rw satu meminta pak Kades mengganti posisi beliau dengan orang yang tepat" ucap tante Ersi yang diikuti anggukan ibu-ibu yang lain.
"Hm … akan saya musyawarahkan dengan perangkat desa lainnya jika itu keinginan ibu-ibu. Tapi saya heran, mengapa selalu Rw satu dan Rt satu tepatnya yang bermasalah. Yang lainnya adem-adem saja ya dan semoga kedepannya tetap seperti itu. Dan untuk ibu-ibu yang hadir tolong kerjasamanya untuk menjaga kerukunan antar warga" Handoko berujar dengan santai dan bijak tanpa terpengaruh oleh masalah yang sedang terjadi di keluarganya.
Hal ini memberikan sedikit kepuasan di hati ibu-ibu yang hadir. Sehingga mereka bisa pulang dengan nafas lega.
Setelah mereka pulang, tinggallah Vero dan Handoko yang masih duduk di ruang tamu dengan pemikiran masing-masing. Namun Vero beranjak ketika Handoko mulai berbicara dengannya. Sehingga Handoko hanya bisa mengacak rambut kasar.
Selang beberapa menit Vero kembali dengan bungkusan plastik hitam di tangannya yang kemudian dihentakkan di atas meja, tepat di hadapan Handoko.
"Coba jelaskan, apa ini! Ibu sudah muak dengan permainan Ayah! Jelaskan ini juga!" Ucap Vero ketus dengan memalingkan wajah.
"Apa ini Bu?" tanya Handoko heran
"Buka sendiri!" jawab Vero cuek
Dengan ragu Handoko menuruti perintah istrinya. Perlahan tapi pasti ia membuka bungkusan plastik yang ada di hadapannya. Dan ternyata setelah dibuka membuat perut Handoko mual begitu pun dengan Vero.
"Inikan baju yang aku pakai di hari itu" batin Handoko dalam hati. Ia ragu untuk memandang istrinya kembali.
"Ini baju siapa, Bu. Kenapa Ibu tunjukkan pada Ayah. Cepatlah buang, mual ayah melihatnya
"Ayah gak tau itu baju siapa? Itu baju Ayah yang ibu belikan di hari ulang tahun Azam. Apa Ayah sudah lupa? Coba diingat baik-baik. Ibu menemukan dua minggu yang lalu di bawah tas Ayah yang ada di lemari paling bawah. Apa yg terjadi dan darah siapa ini?" tanya Vero sangat kesal
"Ibu … Ayah nggak tau maksud Ibu?" jawab Handoko berpaling dan akan beranjak pergi.
"Tunggu! Jika Ayah meninggalkan ibu itu berarti dugaanku benar. Ayah sedang berbohong pada ibu. Apa yang Ayah lakukan sehingga baju Ayah penuh dengan darah seperti ini. Dan ini resep obat siapa, apa semua itu ada hubungannya dengan wanita yang Ayah transfer uang kemarin lusa, jawab Ayah!" Vero berdiri dan menghadang Handoko agar tidak pergi. Ia perlihatkan semua bukti yang membuatnya curiga pada Handoko.
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Handoko. Hanya tatapan sendu yang mampu ia berikan, dan beralih meninggalkan Vero yang masih bertanya-tanya. Sebenarnya Handoko sangat ingin memberitahukan segalanya pada Vero bahwa semua dugaannya adalah benar. Namun entah mengapa, saat ada kesempatan mendadak lidah Handoko kelu untuk menceritakan segalanya.
__ADS_1
"Ingat! Ayah akan menyesalinya jika mengabaikan ibu seperti ini. Cepat beritahu ibu apa yang terjadi. Sebelum ibu mengambil langkah terakhir" ujar Vero mengikuti Handoko dari belakang dan meninggalkan semua bukti yang ia punya di meja tamu.